ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 35: Mahar Kejujuran di Atas Bara.
Fajar di Pesantren Al-Ikhlas tidak pernah terasa segetir ini. Semburat jingga yang biasanya membawa ketenangan, kini hanya menerangi puing-puing kaca yang berserakan di kamar Alaska dan Sania. Hawa dingin pegunungan merayap masuk melalui jendela yang hancur, namun rasa dingin itu kalah telak oleh kebekuan yang tiba-tiba melanda hati Sania Humairah.
Sania berdiri terpaku di sudut ruangan. Mukena putih yang ia kenakan tampak kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. Di tangannya, selembar kertas tua yang sedikit kusam—dokumen yang baru saja dikeluarkan dari kotak besi milik The Butcher—terasa seberat gunung. Mata indahnya membaca baris demi baris kata yang tertulis di sana, sementara Alaska berdiri mematung di depannya dengan napas yang memburu.
"Jelaskan padaku, Mas..." suara Sania bergetar, nyaris tidak terdengar. "Katakan bahwa dokumen ini palsu. Katakan bahwa pengakuan anak buahmu di sini hanyalah rekayasa Orion untuk mengadu domba kita."
Alaska tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap bercak darahnya sendiri yang menetes dari pelipis ke atas lantai kayu. Keheningan itu bagi Sania adalah jawaban yang paling menyakitkan.
Luka yang Terbuka Kembali.
Ingatan Sania melesat kembali ke malam waktu itu. Malam di mansion megah untuk pertama kali ia datangi, saat ia melihat foto ayah dan ibunya diikat di sebuah gudang gelap. Ia ingat betapa hancur hatinya saat itu, mengira ayahnya telah berkhianat dan ia harus menjadi jaminan. Ia ingat syarat yang ia ajukan dengan penuh keberanian:
"Pertama, bebaskan orang tuaku sekarang juga dan pastikan mereka aman."
"Kedua... kau tidak boleh menyentuhku sedikitpun tanpa izin dan keridhoanku. Dan aku tidak akan pernah membuka cadarku di hadapanmu sampai aku sendiri yang menginginkannya."
Namun, dokumen di tangannya menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Ternyata, satu minggu sebelum malam penyekapan itu, Hasan—ayahnya—telah melunasi semua kerugian bisnis Alaska. Bahkan, pengkhianatan yang dituduhkan itu telah terbukti sebagai fitnah dari rival Alaska. Namun, Alaska yang saat itu masih dikuasai oleh ambisi dan kegelapan, sengaja menyimpan fakta itu. Ia sengaja merancang drama penyekapan, sengaja mengikat orang tua Sania, hanya agar ia punya alasan hukum dan moral untuk "memiliki" Sania.
"Kau, menipuku sejak awal," lirih Sania. Air mata mulai membasahi cadarnya. "Syarat pertamaku di malam itu... kau setuju untuk membebaskan mereka, seolah-olah kau sedang memberikan kemurahan hati. Padahal, secara hakikat, mereka sudah bebas! Kau menyandera mereka secara ilegal hanya untuk menjebakku ke dalam pernikahan ini!"
Alaska melangkah maju, tangannya yang gemetar terulur ingin menyentuh bahu Sania.
"Sania, dengarkan aku... saat itu aku adalah monster. Aku melihatmu sekali di sebuah acara, dan aku terobsesi. Aku tidak tahu cara lain untuk mendapatkan wanita sepertimu selain dengan cara yang aku tahu: kekerasan dan paksaan."
"OBSESI BUKAN CINTA, ALASKA!" Sania berteriak, sebuah ledakan emosi yang mengejutkan seisi bangunan. "Kau melanggar syarat kedua yang kubuat! Kau bilang kau tidak akan menyentuhku tanpa keridhaanku. Tapi kau mengambil keridhaanku lewat kebohongan! Keridhaan yang kuberikan semalam, saat aku membuka cadarku... itu adalah keridhaan untuk pria yang kupikir telah bertaubat, bukan untuk pria yang membangun surga di atas penipuan!"
Pengakuan Sang Ayah.
Pintu kamar terbuka. Kyai Yusuf—atau Hasan—berdiri di sana dengan tubuh yang tampak lebih renta dari biasanya. Ia telah mendengar segalanya dari luar.
"Sania..." panggil ayahnya lirih.
Sania menoleh, menatap ayahnya dengan penuh luka.
