Di pernikahan Rachel dan Arlan yang baru seumur jagung, Arlan mengalami hal tak terduga yang membuatnya di pisahkan oleh sang istri. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka dalam kondisi yang berbeda.
****
Kehidupan Arlan sebagai Dokter terbilang lurus-lurus saja. Tidak pernah tersandung kasus apapun, apalagi tidur dengan wanita.
Namun kejadian malam itu ketika dia berniat menolong Rachel, anak dari keluarga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Namun harus berakhir menjadi tuduhan berdasar dan membuat Arlan mau tidak mau harus menikahi Rachel.
Rachel terkenal cukup bermasalah, disebut pembuat onar dan tingkat kenakalannya diluar batas. Terbukti Rachel berniat menjebak seorang wanita yang sudah beristri agar tidur dengan pria lain yang merupakan orang suruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Rumah orang tua Arlan bukan di komplek perumahan, tapi letaknya cukup strategis dan dekat dengan taman yang selalu ramai setiap weekend dan hari libur. Banyak orang yang berolahraga raga atau hanya sekedar duduk di taman dan menikmati berbagai kuliner yang ada disana.
Sekitar pukul 6 pagi, Rachel sudah berada di taman bersama Arlan, Papa mertua dan Adik iparnya. Amanda tiba-tiba meminta ikut berolahraga saat Arlan datang meminjam bajunya untuk dipakai Rachel.
Sekarang dua wanita itu berjalan santai mengekori Arlan dan Hardi. Kadang keduanya setengah berlari untuk menyusul langkah dua pria itu.
“Kakak ipar, ayo duduk dulu, kakiku sakit.” Amanda menahan tangan Rachel agar berhenti berjalan. Sudah hampir 40 menit mereka berjalan kaki sejak keluar dari rumah. Nafas Amanda bahkan terengah-engah. Ekspresi wajahnya jelas terlihat sangat kelelahan.
Rachel memutar malas bola matanya. “Belum apa-apa sudah kehabisan tenaga, dasar payah.” Cibirnya. Tapi meskipun dia mencibir Amanda dengan mengejeknya, Rachel akhirnya duduk di bangku taman untuk menuruti permintaan Amanda yang ingin beristirahat lebih dulu.
Amanda kemudian ikut duduk di sebelah Rachel dan mencoba meluruskan kaki ke depan. Dia melirik Rachel yang sedang bermain ponsel, nafasnya tampak teratur dan tidak terlihat kelelahan sama sekali. Amanda jadi penasaran dibuatnya. Dia tidak menyangka perempuan yang dikenal sangat manja ini ternyata tetap santai meski baru saja berjalan 40 menit tanpa jeda.
“Sepertinya kamu rajin olahraga.” Tebak Amanda.
“Aku memiliki ruang gym di rumah dan hampir setiap hari berolahraga minimal 30 menit. Hanya berjalan kaki seperti ini tidak ada apa-apanya.” Jawab Rachel dengan gaya sombongnya seperti biasa. Rachel memang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sejak kecil, tapi dia cukup rajin berolahraga. Termasuk semua anggota keluarganya.
Amanda mengangguk-angguk paham. Pantas saja Rachel masih semangat berjalan. Rachel juga memiliki berat badan ideal dan proporsi tubuh yang sempurna.
“Pantas saja bandanmu sangat bagus. Aku yang malas berolahraga jadi memiliki lemak berlebih dibeberapa bagian tubuhku.” Tutur Amanda. Sebenarnya Amanda tidak gemuk dan terbilang ideal, tapi jika dibandingkan dengan tubuh langsing Rachel, jelas banyak perbedaannya.
“Kamu bahkan menghabiskan semangkuk mie instan tengah malam, bagaimana tidak menghasilkan lemak.” Sahut Rachel.
Amanda terkekeh, dia tidak tersinggung dengan ucapan Rachel karna seperti itu faktanya.
“Ada yang ingin aku tanyakan soal pernikahan Kakak ipar dan Kak Arlan, apakah Kakak ipar keberatan?” Amanda memilih meminta ijin lebih dulu alih-alih menanyakan langsung pada Rachel.
Rachel menggeleng pelan tanpa ekspresi diwajahnya. Dia menyatakan tidak keberatan jika Amanda ingin bertanya padanya.
“Aku tau tidak pernah ada cinta di hati Kakak ipar untuk Kak Arlan, dan pernikahan itu mungkin tidak pernah Kakak ipar harapkan sebelumnya. Tapi setelah hampir 3 bulan menjalaninya, bagaimana tanggapan Kakak ipar soal pernikahan kalian? Apakah hari-harimu tetap menyenangkan?” Amanda sampai memasang wajah serius dan penasaran menunggu jawaban Rachel.
Ekspresi wajah Rachel tampak cemberut. “Tidak ada yang ingin menikah di usia semuda ini. Seharusnya aku masih bisa menikmati masa remaja ku dengan bersenang-senang. Tapi ini juga salahku, aku benar-benar menyesal.” Rachel sampai menghela nafas berat.
Amanda cukup prihatin melihat Rachel tampak frustasi. Dia bisa memahami posisi Rachel yang pastinya tidak mudah menjadi seorang istri di usia 19 tahun. Rachel benar-benar masih terlihat seperti remaja pada umumnya.
