NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Kebenaran yang Tidak Membuat Perbedaan"

Beberapa minggu kemudian, pintu rumah Arif dibuka dengan perlahan. Ibunya Dewi berdiri di depan, memegang tas penuh makanan yang dia bawa sendiri. Wajahnya terlihat pucat dan lelah, seolah-olah dia juga sedang menanggung beban. “Hai, Arif. Boleh aku masuk?” tanya ibunya dengan suara yang lemah.

Arif terkejut, tapi segera menyambutnya. “Ya, Bu. Silakan masuk. Dewi ada di kamar.”

Ibunya masuk, melihat rumah yang bersih tapi terasa sunyi. Dia menuju kamar Dewi dan melihatnya berdiri di depan jendela, mata masih menatap langit yang mendung. “Sayang, aku dateng nih. Bawa makanan kesukaanmu,” ujar ibunya dengan senyum yang lemah.

Dewi hanya mengangguk, tidak mau berbalik. Dia merasa hati sedikit bergetar ketika melihat ibunya, tapi dinginnya yang sudah meresap terlalu kuat untuk merasakan sesuatu yang lain.

Ibunya duduk di kasur, memandang putrinya yang semakin kurus. “Sayang, aku tahu kamu sedih. Aku mau minta maaf—aku tidak bisa melindungimu dari paman-pamanmu. Tapi aku ingin kamu tahu kenapa mereka memaksa kamu kembali ke Arif.”

Dewi akhirnya berbalik, mata kosong menatap ibunya. Dia ingin mendengar, tapi tidak berani berharap.

“Selama kamu dan aku di desa nenekmu, Arif selalu pulang ke rumah kita,” ujar ibunya dengan suara yang bergetar. “Setiap hari dia datang, menemui ayahmu, paman-pamanmu, dan bibi-bibimu. Dia cerita bahwa dia sudah berubah, sudah rajin bekerja setiap hari, sudah punya rumah sendiri.”

Ibunya menghela nafas panjang, seolah-olah sulit mengucapkan kata-kata berikutnya. “Tapi yang paling parah… Arif meninggikan dirinya dengan menjelekanmu, Sayang. Dia bilang bahwa selama ini, kamu hampir tidak pernah melakukan pekerjaan rumah—semua itu dia yang kerjakan. Dia bilang kamu hanya tahu mendrama, membuat masalah tanpa alasan, dan tidak pernah menghargai apa yang dia lakukan.”

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar Dewi. Dia berdiri diam, mata memandang ibunya dengan tidak percaya. Semua ini—semua tuduhan paman-pamanmu tentang “drama”—ternyata adalah ulah Arif. Dia yang membohongi semua orang, yang membuat keluarga mengira dia adalah orang yang buruk.

“Iya, Sayang. Semua yang paman-pamanmu dengar itu dari Arif,” lanjut ibunya, air mata mulai menetes. “Mereka percaya padanya karena dia selalu datang, selalu berbicara dengan sopan, sementara kamu tidak ada di sana untuk membela diri. Mereka berpikir dia yang benar, dan kamu yang salah.”

Dewi merasa hatinya semakin dingin—lebih dingin dari sebelumnya, seolah-olah lapisan es yang membungkusnya semakin tebal. Dia tidak merasa marah pada Arif, tidak merasa sedih pada keluarga yang bodoh. Dia hanya merasa… lelah. Lelah karena semua kebohongan, lelah karena semua paksaan, lelah karena hidup yang selalu memihak pada orang yang salah.

Di luar kamar, Arif mendengar pembicaraan itu. Dia masuk dengan wajah yang merah, mata marah. “Bu, apa yang kamu katakan? Itu bukan bohong! Dewi memang tidak pernah membantu pekerjaan rumah!” seru dia.

Dewi melihat Arif, mata nya tetap kosong. Dia ingat semua masa lalu—ketika dia selalu memasak untuk Arif, membersihkan rumah, mencuci baju. Tapi Arif menghapus semua itu, menggantinya dengan kebohongan agar dia tampak baik di mata keluarga.

“Kamu bohong, Arif,” bisik Dewi dengan suara yang sangat lemah, tapi terdengar jelas di ruang yang sunyi. “Aku selalu membantumu. Tapi kamu hanya mau melihat apa yang kamu inginkan lihat.”

