NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Malam tidak benar-benar tidur di mansion itu.

Ia hanya menurunkan suaranya.

Lampu ruang tengah masih menyala temaram ketika Cherrin tetap duduk di sofa, kucing abu-abu itu kini berpindah posisi—setengah telentang di pangkuannya, satu kaki depan terjulur malas. Bulunya hangat. Beratnya nyata. Satu-satunya hal yang terasa benar malam itu.

Zivaniel sudah menghilang di balik pintu kamarnya sejak beberapa menit lalu.

Tidak ada suara pintu dibanting.

Tidak ada langkah tergesa.

Tidak ada kata-kata tambahan.

Justru itu yang membuat dada Cherrin terasa sesak.

Ia menunduk, menelusuri bulu kucing itu dengan jari-jari pelan. Kucing itu mendengkur, tidak peduli pada dinamika manusia yang rumit. Cherrin iri pada kesederhanaannya.

“Dia kenapa ya…” gumamnya lirih, entah pada kucing itu, atau pada dirinya sendiri.

Tidak ada jawaban.

Jam dinding berdetak. Pelan. Konsisten. Seolah mengingatkan bahwa waktu tetap berjalan meski seseorang memilih diam.

Cherrin akhirnya berdiri. Ia menggendong kucing itu sebentar, membawanya ke kamar, menurunkannya di atas sofa kecil di sudut—tempat tidur favoritnya. Kucing itu hanya membuka satu mata, lalu kembali tidur tanpa protes.

Cherrin berdiri di tengah kamar. Sunyi.

Biasanya, di jam seperti ini, ia akan membaca. Atau menonton sesuatu dengan volume rendah. Atau sekadar menulis catatan pendek di ponsel—hal-hal kecil yang ia rasakan hari itu.

Tapi malam ini, pikirannya terlalu penuh untuk diisi apa pun.

Ia berbaring tanpa mematikan lampu. Menatap langit-langit. Kata-kata Zivaniel berulang di kepalanya.

Aku capek.

Sesederhana itu. Tapi entah kenapa, terasa seperti pintu yang ditutup perlahan, bukan dibanting—justru lebih menyakitkan.

Cherrin memejamkan mata, lalu membukanya lagi.

Ia menghela nafasnya kasar. "Zivaniel kok kayak marah ya?" Cherrin rasanya ingin menjerit saja, ia sama sekali tidak suka melihat Zivaniel datar dengannya seperti ini.

Ya, pemuda itu memang datar dan dingin pada siapapun, tapi tidak dengan dirinya. Bahkan, kalau dengan Cherrin, Zivaniel terkesan lebih perhatian padanya.

Jangan salahkan Cherrin jika ia merasa kehilangan sosok Zivaniel yang selalu perhatian padanya.

"Aaaa Niel!!" Cherrin merengek kecil di bantal guling. "Kamu kenapa sih?!" Cherrin bahkan menggigit bantal itu dengan kencang.

*

Pagi berikutnya datang tanpa perayaan.

Langit di luar jendela berwarna kelabu pucat, seolah matahari pun belum yakin ingin muncul sepenuhnya. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Cherrin bangun dengan perasaan menggantung—tidak buruk, tapi juga tidak tenang.

Ia duduk, menatap jam. 05.58.

Biasanya, Zivaniel sudah keluar kamar sekitar jam segini. Bunyi langkahnya teratur. Suara cangkir kopi. Sesuatu yang konsisten.

Hari ini, tidak ada.

Cherrin turun ke dapur sendirian.

Meja makan kosong. Kursi Zivaniel tidak tersentuh. Mesin kopi masih mati. Tidak ada tablet, tidak ada catatan.

Ia menuang air, meneguknya perlahan. Menunggu sesuatu yang tidak ia tahu bentuknya.

Beberapa menit berlalu.

Akhirnya, ia mendengar langkah.

Zivaniel muncul dari lorong kamar. Kemejanya rapi, rambutnya tersisir seperti biasa. Tidak terlihat kurang tidur. Tidak terlihat marah. Tapi juga… tidak hangat.

“Pagi Niel,” kata Cherrin ceria. Ia mencoba bersikap seperti biasanya.

“Pagi,” jawab Zivaniel singkat tanpa menoleh.

Ia langsung mengambil kunci mobil dari meja. Tidak duduk. Tidak meminta pelayan untuk membuat susu seperti biasanya.

“Kamu nggak sarapan?” tanya Cherrin sambil mengerutkan keningnya.

“Nanti aja di sekolah.”

“Eh” Cherrin tersentak. "Nanti kamu sakit perut. Makan dulu lah, tadi bibik udah buatkan susu buat kamu." Ucap Cherrin.

Hening lagi.

Zivaniel berhenti sebentar, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi kemudian hanya berkata, “Aku berangkat dulu.”

“ha?” Cherrin menoleh cepat. Terlalu cepat. Belum sempat ia berkata-kata lagi,

Zivaniel mengangguk kecil, lalu pergi.

Pintu tertutup dengan bunyi pelan.

Cherrin berdiri lama di dapur.

Ada jarak yang tiba-tiba terasa nyata. Padahal mereka berada di rumah yang sama. Padahal tidak ada pertengkaran. Tidak ada kata kasar. Tidak ada tuduhan.