"Ayah tahu? Ayah tahu kalau kita sebenarnya sudah tidak punya hutang saat Alaska menyekap Ayah dan Ibu malam itu?"
Hasan menunduk dalam, air mata jatuh ke jenggot putihnya.
"Ayah curiga, Nak. Tapi di bawah todongan senjata anak buah Alaska saat itu, Ayah tidak punya bukti. Ayah pikir, dengan menyerahkanmu padanya, setidaknya kau akan terlindungi dari musuh-musuh Alaska yang lain. Ayah berdosa padamu, Sania..."
Mendengar pengakuan ayahnya, Sania merasa dunianya benar-benar runtuh. Dua pria yang paling ia sayangi dan hormati ternyata telah bersekongkol—yang satu lewat kekejaman, yang satu lewat ketakutan—untuk menempatkannya dalam sangkar emas bernama pernikahan.
Sania melepas cincin pernikahannya. Ia meletakkannya di atas meja yang retak.
"Malam itu di Bab 1, aku bilang kau bisa memilikiku di atas kertas, tapi kau tidak akan pernah memiliki kehormatanku jika kau mengambilnya dengan cara hina."
Sania menatap Alaska dengan tatapan yang kosong. "Ternyata, kau mengambilnya dengan cara yang paling hina: manipulasi."
Bangkitnya Naga Hitam.
Alaska merasa jantungnya seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia melihat Sania berjalan melewati ayahnya, keluar dari kamar itu tanpa menoleh lagi. Rasa kehilangan yang ia rasakan jauh lebih menyakitkan daripada luka tembak mana pun yang pernah ia terima.
Ia berbalik menatap Bara yang masih berdiri di ambang pintu.
"Bara, di mana Orion sekarang?"
"Dia di gedung pusat, Tuan. Dia sedang merayakan 'kemenangannya'. Dia tahu dokumen ini akan menghancurkan Anda dari dalam."
Alaska mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang selama ini ia tekan di bawah bimbingan Kyai Yusuf kini bangkit kembali, namun kali ini tujuannya berbeda. Ia tidak lagi bertarung untuk dendam, melainkan untuk penebusan.
"Dia benar," bisik Alaska. "Dia berhasil menghancurkanku. Tapi dia lupa satu hal... seorang pria yang sudah tidak memiliki apa pun untuk dipertaruhkan adalah iblis yang paling berbahaya."
Alaska menyambar jaket kulit hitamnya. Ia menuju ke lemari rahasia di bawah lantai dan mengeluarkan sebuah tas panjang. Di dalamnya terdapat senapan runduk (sniper) dan dua buah pistol otomatis yang sudah lama tidak ia sentuh sejak ia memutuskan untuk menetap di pesantren.
"Tuan, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Bara khawatir.
"Aku akan memberikan mahar yang sesungguhnya pada Sania," jawab Alaska datar. "Bukan emas, bukan uang. Tapi kebenaran yang bersih. Aku akan mengambil semua dokumen asli, semua rekaman rekayasa, dan aku akan menghapus nama Orion dari muka bumi ini agar Sania tidak perlu lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan."
Strategi Bunuh Diri.
Alaska meluncur dengan SUV hitamnya membelah jalanan menuju pusat kota. Di belakangnya, Bara mengikuti dengan tim kecil yang paling setia. Di dalam mobil, Alaska menghubungi seseorang melalui saluran terenkripsi.
"Ini Naga Hitam. Aktifkan protokol pembersihan di Sektor 7. Aku ingin gedung Orion lumpuh total dalam 30 menit."
"Tapi Tuan," suara di seberang sana ragu. "Itu akan menarik perhatian otoritas nasional."
"Lakukan saja! Aku akan menanggung semuanya!"
Alaska tiba di depan gedung pencakar langit milik Orion. Gedung itu adalah simbol kekuasaan korup yang selama ini melindungi bisnis gelap mereka. Alaska keluar dari mobil, memegang senapan panjang di tangannya. Ia tidak mencoba menyelinap. Ia berjalan melewati pintu depan.
Dor! Dor!
Dua penjaga di lobi tumbang sebelum mereka sempat mengangkat senjata. Alaska bergerak dengan presisi yang mengerikan. Setiap gerakannya mencerminkan latihan belasan tahun di dunia bawah. Ia adalah badai yang tak terhentikan.
