Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Enam bulan sudah mata cantik Luna masih terpenjam dan terbaring di rumah sakit belum ada tanda-tanda sadar, alat-alat penopang hidup Luna sudah di lepas hanya tersisa infus yang masih menempel di pergelangan tangan membantu memberi nutrisi untuk wanita cantik yang setia dengan tidur panjangnya.
Dengan kondisi Luna yang masih berada di rumah sakit, penjagaan Luna masih tetap ketat ini di lakukan Edward semata-mata menjaga dari serangan musuh bisnis yang ada di sisni dan ia masih setia setiap hari bergantian menjaga Luna dengan Adam.
Adam terpaksa memindahkan kantor firma hukumnya di London, ia mulai dari awal kembali dengan mencari klien-klien untuk firma hukum barunya. Sedangkan Akbar menunggu istrinya yang tak kunjung bangun, ia memilih bolak - balik dengan penjadwalan khusus yaitu 2 minggu berada di Indonesia dan 2 minggu berada di London ia tak gegabah meninggalkan semua pekerjaannya di Indonesia.
"Bagaimana keadaan Luna di sana, apa sudah ada tanda-tanda sadar?"tanya Akbar.
"Masih tetap sama seperti biasa belum ada perubahan."balas Adam.
Yah, Akbar yang menghubungi Adam menanyakan keadaan istrinya, ia masih belum bisa untuk ke sana di karenakan tiba-tiba masalah perusahaan yang mengharuskan kehadirannya di meeting pemegang saham.
"Lusa aku akan ke sana, hari ini belum bisa aku mendadak ada meeting penting di perusahaan."ucap Akbar.
Helaan nafas Akbar pun muncul, ia tak sabar lagi ingin segera istrinya segera bangun dari tidur panjangnya.
"Baik, selesaikan saja dulu urusan perusahaanmu."kata Adam.
Dan panggilan itu terputus.
"Kenan, apa ada kabar tanda-tanda wanita sialan itu aku mulai tak tenang setelah aku memutuskan hubunganku dengannya."ucap Akbar pada asistennya.
Asisten Kenan yang masih setia berada di sampingnya.
"Belum ada tuan, dari orang suruhan kita untuk mengawasinya belum ada laporan terbaru lagi."balas asisten Kenan.
"Awasi terus, jika wanita itu bergerak kabari aku. Jangan sampai wanita itu membuat masalah denganku ataupun ke istriku."kata Akbar.
"Maaf tuan, ada pesan nyonya besar kalau nanti malam ada makan malam dengan teman nyonya besar menemui anaknya."ucap asisten Kenan.
"Masih berusaha juga ternyata ibuku, sudah aku bilang bahwa aku tak ingin menikah dengan siapapun selain dengan istriku saja.Kamu tau kan apa yang harus di lakukan."kata Akbar.
"Baik tuan, saya mengerti."jawab asisten Kenan.
- -
Edward masuk ke dalam ruangan Luna, ia menatap adiknya masih tetap dengan mata terpenjamnya tanpa mau membukanya.
"Mau sampai kapan kamu akan tidur terus?"tanya Edward sambil mengelus lembut kepala Luna.
"Bangunlah, kakak akan membawamu liburan ke tempat yang kamu inginkan."kata Edward.
"Permisi tuan, akan ada pemeriksaan rutin untuk nona Luna."sela suster yang baru datang.
"Silahkan dokter."ucap Edward.
Dokter yang menangani Luna berganti dengan dokter muda tampan, julukan itu yang sering di sebut suster - suster di sana.
"Saya sudah mengecek kondisi nona Luna, masih seperti sebelumnya kondisinya stabil dan kita hanya menunggu nona Luna sadar dengan kemauannya sendiri."ucap dokter Nando.
Yah dokter muda tampan itu bernama dokter Nando, dokter dengan sejuta pesonanya.
"Kapan Luna akan bangun dok?"tanya Edward.
"Jika di lihat dari kondisi nona, setidaknya seminggu lagi nona mungkin akan sadar kembali tetapi kembali lagi ini hanya perkiraan saya tuan jadi itu semua masih belum pasti."balas dokter Nando.
