NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan

Bram melangkah maju, mendekati Anya. "Anya, Ayah senang kamu sudah pulang," ucapnya dengan suara lembut, berusaha menyentuh bahu putrinya.

Anya menegang seketika saat merasakan sentuhan tangan ayahnya di bahunya. Sentuhan itu tidak lagi membuatnya merasa nyaman dan aman, melainkan membangkitkan amarah dan kekesalan yang selama ini ia pendam.

Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana ayahnya telah memaksanya untuk menikah dengan Arga, mengancam dan menyakitinya dengan kata-kata yang kejam dan tidak berperasaan. Kekesalan dan kemarahan itu masih membekas di dalam hatinya dan sulit untuk dihilangkan.

Anya mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindari tatapan mata ayahnya yang penuh dengan penyesalan dan rasa bersalah. "Iya, Ayah," jawab Anya dengan nada datar dan dingin, berusaha menyembunyikan emosi yang sedang bergejolak di dalam dirinya.

Bram menghela napas. Ia tahu, Anya masih marah padanya. Ia tidak bisa menyalahkannya. Ia tahu, apa yang telah ia lakukan sangat menyakitkan bagi Anya.

"Anya pasti capek. Lebih baik Anya istirahat dulu," ucap Dewi, mencoba mencairkan suasana. Ia tahu, putrinya tidak nyaman dengan kehadiran ayahnya.

"Iya, Bu. Anya mau istirahat dulu," jawab Anya, merasa lega dengan tawaran ibunya.

"Arga, ayo ikut Anya," ucap Anya, tanpa sadar menggandeng tangan Arga.

Arga tersenyum riang dan mengekori Anya menuju ke kamar yang menjadi tempatnya untuk menyendiri dan menenangkan diri. Arga sama sekali tidak menyadari ketegangan yang baru saja terjadi antara Anya dan ayahnya.

Anya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kasar, melampiaskan segala kekesalan dan frustrasinya. Ia merasa sangat lelah dan tertekan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental.

Ia tidak tahu sampai kapan ia harus menjalani pernikahan yang tidak diinginkannya ini dan terus berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa dengan pernikahannya ini.

Arga dengan polos duduk di samping Anya dan menatapnya dengan tatapan khawatir. "Anya terlihat sangat lelah, apa Anya baik-baik saja?" tanyanya dengan nada lembut dan penuh perhatian.

Alih-alih menjawab pertanyaan Arga, Anya justru merasa semakin kesal dan marah melihat Arga yang dengan santainya duduk di atas tempat tidurnya. "Kenapa duduk di sini?"

Arga tersenyum lebar, tidak menyadari kekesalan Anya. "Arga capek, Arga mau tidur tapi dipuk-puk kepalanya sama Anya," ucap Arga dengan nada manja.

"Mau kupukul kepalamu?" ucap Anya dengan tatapan tajam, mengancam.

Arga cemberut dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak mau! Nanti kepala Arga sakit," jawab Arga dengan nada ketakutan.

"Makanya, diam dan jangan menggangguku, Arga! Aku sangat lelah! Lebih baik kau tidur di sofa saja dan jangan mendeKatiku!" ucap Anya dengan nada membentak dan wajah yang memerah karena emosi.

"Anya mau Arga pijat pundaknya? Arga jago memijat, lho!" tawar Arga dengan nada polos dan senyum manis yang menghiasi wajahnya.

Anya terdiam sejenak, menatap Arga dengan tatapan bingung dan tidak percaya. Ia tidak mengerti mengapa Arga selalu bersikap baik dan perhatian padanya, padahal ia selalu bersikap kasar dan kejam padanya.

"Tidak perlu! Aku tidak butuh bantuanmu! Lebih baik kau tidur di sofa dan jangan menggangguku! Aku ingin tidur sekarang!" tolak Anya dengan nada ketus dan kasar.

Hati Arga terasa seperti ditusuk ribuan jarum saat mendengar bentakan Anya yang kasar dan menyakitkan. Seperti biasa, kedua matanya langsung berkaca-kaca dan siap untuk menumpahkan air mata. "Anya, mengapa Anya selalu berkata kasar pada Arga? Arga sedih dan sakit hati mendengar kata-kata Anya yang jahat," ucap Arga dengan nada lirih dan suara yang bergetar.

