Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07. Hari Pernikahan. #Malam Pertama Yang Tak Sesuai Harapan
.
Matahari menerpa dengan kuat saat sepeda motor butut warna biru tua yang dikendarai Riko melaju membelah jalanan kota yang cukup ramai. Ban depan terkadang sedikit bergoyang karena jalan yang tidak rata, namun Riko tak peduli – wajahnya terpampang senyum lebar dan kadang kala ia bersiul mengingat sebuah lagu yang terlintas di benaknya. Udara kota yang sedikit berdebu menyapu wajahnya, namun rasa bahagia yang meliputi hatinya membuat segala sesuatunya terasa indah.
“Aku harus mencari pekerjaan,” gumamnya sambil menekan tuas gas lebih dalam, membuat motor bergegas lebih cepat melewati jalanan yang penuh dengan asap knalpot.
“Setelah ini aku akan menikah dengan Laras. Jadi aku tak lagi hanya harus membantu keuangan Ibuku. Aku harus memberi nafkah untuk Laras juga.” Pikiran tentang kehidupan barunya bersama kekasihnya membuat langkah tangannya di pedal kopling semakin ringan.
Di satu jalan yang ia lalui, matanya tak sengaja tertuju pada sebuah pengumuman yang tertempel rapat di tiang listrik pinggir jalan. Kertas putih yang dicetak dengan huruf hitam tebal itu menginformasikan adanya lowongan pekerjaan.
Riko segera menginjak rem perlahan dan memarkir motor di tepi jalan. Dia turun dan mendekati tiang listrik, membaca setiap kata dengan cermat sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya guna mencatat alamat dan nomor ponsel yang tertera di kertas pengumuman itu.
Dengan penuh semangat, ia kembali menaiki motor dan mengarahkan kendaraannya menuju alamat yang baru saja dicatat. Setelah beberapa menit berkendara melewati beberapa gang berliku, ia tiba di sebuah toko elektronik yang tampak besar.
“JAYA ELEKTRONIK”
Halaman toko itu tampak luas dipenuhi oleh beberapa mobil dan motor pelanggan, sementara beberapa rak luar menampilkan barang-barang elektronik ringan.
Riko memarkir sepeda motornya di sudut halaman, mengibaskan sedikit debu dari bajunya sebelum memasuki toko. Suara mesin pendingin ruangan menyambutnya begitu pintu geser terbuka, di samping derap langkah pelanggan yang sedang memilih barang. Seorang pria paruh baya dengan kumis tebal yang mengenakan baju kerja biru muda segera mendekatinya dengan senyum ramah.
“Selamat siang, mas. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pemilik toko yang kemudian Riko kenal dengan nama Pak Jaya.
“Nama saya Riko, Pak. Maaf sebelumnya, saya melihat pengumuman lowongan pekerjaan di toko ini. Apakah benar masih ada lowongan untuk penjaga toko?” tanya Riko dengan suara mantap, penuh dengan keyakinan yang terpancar dari mata matanya.
Pak Jaya mengangguk, mengamati penampilan Riko secara sekilas, sebelum kemudian menjawab. “Benar sekali mas. Apa Mas berniat bekerja di sini?”
"Iya, Pak.” Riko mengangguk tegas.
Pak jaya mengangguk. "Baiklah. Saya jelaskan dulu apa saja pekerjaan yang harus kamu kerjakan ya,” ucapnya sambil mengambil selembar kertas catatan, lalu perlahan dan mengajak Riko duduk di bangku kecil di sudut kasir.
“Baik, Pak," jawab Riko lalu mengikuti pak Jaya.
“Pertama, shift kamu dimulai dari jam 18.00 sampai jam 06.00 pagi. Kedua, membantu mengatur barang-barang yang masuk saat ada pengiriman pagi hari. Selain itu, kamu juga harus bisa bekerja sama dengan staf lain dan menjaga kebersihan area penjagaan.”
Riko mendengarkan setiap penjelasan dengan seksama, kemudian mengangguk mantap. “Saya siap melakukan pekerjaan itu, Pak. Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengecewakan Anda,” jawabnya dengan penuh tekad.
Pak Jaya tersenyum puas melihat keyakinan Riko. Dan bisa menilai, sepertinya Riko orang yang bisa diandalkan dan dipercaya. “Baiklah mas. Kalau begitu, kamu bisa mulai bekerja besok malam ya. Kita akan bahas tentang gaji dan ketentuan lainnya saat kamu mulai kerja.”
Riko mengangguk penuh semangat dan mengucapkan terima kasih. Dan begitulah, sejak saat itu Riko bekerja sebagai penjaga keamanan di toko besar itu.
*
Beberapa minggu kemudian.
Riko dengan setelan jas sederhana namun rapi, duduk di hadapan seorang penghulu, di dalam ruang tamu luas milik keluarga Darmawan. Hatinya bergejolak. Kebahagiaan dan kesedihan bercampur aduk menjadi satu. Ia menikahi Laras, wanita yang ia cintai, namun pernikahan itu terasa begitu…tidak lengkap.
