Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berikan aku alasan
"Aku baik-baik saja mas, buktinya nggak dirawat kan," ucap Arumi di seberang telepon.
Meski demikian, rasa khawatir Liam tidak kunjung menghilang. Dia mendengar kabar Aruminya masuk IGD setelah tiba di tempat tujuan. Ia pun tidak bisa pulang akibat masalah di anak cabang perusahaan.
"Tetap saja pasti kamu ketakutan. Jangan keluar rumah kalau nggak sama Arthur atau Sevia. Jangan naik mobil dan ...."
"Mas." Arumi tertawa di seberang telepon. "Terus aku harus naik apa ke studio kalau bukan mobil? Ada-ada saja mas ini."
"Sayang, mas belum selesai bicara. Maksudnya tuh jangan naik mobil sembarangan. Kalau bisa diantar jemput sama orang, nanti mas cariin sopir buat kamu."
"Iya." Arumi mengangguk dan itu sedikit membuat Liam tenang.
Jujur saja mengetahui Seaven sudah siuman dan baik-baik saja menjadi ketakutan tersendiri untuknya. Pria itu sehat dan tidak mungkin mendapatkan hukuman penjara. Jika Seaven harus dihukum, dia pun sama sebab sudah menjadi pelaku perencanaan pembunuhan.
Usai panggilan terputus dengan sang kekasih, kini dia beralih menghubungi Arthur.
"Cari sopir pribadi untuk Arumi ... Tidak-tidak, jadi sopir untuknya selama saya tidak ada. Pastikan dirinya tidak bertemu Seaven apapun yang terjadi," ujar Liam, padahal Arthur baru saja menjawab teleponnya.
"Baik Tuan, tapi ada yang aneh dengan tuan Seaven."
"Apanya?" Liam berjalan ke balkon, menikmati pemandangan kota di malam hari dari ketinggian.
"Tuan Seaven sepertinya amnesia."
"Omong kosong apa ini Arthur? Amnesia? Sejak kapan ada orang amnesia mengingat orang-orang terdekatnya."
Jelas Liam tidak percaya sebab Seaven mengirim pesan padanya yang mengatakan ingin bertemu, itulah mengapa ia mengabari Arthur untuk mencari keberadaan Arumi yang kebetulan ada di rumah mereka.
"Saya juga tahu Tuan, tapi akan saya selidiki apa yang sebenarnya terjadi. Dan tentang bu Arumi percayakan pada saya."
"Hm."
Dan setelah berbicara dengan asistennya, alih-alih istirahat. Liam malah menghubungi orang lain sebab kejadian dimasa lalu membuatnya tidak bisa mempercayai orang terdekatnya sekalipun.
"Seaven kembali om."
"Saya sudah tahu Tuan muda."
"Berikan pengawalan untuk Arumi, saya tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya."
"Tanpa memberikan perintah akan saya lakukan Tuan muda," jawab om Eril, saudara dari ayah Rocky. Pria itu penanggung jawab keamanan Alexander.
....
Langkah kaki seorang pria tampak terburu-buru setelah turun dari mobil. Dia membuka pintu ruangan secara asal dan memeluk wanitanya yang sedang berbicara dengan Sevia.
"Mas aku lagi kerja dan ada Sevia," bisik Arumi yang terkejut dengan kedatangan Liam secara tiba-tiba, terlebih langsung memeluknya.
Arumi mengkode agar Sevia meninggalkan ruangannya.
"Seaven menganggumu lagi?"
"Nggak mas, dia nggak pernah menemuiku lagi setelah kejadian tiga hari lalu."
"Tinggal sama mas dan akan mas pastikan kamu baik-baik saja."
"Aku nggak pernah menolak, aku hanya menunggu kesiapan mas untuk menikah."
"Itu ...." Lidah Liam terasa keluh, dia tidak ingin melalui hal bernama pernikahan, tetapi dirinya mau Arumi terus bersamanya dan tinggal satu atap agar bisa melindungi.
"Tangan mas sudah sembuh kan? Ayah memberitahuku."
"Maaf." Liam menunduk.
"Mas tidak ingin menikah denganku, itulah mengapa berbohong." Arumi melepas tangan Liam yang berada di pinggangnya. "Aku nggak pernah memaksa untuk dinikahi olehmu, tapi mas sendiri yang datang padaku dan melamarku di depan ibu dan ayah."
"Mas punya alasan kenapa nggak mau menikah."
"Lalu berikan aku alasan masuk akal agar bisa mengambil keputusan apakah harus melanjutkan hubungan kita atau mengakhirinya!"
"Kamu mencintai pria lain?"
"Mas!" bentak Arumi. Alih-alih alasan, Liam malah menuduhnya.
....
Alea bijak banget sih jadi Ibu