Anya sama sekali tidak mempedulikan perasaan Arga dan memilih untuk memejamkan matanya rapat-rapat. Ia sudah sangat lelah dan muak menghadapi Arga sejak mereka berada di hotel. Selalu saja ada tingkah laku Arga yang aneh dan di luar nalar yang membuatnya semakin kesal dan frustrasi.

"Mengapa Anya selalu jahat pada Arga? Padahal Ayah bilang, jika Arga selalu berbuat baik pada Anya, maka Anya juga akan berbuat baik pada Arga," ucap Arga dengan nada sedih dan putus asa. Air mata mulai membasahi pipinya, tidak mampu lagi ia tahan.

Anya tidak bisa tidur karena terusik oleh isakan tangis Arga yang terdengar menyedihkan. Suara tangis Arga sangat mengganggu dan memekakkan telinganya, membuatnya semakin kesal dan frustrasi.

"Berhenti menangis, Arga! Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?! Aku sudah sangat lelah menghadapi semua ini!" ucap Anya dengan nada membentak dan mata yang memerah karena menahan amarah. Ia terbangun dari tidurnya dan menatap Arga dengan tatapan tajam dan menusuk. Arga masih duduk di atas tempat tidur sambil terisak-isak.

"Arga ingin tidur di sini bersama Anya, Arga takut. Karena waktu di hotel kemarin, Arga merasa seperti ada seseorang yang menemaninya di dalam kamar," ucap Arga di sela-sela tangisnya, mengungkapkan ketakutan yang selama ini ia pendam.

Anya memutar bola matanya dengan jengkel. Alasan Arga terdengar sangat konyol dan tidak masuk akal, namun melihat wajahnya yang penuh dengan ketakutan, Anya merasa sedikit iba dan tidak tega untuk menolaknya. Ia menghela napas panjang, menyerah pada keadaan dan terpaksa mengalah.

"Baiklah, kau boleh tidur di sini, tapi dengan satu syarat. Kau harus diam dan tidak boleh menyentuhku sedikit pun. Mengerti?" ucap Anya dengan nada datar dan dingin, berusaha menyembunyikan rasa kasihan yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Ia hanya ingin tidur dengan tenang tanpa harus mendengar suara tangisan Arga yang menyebalkan.

Arga mengangguk cepat dengan wajah yang berbinar-binar, menyeka air matanya dengan kasar dan tergesa-gesa. Senyum kecil merekah di bibirnya, menunjukkan betapa senangnya ia mendengar persetujuan dari Anya. "Terima kasih banyak, Anya! Anya memang yang terbaik!" ucap Arga dengan nada riang dan tulus.

Anya memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha untuk tidak melihat senyum Arga yang membuatnya merasa bersalah dan tidak nyaman. Dengan enggan, Anya bergeser sedikit ke tepi tempat tidur, memberikan sedikit ruang bagi Arga untuk berbaring di sampingnya.

Arga dengan patuh berbaring di samping Anya, namun ia tetap menjaga jarak sesuai dengan permintaan Anya. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, berusaha menenangkan diri dari rasa takut yang menghantuinya.

Keheningan yang canggung menyelimuti mereka berdua. Anya mencoba untuk memejamkan matanya dan tidur, namun pikirannya terus berkecamuk dan tidak bisa tenang. Ia merasa bersalah karena telah bersikap kasar dan jahat pada Arga, namun di sisi lain ia juga merasa kesal dan jengkel karena Arga selalu merepotkannya dan membuatnya tidak nyaman.

"Anya..." panggil Arga dengan suara pelan dan ragu-ragu, memecah keheningan yang mencekam di antara mereka.

Anya mendengus kesal dan memutar bola matanya dengan jengkel. "Apa lagi sekarang, Arga? Bisakah kau membiarkanku tidur dengan tenang?" jawab Anya dengan nada ketus dan sinis.

"Anya tidak merasa takut?" tanya Arga dengan nada yang sama pelan dan tatapan yang penuh dengan ketakutan.

Anya mengerutkan keningnya dan menatap Arga dengan tatapan bingung. "Takut pada apa?" tanyanya dengan nada heran.

"Takut pada... pada sesuatu yang menemani Arga di hotel waktu itu," jawab Arga dengan suara lirih dan gemetar.

Anya menghela napas panjang dan membuang pandangannya ke arah lain. "Tidak. Tidak ada sesuatu pun yang perlu ditakutkan di dunia ini," jawab Anya dengan nada datar dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dikatakan Arga Hanyalah omong kosong belaka.

