Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.
Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Lisa menarik napas dalam-dalam, berusaha mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa semakin tipis. Suara debar jantungnya sendiri bergemuruh di telinga, seperti genderang perang yang memanggilnya untuk bertahan atau melarikan diri. Di hadapannya, di ruang istirahat kecil yang berantakan dengan tumpukan dokumen dan mesin kopi berkerak, pria berambut kemerahan itu duduk di atas kursi lipat besi. Tubuhnya terlihat solid, namun ada kejanggalan yang membuat usus Lisa melilit, pria itu duduk terlalu sempurna, tanpa beban yang membuat kursi berderit, tanpa sedikit pun lekukan pada bantalan tipisnya. Ia seperti ilusi tiga dimensi yang ditempatkan di atas kursi nyata.
“Cukup,” suara Lisa keluar, lebih keras dari yang ia rencanakan, memotong keheningan yang sarat. “Omong kosongmu sudah cukup. Identitas. Asal-usul. Sekarang. Atau aku akan memborgolmu dan kau bisa merenungi kebodohanmu di sel tahanan yang basah sepanjang malam.” Kata-katanya ingin terdapat tegas, tapi ada getaran halus di ujungnya, seperti senar biola yang terlalu kencang.
Sam hanya menatapnya. Tatapannya bukan tatapan tertuduh atau menantang. Itu adalah tatapan yang dalam, penuh kelegaan yang begitu besar hingga terasa menyakitkan untuk disaksikan, dicampur dengan belas kasihan—seolah-olah dialah yang hidup dan Lisa yang terjebak dalam dunia yang tidak dipahaminya. “Aku sudah menjawabnya, Nona Detektif. Borgol itu tidak akan berguna untukku.”
“Kita lihat saja,” geram Lisa, naluri polisinya mengambil alih. Ketakutan mulai membeku menjadi amarah—amarah pada situasi yang tidak masuk akal, pada pria aneh ini, dan pada dirinya sendiri yang merasa mulai goyah.
Dengan gerakan cepat yang terasah, tangannya meraih borgol baja yang dingin dari ikat pinggangnya. Bunyi ‘klik’ saat ia membukanya terdengar nyaring. Ia melangkah mendekat, aroma kopi dan keringatnya sendiri tercium tajam. Matanya fokus pada pergelangan tangan pria itu yang tergeletak di atas paha. Tulang yang terlihat jelas di bawah kulit yang pucat.
Ia menyentuh.
Dan dunia seolah berhenti.
Bukan sentuhan pada kulit manusia. Bukan pula sentuhan pada kain. Yang ia rasakan adalah penetrasi mendadak ke dalam suhu yang tak terbayangkan. Dingin. Bukan dingin es batu, tapi dingin antah-berantah, dingin yang tak berasal dari suhu mana pun di bumi ini—dingin yang langsung merambat melalui saraf tangannya, menyebar ke siku, ke bahu, menusuk langsung ke tulang belakangnya. Tangannya melewati pergelangan itu, seperti pisau yang menembus kabut tebal, tanpa hambatan sama sekali.
Lisa membeku. Pandangannya tertuju pada tangannya sendiri yang kini separuhnya ‘tertanam’ di dalam lengan baju denim pria itu. Ia bisa melihat jari-jarinya, kukunya yang pendek rapi, tertanam dalam siluet lengan yang seharusnya padat.
“Tidak…” desisnya, napasnya memburu.
Ia menarik tangannya kembali dengan kasar, seperti tersengat listrik. Sensasi dingin yang menusuk itu tetap menempel, membekukan aliran darah di ujung jarinya. Ia menatap telapak tangannya, mengharap melihat es atau bekas luka, tapi kulitnya hanya terlihat pucat dan normal. Rasa itu masih ada.
Dengan langkah tak stabil, ia mundur. Tumit sepatu botnya menyangkut pada karpet yang terkelupas, membuatnya hampir terjatuh. Punggungnya membentur dinding beton yang keras, mengirimkan getaran sakit ke seluruh tubuhnya. “Tidak mungkin,” ia bergumam, lebih kepada dirinya sendiri. “Ini pasti tipuan teknologi. Proyeksi hologram canggih…” Tapi bahkan dalam kepanikan, ia tahu itu omong kosong. Markas polisi ini masih menggunakan Windows 7.
“Aku mohon, tenanglah,” suara Sam terdengar. Lembut, namun justru itu yang membuatnya semakin ngeri. Karena suara itu berasal dari sosok yang baru saja ditembus tangannya.
“Diam!” teriak Lisa, suaranya pecah, memenuhi ruangan kecil. Ia menunjuk ke arah Sam, jarinya gemetar tak terkendali. “Kau tidak nyata! Kau hanya halusinasi! Aku mungkin sedang kelelahan dan kurang tidur!” Ia menutup mata rapat-rapat, menekan bola matanya dengan telapak tangan yang masih membeku. “Aku memerintahkanmu—hilang! Sekarang!”
