Qing Shuang berjuang untuk menjadikan suaminya Han Feng, dari seorang pangeran terbuang hingga berkahir sebagai putra mahkota.
Berguru pada Guru Negara yang bahkan harus di hormati oleh kaisar, selama tiga tahun.
Mengatur strategi melawan semua pangeran yang memiliki kekuasaan lebih besar.
Tapi.
Bukannya rasa cinta yang didapatkan olehnya. Dirinya diceraikan pada malam pernikahan. Han Feng ternyata hanya memanfaatkannya, untuk mendapatkan kekuasaan. Sedangkan yang dicintai Han Feng adalah adik Qing Shuang, bernama Zhu-Zhu.
Dirinya dituduh berselingkuh, ibu asuhnya dibunuh. Ayah kandungnya bahkan seluruh keluarganya malah mendukung sepupunya.
Qing Shuang dibuang dalam keadaan sekarat ke makam masal. Di luar dugaan, wanita itu berusaha bangkit. Meraih uluran tangan guru negara.
Pria berambut panjang putih yang telah menjadi gurunya selama 3 tahun itu berucap."Ingin membunuhnya sekarang? Atau perlahan..."
"Perlahan..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Tua
Melangkah perlahan dengan sisa tenaganya. Dari mulut Hao Jun kembali mengeluarkan darah. Pemuda yang segera menyekanya.
Air matanya mengalir, dengan sisa tenaganya dirinya ingin pergi. Setidaknya mati tenggelam di kolam lebih baik dibandingkan dengan kematian yang akan menjerat adik kandungnya.
Seluruh keluarga Shen adalah ular beracun. Itulah yang baru disadarinya."I...ibu...ibu...aku akan melindungi Qing. Dia tidak akan dihukum mati karena meracuniku. Dia tidak akan dituduh oleh mereka..."
Pemuda yang benar-benar mengetahui kemana ini akan berakhir. Jika dirinya meminta pertolongan pada ayah atau neneknya dirinya akan kembali diracuni. Hanya untuk memberikan tuduhan pembunuhan pada adiknya.
Entah apa yang ada di pikirannya. Bayangan masa lalu? Dirinya bagaikan kembali menjadi balita yang kesulitan berjalan.
"Hao Jun... kemari. Kamu bisa! Kamu bisa!" Fatamorgana tentang masa kecilnya. Dimana wajah cantik ibunya menunggu di ujung lorong. Membentangkan kedua tangan bersiap menyambut dirinya ke dalam pelukan.
"I...ibu..." Hao Jun dengan mulut masih mengeluarkan darah berusaha melangkah berpegangan.
Air matanya mengalir dalam tangisan. Berjalan mendekati fatamorgana. Tapi segalanya lenyap, ibunya telah tiada. Dan sialnya dirinya selama ini mengagungkan pembunuh ibunya.
Hingga kala dirinya sampai di jembatan yang berhadapan langsung dengan kolam bunga teratai.
Hao Jun tertegun, betapa indah cahaya bulan. Selama bertahun-tahun dirinya selalu bertengkar dengan Qing, adik kecil yang dulu selalu berada di pangkuannya. Semua yang ada di keluarga ini selalu berbisik padanya mengatakan betapa jahat ibu dan adiknya membuat kasih itu memudar.
Tapi pada akhirnya dirinya salah. Dirinya yang bersalah.
"Ibu...jangan memaafkan ku." Kalimat dari Hao Jun kembali mengeluarkan darah dari mulutnya. Kematian karena tenggelam sudah cukup. Kematian karena keracunan tidak boleh terungkap sama sekali. Karena Lan Fang berusaha menggunakannya untuk menjebak Qing Shuang.
"Qing kakak tidak pernah menjadi kakak yang baik. Di kehidupan yang akan datang, aku ingin menjadi kuda perang yang kamu tunggangi. Aku akan mempertaruhkan nyawa tanpa imbalan untukmu. Maafkan aku di kehidupan ini...ibu, maaf Hao Jun merindukan ibu..."
Hao Jun merasa ajalnya akan segera tiba, menjatuhkan tubuhnya ke atas kolam bunga teratai.
Perlahan dirinya tenggelam, menatap ke arah cahaya bulan dari dalam kolam yang gelap. Keindahan cahaya bulan membuatnya tersenyum. Tidak ada jalan untuknya menebus kesalahan, tubuhnya terlanjur rusak karena racun.
Perlahan dalam dinginnya air Hao Jun memejamkan mata.
Tapi.
Seseorang terasa menariknya, kala dirinya membuka mata. Qing berada di sana, berusaha membawanya berenang ke permukaan. Namun tubuhnya terasa benar-benar tidak memiliki tenaga.
"Jangan menolongku...kamu bisa celaka." Mungkin itulah kalimat yang tidak dapat diucapkan oleh Hao Jun, berusaha melepaskan tangan adiknya. Hingga perlahan kesadarannya lenyap, hal terakhir yang diingatnya Qing Shuang kembali menarik tangannya.
***
Aroma yang begitu aneh, seperti bunga sakura? Entahlah... seharusnya bunga sakura tidak mekar.
