Di dunia yang penuh gemerlap kemewahan, Nayla Azzahra, pewaris tunggal keluarga konglomerat, selalu hidup dalam limpahan harta. Apa pun yang ia inginkan bisa didapat hanya dengan satu panggilan. Namun, di balik segala kemudahan itu, Nayla merasa terkurung dalam ekspektasi dan aturan keluarganya.
Di sisi lain, Ardian Pratama hanyalah pemuda biasa yang hidup pas-pasan. Ia bekerja keras siang dan malam untuk membiayai kuliah dan hidupnya sendiri. Baginya, cinta hanyalah dongeng yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Takdir mempertemukan mereka dalam situasi tak terduga, sebuah insiden konyol yang berujung pada hubungan yang tak pernah mereka bayangkan. Nayla yang terbiasa dengan kemewahan merasa tertarik pada kehidupan sederhana Ardian. Sementara Ardian, yang selalu skeptis terhadap orang kaya, mulai menyadari bahwa Nayla berbeda dari gadis manja lainnya.
dan pada akhirnya mereka saling jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Asila27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menolak tawaran kerjaan
Setelah Ardi keluar dari ruangan Pak Rangga, Bu Intan langsung menatap suaminya dengan cemas. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara, suaranya terdengar penuh kekhawatiran.
"Mas, kan aku udah bilang. Mas jangan kerja capek-capek. Udah aku suruh cari asisten pribadi, tapi Papa masih ngeyel aja. Kalo udah begini siapa yang susah? Papa juga kan!" ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
Pak Rangga menghela napas, berusaha menenangkan istrinya. "Ma, tenang dulu. Tadi itu Papa cuma kaget aja dapat telepon dari Mas Andi."
Bu Intan melipat tangan di dadanya. "Emang ngapain Mas Andi nelpon kamu?"
Pak Rangga menghela napas lagi, kali ini lebih berat. "Itu, Ma. Nanyain Nayla ada ke sini nggak. Soalnya Mas Andi bilang tadi Nayla kabur dari rumah."
Mata Bu Intan melebar kaget. "Lah, apa hubungannya Papa sama kaburnya Nayla, Pa?"
"Ya Papa cuma kaget aja. Pasalnya kan anak itu penurut banget sama orang tuanya."
Bu Intan menggeleng pelan, sedikit mendengus. "Halah, Pa. Kayak kamu nggak kenal Mas Andi aja. Paling-paling terlalu diatur, ujung-ujungnya Nayla nggak betah, jadi kabur."
Pak Rangga mengangguk pelan, mengakui kemungkinan itu. "Mungkin, Ma. Tapi kemana ya perginya anak itu?"
Pak Rangga kemudian menoleh ke putrinya, Nazzila. "Naz, coba kamu telepon kakak sepupumu itu. Dia sekarang kabur ke mana?"
"Iya, Pa. Coba Nazila telepon bentar."
---
Di dalam mobil, Nayla sudah sampai di Yogyakarta. Ia memandang jalanan dengan tatapan kosong, pikirannya penuh dengan berbagai hal. Tiba-tiba, ponselnya bergetar di kursi sebelahnya. Melihat nama yang muncul di layar, Nayla langsung mengangkatnya.
"Halo, Naz? Ada apa? Tumben nelpon aku."
Suara di ujung telepon terdengar dingin. "Kalau Kakak nggak kabur, sebenarnya malas aku nelpon Kakak."
Nayla terdiam sejenak, lalu mengernyit. "Loh, kok kamu tahu aku kabur dari rumah?"
"Ya tahulah! Gara-gara Kakak, Papa masuk rumah sakit!"
"Apa?!" Nayla hampir menjatuhkan ponselnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. "Kok bisa, Naz? Om kenapa bisa masuk rumah sakit?"
"Iya! Itu semua gara-gara Kakak, tahu nggak? Tadi Papa Kakak nelpon Papa, nanya Kakak ada di sini atau nggak. Soalnya Papa Kakak bilang Kakak kabur dari rumah. Jadi Papa kaget, langsung kambuh deh jantungnya."
"Astaga..." Nayla menutup mulutnya dengan tangan. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. "Ya udah, kamu kasih tau alamat rumah sakitnya. Soalnya aku juga udah sampai di Jogja."
"Apa? Kakak di Jogja? Berarti beneran Kakak kabur?"
Nayla menghela napas. "Panjang ceritanya, Naz. Nanti aku cerita. Sekarang kamu kirim alamatnya dulu, biar aku langsung ke sana."
