Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi perang jenius
Zhou Yu berdiri tegak di depan tubuh raksasa Harimau Putih Es Surgawi yang sudah tidak berdaya. Alih-alih mengayunkan Han Shui untuk mengakhiri nyawa binatang suci itu, Zhou Yu perlahan menyarungkan pedangnya. Ia melangkah maju, lalu dengan gerakan yang sangat tenang, ia meletakkan telapak tangannya di dahi harimau tersebut.
"Kau terlalu berharga untuk mati di sini, teman kecil.." bisik Zhou Yu.
Esensi energi biru pucat terpancar dari tangan Zhou Yu, menyelimuti tubuh besar sang harimau. Cahaya itu membuat tubuh harimau tersebut melayang, perlahan menyusut hingga ukurannya hanya sebesar anak kucing. Dengan lembut, Zhou Yu mengangkat "kucing kecil" itu dan menaruhnya di pundak. Harimau itu mendengkur halus sebelum akhirnya tak sadarkan diri karena kelelahan.
"Ayo, kita tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Zhou Yu singkat.
Mereka pun melesat, terbang melintasi pepohonan menuju arah pegunungan air terjun yang tampak megah di kejauhan. Namun, warna langit sudah mulai berubah menjadi jingga kemerahan.
Malam jatuh dengan cepat. Di sebuah dataran tinggi dekat air terjun, mereka menyalakan api unggun. Yan Xu meregangkan otot-ototnya sementara Wang Da sibuk membersihkan palunya.
"Kita sudah punya lima mutiara. Persaingan berkurang satu tim, tapi ingat, puluhan tim lain masih bersembunyi di luar sana," buka Zhou Yu sambil menatap api yang menari. "Aku ingin merubah strategi. Terus memburu secara langsung akan menguras tenaga kita."
Wang Da mendongak, matanya berkilat paham. "Maksudmu... kita yang menjadi mangsanya?"
Zhou Yu mengangguk. "Tepat. Kita berpura-pura menjadi lemah. Saat mereka merasa di atas angin dan lengah, saat itulah kita habisi mereka sekaligus."
"Strategi militer klasik," sahut Wang Da setuju. "Aku suka cara ini."
Yan Xu menyeringai. "Brilian. Tapi, siapa yang kira-kira cukup meyakinkan untuk menjadi umpan? Seseorang yang terlihat... manis, lemah, dan tidak berdaya?"
Tiba-tiba Xiao Bai berhenti mengunyah rotinya. Ia merasakan udara di sekelilingnya menjadi sangat dingin. Ia melihat Zhou Yu, Wang Da, Yan Xu, bahkan Su Lin, menatapnya dengan tatapan licik yang sama.
"Eh? Tunggu dulu..." Xiao Bai mundur perlahan, kakinya gemetar. "Kalian tidak berpikir bahwa... aku..."
"Xiao Bai manis," Yan Xu berkata dengan nada manis yang mengerikan. "Kau adalah tabib paling imut yang pernah ada. Siapa yang tidak akan tergoda untuk merampokmu?"
"TIDAK! TIDAK MAU!" Xiao Bai berbalik hendak lari, namun Wang Da dengan gerakan kilat menangkap kerah baju belakangnya, mengangkatnya seperti mengangkat seekor anak kucing.
"Lepaskan aku, Wang Da! Kau kerbau jahat! Aku akan meracuni makananmu besok!" teriak Xiao Bai sambil menendang-nendang udara, sementara yang lain hanya tertawa kecil melihat umpan mereka sudah siap.
Pagi harinya, Xiao Bai berjalan sendirian di tengah hutan menuju air terjun. Wajahnya ditekuk, terlihat sangat ketakutan sebagian karena akting, sebagian lagi karena ia memang takut sungguhan. Di balik bayang-bayang pohon raksasa, kelompok bayangan melompat dari dahan ke dahan, mengikuti langkahnya.
Xiao Bai tiba di sebuah batu besar di pinggir air terjun. Ia duduk dan merendam kakinya di air yang dingin sambil bersenandung kecil yang bergetar.
Srak!
Lima orang muncul dari semak-semak, mengepung Xiao Bai. Mereka mengenakan seragam biru laut dari Sekte Arus Deras. Pemimpin mereka, seorang pria, maju dengan seringai meremehkan.
"Lihat ini, teman-teman. Seorang tabib kecil tersesat sendirian. Di mana pelindungmu, Gadis Kecil?" ejeknya.