Namun kala dirinya membuka mata, kelopak bunga sakura benar-benar ada di tangannya. Tempat yang begitu sunyi, terang dan suara bambu yang saling berbenturan akibat tertiup angin terdengar. Apa ini surga? Tidak dirinya adalah orang yang buruk. Atau ibunya ingin bertemu dengannya di mimpi?
"Seharusnya bukan kuda perang, tapi kakak seharusnya menjadi keset bagiku di kehidupan selanjutnya. Mati juga....kalau ingin mati jangan di kolam. Aku menyayangi ikan-ikan peliharaan ibu. Tidak ingin mereka mati karena keracunan bau mayatmu." Gumam Qing melangkah mendekat membawa mangkok kecil berisikan obat.
Hao Jun berusaha keras untuk bangkit berucap dalam kepanikan."Qing pergi! Cepat pergi! Kembalilah ke kuil tempat guru negara tinggal. Mereka meracuniku, menggunakan kematianku untuk membuatmu dihukum mati."
"Apa yang kamu bicarakan? Kita sekarang berada dalam kuil." Kalimat dari Qing Shuang.
Suara lonceng angin terdengar. Tempat yang tenang dan sunyi. Matanya menelisik ke arah sekitar. Seseorang tengah duduk menghadap ke arah lain. Hanya bagian punggungnya yang terlihat, tapi dari rambut putih panjangnya terlihat itulah sosok guru negara.
Seseorang yang bahkan dapat membuat seorang kaisar berlutut memohon nasehat darinya. Bencana kekeringan yang terjadi puluhan tahun lalu juga. Kaisar terdahulu berlutut tiga hari tiga malam, barulah guru negara bersedia menemuinya memberikan solusi. Itukah sosok ini? Sudah pasti sesepuh tua berjanggut berusia 256 tahun.
"Bukan aku, tapi guru yang menyelamatkan nyawamu. Kakak sudah berada di gerbang kematian. Karena itu aku membawamu ke kuil." Qing Shuang mulai menyuapi kakaknya dengan obat.
"Lan Fang jelas-jelas mengatakan kalau aku tidak mungkin diselamatkan. Itu dosis racun terakhir untuk---" Kalimat Hao Jun disela.
"Apa kakak sempat muntah? Karena hanya sedikit racun yang sempat tertelan. Seharusnya memang tidak bisa diselamatkan walaupun menelannya sedikit. Tapi dengan adanya guru semua hal bisa dilakukan." Pujian dari Qing Shuang. Tapi pria yang tengah duduk memunggungi mereka menghadap ke halaman tersebut sama sekali tidak menoleh.
Hao Jun terdiam sejenak. Menghela napas pada akhirnya air matanya kembali mengalir. Mengingat kue bunga yang diberikan ibunya dalam mimpi. Apa karena itu saat terbangun dirinya muntah? Ibunya tidak ingin dirinya mati?
"Qing ibu membenciku kan?" Tanyanya menunduk tanpa ekspresi.
"Aku membencimu. Tapi kamu anak kesayangan ibu, apapun kesalahanmu, ibu selalu memujimu. Ibu... bahkan saat malam sebelum kematiannya sempat menunggumu kembali, membuatkanmu kue bunga." Jawaban dari Qing Shuang pada akhirnya.
Hao Jun bergerak cepat memeluk adiknya erat. Pemuda yang biasanya arogan kini menangis terisak."Ma...maaf...aku tidak tau, aku pikir ibu benar-benar berselingkuh. Aku pikir nenek dan Lan Fang orang baik. Aku pikir..."
"Bodoh..." Qing menghela napas. Dirinya membenci Hao Jun, amat sangat membencinya. Tapi gadis itu mengingat kata-kata terakhir ibunya, di malam sebelum ibunya ditemukan meninggal. Pesan yang menyiratkan untuk tidak terlalu membenci Hou Jun."Dasar anak kesayangan ibu..." Geramnya.
"Maaf..maaf...maaf..." Hanya itulah yang dapat diucapkan oleh sang kakak.
Tapi.
Hup.
Pada akhirnya Hao Jun kembali mengeluarkan darah dari mulutnya. Qing menyekanya dengan cepat.
"Jika aku mati dan ada kehidupan selanjutnya---" Kalimat Hao Jun disela.
"Iya! Iya! Kakak akan mantel bulu rubahku." Qing berusaha keras untuk tersenyum.
"Hidupku tidak akan lama lagi---" Lagi-lagi kata-kata Hao Jun disela.
"Mustahil! Kamu akan hidup hingga menjadi kakek-kakek. Tadi itu muntah darah karena proses detoksifikasi racun." Komat-kamit sang adik mengomel. Sudah diselamatkan malah seperti ini.
"Jadi aku akan hidup lama?" Hanya Hao Jun dijawab dengan anggukan kepala oleh Qing.
"Minta bantuan pada guru negara untuk membunuh semua orang di keluarga Shen." Saran dari Hao Jun.
Pada akhirnya pria yang hanya duduk memunggungi mereka bangkit. Hao Jun menelan ludah, penasaran setengah mati dengan sosok guru negara yang tidak pernah dilihatnya. Sudah pasti pria tua dengan janggut putih yang panjang...
qing buat pytra mahkota selalu igat dosanya saat mmbunuhmu,biar trtekan tu han feng.