NovelToon NovelToon
Dikejar Mantan Suami Kaya Raya

Dikejar Mantan Suami Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cerai / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: dewisusanti

Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.

Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.

Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.

Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Tahun Kemudian

5 Tahun Kemudian

Di dalam sebuah kabin kecil namun modern, Caroline Watson berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke danau beku di luar, mengenakan sweater coklat muda dan legging stirrup.

Meskipun ia hanya mengenakan pakaian rumah yang kasual, Caroline tetap terlihat memukau. Kulitnya pucat namun bercahaya, kontras dengan rambut hitamnya yang tergerai hingga ke punggung. Ia tidak lagi terlihat gemuk, melainkan telah kembali ke berat badan idealnya. Lekuk tubuhnya yang seksi kini tampak lebih jelas.

Matanya terpaku pada danau yang membeku, sementara tangannya memegang secangkir kopi — ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, memikirkan rencana kepulangannya ke negaranya, Hustonia.

Ia masih ingin menikmati musim dingin ini di Swedia Utara sebelum kembali. Namun, ia tidak bisa menundanya lebih lama lagi, karena perusahaan membutuhkannya. Tyler hampir setiap hari meneleponnya untuk mengingatkan tentang cabang mereka di Hustonia.

Dan,

Alasan terbesar ia harus kembali secepat mungkin adalah kakeknya. Kabar terakhir yang ia dengar adalah bahwa kakeknya sakit parah.

...

“Mama—” suara seorang anak laki-laki terdengar di dalam ruangan, menyadarkan Caroline dari lamunannya.

Senyumnya melebar saat ia melihat seorang bocah kecil bertubuh chubby dan berkulit putih berjalan menghampirinya — bocah itu terlihat sangat menggemaskan dalam piyama hitamnya.

“Selamat pagi, Pangeran Kecilku Leo...” sapa Caroline dengan senyum lebar sambil meletakkan cangkir kopinya di atas meja.

Setengah berlutut di hadapannya, Caroline menatap mata Leo. Ia semakin khawatir karena putranya itu semakin hari semakin mirip William, dengan warna mata dan rambut yang serupa.

Pikiran tentang William atau keluarganya melihat putranya membuatnya gugup. Salah satu kekhawatiran terbesarnya saat kembali ke Hustonia adalah bagaimana cara menyembunyikan Leo dari keluarga Silverstone.

“Kenapa pangeran kecilku tidak menyapa mamanya? Dan kenapa wajahmu terlihat kesal pagi ini?” tanya Caroline dengan nada bercanda sambil mengusap pipi Leo yang hangat.

“Mama, selamat pagi,” ucap Leo kecil akhirnya dengan ekspresi datar.

Melihat ekspresi Leo, Caroline kembali teringat pada pria yang ingin ia lupakan. ‘Astaga... bagaimana mungkin ekspresi mereka bisa semirip ini?’ Caroline hanya bisa menghela napas dalam hati.

“Pangeranku, bagaimana tidurmu?”

“Berhenti memanggilku pangeran, Mama...” protes Leo.

Caroline tertawa. “Oh, sayang, kau harus menerimanya. Kau akan menjadi pangeranku sampai kau tumbuh dewasa...”

Leo menggelengkan kepala, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membantu Caroline berdiri tegak.

“Ayo duduk dan bicara, Mama.” Ia menggenggam tangan Caroline dan menuntunnya untuk duduk di area duduk dekat perapian.

“Kenapa kau tidak suka aku memanggilmu begitu? Itu terdengar lucu,” tanya Caroline setelah mereka duduk di sofa.

“Aku bukan pangeran,” jawab Leo sambil menyilangkan tangannya di dada. “Aku lebih suka kau memanggil namaku, Leo atau Leonel. Itulah alasan kau memberiku nama, untuk dipanggil, bukan?”

Caroline, “...”

Ia berusaha keras menahan tawa, mendengar betapa dewasa cara bicara bocah kecil ini.

“Baiklah... aku akan berhenti memanggilmu begitu, tapi berjanji jangan marah lagi, ya!?” katanya sambil mengacak rambut Leo yang lembut.

Leo tersenyum pada ibunya yang cantik dengan matanya menatap lurus ke arahnya. Mendengar seseorang memanggilnya pangeran dan berbicara padanya dengan cara yang begitu menggemaskan membuatnya merasa seperti masih bayi. Ia tidak tahan dengan itu!

“Leonelku terlihat sangat tampan saat tersenyum seperti ini...” Caroline tersenyum balik pada putranya, mendekat, lalu mencium pipi chubby-nya.

Caroline selalu berdoa agar bocah kecil ini tidak tumbuh terlalu cepat. Namun sepertinya Tuhan tidak mendengar doanya. Sejak tahun lalu, ketika Leo mulai berbicara dengan lancar, ia mulai terlihat berbeda dari anak-anak seusianya — berbicara dengan artikulasi yang tepat dan berperilaku seperti orang dewasa.

Ia tidak tertarik pada mainan seperti anak-anak lain, melainkan menyukai membaca buku, menggunakan komputer, dan bermain musik.

