Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih calon
Mama Liora yang sedang menunggu penghuni rumah untuk sarapan, terus menatap putra sulungnya yang telah rapi dengan kemeja hitam dibalut jas abu-abu. Rambutnya pun rapi seperti akan berangkat kerja saja, padahal baik mama Liora atau pun papa Cakra sepakat untuk mengistirahatkan Liam sampai tangannya benar-benar sembuh.
"Kok keras kepala sih mas," tegur mama Liora sembari menyerahkan piring pada putranya. Meski mempunyai banyak pelayan, urusan keluarga masih menjadi tanggung jawab Liora. Mulai dari isi perut sampai keperluan kecil anak-anaknya.
"Hanya duduk di ruang kerja Ma."
"Jawaban sebelumnya juga begitu, tapi buktinya tangan mas terluka. Mas itu orangnya terlalu semangat dan ambis, kalau tiba-tiba lupa tangannya sakit gimana?" Omelan panjang itu menyapa Liam di meja makan.
"Emang ada ya Ma orang lupa kalau dirinya sakit?" tanya Leona yang juga sudah tiba di meja makan. Ia pun sedang melanjutkan pendidikan sambil membuka bisnis di luar Alexander.
"Tuh mas kamu." Tunjuk mama Liora dengan bibirnya.
"Biar aja sih Ma, nanti kalau tangannya nggak sembuh-sembuh tinggal di potong."
Leona dan Cakra tertawa mendengar penurutan Leon di mana membuat Liam melotot.
"Sudah biarkan saja. Kalau mas Liam mau kerja artinya tangannya baik-baik saja. Setiap orang tahu kok kapasitas dirinya masing-masing," lerai papa Cakra. "Tapi tetap hati-hati, tangannya dijaga biar nggak kenapa-napa mas."
"Iya papa." Kali ini Liam tersenyum lebar, dia menang karena sang raja berpihak padanya.
Usai sarapan ditemani pertengkaran hangat, Liam pun meninggalkan rumah bersama sopir pribadi.
"Pak, berhenti di depan rumah om Rocky," ujar Liam.
Mobil pun berhenti di depan rumah om Rocky yang pagarnya terbuka lebar sebab beberapa penghuni akan berangkat sesuai urusan masing-masing.
"Vina," panggil Liam pada Devina yang baru saja keluar rumah.
"Kenapa mas?"
"Arumi sudah berangkat?"
"Belum mas, tunggu saya panggil mbak Arumi."
Devina pun belari memasuki rumah untuk menemui sang kakak yang ternyata berada di dapur bersama sang ibu.
"Mbak, di depan ada calon suaminya."
"Mas Liam?"
"Memangnya mbak punya calon suami selain tuan muda?" tanya ibu Alea dengan nada candaan.
"Nggak sih."
Arumi segera mencuci tangannya sebab tadi membantu ibu Alea membereskan meja makan. Dan yap, kebiasaan yang tidak pernah terlupa. Alih-alih mengambil tisu ia malah menggunakan daster rumahan miliknya sebagai lab tangan.
"Kok belum siap?" protes Liam.
"Aku ke studio menjelang siang, mas mau kemana? Kerja?"
Liam mengangguk ragu, turun dari mobil dan mendekati Arumi yang mencepol rambutnya secara asal. Bahkan tanpa make up pun calon istrinya terlihat sangat cantik.
"Jadinya nggak mau dengerin aku untuk istirahat di rumah?" Mendongak menatap wajah Liam yang lebih tinggi darinya.
"Mas bosan kalau di rumah sayang. Mas ke kantor cuma memeriksa keadaan saja, setelah itu menemani kamu ke rumah sakit."
"Ngeyel!"
"Nggak apa-apa yang penting mas cintanya Arumi," balas Liam dan mengelus pipi Arumi yang sengaja digembungkan. Apalagi wanita itu berkacak pinggang mungkin mengira terlihat galak padahal seperti kurcaci.
"Ying pinting mis cintinyi irimi," ejek Arumi. "Pasti ...." Matanya membola ketika sebuah kecupan mendarat di sudut bibirnya.
"Ekhem!"
Deheman besar itu membuat Liam yang semula tersenyum dan sedikit membungkuk, langsung berdiri tegap.
"Kalian belum menikah Tuan Muda, tolong jaga batasannya pada putri saya!"
"Maaf Om, tapi Arumi terlalu mengemaskan." Liam mengaruk tengkuknya.
Perihal kekuasaan dia di atas Rocky, tetapi tetap saja sebagai keluarga dia hanyalah calon menantu yang tidak ada apa-apanya di depan calon mertua.
....
jijik