"J-jangan mendekat! Teman-temanku sangat kuat!" Xiao Bai mundur perlahan, matanya berkaca-kaca.
pria itu tertawa, ia mendekat dan memegang dagu Xiao Bai. "Kuat? Jika mereka kuat, mereka tidak akan membiarkan mutiara berharga seperti ini berjalan sendirian."
Saat itu juga, Xiao Bai tersenyum aneh. "Oh, benarkah?"
Dengan kecepatan yang tak terduga, Xiao Bai melempar sebuah pil merah cerah ke udara. "WANG DA, MAKAN INI!"
BOOM!
Wang Da terjun dari langit, menangkap pil itu dengan mulutnya dan menelannya bulat-bulat. Begitu kaki Wang Da menyentuh tanah, getarannya membuat pria itu terlempar mundur.
"APA?! SIAPA KAU?!" teriak nya panik.
"Malaikat mautmu!" raung Wang Da.
Seketika, tembok es raksasa muncul mengelilingi area tersebut, hasil kerja cepat Su Lin dari kejauhan. Tim Arus Deras kini terjebak di dalam "kotak" es bersama Wang Da. Namun kejutan belum berakhir. Tanah di bawah mereka retak, dan semburan api raksasa milik Yan Xu meledak keluar, memenuhi ruangan es itu dengan kobaran api yang membara.
"PANAS! KELUARKAN KAMI!" teriak musuh-musuh itu frustrasi.
Wang Da, yang baru saja menelan Pil Esensi Api, berdiri tegak di tengah api tanpa luka sedikitpun. Selama 10 menit ke depan, ia kebal terhadap panas. Ia mengangkat palunya yang kini ikut membara. "Kalian bilang aku apa tadi? Lemah?"
Wang Da mengayunkan palunya secara membabi buta di dalam kabut api. salah satu dari mereka mencoba membalas dengan elemen airnya untuk memadamkan api, namun air yang bertemu api justru menciptakan uap dan kabut yang sangat tebal, membutakan pandangan semua orang di dalam sana.
Di tengah kegelapan kabut itu, sebuah kilatan biru tipis melesat. "Ucapkan selamat malam pada kematian..." ucap Zhou Yu dingin, ia bergerak seperti bayangan yang tak terlihat. Sebelum mereka sempat berteriak, setiap anggota tim Arus Deras merasakan sensasi dingin yang menusuk tepat di jantung mereka.
Saat kabut menghilang, kelima orang itu sudah tergeletak tak bernyawa. dan seperti sebelumnya cahaya emas kembali meluncur keluar dari tubuh mereka, terbang ke angkasa. Melihat moment itu Xiao Bai pun segera berlari dan memungut mutiara nyawa mereka dengan wajah bangga.
"Kerja bagus, Umpan Kecil," ledek Yan Xu sambil turun dari pohon.
"Diam kau, Ayam Bakar!" balas Xiao Bai, meski ia tetap tersenyum puas.
Zhou Yu menatap mutiara itu, ia tak ingin terlalu membuang waktu di satu tempat, Lalu Zhou Yu memandang ke arah pegunungan yang lebih gelap. "Ayo lanjut. Aku merasakan ada yang tidak beres di bagian utara lembah ini."
Mereka terbang menyusuri lembah saat hujan tiba-tiba turun dengan lebat, hujan yang sangat lebat membuat jarak pandang mereka menurun. Su Lin menunjuk ke sebuah celah di tebing batu. "Ada gua di sana. Kita bisa berteduh."
Mereka mendarat dan masuk ke dalam gua yang cukup luas. Saat mereka duduk melingkar untuk beristirahat dan mengeringkan pakaian, suasana mendadak sunyi. Tetesan air di luar terdengar seperti suara langkah kaki yang tak berujung.
Zhou Yu yang sedang bersandar di dinding gua tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Matanya menatap tajam ke arah kegelapan yang lebih dalam di dalam gua tersebut.
"Zhou Yu? Ada apa?" tanya Yan Xu menyadari perubahan ekspresi pemimpinnya.
"Jangan bersuara," ucap Zhou Yu rendah.
Dari dalam kegelapan gua yang pekat, sebuah aura yang sangat kuno, berat, dan jahat mulai merayap keluar. Itu bukan aura manusia, juga bukan aura binatang suci. Itu adalah aura yang membuat bulu kuduk mereka berdiri, seolah-olah sesuatu yang seharusnya sudah mati ribuan tahun lalu kini perlahan-lahan mulai terbangun karena kehadiran mereka.
...Bersambung.......