"Tapi Arga tetap merasa takut, Anya," ucap Arga dengan nada lirih dan suara yang bergetar, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.

"Arga yakin dan percaya, Anya, sesuatu yang menemani Arga di hotel itu bukanlah manusia biasa. Arga takut jika harus terus tidur sendirian, sesuatu yang buruk akan terjadi pada Arga," ucap Arga dengan nada putus asa.

"Makanya, jangan berisik dan berhenti menangis, Arga! Semakin kau berisik dan menangis, maka makhluk itu akan semakin menyukaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu!" ucap Anya dengan nada sinis, sengaja menakut-nakuti Arga.

"Arga tidak akan menangis jika Anya tidak membuat Arga menangis dan ketakutan," ucap Arga dengan nada polos dan menyalahkan Anya atas kesedihan dan ketakutan yang ia rasakan.

Anya mendengus kesal, merasa dirinya benar-benar terjebak dalam situasi yang serba sulit dan tidak menguntungkan ini. Di satu sisi, ia ingin mengusir Arga dari kamarnya agar ia bisa tidur dengan tenang dan nyaman. Namun, di sisi lain, ia tidak tega melihat Arga ketakutan dan memohon padanya dengan tatapan mata yang memelas.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku sekarang, Arga?!" tanya Anya dengan nada lelah dan putus asa. Meskipun nada bicaranya masih terdengar ketus dan sinis, namun ada sedikit kelembutan yang tersirat di dalamnya.

Arga menatap Anya dengan tatapan mata yang masih basah oleh air mata yang berlinang. "Arga ingin Anya memeluk Arga dengan erat sambil mengusap-usap kepala Arga dengan lembut agar Arga tidak merasa ketakutan dan bisa tertidur dengan nyenyak," jawab Arga dengan nada lirih dan suara yang bergetar.

Anya menggelengkan kepalanya yang terasa sangat pusing dan berdenyut-denyut. Ia ingin sekali marah dan membentak Arga, namun tenaganya sudah terkuras habis karena kelelahan yang mendera.

Kedua matanya pun terasa sangat berat dan sulit untuk dibuka, seolah-olah ada beban yang menekan kelopak matanya. Apakah ia harus mengalah dan menuruti semua kemauan Arga agar ia bisa tertidur dengan tenang dan melupakan semua masalah yang membebaninya?

Anya memejamkan matanya sejenak, menimbang-nimbang. Ia benci situasi ini. Ia benci Arga. Ia benci dirinya sendiri. Tapi, ia lebih benci lagi jika harus begadang semalaman karena suara tangisan Arga.

"Oke, tapi cuma sebentar," ucap Anya akhirnya, membuka matanya dan menatap Arga dengan tatapan datar. "Sini, cepat."

Mata Arga berbinar. Tanpa ragu, ia mendekat dan memeluk Anya erat. Anya merasakan tubuh Arga yang bergetar karena takut. Ia menghela napas dan mulai mengusap-usap kepala Arga dengan lembut.

Awalnya, ia merasa sangat canggung dan tidak nyaman. Tapi, lama kelamaan, ia mulai terbiasa. Sentuhan lembutnya di kepala Arga membuatnya merasa sedikit tenang.

Arga menyandarkan kepalanya di bahu Anya, memejamkan matanya. Isak tangisnya mulai mereda.

"Anya jangan pergi ya?" bisik Arga pelan, hampir tidak terdengar.

Anya terdiam. Ia tidak menjawab. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia hanya terus mengusap-usap kepala Arga dengan lembut, berharap ia bisa segera tertidur.

Perlahan, napas Arga mulai teratur. Ia sudah tertidur. Anya masih memeluk Arga, tidak berani bergerak. Ia takut jika ia bergerak, Arga akan terbangun dan kembali menangis.

Anya menatap langit-langit kamar, pikirannya kembali berkecamuk. Ia merasa aneh. Kenapa ia melakukan ini? Kenapa ia memeluk Arga? Apakah ia mulai menyayangi Arga?

Anya menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pikiran itu. Tidak, ini tidak mungkin. Ia tidak mungkin menyayangi Arga. Arga hanya anak kecil yang merepotkan. Ia hanya melakukan ini karena ia tidak ingin begadang semalaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!