Gadis Sultan & Cowok Pas-pasan
Pagi itu, di sebuah rumah kontrakan kecil, dua pemuda sedang bercanda santai sebelum memulai aktivitas masing-masing. Mereka adalah Ardian Pratama. pemuda sederhana dengan wajah tampan, dan Reza Arkan. sahabat sekaligus teman 1 kontrakan.
"Lo hari ini kuliah jam berapa ar, ?" tanya reza sambil mengunyah roti.
"Jam sembilan. Lo mau bareng?" tawar Ardian.
"Gue naik angkot aja, soalnya mau ketemu dekan buat ngurus skripsi." jawab Reza.
"Ngomong-ngomong, gimana skripsi lo?" tanya Reza lagi.
"Tinggal dua kali sidang lagi, semoga cepat kelar." jawab Ardi.
reza mengangguk paham.
"Oh, oke-oke. Ya udah, gue berangkat duluan."
"Oke, hati-hati," sahut Ardi.
Saat Reza sudah berjalan keluar, tiba-tiba Ardi berteriak.
"Eh, Gus! Tunggu bentar!" panggil Ardi.
reza berhenti dengan wajah kesal. "Apa sih, teriak-teriak nggak jelas? Gue buru-buru, tau!"
"Lo ada duit nggak? Gue pinjam dulu buat bensin." kata ardi cengengesan.
reza melotot.
"Brengsek lo! Gue kira ada urusan penting. tau nya pinjam duit.!" seru reza dengan kesal.
"Yaelah bro. Gue bokek, gajian masih seminggu lagi. Ntar gue ganti, sumpah!"
Agus menghela napas panjang sebelum akhirnya merogoh kantong dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.
"Nih, tapi jangan lama-lama balikin nya.!"
Ardi mengambil uang itu dengan santai.
"Yaelah, rez, lima puluh ribu aja lo ngomel panjang lebar. Tapi makasih, ya. Siapa tahu hari ini gue dapet tips dari pelanggan restoran." jawab Ardi cengengesan.
Reza mendengus dan tersenyum mengejek.
"Ngarep amat lo dapat tips dari pelanggan.!"
"Namanya juga usaha. Doa orang ganteng biasanya dikabulkan." kata ardi tertawa.
"Sialan lo! Udah dibantuin malah nyebelin!" seru reza mengumpat.
"Iya-iya, makasih Reza arkan. Lo emang sahabat gue yang terbaik... meskipun pelitnya kebangetan!" goda Ardana.
"Sialan lo! Ya udah, gue berangkat dulu. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam. Hati-hati!"
kemudian Ardi masuk ke dalam rumah kontrakan nya.
Jam delapan, Ardi sudah selesai mandi. Ia bercermin dan tersenyum puas.
"Mandi udah, wangi udah, cakep pun udah. Meski duit lagi seret, yang penting tetap percaya diri," gumamnya sambil merapikan rambut.
Namun, begitu keluar rumah, langkahnya terhenti ketika melihat seorang perempuan berdiri di depan kontrakan. Perempuan itu adalah Dini, pemilik kontrakan, seorang janda anak satu yang ditinggal suaminya meninggal.
"Eh, Mas Ardi. Mau berangkat kuliah, ya?" sapa Dini dengan senyum manis.
"Iya, Mbak. Saya mau berangkat nih," jawab Ardana sopan.
Dini merajuk. "Ih, Mas Ardi, masih manggil aku Mbak aja. Aku kan belum tua-tua amat." seru dino dengan mengedip-ngedip kan mata nya dengan genit.
Ardi hanya bisa tersenyum kaku. "Eh... iya Dini." sahut Ardi dengan malas.
"Nah gitu dong!" kata Dini mengedipkan mata menggoda Ardi.
Dalam hati, Ardana bergidik ngeri. "Amit-amit, ada aja perempuan model begini!"
"Iya- iya, Din. Aku berangkat dulu, ya! Soalnya aku harus cepat bertemu dengan" kata Ardi dengan berasaan. Dan dengan cepat ia buru-buru lari menuju motornya dan segera menyalakan mesin.