Saat ia membuka mata, Sam masih di sana. Wajahnya kini menunjukkan kesedihan yang dalam. Ia berdiri perlahan, dan sekali lagi, tidak ada suara gesekan, tidak ada perubahan pada kursi. Ia tetap di tempatnya, tidak mendekat, memberi Lisa ruang.
“Namaku Sam,” ia mulai lagi, dengan kesabaran yang tak wajar. “Tapi nama ‘Rhino’… itu satu-satunya yang tersangkut di kepalaku. Sejak aku terbangun di taman Hotel Emerald, tahun 1987. Aku tidak mengerti waktu, tidak mengerti kenapa tubuhku berubah menjadi seperti ini,” ia menunjuk dirinya sendiri, “dan aku benar-benar tidak tahu kenapa, setelah semua tahun yang sunyi ini, kau yang bisa melihatku.”
Lisa tertawa. Suara tawanya pendek, getir, dan nyaris berakhir dengan isakan. “Rhino? Namamu Rhino? Seperti badak? Kau pikir ini lelucon?” Ia menggelengkan kepala dengan liar, rambut hitamnya yang longgar berantakan menutupi wajahnya. “Keluar. Siapa pun kau—hacker, pesulap, atau gangguan di otakku—keluar! Aku akan pulang, minum pil, dan tidur. Dan besok, kau akan hilang. Kau harus hilang!”
Sam menatapnya, dan untuk sesaat, Lisa bisa melihat cahaya di mata hangat itu redup, seperti lentera yang kehabisan minyak. Rasa sakit di tatapan itu begitu jujur, begitu manusiawi, sehingga bertentangan dengan segala keanehan yang baru saja terjadi.
“Baiklah,” bisik Sam, suaranya hampir tak terdengar. “Aku akan pergi. Tapi ketahuilah, Lisa… aku ini nyata. Setidaknya dalam caramu melihatku, aku nyata. Itu… itu sudah lebih dari yang kupunya selama tiga puluh tiga tahun terakhir.”
Lisa memalingkan wajahnya dengan kasar ke arah cermin satu arah di dinding, tempat di baliknya mungkin ada ruang observasi kosong. Ia menatap pantulan dirinya sendiri—wanita dengan mata liar, wajah pucat, berdiri terhuyung di dinding. Ia menolak untuk melihat ke arah kursi itu lagi. Ia menahannya. Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik.
Dengungan mesin pendingin minuman di sudut ruangan terdengar semakin keras.
Perlahan, dengan hati yang berdebar kencang seolah akan meledak, Lisa menoleh.
Kursi lipat besi itu kosong. Sam telah lenyap. Tidak ada suara pintu, tidak ada angin, tidak ada perubahan cahaya. Hanya kepergian yang sempurna dan sunyi.
Namun, udara di ruangan itu berangsur kembali normal. Desisan dingin yang menyelimuti ruangan selama ‘kehadiran’ itu perlahan mencair, digantikan oleh suhu ruangan kantor yang biasa. Tapi di telapak tangan kanan Lisa, sensasi dingin yang menusuk itu masih ada. Bekas yang tak terlihat. Sebuah bukti fisik dari ketidakmungkinan.
Tubuhnya lunglai. Lututnya tertekuk dan ia merosot ke lantai, dinding beton yang kasar menyangga punggungnya. Ia mendekap lututnya, menariknya ke dada, berusaha menjadi sekecil mungkin. Pandangannya kosong menatap linoleum lantai yang kotor dengan noda kopi dan debu.
Halusinasi tidak meninggalkan rasa dingin, bisik suara kecil di kepalanya, suara logika murni yang bertahan di tengah reruntuhan keyakinannya. Halusinasi tidak membuat udara berubah suhu.
Ia mengangkat tangan kanannya, menatapinya di bawah cahaya neon yang pucat. Telapaknya tampak biasa saja. Tapi ketika ia mengepalkannya, ia masih bisa merasakan sisa-sisa beku itu, mengendap di antara tulang-tulang metakarpalnya, seperti kenangan dari kematian.
“Sam…” nama itu terucap lirih dari bibirnya.
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian kantor polisi di tengah malam.
Dan di kesunyian itulah, Lisa mulai menyadari sesuatu yang lebih mengerikan daripada ketakutan akan hantu: keragu-raguan. Kepingan tembok realitasnya yang kokoh mulai retak, dan melalui celah itulah angin dari dunia lain menyusup masuk, membekukan segala sesuatu yang ia yakini.
Ia tidak tahu bahwa di balik dinding ruangan itu, di koridor yang gelap, sosok berambut kemerahan masih berdiri, menunduk, dengan bahu yang gemetar menahan sebuah isakan yang takkan pernah terdengar oleh dunia. Untuk sesaat, ia telah ada. Dan kini, ia kembali menjadi bayangan—hanya saja, kali ini, bayangan yang tahu bagaimana rasanya diusir dari satu-satunya cahaya yang pernah mengenalinya.
.
.
.
.
.
.
.
— Bersambung —