“Tapi yang aku tau, Kak Arlan bukan tipe pria pengekang atau posesif. Jika Kakak ipar bicara baik-baik padanya dan mengutarakan keinginan Kakak ipar, Kak Arlan tentu tidak akan mengacaukan masa remaja Kakak ipar.” Tutur Amanda.
“Aku juga tidak bilang dia mengacaukan masa remaja ku, aku hanya tidak nyaman dengan status ku yang sekarang. Sudahlah, aku malas membalas maslah ini.” Ujar Rachel kemudian beranjai dari duduknya.
“Dimana Kakak dan Papa mu?” Rachel ingin pergi dari sana tapi pergelangan tangannya di tahan oleh Amanda.
“Kakak ipar, Kakak ku bukan pria jahat, dia orang sangat baik dan tulus, tolong terima dia sebagai suamimu.” Lirih Amanda dengan tatapan memohon. Dia ingin melihat Kakaknya bahagia. Mengingat Kakaknya berkali-kali mengatakan tidak akan mempermainkan pernikahan dalam artian ingin mempertahankan pernikahan dengan Rachel selamanya, jadi satu-satunya cara agar Arlan bahagia adalah membuat Rachel menerimanya sebagai suami.
“Kalian disini rupanya.” Suara berat Arlan memutuskan pandangan Rachel pada Amanda. Dia juga menarik tangannya perlahan dari genggaman Amanda.
Arlan sedikit curiga menatap kedua wanita itu yang terlihat sangat serius dan canggung. “Ada apa?”
“Adikmu kelelahan, dia sangat payah. Baru jalan sedikit saja sudah mengeluh.” Sahut Rachel.
“Sudah ku bilang harus rutin berolahraga, kurang-kurangi menonton drama.” Ucap Arlan seraya mengacak pucuk kepala Amanda.
“Kak! Rambutku jadi berantakan.” Sambil memasang wajah cemberut, Amanda menepis tangan Arlan.
Pria itu hanya terkekeh, dia terlihat puas membuat adiknya kesal. Arlan kemudian meraih tangan Rachel untuk di gandeng.
“Ayo, kita sarapan dulu. Papa sudah ada di tempat makan.” Ajak Arlan lembut.
“Mentang-mentang sudah ada istri, aku dicuekin.” Amanda pura-pura kesal melihat Arlan hanya mengajak dan menggandeng Rachel.
“Berjalan di belakang kami kalau ingin ikut.” Sahut Rachel.
Amanda melongo tak habis pikir. Rachel ini memang pintar menjawab dan pedas ucapannya. Tapi Amanda justru senang karna Rachel sudah mulai banyak bicara dengannya.
“Baiklah, baiklah. Dunia serasa milik kalian berdua, aku hanya toppingnya.” Amanda menggerutu.
...******...
Amanda langsung ke dapur untuk membantu Mamanya dan ART yang sedang membuat beberapa menu makanan. Sementara itu Arlan dan Rachel pergi ke kamar. Lebih tepatnya Arlan membawa Rachel ke kamar karna tau istrinya tidak ingin membantu Mamanya. Arlan juga sudah bicara dengan Mamanya, dan untungnya sang Mama mengerti. Resty tidak keberatan sama sekali jika menantunya tidak bisa membantu. Dia tau sejak kecil menantunya sangat dimanja dan diratukan oleh orang tuanya.
“Kamu atau aku dulu yang mandi?” Tanya Rachel lantaran dia melihat Arlan sudah melepas baju.
“Kalau mandi bersama bagaimana? Sepertinya menyenangkan.” Senyum di bibir Arlan tertahan saat menjawabnya.
Rachel berdecak sebal. “Kamu benar-benar mesum.” Komentarnya.
Arlan mendekati Rachel yang duduk di kursi meja rias, sebelah tangannya menyentuh wajah Rachel dan menatapnya dalam.
“Jika tidak ada kontak fisik, lalu kapan kamu siap melakukan hubungan suami istri? Kali ini harus mandi bersama, jangan menolak." Nada bicara Arlan semakin lirih meski wajahnya semakin dekat dengan Rachel. Dia tiba-tiba membungkam Rachel dengan ciuman dan menggendongnya tanpa melepaskan ciumannya.
Rachel menarik jauh wajahnya untuk melepaskan ciumannya. Kedua tangannya mengalung di leher Arlan karna takut terjatuh dari gendongannya.
“Kamu benar-benar membuatku takut. Aku tidak mau tau, pokoknya tidak boleh sampai melakukannya sekarang!” Seru Rachel, tapi dia tidak memberontak saat di bawa masuk ke kamar mandi yang artinya Rachel menyetujui Arlan untuk mandi bersama.
“Aku mengerti.”
Arlan menutup pintu kamar mandi menggunakan kakinya. Dia kemudian mendudukkan Rachel di wastafel lalu melanjutkan ciumannya yang sempat terputus.
Udah ditunggu hampir sebulan kak
Kisah David dan Elena 🙏
Udah gak sabar nungguin novel baru nih
udah kutunggu loh😊