Justru itu yang membuatnya bingung.

*

Hari di sekolah berjalan lambat.

Bukan karena pelajarannya sulit. Tapi karena Cherrin merasa seperti berada setengah langkah di belakang dunianya sendiri. Ia mendengar guru berbicara, mencatat, menjawab ketika ditanya. Semua refleks. Semua otomatis.

Saat istirahat, Icha akhirnya masuk sekolah, wajahnya masih pucat.

“Lo kenapa?” tanya Icha sambil membuka bekal.

Cherrin mengangkat bahu. “Nggak apa-apa.”

Icha menatapnya lama. “Lo bohong.”

Cherrin tersenyum tipis. “Biasa.”

Icha mendengus. “Itu jawaban paling nggak meyakinkan sedunia.”

Cherrin tertawa kecil, tapi cepat mereda. Ia menatap meja. “Zivaniel lagi aneh.”

Icha berhenti mengunyah. “Aneh gimana?”

“Dingin.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kemarin.”

Icha mengerutkan dahi. “Emang dia kayak gitu kan?”

“Iya” Cherrin menghela nafasnya. "Tapi dia lain, nggak kayak biasanya."

Icha mengerjap. "Lo apain dia?"

"gue nggak ngapa-ngapain."

Icha menyipitkan mata. “Beneran?”

Cherrin terdiam.

Wajah Elran tiba-tiba muncul di pikirannya. Senyum santainya. Cara dia duduk terlalu dekat. Cara Zivaniel melihat—atau lebih tepatnya, tidak ingin terlihat melihat.

“Gue ngobrol sama Elran,” kata Cherrin akhirnya.

Icha menghela napas panjang. “Oh.”

“Itu doang. Ngobrol.”

Icha menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Zivaniel lihat?”

Cherrin mengangguk pelan.

Icha menyandarkan punggung ke kursi. “Ya pantes.”

“Pantes apa?”

“Cemburu.”

Cherrin menoleh cepat. “Dia nggak—”

“Cher,” potong Icha lembut. “Lo boleh pura-pura nggak sadar. Tapi gue nggak.”

Cherrin terdiam.

“Zivaniel itu bukan tipe yang marah-marah,” lanjut Icha. “Dia tipe yang ngambekan”

Kalimat itu menetap lama di kepala Cherrin.

"Ha? Cemburu kayaknya nggak mungkin."

Icha menepuk pundaknya. "Bisa aja! Karena kalau menurut gue, Zivaniel memang ada rasa sama elo!" Seru Icha, membuat Cherrin terbelalak.

"Ha? Masa' sih? Zivaniel suka sama dia?"

*

Suatu sore, hujan turun.

Tidak deras. Tidak dramatis. Hanya rintik yang konsisten, membasahi halaman mansion dan membuat suara di luar terasa lebih jauh.

Cherrin duduk di ruang baca. Buku terbuka di pangkuannya, tapi halaman yang sama sudah ia baca berulang kali tanpa benar-benar memahami isinya.

Zivaniel lewat. Berhenti.

“Kamu nggak ikut makan malam?” tanyanya.

“Nanti,” jawab Cherrin. “Lagi nggak lapar.”

Zivaniel mengangguk. “Jangan kelamaan.”

“Iya.”

Ia berjalan lagi.

Cherrin menutup buku. Menarik napas dalam-dalam.

Cukup.

Ia bangkit, menyusul Zivaniel ke ruang makan.

Makan malam berlangsung hampir tanpa suara. Denting alat makan terdengar terlalu jelas.

Cherrin meletakkan sendoknya. “Niel.”

Zivaniel mengangkat pandangannya. “Hm?”

“Kita bisa ngobrol?”

Zivaniel diam sejenak. Lalu mengangguk. “Habis ini.”

Setelah makan, mereka duduk di ruang tengah. Kucing abu-abu itu melompat ke sofa, memilih duduk di antara mereka—seolah menjadi penyangga jarak.

Cherrin tersenyum kecil, lalu menatap Zivaniel.

“Kamu marah sama aku?”

Zivaniel tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan. “Aku nggak marah.”

“Terus kenapa?”

Hening.

“Aku cuma… nggak apa-apa.”

Kata itu jatuh pelan. Tapi berat.

“Karena Elran?” tanya Cherrin akhirnya.

Zivaniel menoleh. Tatapannya tidak tajam. "Hmm?"

"Kamu marah karena aku ngomong sama Elran?"

Zivaniel terdiam.

Cherrin menelan ludah. “Itu nggak berarti apa-apa. Aku nggak ngomongin apa-apa sama Elran.”

“Buat kamu, mungkin.”

Cherrin terdiam.

“Aku nggak punya hak,” lanjut Zivaniel. “Buat marah. Kita nggak ada… apa-apa.”

Kalimat itu membuat dada Cherrin berdenyut.

“Tapi kamu menjauh,” katanya pelan.

Zivaniel tersenyum tipis. Pahit. “Karena itu satu-satunya cara yang aku punya." Batin Zivaniel.

"Kalau kamu mau punya hubungan sama Elran, aku nggak masalah. Itu juga hak kamu."

Deg

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!