Di lantai 50, Orion duduk di kursi kebesarannya, memutar gelas wiski sambil menatap layar monitor. Ia tersenyum melihat Alaska yang mengamuk di lobi.
"Lihat, dia," gumam Orion pada asistennya. "Dia kembali menjadi binatang yang aku ciptakan. Cinta tidak membuatnya lemah, cinta membuatnya menjadi monster yang tak terkendali. Itu yang aku inginkan."
Doa di Sudut Mihrab.
Sementara itu, di Pesantren Al-Ikhlas, Sania tidak pergi meninggalkan tempat itu. Ia bersimpuh di mihrab masjid, masih dengan mukena yang sama. Ia menangis, mengadu pada Sang Pemilik Hati.
"Ya Allah... hatiku sakit," isaknya. "Aku, membenci caranya memilikiku, aku membenci kebohongannya. Tapi mengapa aku merasa takut kehilangan, dia? Mengapa aku merasa ingin dia kembali dengan selamat?"
Kyai Yusuf mendekat dan duduk di belakang putrinya.
"Sania, Allah Maha Membolak-balikkan hati. Alaska adalah orang yang tersesat dan mencoba menemukan jalan pulang. Jalan pulangnya sangat terjal karena dosa masa lalunya terlalu banyak. Namun, lihatlah... dia pergi bukan untuk melarikan diri, tapi untuk menghadapi iblis yang memegang kunci masa lalunya."
"Tapi dia kembali menggunakan kekerasan, Ayah! Dia kembali menjadi orang yang aku takuti di awal."
"Terkadang, Nak, seorang ksatria harus mengotori tangannya kembali untuk membersihkan rumah orang yang ia cintai. Doakan dia, karena hanya doamu yang bisa melunakkan hatinya yang kini sedang terbakar."
Konfrontasi Puncak.
Alaska tiba di lantai 50. Pintu lift terbuka dan ia langsung disambut oleh hujan peluru. Ia berguling ke balik pilar marmer, membalas tembakan dengan akurasi yang mematikan. Darah mengalir dari lengan bajunya, namun ia tidak berhenti.
Ia berhasil mencapai ruangan Orion. Di sana, Orion berdiri di balik meja kaca besar, memegang dokumen-dokumen asli milik keluarga Hasan.
"Berhenti di sana, Alaska!" teriak Orion sambil menodongkan pistol ke arah dokumen-dokumen itu.
"Satu langkah lagi, aku bakar semua bukti ini, dan ayah mertuamu akan membusuk di penjara atas tuduhan pencucian uang yang aku rancang!"
Alaska menurunkan senjatanya. Napasnya tersengal. Tubuhnya dipenuhi luka dan debu mesiu.
"Berikan dokumen itu padaku, Orion," suara Alaska rendah dan mengancam. "Kau sudah menghancurkan pernikahanku. Apa lagi yang kau mau?"
"Aku ingin kau berlutut!" Orion tertawa jahat. "Aku ingin melihat Naga Hitam yang legendaris itu berlutut di depanku dan mengakui bahwa kau hanyalah anjing peliharaan yang gagal bertaubat!"
Tanpa ragu, Alaska menjatuhkan senjatanya. Ia menekuk lututnya di atas lantai marmer yang dingin. Di hadapan musuh bebuyutannya, ia merendahkan harga dirinya demi satu hal: keselamatan nama baik Sania dan ayahnya.
"Sudah aku lakukan," ucap Alaska. "Sekarang, berikan dokumen itu."
Orion tertegun sejenak. Ia tidak menyangka Alaska akan benar-benar melakukannya. Namun, itulah kesalahan Orion. Ia meremehkan kekuatan pria yang sedang mencari penebusan.
Saat Orion melangkah maju untuk memberikan dokumen itu dengan sombongnya, Alaska melakukan gerakan yang tidak terduga. Ia menarik sebilah pisau kecil yang tersembunyi di balik pergelangan kakinya dan melemparkannya dengan kecepatan kilat.
Jleb!
Pisau itu menancap di tangan Orion yang memegang pistol. Pistol itu terjatuh, dan Alaska langsung menerjang seperti singa. Terjadilah pergulatan brutal di lantai 50. Mereka menabrak meja kaca hingga hancur berkeping-keping.
Alaska memiting leher Orion, matanya merah padam.
"Kau menggunakan istriku sebagai alat permainanmu! Kau salah memilih lawan, Orion!"
