Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.
Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.
Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.
Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.
Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.
Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?
Ikuti Kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Menyiram mantan suami
“Papa! Rania mau ayamnya yang banyak!”
“Bentar ya, Papa ambilin.”
Suasana hangat menyelimuti ruang makan luas itu meskipun hanya ada mereka bertiga. Tawa Rania, dentingan sendok, dan aroma masakan rumahan membuat pagi itu terasa lengkap.
“Mas…” panggil Jesika pelan.
“Hum?” sahut Felix tanpa menoleh, masih sibuk membagi ayam ke piring kecil Rania.
“Apa sebaiknya kita ke kota B saja? Menemui Kamelia. Aku udah nggak sabar lagi. Menurutku, lebih cepat lebih baik.” Nada Jesika terdengar serius dan penuh kekhawatiran.
Felix akhirnya menoleh, menatap istrinya lekat-lekat.
“Kamu tahu?” ucapnya pelan. “Pas kita nganter Rania kemarin, aku ngerasa lihat Alina...”
Ia terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu.
“Apa mungkin dia tinggal di sini, ya?”
“Mana aku tahu. Makanya ayo, Mas. Kita ke tempatnya Kamelia. Aku juga pengen tahu, selama ini mereka hidupnya seperti apa. Apakah layak atau tidak.”
Felix mengangguk. Matanya berpindah ke Rania yang terlihat senang mengaduk nasi di piringnya, sama sekali tak terganggu oleh percakapan serius kedua orang tuanya.
“Nanti siang aku jemput kamu,” kata Felix.
•••••
“Ingat pesan Mama ya!” kata Alina sambil membungkuk agar sejajar dengan Aeris.
“Kalau ada mereka, jangan nampakin diri. Langsung lari aja, paham?”
Aeris mengernyitkan dahi.
“Kenapa sih? Kayak mereka hantu aja…” gerutunya, tak paham.
Alina mendesah. “Udah, kamu nurut aja sama Mama. Jangan banyak tanya. Kalau kamu bandel, Mama kirim kamu ke asrama!”
Aeris lalu mencium punggung tangan Alina.
"Belajar yang rajin ya. Kalau ada teman yang menghina kamu, langsung lapor aja ke Bu Guru," kata Alina.
"Siap, Mama!" kata Aeris.
Alina menghela napas. Dia kemudian berbalik dan matanya langsung membelalak saat melihat Felix turun bersama Rania.
Alina menatap Aeris yang berjalan sangat lambat.
Sementara itu, Felix kini tengah menggandeng putrinya memasuki area sekolah.
"Ck, sial. Jangan sampai mereka ketemu," kata Alina dalam hati.
Alina baru bisa bernapas lega saat Aeris berlari dan masuk ke kelasnya.
Lekas-lekas wanita itu kembali ke taksi dan meninggalkan TK Aeris.
"Belajar yang rajin ya, Princess," kata Felix saat pria itu sudah tiba di depan kelas Rania sembari mengusap rambutnya yang terkuncir dua.
"Bentar lagi ultah Rania yang ke-6, Pa. Janji ya, bikinin Rania pesta," katanya.
"Pasti dong," kekeh Felix.
"Papa juga semangat kerjanya," kata Rania.
Setelah mengecup singkat pipi putrinya, dan setelah putrinya masuk ke dalam, Felix lekas berlalu.
Sementara itu, Aeris di dalam kelasnya melihat kehadiran pria itu.
"Oh… jadi Om itu papanya si cadel…" gumam Aeris.
Dia sudah diberitahu deretan foto-foto orang yang wajib dihindarinya, termasuk Rania, si gadis kecil itu.
"Tapi kok nggak mirip, ya, sama mama papanya?" gumamnya lagi.
"Masa si cadel anak pungut?" katanya lagi.
••••••
Alina tiba di kantornya. Suasana tampak sepi.
"Mbak Alina, cepat ke ruang rapat. Pak Direktur sudah ada di sana," kata seorang satpam yang berjaga.
Alina langsung bergegas ke lantai dua, tempat rapat biasanya diadakan.
Semua orang mengalihkan atensinya ke arah Alina yang baru saja bergabung.
"Apa kamu juga ingin dipecat?!" bentak Revan, menatap tajam ke arah Alina.
"Sudah dua kali saya mendapati kamu terlambat datang! Mungkin Pak Erwin masih bisa mentolerir satu atau dua menit jika terlambat. Tapi sekarang kepemimpinan beralih ke saya, dan saya berhak menentukan peraturan. Jika karyawan di sini terlambat satu menit saja, maka dia harus dihukum!" tegas Revan.
"Paham kalian semua?!" katanya lagi.
Tak ada yang berani bersuara, sementara Alina hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Aku terlambat karena mengantar anakmu, bodoh!" kata Alina dalam hati.