Nazila mendengus kesal. "Ya udah. Pokoknya cepat ke sini dan jelaskan semuanya! Kenapa Kakak bisa kabur?"
"Iya, iya. Otw ke sana."
Setelah panggilan berakhir, Pak Rangga menatap putrinya dengan penuh tanya. "Gimana, Naz? Beneran Nayla kabur?"
Nazila mengangguk pelan. "Iya, Pa. Sekarang udah di Jogja. Katanya jangan kasih tahu ke Papanya."
Pak Rangga menggelengkan kepala sambil bergumam, "Dasar anak ini. Bikin susah orang tua aja."
Tiba-tiba, suara Bu Intan membuat semua orang terkejut. "Ya Tuhan!"
Pak Rangga dan Nazila langsung menoleh. "Kenapa, Ma?" tanya Pak Rangga.
"Naz, Pa! Kita lupa di luar ada pemuda yang nolongin kamu! Dia masih nunggu di luar!"
Nazila menepuk dahinya. "Oh iya! Aku lupa, Ma. Ya udah, aku suruh dia masuk."
Nazila segera keluar dan melihat Ardi masih duduk di bangku dekat pintu, menunggu dengan sabar.
"Mas?" panggil Nazila.
Ardi menoleh dan berdiri. "Iya, Mbak?"
"Maaf, Mas, udah nunggu lama. Mas disuruh masuk sama Papa. Terus, aku juga mau minta maaf. Aku tadi udah curiga sama Mas."
Ardi tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Mbak. Saya orangnya santai kok."
Nazila tersenyum canggung. "Iya, Mas. Makasih ya. Mari masuk."
---
Setelah sampai di dalam ruangan, Pak Rangga menatap Ardi dengan penuh perhatian. "Nama kamu siapa, Nak?"
"Saya Ardi, Pak."
Pak Rangga mengangguk. "Oh iya, Nak Ardi, terima kasih sudah nolongin saya tadi."
"Iya, Pak. Sama-sama. Saya cuma nolongin apa yang harus saya tolong kok, Pak."
Bu Intan yang sejak tadi memperhatikan Ardi akhirnya buka suara. "Oh iya, kamu tadi mau melamar kerja di kantor suami saya, ya? Gimana kalau kamu jadi asisten pribadi suami saya aja? Setelah saya melihat kepribadian kamu, saya rasa kamu cocok untuk pekerjaan ini."
Ardi tersenyum kecil, lalu menggeleng. "Maaf, Bu. Saya nggak bisa menerima tawaran Ibu. Saya lebih suka memulai dari awal. Tapi mungkin udah telat, Bu. Saya akan mencoba cari di tempat lain."
Bu Intan terkejut. "Kenapa kok mau pindah ke tempat lain?"
Nazila ikut menyela. "Iya, Mas. Kenapa berpikir begitu? Yang punya perusahaan aja nggak ada ngomong gitu."
Ardi menghela napas. "Kadang kesempatan hanya satu kali, Mbak. Kesempatan buat saya mungkin sudah saya lewatkan. Perusahaan itu kan besar, pasti pelamar bukan hanya satu atau dua orang, Mbak."
Nazila mendesah. "Kamu itu terlalu banyak mikir. Harusnya dicoba dulu, kan nggak tahu rezeki kamu di mana."
Ardi tersenyum tipis. "Iya, Mbak. Bukannya saya nggak mau coba, tapi saya nggak mau nanti dianggap memanfaatkan keadaan."
Bu Intan menatapnya dengan lembut. "Nak, biarkan orang lain bicara apa. Yang penting kamu yang jalanin semuanya."
Ardi menunduk, berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Terima kasih, Bu. Tapi saya hanya ingin bekerja karena usaha saya sendiri, bukan karena bantuan orang lain."
Pak Rangga tersenyum tipis. "Prinsip kamu bagus, Nak Ardi. Gini aja, anggap kita nggak pernah kenal. Kamu besok datang lagi, coba melamar dari awal. Mudah-mudahan masih ada lowongan."
Ardi menatap Pak Rangga, lalu mengangguk mantap. "Baik, Pak. Besok saya akan coba melamar lagi."
Bu Intan tersenyum. "Ya udah, Nak Ardi, besok datang aja. Maaf kalau tadi saya menyinggung perasaan kamu."
"Nggak apa-apa, Bu. Terima kasih sudah percaya sama saya. Saya pamit dulu."
"Iya, hati-hati ya, Nak," ucap Pak Rangga dan Bu Intan bersamaan.