Pernikahan itu hanya dilakukan secara siri, sesuai keinginan Laras. Riko, meski berat hati, menyetujui permintaan itu. Walaupun tidak diumumkan secara publik, sebenarnya ia ingin pernikahannya diakui secara hukum negara. Namun, lagi-lagi Laras berhasil meyakinkannya. Yang penting mereka sudah menikah secara sah. Riko, yang sudah dibutakan oleh rasa sayang, hanya bisa mengangguk pasrah.
Pernikahan itupun hanya disaksikan oleh Tuan Heri Darmawan dan Nyonya Ratna, orang tua Laras. Ibu Riko satu-satunya keluarga yang ia miliki, tidak hadir. Laras beralasan, pernikahan ini harus dirahasiakan dari semua orang, termasuk ibunya. Riko merasa sedih dan kecewa. Di hari pentingnya, ibunya tidak bisa hadir untuk memberikan restu. Namun, Laras kembali meluluhkan hatinya dengan janji-janji manis dan ciuman mesra.
Penghulu mulai membacakan ijab kabul. Riko menarik napas dalam-dalam dan menjawab dengan lantang, "Saya terima nikahnya Laras Ayu Darmawan binti Heri Darmawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Setelah ijab kabul selesai, Riko menoleh ke arah Laras dan tersenyum manis. Laras membalas senyuman Riko.
Selesai acara, Laras menggenggam tangan Riko dengan senyum penuh arti. "Mulai sekarang, kamu harus tinggal bersamaku di sini, di rumah keluarga Darmawan," ucap Laras.
Hati Riko berlonjak kegirangan. Ia merasa mimpinya menjadi kenyataan. Ia akhirnya diterima menjadi bagian dari keluarga besar Darmawan. Ia akan hidup bersama Laras di rumah sebagai pasangan suami istri yang halal.
"Tentu saja, Sayang! Aku akan melakukan apapun untukmu," jawab Riko dengan semangat.
Laras tersenyum puas dan memeluk Riko erat. "Aku senang mendengarnya. Sekarang, mari kita mulai kehidupan baru kita."
Namun, Riko tidak tahu, di balik senyuman Laras, tersembunyi rencana licik yang akan mengubah hidupnya menjadi neraka.
Laras menggandeng Riko menuju sebuah kamar yang sangat luas dan mewah. "Ini kamar kita, Sayang," ucap Laras, tersenyum manis.
Riko terpukau. Kamar yang sungguh luas, bahkan lebih luas dari rumah kontrakan yang ia tinggali bersama ibunya.
*
*
Malam harinya, malam yang seharusnya menjadi malam pertama yang indah bagi Riko dan Laras. Malam pertama sebagai pasangan suami istri yang sah. Riko sudah membayangkan malam yang penuh cinta, kehangatan, dan keintiman. Ia ingin merasakan sentuhan Laras, ciuman Laras, dan berbagi kebahagiaan dengannya.
Namun, harapannya kembali pupus.
Laras, setelah seharian bersikap manis dan penuh perhatian, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan menjaga jarak. Ia menghindari tatapan Riko berbicara dengan singkat, dan tampak tidak nyaman berada di dekatnya.
Riko merasa bingung dan khawatir. Ia mendekati Laras dan bertanya, "Laras, ada apa? Kamu kelihatan tidak enak badan?"
Laras menghela napas dan menatap Riko dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku... aku sedang tidak enak badan, Sayang," jawab Laras, memalingkan wajahnya.
Riko mengerutkan kening. "Kamu sakit? Apa perlu anyar ke dokter?"
Laras menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku hanya merasa lelah dan sedikit pusing. Mungkin karena terlalu banyak pikiran."
Riko merasa sedih dan kasihan melihat kondisi Laras yang terlihat lemah. "Kalau begitu, kamu istirahat saja ya," ucap Riko mengelus rambut Laras dengan lembut. "Aku akan menemanimu di sini."
Laras menepis tangan Riko dan menjauhinya. "Tidak usah! Aku ingin sendiri. Aku ingin tidur," ucap Laras yang mulai menutup tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher.
Riko terkejut dengan reaksi Laras. Ia tidak mengerti mengapa Laras tiba-tiba bersikap seperti ini.
"Tapi... ini malam pertama kita, Laras," ucap Riko dengan suara lirih. "Lagipula aku hanya ingin menjagamu."
Laras menghela napas panjang dan menatap Riko dengan tatapan yang dingin dan acuh tak acuh. "Aku sedang lelah, Riko. Aku ingin tidur dengan tenang. Bisakah kamu mengerti?"
Riko terdiam. Ia merasa hatinya seperti ditusuk ribuan jarum. Ia merasa sangat kecewa dengan sikap Laras yang tiba-tiba berubah.
"Baiklah," ucap Riko dengan suara yang bergetar. "Aku akan tidur di sofa."
Laras tidak menjawab. Ia langsung memejamkan mata.
Riko menatap Laras dengan tatapan yang penuh kesedihan lalu berjalan menuju sofa dan merebahkan diri di sana. Matanya menerawang ke arah langit-langit ruang. Berbagai pertanyaan bermunculan di benaknya, hingga akhirnya mata yang semula terbuka lebar perlahan meredup dan akhirnya terpejam sempurna.
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