Lalu pandangan Revan beralih ke karyawan yang berbaris di depannya.
"Saya akan memberikan satu kesempatan lagi pada kalian semua. Jika masih terdapat kecurangan, maka jangan salahkan saya kalau harus memecat kalian semua!"
Ia menatap barisan itu satu per satu dengan tajam.
"Terkecuali untuk Hari dan Tanisa. Saya tidak akan memperkerjakan kalian lagi!"
Belum sempat keduanya buka suara, Revan sudah lebih dulu mengangkat tangannya, menyela,
"Tidak ada bantahan!" ucapnya tegas.
Lalu pandangannya tertuju pada seseorang.
"Dan untuk kamu, Alina!" tunjuk Revan.
"Kamu akan mendapatkan hukuman," katanya tanpa basa-basi.
Alina hanya mengangguk, iya-iya saja.
Setelah rapat itu selesai, Alina berjalan di belakang Revan. Entah ke mana pria itu akan membawanya.
"Apa kamu ingin jadi siput yang jalannya lambat?" kata Revan sambil berhenti dan menoleh ke belakang.
Alina berdecak kesal, lalu sedikit berlari mengejar langkahnya.
Revan berhenti di depan sebuah ruangan di ujung lorong—gelap, berdebu, dan tampak tak tersentuh.
"Kamu bersihkan ruangan ini. Jika dalam satu jam belum bersih, maka akan saya tambahkan pekerjaan kamu," kata Revan tegas.
"Padahal saya terlambat cuma satu menit tiga puluh tiga detik. Harusnya hukuman saya nggak perlu seberat ini," protes Alina pelan, tapi cukup terdengar.
"Berani membantah?!" suara Revan meninggi. Ia langsung mendekat ke arah Alina.
"Iya, emangnya kenapa?!" balas Alina, tak kalah tajam. Ia ikut melangkah maju hingga jarak tubuh mereka hanya sejengkal.
"Mentang-mentang bos baru, seenaknya banget!" geram Alina.
"Memangnya kenapa? Lagi pula, perusahaan ini sudah 80% jadi milik gue. Jadi terserah gue dong!" kata Revan dengan nada congkak.
"Lo cuma bawahan. Kalau gue mau, gue bisa depak lo jauh dari sini!" lanjutnya.
Setelah mengatakan itu, Revan langsung menjauh, meninggalkan Alina yang mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Dengan kesal, Alina menendang pintu yang tertutup di depannya.
••••••
"Hachiiim!"
Alina bersin beberapa kali karena debu yang langsung menyerbu hidungnya.
Entah alasan apa Revan menyuruhnya membersihkan ruangan ini.
Ini adalah ruangan istirahat yang tak terpakai—sudah lama ditinggalkan, apalagi letaknya memang di ujung lorong paling belakang.
"Sekali-kali ngerjain Revan boleh juga, kali ya?"
"Awas lo, gue juga bakal bikin perhitungan!"
Alina bolak-balik menyapu, mengepel, dan menggosok bagian-bagian ruangan. Waktu satu jam berlalu begitu cepat, tapi sepertinya ruangan berukuran sedang itu belum sepenuhnya bersih.
"Ck, bodo amatlah!" kata Alina, melempar kain lap ke ember dengan kesal.
Saat ia hendak keluar, langkahnya terhenti. Dari kejauhan, terlihat Revan sedang berjalan ke sini, kepala tertunduk menatap ponsel di tangannya.
Alina segera kembali masuk, menatap ember berisi air kotor dengan senyum licik.
Ia berdiri di balik pintu... sembari memegang ember erat-erat.
Langkah kaki itu semakin dekat… hingga—
"Alina! Apa kamu sudah—"
Byur!!
Seketika itu juga, air kotor dari ember meluncur tepat membasahi tubuh Revan. Dari kepala hingga sepatu mahalnya. Tubuhnya menegang seketika, shock.
Alina menatap dengan wajah polos yang dibuat-buat, lalu berkata,
"Uups… maaf. Eh, sengaja, Pak Revan." Senyumnya penuh kemenangan.
Wajah Revan langsung memerah. Ia menggeram.
"Kamu—" Revan melangkah cepat ke arah Alina, namun—
Brughh!
"Arghhh!!"
Naas. Kakinya tergelincir dan jatuh telentang dengan keras.
Alina terkekeh puas melihat Revan yang tergeletak sambil meringis.
"Rasain!"
"Kamu mau saya pecat, hah!?" bentaknya lantang.
Alina tidak peduli, wanita itu langsung keluar meninggalkan Revan yang berteriak kesal.
buat alina n leon bahagia thor
sdah tua jg msh ky abg
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