"Cantik sebenarnya nona ini, banyak laki - laki yan menyayangi dia. Cepat sadarlah nona,banyak orang-orang yang sayang denganmu di sini."gumam Nando dalam hati melihat arah Luna.
"Baik dok, mungkin besok Luna akan saya pindahkan ke rumah. Agar lebih dekat dengan keluarganya."kata Edward.
"Iya tuan, kalau begitu nanti saya urus prosedur ijin untuk nona Luna supaya tuan bisa membawanya ke rumah. Nanti akan ada satu suster yang siaga untuk pasien."ucap Nando.
"Itu lebih bagus."balas Edward.
"Baik tuan, saya permisi dulu ada pasien yang harus saya kunjungi juga."ucap Nando, dan ia pun keluar dari ruangan Luna.
"Silahkan dok, terimakasih hari ini."ucap Edward.
Lalu Edward duduk di sofa yang berada di sudut ruangan, ia memilih melanjutkan dengan memeriksa tablet yang berada tangannya.
Drrrt...Drrrt..
"Halo, ada apa?"tanya Edward.
"Jangan sampai mereka tau keberadaan Luna di sini, manipulasi semua informasi adikku. Segera beli sisa saham yang berada perusahaan itu."tegas Edward.
Panggilan itu terputus, Edward merasa geram mendapati informasi dari suruhannya di Indonesia. Berani-berani bermain dengannya.
"Tak akan ku biarkan kalian mengganggu adikku, kalian belum mengenal siapa itu Edward Abraham!!"kesal Edward dengan tatap tajamnya.
{Siapkan pesawat pribadiku, besok kita akan ke Indonesia ada hal penting yang harus ku bereskan di sana.}pesan Edward.
{Baik tuan}balas asistennya.
Lalu Edward memilih menghubungi Adam untuk menjaga Luna sementara ia akan membereskan kecoa-kecoa di Indonesia.
"Adam, sedang apa dirimu?"sapa Edward.
"Halo kak, ada apa. Ini masih di firma hukum."balas Adam.
"Besok gantikan aku menjaga Luna untuk sementara, aku akan ke Indonesia membereskan sesuatu dulu. Jangan pacaran terus kamu di sana!!"tegas Edward pada Adam.
"Ba..ba..baik kak, aku enggak pacaran mereka saja yang tertarik denganku."jawab Adam.
Adam si casanova lawyer, ini di balik wajahnya tampan dan dingin ia juga sering bergonta-ganti wanita.
"Aku akan memindahkan Luna ke rumah, agar kakek bisa melihat Luna tanpa harus ke rumah sakit. Dan aku akan sedikit lebih lega selagi aku tak ada di sini."ucap Edward.
"Luna akan di pindah ke rumah kak? apa semua baik-baik saja?"tanya Adam.
"Semua baik, sudah dulu kakak mau melanjutkan pekerjaan kakak."ucap Edward dan memutuskan panggilannya.
"Semua akan kembali sedia kala, semua yang menjadi hakmu akan kakak kembalikan ke tempat seharusnya."ucap Edward melihat ke arah Luna.
Hari mulai beranjak malam, ia masih tetap berada di ruangan Luna. Tanpa ia ketahui, telunjuk tangan kanan Luna mulai ada tanda-tanda pergerakan. Terakhir kali 2 bulan lalu tanda-tanda itu muncul namun ternyata hanya sesaat dan tidak terjadi perubahan signifikan bagi Luna. Dan ini sudah dua hari tiap malam telunjuk kanan Luna ada pergerakan kecil yang di sadari orang-orang di sekitarnya.
"Maaf permisi ini makan malam yang di pesan tuan"kata asisten Edward.
"Yah, taruh saja di sana. kamu boleh pulang malam ini aku akan tidur di sini menemani Luna. Besok pagi kamu ke sini jemput aku."perintah Edward.
"Baik tuan muda."balas asistennya.
Setelah kepergian asistennya, ia di sana hanya berdua saja. Edward pun memulai menghabiskan makan malam yang sedikit terlambat itu.
"aaa..aairr.."
Bukan Edward yaaa 😁
menye menya nggak jelas.
kurang greget kakak Luna.