Arif terdiam sebentar, lalu tertawa dengan candaan. “Lihat itu? Kamu mulai mendrama lagi! Cuma bisa menyalahkan orang lain!”

Ibunya berdiri, menatap Arif dengan wajah yang marah. “Arif, cukup! Aku sudah mendengar banyak dari teman-temanmu juga. Mereka bilang kamu yang selalu menyalahkan Dewi, yang selalu membuat dia sedih. Jangan bohong lagi!”

Tetapi Dewi tidak peduli lagi. Dia berbalik, kembali menatap jendela. Burung yang dia lihat sebelumnya sudah hilang, digantikan oleh awan yang lebih gelap. Dia merasa bahwa kebebasan yang dia inginkan tidak pernah akan datang—dia terkurung dalam kebohongan, paksaan, dan dingin yang tak terhindarkan.

Ibunya mendekati, ingin memeluknya. Tapi Dewi mundur, menjauh dari sentuhan ibunya juga. Dia sudah tidak bisa menerima sentuhan apapun—semua sentuhan terasa seperti api yang membakar, yang membuat dinginnya hati semakin memuncak.

“Sayang, tolong… aku minta maaf. Aku harusnya percaya padamu,” ujar ibunya dengan menangis.

Tapi Dewi hanya diam. Dia tahu ibunya minta maaf, tapi kata-kata itu tidak bisa mengubah apa-apa. Dia sudah berubah, sudah menjadi orang yang dingin dan hilang. Semua ulah Arif, semua paman-paman yang bodoh, semua tekanan yang dia terima—semuanya telah merusak dirinya sampai tidak bisa dipulihkan lagi.

Arif berdiri di sudut kamar, masih marah. Ibunya menangis di samping kasur. Tapi Dewi hanya berdiri diam, mata menatap langit yang semakin gelap. Hatinya sudah dingin seperti es, dan dia tahu bahwa dia akan selalu seperti itu—selama sisa hidupnya.

Ibunya Dewi bertekad akan memberitahukan kebenarannya kepada semua keluarga nya, dan ia pun segera ber gegas pulang.

 di rumah, setelah kembali dari rumah Arif, ibu nya Dewi segera mencari paman-paman dan bibi-bibi nya. Dia mengumpulkan mereka di rumah, wajah nya tegas dan matanya penuh keberanian. “Semua orang, aku punya sesuatu yang harus kukatakan,” ujar nya dengan suara yang tegas.

Dia menceritakan semua yang Arif katakan, semua kebohongannya yang menjelekan Dewi. Dia memberitahu bahwa sebenarnya Dewi yang selalu membantu pekerjaan rumah, yang selalu menghargai Arif, dan yang tidak pernah mendrama tanpa alasan. “Aku sudah bukti nya dari teman-teman Arif sendiri. Semua yang dia katakan itu bohong!” serunya.

Suasana menjadi tegang. Paman Keempat mengangguk perlahan, wajahnya terlihat bingung. “Kalau begitu, aku minta maaf pada Dewi. Aku tidak harus percaya langsung pada Arif tanpa mendengar sisi dia.” Tapi Paman Kelima hanya menggeleng, wajahnya marah. “Ini pasti kebohonganmu juga, Bu. Arif tidak mungkin bohong. Dewi memang orang yang suka drama!”

Bibi-bibinya juga terbagi. Beberapa percaya pada ibunya Dewi, merasa menyesal telah menyalahkan Dewi. Yang lain masih ragu, mengira ibunya hanya membela putrinya. Mereka berdebat lama, tapi tidak ada kesepakatan.

Sementara itu, di rumah Arif, Dewi mendengar cerita dari ibunya yang menelepon. Dia mendengar bahwa ada yang percaya dan ada yang tidak. Tapi dia hanya mengangguk, mata tetap kosong. Dia sudah tak peduli lagi dengan pendapat mereka—semua tuduhan dan keyakinan mereka tidak bisa mengubah dinginnya hati yang sudah meresap sampai ke tulang. Dia hanya ingin hidup diam, jauh dari semua masalah dan kebohongan yang telah merusak hidupnya.

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!