Rahman adalah pemuda biasa yatim piatu yang sejak kecil ikut dengan Pakde nya, hingga suatu hari dia di ajak menemani pakde pergi kegunung Kawi.
di gunung itu lah dia menyaksikan hal yang sangat tidak dia duga, bahkan menjadikan trauma panjang karena dari ritual itu dia harus sering berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan.
Untung nya Rahman punya teman bernama Arya, sehingga pemuda itu bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Jadi kepala desa
Rahman menatap Pakde Parto yang sedang mengeluarkan pidato kepada para warga karena hari ini Pakde Parto terpilih sebagai lurah di desa kembang Arum, banyak yang memilih Pakde Parto sehingga dia mendapatkan suara sangat unggul dari pada yang lain sehingga sekarang dia telah resmi menjabat sebagai kepala desa kembang Arum ini.
Saat ini Rahman sama sekali tidak tahu kalau yang dia lakukan satu bulan yang lalu bersama Pakde Parto adalah salah satu ritual untuk acara pemilihan sebagai kepala desa, pemuda ini berpikir bahwa pencalonan ini terjadi begitu saja dan memang murni atas pilihan dari para warga yang ada di desa kembang Arum.
Namun itu semua salah satu pengaruh yang sangat besar ketika Pakde Parto memang memutuskan untuk mendatangi Gunung Kawi karena dia harus melakukan ritual dan melakukan sesembahan di sana agar bisa menjabat sebagai kepala desa, selama ini dia sudah empat kali mencalon namun selalu gagal dan itu semua karena tidak ada yang memilih dia.
"Apa memang karena ritual Gunung Kawi itu sehingga sekarang Pakde Parto menjadi kepala desa?" Rahman menatap orang tua yang selama ini sudah mengurus dia.
" Kan aku sudah pernah bilang ketika kau dulu berangkat menuju Gunung Kawi itu." Joko menjawab santai karena sedikit banyak dia sudah tahu.
"Tapi masa iya hanya karena ingin jadi kepala desa dia melakukan ritual seperti itu." Rahman menelan ludah ketika teringat bagaimana ritual yang di lakukan.
"Emangnya apa yang sudah terjadi di sana saat ritual itu berlangsung?" Joko jadi penasaran juga tentang apa yang telah terjadi di Gunung Kawi kala itu.
Rahman menelan ludah dengan susah payah karena dia tidak ingin berbicara tentang apa yang telah terjadi di Gunung Kawi, sebab kalau itu pakde Parto sudah memberikan peringatan agar jangan sampai Rahman berkata kepada orang yang tidak dikenal atau bahkan kepada teman dia sendiri, jadi Rahman memang harus tutup mulut agar tidak ada yang mengetahui apa yang telah Pakde Parto lakukan.
"Heh kau ini di tanya tapi malah memilih diam saja!" Joko menepuk pundak Rahman karena dia sudah sangat penasaran.
"Ora ono opo-opo kok!" Rahman memilih menggeleng karena dia memang tidak ingin bercerita.
"Ah dengan kau berkata seperti ini maka aku sangat yakin kalau ada yang sudah terjadi di Gunung Kawi itu." Joko berkata dengan sangat yakin.
"Sudah lah, jangan membahas terus seperti itu karena mungkin saja Rahman memang tidak ingin bercerita." Arya menahan Joko agar dia tidak memaksa Rahman lagi.
"Kan siapa tahu saja kalau yang Pakde Parto lakukan itu sesat sehingga nanti justru akan menimbulkan petaka." Joko malah sudah takut duluan.
Arya memberi kode kepada Joko agar pemuda ini diam dan tidak lagi berbicara banyak tentang Gunung Kawi itu, sebenarnya Arya adalah pemuda yang paham tentang harga gaib sehingga dia mengetahui apa yang telah terjadi namun untuk menghargai Rahman dia tidak lagi mendesak agar pemuda itu mau berbicara.
"Aku akan pulang duluan karena ada yang mau ku urus." Arya berpamitan pada mereka berdua.
"Kau ini kebiasaan selalu saja suka meninggalkan teman seperti ini." Joko menggerutu namun segera ikut dengan Arya saja karena dia sudah tidak senang dengan Rahman.
"Kalian hati-hati di jalan ya." Rahman masih berusaha untuk tetap ramah walau dia tahu Joko sudah kesal.