Hari demi hari, Caroline melihat betapa cepatnya Leo berkembang dalam mempelajari segala hal. Hal itu membuatnya khawatir. Namun, Milla berkata bahwa Leo adalah seorang jenius dan ia tidak perlu khawatir, justru harus bangga padanya.

“Mama, kapan kita akan bertemu kakek buyut!?” tanya Leo tiba-tiba, mengejutkan Caroline.

Ia menarik napas panjang dalam-dalam, teringat janjinya pada Leo bahwa ia akan membawanya bertemu kakek buyutnya begitu mereka tiba di Hustonia.

“Aku sudah bilang, kan? Kita akan mengunjunginya begitu kita tiba,” jawab Caroline. “Kau sudah berkemas? Jangan membawa terlalu banyak barang. Kita bisa membeli apapun yang kau butuhkan di sana...”

Mereka akan meninggalkan rumah ini besok dan singgah semalam di Stockholm sebelum kembali ke Hustonia.

“Hm, Nenek Milla sudah membantuku berkemas. Jangan khawatir, Mama... aku hanya membawa beberapa baju dan bukuku.”

---

Hari ini, Caroline akan terbang kembali ke negaranya.

Saat Caroline tiba di Bandara Arlanda, ia terkejut melihat Tyler Rake berdiri di dekat konter check-in. Dan seperti biasa, ia tampil dengan pakaian formal, setelan jas yang pas sempurna dan dibuat khusus untuknya. Rambutnya tertata rapi, membuatnya terlihat sangat tampan.

Ia hanya berdiri di sana, tidak melakukan apa-apa, tetapi sudah cukup menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

Caroline tidak bisa menahan senyum lebarnya. Sambil menggenggam tangan Leo, ia berjalan menghampirinya.

“Tyler, senang sekali melihatmu di sini,” Caroline tersenyum lebar lalu menoleh ke arah putranya. “Leo, sapa Paman Tyler.”

“Hai, Paman Tyler,” kata Leo sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

“Bocah kecil, senang bertemu denganmu lagi. Kau terlihat lebih tinggi dari sebelumnya...” kata Tyler sambil menerima tangan kecil itu dengan lembut.

“Tyler, terima kasih banyak,” Caroline mengambil troli koper dari Milla dan mendorongnya ke arah Tyler. “Kau benar-benar sahabat terbaikku. Aku tidak menyangka orang sesibuk dirimu datang ke sini untuk membantu kami...” Ia menyerahkan tiket pesawat dan paspor mereka padanya.

Tyler, “...”

Ia hampir tersedak mendengar ucapannya.

‘Siapa yang datang ke sini hanya untuk membantu mengurus koper?’ Ia datang hari ini untuk memastikan Caroline benar-benar kembali ke Hustonia. Perusahaan mereka menunggu kepulangannya untuk mengambil alih.

Tyler ingin menjawabnya, tetapi ia terdiam saat melihat Caroline berjalan menjauh menuju area duduk.

Ia tertawa sambil memberi isyarat pada pengawal pribadinya.

“Kau urus ini...” perintah Tyler, lalu menyusul Caroline.

1
mytripe
semoga terus konsisten torr👍👍
broari
semangat kk
july
hadir torr
Afifah Ghaliyati
mantap torr moga moga cray up pagi torr
Afifah Ghaliyati
aku lega banget kakeknya nggak beneran sakit
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
Afifah Ghaliyati
Caroline keren banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Afifah Ghaliyati
sumpah adegan ini bikin dada sesak 😭
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah
eva
pintar banget kakek Caroline🤣🤣
eva
terimakasih torr crazy up nya💪💪💪
Uba Muhammad Al-varo
ingat Caroline atas kesakitan mu yang diberikan William makanya kamu jangan mau balik kembali ke William
Uba Muhammad Al-varo
kakek Sebastian nggak tahu Caroline itu pembisnis hebat dan sukses
tia
sudah crazy update oq masih kurang thor
Uba Muhammad Al-varo
ternyata kakek Sebastian pintar juga ngebohongin anak mantu dan cucunya Caroline
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya kakek Bastian sadar dan ini juga awal semuanya memahami kesalahan nya sendiri 🤔🤔
Uba Muhammad Al-varo
good........ Caroline apa yang kamu lakukan sekarang dengan menjawab semua ocehan ayah dan keluarga besar, supaya mereka sadar semua yang terjadi ini akibat dari ketidak mampuan mereka berbisnis
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
wahhh keren update banyak nih tetap semangat terus ya 👍🏻💪🏻😍
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
astagaaa ternyata kakek Caroline ngeprank dan berhasil membuat Caroline pulang dan beliau tahu sendiri anak anaknya pada menyalahkan Carol
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
pasti itu kakeknya Caroline dan salut buat keberanian Caroline mengungkapkan isi hatinya tenang dan tegas tanpa takut
ˢ⍣⃟ₛ 3G🤎
bagus Caroline ungkapkan saja apa yang ada dalam hatimu seenaknya saja keluargamu sendiri menyalahkan kamu padahal mereka semua tidak becus bekerja
Dolphin
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!