Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.15. The First Separation
Angin berhembus pelan, membawa aroma darah.
Feral Wolf menggeram liar, marah dengan perbuatan Theo. Tapi Feral Wolf tak langsung menyerang, seakan ada yang menahan mereka.
Grimhowl itu menatap Theo dengan penuh nafsu.
Kelompok Rovan menatap aneh pada Theo.
“Rovan, amankan Kess, dan bertahanlah sebisa kalian,” ucap Theo, mengalihkan pandangan ke Grimhowl.
Rovan tersadar langsung menyeret tubuh Kess dan Mira.
“Hei, anjing besar, apa kau akan menatapku terus,” ejek Theo. “Apa aku harus maju duluan,” Theo membocorkan auranya sedikit.
Perhatian Grimhowl dan para Feral Wolf sekarang tertuju pada Theo.
Satu Feral Wolf meyerang Theo dari belakang.
“Ash awas!!!” teriak Rovan.
Feral Wolf mengincar kepala Theo.
Theo tidak menoleh, dia hanya bergeser satu langkah, cukup untuk membuat gigitan itu menyambar udara kosong. Theo menarik pedang dari sarungnya, mengayunkan dengan ringan dan tubuh Feral Wolf terbelah menjadi dua bagian.
Lalu satu Feral Wolf menyerang lagi, tapi mati dengan mudah oleh Theo.
Rovan dan yang lain melihat itu tak percaya.
Grimhowl menggeram marah, langsung berlari menerjang Theo di ikuti dengan para Feral Wolf lainnya.
“HAHAHA, baguslah anjing sialan. Ayo!!!” Theo maju kedepan dengan cepat, melempar belati dari tangannya, membunuh satu Feral Wolf lagi.
Theo membawa Grimhowl dan para Feral Wolf menjauh dari kelompok Rovan.
Di sisi Rovan, dia dan Halden harus menghadapi dua Feral Wolf.
Mereka membunuhnya dengan cepat.
“Halden, kita harus membantu Ash!!!” ucap Rovan, setelah memenggal kepala Feral Wolf.
“Haaaaa!!!” teriak Halden, menancapkan kapaknya di kepala Feral Wolf.
“Apa kau yakin bocah itu butuh bantuan,”
Pandangan Rovan langsung tertuju ke arah pertarungan Theo.
Theo menebas mata kiri Grimhowl. Lalu dua Feral Wolf menerjangnya dari kedua sisi, Theo menghindar ke belakang dengan cepat.
Grimhowl menggeram sangat marah, dengan mata yang tertutup satu, Grimhowl itu melolong dengan keras, membuat para Feral Wolf maju dengan sembarangan.
Feral Wolf menggila, beberapa kali Theo menghindar dengan susah payah.
“Dasar anjing-anjing sialan!!!” Theo menghindar dan mencoba menebas kepala Feral Wolf. Tapi di tambah Grimhowl yang ikut menyerang membuatnya sedikit kesusahan.
Grinhowl mengayunkan cakarnya, Theo menangkis dengan pedang membuatnya terpental, kekuatan Grimhowl meningkat. Beberapa Feral Wolf berhasil mendaratkan serangan membuat baju dan daging Theo sedikit terkoyak.
Theo membuat jarak dengat cepat, mengatur napasnya.
“Baiklah, cukup main-mainnya,” mengalirkan Mana pada kaki dan pedangnya.
Theo menghilang dengan cepat, sedetik kemudian dia berdiri di sebelah Grimhowl.
“Kau anjing yang menyebalkan!!!” pedang Theo menebas dengat cepat, kepala Grimhowl jatuh perlahan dan diikuti dengan tubuhnya.
Suasana tiba-tiba hening, Feral Wolf yang menggila menjadi diam menatap Theo. Kawanan Feral Wolf terlihat ragu untuk menyerang.
Theo menatap tajam kawanan Feral Wolf, mengeluarkan sedikit aura kematian. Membuat para Feral Wolf ketakuan.