Arya tersenyum sambil melambaikan tangan agar Rahman tidak terlihat begitu kecewa setelah mereka pergi begitu saja dari hadapan dia, sendiri kembali tenggelam dalam pikiran ketika dia teringat sebulan yang lalu bagaimana ritual Gunung Kawi itu sedang berlangsung di lakukan oleh Pakde Parto.
👻👻👻👻👻👻👻👻
"Man, Kamu tunggu di sini dan duduk saja tidak usah banyak berbicara." Pakde Parto menyuruh Rahman duduk di luar dan dia segera masuk ke dalam pondok.
"Ajak saja dia ke dalam karena nanti akan banyak orang yang antri di sana." Mbah Bedu menyuruh Rahman masuk.
"Oh sini masuk duduk sini saja." Pakde Parto menyuruh Rahman duduk di sebelah dia.
Rahman menurut saja karena dia memang tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Pakde Parto, sebagai anak yang di rawat oleh Pakde Parto tentu saja Rahman tidak berani protes dan akan berusaha untuk membalas Budi agar tidak menjadi ungkitan ketika nanti Pakde Parto sudah kumat dengan rasa kesal.
Jadi ketika di suruh apa saja akan Rahman lakukan agar tidak di marah oleh orang tua ini, orang tua kandung Rahman sudah lama meninggal karena kecelakaan dan dia harus di rawat oleh Pakde Parto selaku Abang kandung dari Ibu Rahman ini sendiri.
"Apa yang ingin kau dapatkan sehingga mendatangi aku kemari?" Mbah Bedu menatap Pakde Parto yang sudah duduk anteng.
"Aku ingin kekuasaan dan sebenarnya kekuasaan itu tidaklah seberapa besar." Pakde Parto mengungkapkan keinginan dia.
"Mau besar atau kecil tapi tetap akan sama saja karena yang kau lakukan adalah sebuah ritual." Mbah Bedu berkata sambil menghisap rokok cerutu yang ada di tangan.
"Apa saja akan saya lakukan asalkan nanti saya bisa terpilih menjadi kepala desa." Pakde Parto sangat berambisi ingin menjadi kepala desa.
Mbah Bedu terdiam sesaat dan segera mengatakan apa saja yang menjadi kebutuhan dalam ritual ini, Rahman tidak tahu dengan jelas apa yang di katakan oleh dukun itu karena dia terlihat berbisik sehingga Rahman tidak bisa mendengar apa yang beliau katakan.
"Hanya menjadi kepala desa saja kenapa harus seberat ini ritualnya, Mbah?" Pakde Parto nampak kaget ketika sudah mendengar.
"Tadi sudah ku katakan kepada dirimu, itu besar atau kecil tapi yang jelas kau sudah berani datang kemari dan ingin melakukan perjanjian." Mbah Bedu berkata santai.
"Apa resiko yang harus aku hadapi bila aku sampai telat?" tanya Pakde Parto karena dia ingin mengetahui terlebih dahulu.
"Nyawamu sendiri yang akan menjadi taruhan bila kau sampai lalai melakukan kewajiban mu!" Mbah Bedu berkata tegas sehingga Pakde Parto tidak berani untuk membantah.
"Apa yang akan Pakde ini lakukan sehingga dia sampai nekat datang ke sini?" Rahman bertanya di dalam hati namun dia tidak berani bertanya langsung.
"Apa dia akan menjadi orang pertama?" Mbah Bedu menatap Rahman yang duduk seperti ketakutan.
"Tidak! Jangan dia." Pakde Parto langsung menjawab cepat.
Mbah Bedu mengangguk paham karena Pakde Parto seperti tidak ingin memberikan Rahman kepada dukun yang ada di Gunung Kawi ini, Rahman sendiri tidak tahu maksud pertanyaan Mbah Bedu tadi ketika dia ditatap seperti itu dengan tatapan yang begitu tajam dan seolah sangat menusuk.
Hallo semua ketemu lagi sama Mak NJ, kali ini bercerita mundur ya saat Arya dan Purnama masih gadis dan bujang serta ada Bu Laras.
Dan sedikit pesan, cerita Mak NJ memang bersangkutan dengan Arya serta Purnama ya karena mereka yang sudah membuka pintu rezeki Mak NJ sampai sekarang, alhamdulilah dan terima kasih untuk yang sudah suka ya.