Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Pagi
Jantung Glen berdetak kencang karena kondisinya sekarang Amara menindih tubuhnya, Dia menjadi panas dingin, terlebih saat tadi melihat wanita itu tanpa memakai baju, Glen pria normal, terlebih Dia tidak pernah melihat wanita dengan kondisi tanpa busana tentu jiwa kelakian nya jadi bangkit.
Pria itu langsung membalikkan tubuh Amara menindih nya membuat wanita itu mendelik tajam, lalu menendang pusaka milik Glen membuat Glen menjerit kesakitan.
"Dasar pria mesum," umpat Amara langsung berjalan mengambil pakaiannya dan berlari ke kamar mandi.
"Duh sakit banget, Dia nendang nya kuat juga, padahal Aku kan cuma gak sengaja lihat, Dia yang kepleset sendiri, hingga membuat ku kepancing," keluh Glen sambil berusaha untuk berdiri, Dia merasa tidak bisa berjalan dengan benar.
Pria itu langsung merebahkan tubuhnya di ranjang, merasa butuh meluruskan tubuhnya sejenak .
Sedangkan Amara yang tampak sudah memakai pakaian nya, langsung melirik Glen dengan tatapan sinis.
"Cih cuma segitu aja sudah lemah, kaya orang bodoh," cibir wanita itu sambil mengeringkan rambutnya.
"Makanya jadi orang jangan mesum, jadi kena akibatnya kan?" lanjutnya masih fokus mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer.
"Aku cuma mau ganti sprei, kenapa kamu ganti pakaian tanpa melihat sekitar?" jawab Glen menjelaskan panjang lebar.
"Lah kok nyalahin Gue? Lo yang masuk tanpa ketuk pintu duluan," balas Amara tidak terima.
"Lah ini kan kamar Aku, tadi juga kamu tahu Aku di dalam kamar," jawab Glen tak mau kalah.
"Dahlan mesum yah mesum aja, gak usah membela diri," ketus Amara, setelah nya langsung berjalan ke arah meja rias dan menyisir rambut nya.
Glen hanya diam saja tidak berniat untuk menjawab pria itu kini langsung turun dari ranjang setelah merasa lebih baik, Dia berpikir untuk mandi saja karena harus ke kantor.
"Nanti kamu harus jadi Amira hari ini, menjadi dokter," ucap Glen sebelum melangkah ke arah pintu kamar mandi.
Amara yang mendengar itu merasa terkejut, Dia merasa tidak mungkin berpura-pura menjadi dokter karena dokter taruhannya nyawa Dia tidak mau itu karena itu bukan profesi nya.
"Apa harus banget gitu? Tidak bisakah gak usah kerja? Itu kan kerjaan Amira, Gue bukan Amira?" protes Amara merasa tidak setuju untuk itu.
"Ini demi rencana agar berjalan dengan lancar, sebelum bukti kecelakaan itu di temukan," jawab Glen panjang lebar dan langsung menutup pintu kamar mandi, membuat Amara merasa kesal.
...----------------...
Setelah perdebatan di kamar kini Amara sudah duduk di meja makan, ini pertama kali nya wanita itu makan bersama dengan keluarga Glen karena dari kemarin wanita itu lebih memilih untuk makan di kamar.
Klaudia menatap Amara dengan tidak suka Dia masih dendam dengan kejadian kemarin, tapi wanita itu memilih untuk acuh tidak memperdulikan tatapan kakak iparnya itu, selama tidak menganggu makan nya.
Saat suapan pertama kali nya, Amara tampak terkejut karena rasa masakan itu terlihat familiar di lidah nya.
"Siapa yang memasak ini?" tanya nya melirik ke arah Glen yang duduk di samping nya.
"Bu Delima, apa ada yang salah?" jawab Glen berusaha untuk terlihat biasa saja, padahal pria itu tahu bahwa masakan itu adalah masakan mertua nya, pagi-pagi tadi Dinda yang mendengar kemarin Amara delivery di restoran nya merasa sangat begitu senang, wanita itu ingin menebus kesalahannya dengan mengantarkan makanan kesukaan putrinya dengan diam-diam.
"Apa masakan Saya tidak enak?" tanya Bu Delima yang langsung mendekat karena wanita itu sedang berada di situ.
"Bu Delima yakin? ini masakan mu?" Amara bukan nya menjawab malah bertanya balik, dia menatap Bu Delima dengan tatapan intimidasi, namun wanita itu berusaha untuk terlihat tenang dan biasa aja.