Satu Feral Wolf lari menjauh, dengan cepat di ikuti Feral Wolf yang lain.
Theo tidak mengejar kawanan itu, dia meraih kepala Grimhowl lalu melangkah mendekati kelompok Rovan yang masih mematung setelah melihat pertarungan. Bahkan Kess yang tangannya hilan dan hampir mati melihat Theo dengan tatapan yang berbeda sekarang.
Mira memandangnya dengan perasaan kagum.
Rovan dan Halden, mereka seperti akan menjadi penggemar pertama Theo di dunia ini.
Theo melempar kepala itu kepada Rovan.
“Kau bisa mengurus sisanya, kan?”
Rovan dan kelompoknya tersadar.
“Ehh.. Ah, yah. Ka-kau bisa istirahat sekarang Ash,” ucap Rovan.
Semua orang sekarang merasa canggung berada di dekat Theo.
Theo menatap Kess.
“Apa kau tak apa?”
“Y-yah, te-terima... kasih” jawab Kess, dengan kikuk. Dia masih meremas luka pada sis tangannya.
“Aku akan membawamu ke desa, berdirilah.” ucap Theo.
“Ah, ti-tidak perlu, kau bisa kembali tanpaku,” jawab Kess.
“Itu akan aneh kalau porter kembali sendiri, kau bisa menjadi alasanku,” ucap Theo.
Kess menatap semua orang.
Rovan dan yang lain mengangguk.
“Ba-baiklah kalau begitu,” ucap Kess, mencoba bangkit. Terlihat kakinya terdapat luka dari cakaran Feral Wolf, Theo mulai memapahnya.
Theo menatap Rovan.
“Kau bisa mengirim bayaranku ke penginapan yang ada di kedai tadi. Dan...”
“Kami akan merahasiakannya,” ucap Rovan cepat.
“Kau bisa tenang bocah,” ucap Halden, memasang senyum lebarnya.
Theo mengangguk, lalu melangkah pergi dari padang rumput itu.
Meninggalkan mayat dan bau darah yang tersisa di sana.
.
.
Pagi hari datang, kehebohan terjadi di seluruh desa karena Rovan dan kelompoknya membawa mayat Grinhowl beserta beberapa Feral Wolf.
Semua orang bertanya-tanya bagaimana kelompok kecil itu bisa membantai sekawanan Feral Wolf yang dipimpin Grimhowl.
“Apa kau percaya mereka bisa menghabisi kawanan itu?”
“Aku dengar mereka hanya kelompok dengan lima orang”
“Salah satu dari mereka kehilangan tangan karena itu”
“Apa...”
Semua topik obrolan pagi itu hanya membahas tentang kelompok Rovan.
.
Di sisi lain, Theo baru bangun dari tidurnya. Tanpa tahu kegaduhan yang terjadi di luar.
Suara ketukan pintu terdengar. “Ash, apa kau sudah bangun?” suara Edrin terdengar di balik pintu.
“Masuklah,” ucap Theo.
Pintu di buka, Edrin masuk dengan semangat.
Mendekati Theo yang masih mencoba bangkit dari tempat tidur.
“Hei, Ash. Itu ulahmu, kan?” tanya Edrin.
Theo menjauhkan tubuh Edrin.
“Apa maksudmu? Dan kenapa pagi-pagi kau sudah berisik sekali?”
Edrin tampak lebih semangat.
“Apa kau tahu, di luar sana orang-orang sedang membahas satu kelompok yang membantai Feral Wolf yang di pimpin Grimhoawl. Bukankah itu semua perbuatanmu?” Edrin berbicara dengan mata yang berbinar.
Theo melihatnya dengan bingung.
“Apa membunuh anjing-anjing itu bisa dibanggakan?”
Edrin terdiam dengan mendengar pertanyaan itu.