Dengan satu sentakan kuat, Alaska melumpuhkan Orion. Ia tidak membunuhnya—bukan karena ia tidak sanggup, tapi karena ia ingat janji pada Sania untuk tidak menjadi pembunuh lagi di tanah suci mereka. Ia mengambil dokumen-dokumen itu, merangkulnya ke dada seolah itu adalah harta paling berharga di dunia.
Kepulangan dan Penyerahan.
Malam telah larut saat SUV hitam itu kembali memasuki gerbang pesantren dengan perlahan. Mesinnya terdengar pincang, dan asap mengepul dari kap depannya.
Sania berdiri di depan masjid, menunggu. Alaska keluar dari mobil. Jalannya tertatih, satu tangannya memegang perut yang terluka, tangan lainnya memegang map cokelat besar. Ia berjalan mendekati Sania, lalu berhenti dalam jarak beberapa meter.
Tanpa berkata apa-apa, ia meletakkan map itu di tanah, lalu mundur beberapa langkah.
"Itu adalah mahar yang sesungguhnya, Sania," suara Alaska parau dan lemah. "Di dalamnya ada dokumen asli pelunasan hutang ayahmu, bukti rekayasa pengkhianatannya, dan akta kepemilikan rumah keluargamu yang sudah aku beli kembali atas namamu. Semuanya bersih. Tidak ada lagi keterikatan hutang atau ancaman."
Alaska menatap Sania untuk terakhir kalinya malam itu.
"Kau bebas, Sania. Syarat pertama... aku sudah benar-benar memenuhinya sekarang. Kau tidak lagi menjadi jaminan. Jika kau ingin pergi, pergilah. Aku tidak akan menahanmu lagi."
Alaska berbalik, hendak berjalan menuju kegelapan hutan pinus, namun tubuhnya yang sudah mencapai batas ambruk ke tanah.
"MAS ALASKA!"
Sania berlari secepat kilat. Ia tidak peduli lagi pada dokumen di tanah. Ia berlutut di samping tubuh suaminya, mengangkat kepala Alaska ke pangkuannya. Di bawah cahaya bulan, ia melihat wajah pria yang selama ini ia anggap monster itu ternyata dipenuhi oleh luka-luka demi membela kehormatannya.
"Kenapa kau lakukan ini...?" isak Sania sambil mencoba menahan pendarahan di perut Alaska.
Alaska tersenyum tipis, matanya mulai meredup. "Karena... aku ingin kau mencintaiku sebagai pria... bukan sebagai penculikmu. Aku... aku ingin menjadi air... yang memadamkan api amarahmu..."
Sania memeluk kepala Alaska erat, air matanya jatuh membasahi wajah suaminya.
"Jangan pergi... Aku ridha padamu, Mas. Demi Allah, aku ridha..."
Di kejauhan, suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Badai di balik pinus mungkin telah mereda, namun takdir baru saja memberikan ujian baru bagi cinta yang lahir dari ujung senjata dan tumbuh di bawah naungan doa.
Satu hal yang pasti: Masa lalu mungkin tidak bisa diubah, namun masa depan bisa ditebus dengan pengorbanan yang tulus.
__Pernikahan yang dibangun di atas fondasi muslihat mungkin bisa berdiri megah, namun ia akan selalu goyah oleh getaran kebenaran. Sebab, cinta sejati tidak membutuhkan rantai paksaan untuk mengikat, melainkan kejujuran yang memerdekakan jiwa untuk memilih tempatnya berlabuh__
Keberanian terbesar seorang pria bukanlah saat ia menodongkan senjata untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, melainkan saat ia berani meletakkan senjatanya dan berlutut memohon ampunan atas egonya yang melukai. Luka fisik bisa disembuhkan oleh waktu, namun luka akibat pengkhianatan hanya bisa dibasuh oleh air mata penyesalan dan pengorbanan yang tak mementingkan diri sendiri__
__Janganlah memandang rendah seseorang yang sedang merangkak mencari cahaya, karena terkadang mereka yang pernah hidup di dalam kegelapan yang paling pekat justru lebih menghargai setiap inci terang yang mereka temukan. Ridha seorang istri adalah pintu surga, namun kejujuran seorang suami adalah kunci yang membuka pintu tersebut agar kedamaian bisa masuk dan menetap selamanya__
Bersambung ....