"Tentu saja iya," jawab wanita tua itu sambil tersenyum tipis.
"Kalo gak enak, biar Saya ganti," lanjut nya hendak mengangkat mangkok berisi lauk itu, namun Klaudia mencegah nya.
"Gak usah lebay deh, makan tinggal makan aja, apa susah nya," Klaudia yang merasa terganggu langsung menatap Amara dengan kesal, karena merasa makan nya terganggu.
"Oke Gue pergi, puas," Amara yang tidak mood akhirnya tidak jadi makan, wanita itu langsung berjalan keluar dari ruangan itu, tanpa memperdulikan Glen yang mengejarnya.
"Klaudia kau berulah lagi," decak Melani menatap putri nya dengan kesal, Dia merasa tidak habis pikir ada aja masalahnya setiap hari, Klaudia tidak menanggapi nya Dia memilih untuk tetep melanjutkan makan nya.
Sedangkan Melani langsung mengambil kotak makan, lalu mengisi dengan roti dan buah untuk Amara, karena Dia merasa tidak enak hati bagaimana pun keberadaan Amara sangat begitu di butuhkan.
"Sasa, maafin kakak ku yah? Jangan di ambil hati Dia itu memang begitu," ucap Glen saat sudah berada di depan rumah nya.
"Gue, bukan marah karena kakak Lo, tapi Gue merasa Bu Delima berbohong," jawab Amara dengan dingin.
"Sekali lagi jangan berbohong apa lagi tentang makanan, Gue tahu itu pasti makanan dari Nyonya Dinda kan?" ini ulah Lo kan?" lanjut nya menatap Glen dengan tatapan tajam, membuat Glen menelan ludah sendiri.
"Amara, Mama bawakan kamu bekal, setidaknya makan roti dan buah, biar perut mu tidak sakit," ucap Melani sambil tersengal-sengal, karena terburu-buru tadi, takut Amara sudah pergi.
"Terimakasih," jawab Amara, Dia pun tidak menolak itu karena merasa menghargai mertua nya dan tahu itu bukan dari Bunda nya.
Melani dan Glen hanya menghela nafas panjang karena merasa tidak bisa menaklukkan hati Amara yang dingin itu.
Wanita itu langsung berjalan ke arah mobil nya, di mana Lisa sudah berada di sana, tentu mobil itu mobil baru yang iya beli.
"Bos sekarang jadi dokter?" tanya Lisa melirik ke arah Amara dengan heran, karena wanita itu sudah memakai jas dokter.
"Sementara aja," jawab Amara dengan dingin.
"Nanti setelah mengantar ku, kau ke kantor cabang Yuda Group, Aku merasa ada masalah di sana, kesempatan kita di Indonesia, untuk meninjau nya," lajut nya panjang lebar sambil menatap ke arah depan.
"Baik," Lisa hanya mengangguk kemudian menyalahkan mesin mobil nya, meninggalkan pelataran rumah Glen.
Sementara Glen pun juga langsung pamit berangkat ke kantor juga, tidak lupa menyalami Mama nya.
Satu persatu pergi meninggalkan rumah itu, begitu pula dengan Klaudia yang berangkat bekerja ke rumah sakit sebagai dokter, yang tersisa hanya Melani yang hari ini memutuskan untuk rehat di rumah saja.
Perjalanan panjang itu kini mengantarkan Amara ke rumah sakit Ayahnya, di situ tertulis nama Siloam Hospital, wanita itu menghela nafas panjang, Dia sudah malas untuk menjadi dokter terlebih dokter kandungan bukan keinginan nya.
"Apa perlu Saya antar?" tanya Lisa saat melihat Bosnya tampak terlihat ragu.
"Tidak perlu, kau langsung ke perusahaan saja," jawab Amara dengan datar, lalu langsung berjalan ke rumah sakit.
Wanita itu berjalan dengan langkah pelan, dia berusaha untuk terlihat seperti Amira, ada beberapa perawat yang menyapa nya yang di balas anggukan oleh wanita itu.
Amara yang berjalan dengan santai, tanpa di duga ada anak kecil yang berlari hingga tanpa sengaja menabraknya hingga membuat Anak kecil itu terjatuh.
"Aduh sakit," pekik anak kecil itu saat lutut nya membentur lantai hingga berdarah.
BERSAMBUNG