“Apa kau sudah tak waras!!! saat Grimhowl muncul, biasanya dia akan membawa dua puluh Feral Wolf sebagai kawanan. Dan itu membutuhkan kelompok dengan sepuluh orang yang terdiri dari Adept dan Disciple. Lalu cakar....” Edrin mejelaskan dengan antusias.
Theo hanya bisa mendengarkannya.
Pagi itu, kehebohan juga terjadi dalam kamar Theo.
.
Setelah lelah dengan Edrin, Theo makan di kedai lantai bawah sendirian karena Derrik dan yang lain harus menyiapkan perbekalan untuk melanjutkan perjalanan.
Suasana tidak seramai hari kemarin, Theo duduk di sudut mengamati beberapa pria yang duduk di meja lain sedang berbincang dan minum alkohol. Theo menelan ludahnya.
‘Lily, bukankah menyenangkan bisa minum setelah pertarungan?’ ucap Theo, masih memperhatikan gelas alkohol pria itu.
[TING]
“Apa anda sekarang menjadi pecandu alkohol?”
‘Yah, setelah hidup cukup lama. Hanya minuman itu yang menjadi temanku,’ Theo menelan ludahnya lagi.
Lily tak menanggapi ucapan Theo.
.
.
Gerobak melaju pelan meninggalkan desa, Theo dan kelompoknya melanjutkan perjalanan mereka menuju Morvain.
Edrin masih mencecar Theo dengan banyak pertanyaan, tapi Theo memilih diam sepanjang perjalanan. Saat sudah cukup jauh dari desa, terlihat beberapa orang menunggangi kuda mengejar kelompok Theo.
Theo yang melihat kelompok itu menyuruh Derrik untuk menghentikan kudanya dan turun dari gerobak. Dan saat kelompok itu mendekat mereka langsung turun dari kuda dan mendekati Theo—itu adalah Rovan dan kelompoknya.
“Apa kau tak melupakan sesuatu Ash?” tanya Rovan, dengan tersenyum lalu melepar kantong kepada Theo. “Itu adalah bayaranmu sebagai porter kemarin,”
Theo menangkapnya.
“Bukankah ini cukup berat?” tanya Theo.
“Yah, untuk porter sepertimu. Itu cukup bocah,” ucap Heldan.
Mereka semua tampak berbeda dari tadi malam. Kess yang sudah mendapat perawatan terlihat sudah lebih baik, meski harus tetap berada di atas kuda.
Theo tersenyum, memasukkan kantong itu di balik jubahnya.
“Kau akan kemana Ash?” tanya Mira.
“Kerajaan Morvain, kudengar di sana cukup banyak kontrak perunggu,” jawab Theo.
Rovan dan kelompoknya tertawa mendengar itu.
“Kau benar-benar aneh, bocah” ucap Heldan.
Theo ikut tertawa kecil.
“Apa kalian akan melanjutkan perjalanan kalian?” tanya Theo, dia melihat banyak perbekalan di kuda mereka.
“Ah, tidak, kami akan ke Kelthorn untuk mengantar Kess ke kampung halamannya,” jawab Rovan.
“Kau bisa mampir kesana Ash,” timpal Kess, tersenyum.
Theo mengangguk.
Rovan dan kelompoknya menatap Theo, lalu membungkukkan badan mereka.
“Kami sangat berterimakasih Ash!!!” ucap mereka bersamaan.
Melihat kelompok Rovan, Derrik dan yang lain merakan sesuatu yang familiar.
“Aku hanya bekerja sesuai bayaranku, kan,” ucap Theo.
“Kau memang orang yang sulit di tangani bocah,” ucap Heldan, menaiki kudanya lagi.
“Baiklah Ash, semoga di masa depan kita bisa bertemu lagi” Rovan menyodorkan tangannya.
Theo tersenyum, menjabat tangan Rovan. Dan mereka berpisah dari sana.
Derrik memacu kudanya lagi.
Edrin mencecar Theo dengan lebih banyak pertanyaan.
Theo masih diam tanpa menjawab, dan perjalanan menuju Morvain kembali dilanjutkan.
.
.
.