Saat sudah cukup jauh dari kontrakan, Ardi menghela napas lega. "Amit-amit, kok ada aja perempuan kayak gitu," gumamnya yang merasa jijik selalu di Pepet janda muda pemilik rumah kontrakan nya itu.
Setibanya di kampus, Ardi melihat jam tangannya.
"Aduh! Udah jam sembilan! Bisa telat gue ketemu dekan!" Dengan panik, ia berlari menuju ruangan dekan.
Namun, karena terlalu terburu-buru, ia tanpa sengaja menabrak seorang perempuan yang sedang membawa tumpukan buku.
"Braak!"
"Eh, maaf-maaf, Mbak! Saya nggak sengaja!" ucap Ardi buru-buru.
Perempuan itu mendelik kesal. "Maaf-maaf? Kalau jalan pakai mata bisa nggak?"
Ardi menggaruk kepalanya. "Eh, perasaan gue jalan pakai kaki, deh," gumamnya pelan.
"Apa lo bilang?!" bentak perempuan itu semakin marah.
"Nggak ada kok Mbak! Saya buru-buru, makanya nggak sengaja," kilah Ardi sambil membantu membereskan buku yang berserakan.
Setelah selesai, Ardi menyodorkan tangannya. "Oh ya, saya Ardi. Nama Mbak siapa?" tanyanya ramah.
Perempuan itu hanya menatap sinis dan menjawab singkat.
"Nggak penting." Lalu, ia pergi begitu saja.
Ardi yang di tinggalkan begitu saja hanya bisa melongo.
" Ih cantik-cantik galak amat! Kayak orang lagi dapet aja!.!" gumam Ardi.
Namun, ia segera menggelengkan kepala.
"Ah, sudahlah. Mending buru-buru ke ruangan dekan sebelum gue kena semprot!"
Dua jam kemudian, Ardi keluar dari ruangan dekan dengan wajah lega.
"Akhirnya selesai juga!" Ia segera mengambil ponsel dan menelepon reza.
"Bro, lo di mana? Udah kelar belum?"
"Udah nih, gue lagi sama Nia. Kenapa?" jawab Reza santai.
"Sialan! Pacaran mulu. Udah, ayok ke kantin!"
"Oke, lo duluan aja. Gue nyusul." jawab Reza.
Saat berjalan menuju kantin, tanpa sengaja ardi hampir menabrak seseorang lagi. Dan kali ini, perempuan yang tadi pagi ia tabrak!
"Eh, lo lagi?!" ujar perempuan itu dengan nada kesal.
"Eh, Mbak! Maaf, maaf, nggak sengaja!" Ardi uru-buru meminta maaf.
"Kenapa sih gue apes banget ketemu lo lagi?! Hobi lo nabrak orang ya?" bentaknya.
"Tapi Mbak juga nggak hati-hati," sahut Ardi spontan.
"Eh lo masih berani nyalahin gue?!"
"Iya, iya, maaf. Gitu aja sewot, nanti cepet tua," jawab Ardi asal.
"Lo tuh ya...!" Perempuan itu mendelik tajam sebelum akhirnya pergi dengan mendengus kesal.
Ardi hanya bisa menghela napas. "Ah, mendingan gue ke kantin aja daripada mikirin cewek barbar itu." gumam Ardi.
Sementara itu, di dalam kelas, seorang perempuan duduk dengan wajah kesal. Ia adalah Nayla Azzahra. gadis yang dua kali ditabrak Ardi hari ini.
"Kenapa lo, Ay? Muka lo kusut banget," tanya sahabatnya, Dina.
"Aku kesel, Din! Di rumah kena ceramah, di kampus malah ketemu cowok aneh!" jawab Nayla kesal.
Dina tertawa. "Aneh gimana?"
nayla mendengus. "Pagi-pagi ditabrak, siang mau ditabrak lagi! Kayaknya tiap ketemu tuh cowok hobinya nabrak gue!" jawab Nayla yang menceritakan Ardi.
Dina semakin tertawa. "Hati-hati, Ay! Jangan-jangan lo bakal suka sama dia!" seru Dina yang langsung mendapatkan raut wajah bergidik dari nayla
"iuw Amit-amit!" jawab Nayla.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments