NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Skenario Takdir

Bukan hidup namanya jika kau tak pernah patah...

Bukan hidup namanya jika semua harus berjalan sesuai rencana

Memangnya kau pikir semesta ini milikmu?

Ayolah ... Jangan merasa demikian

Kita hanyalah seonggok wayang yang bermain peran

Ada skenario yang sudah ditentukan Tuhan

Bukan berarti hidupmu rancangan gagal hanya karena semua tak berjalan sesuai angan

Sebab katanya ... Tuhan tahu yang paling terbaik

Demikianlah kalimat penenang setiap kali aku merasa kalah.

Demikianlah kalimat penenang setiap kali aku ingin menyerah pada duniaku

Aku lemah...

Aku menangis...

Aku terpuruk...

Ku peluk diriku sambil berbisik ...

“Teruntuk diriku ...

Hei ... tak perlu cemas dengan segala alur kehidupan yang berliku. Tak apa jika kadang merasa lelah, tak apa jika kadang tak dianggap baik di hadapan manusia. Tak perlu validasi dari orang lain. Cukup jadi diri sendiri

Kamu berharga

Kamu pribadi yang kuat luar biasa

Selalu menang melawan setiap persoalan yang pernah melanda

Esok, lusa, dan seterusnya tidak ada yang bisa menerka

Tidak tahu ada kejutan-kejutan apa yang sedang dipersiapkan dunia. Kita semua sama tersesatnya, sama-sama tidak tahu apa-apa

Semoga kamu tidak pernah merasa sendirian

Terima kasih sudah bertahan sampai hari ini

Hidupmu bukan rancangan gagal atau sia-sia

Tidak ada yang abadi, termasuk kesialan atau rasa sakit yang sedang kamu alami Semuanya akan berganti

Semuanya akan pulih.

Terimakasih sudah selalu lebih kuat dan hebat dari semua masalah yang pernah menjerat.

Bila lelah, istirahatlah...

Mengaku lelah tidaklah lemah

Ditolong dan ditopang bukanlah aib memalukan.”

^^^~Anindyaswari^^^

..._________...

“Makasih ya karena udah mau menunggu dan memilihku.” Tangan itu tergerak mengusap lembut kepala Anin, setelahnya sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya.

Sentuhan yang membuat Anin berdebar.

Tak menyangka saat ini akan tiba.

Tak menyangka pada akhirnya penantian dan perjuangan mereka berbuah manis.

Cinta virtual, kisah jarak jauh yang dahulu mereka perjuangkan akhirnya bermuara pada ikatan suci bernama pernikahan.

Untuk sampai di titik ini tentu tidaklah mudah, ada banyak luka dan air mata yang membumbui dan pada akhirnya cinta akan selalu jadi pemenang. Benarkah demikian?

“Makasih juga karena sudah mau memperjuangkanku.” Kepala Anin tergerak, kian menelusup pada dada bidang yang membuat jantung berdebar. Sepertinya, mulai sekarang menghirup dalam aroma pria ini akan menjadi hal favoritnya.

Sebab, mereka hanyalah sepasang pengantin baru yang tentu masih menggebu-gebu.

“Anin!”

Namun, kemunculan sosok laki-laki yang tampak berantakan, penuh air mata mengacaukan kisah romantis yang baru saja akan dimulai.

Anin menoleh kaget, matanya mendadak membola saat melihat sosok di ujung ruang sana, tengah berdiri dengan hembusan napas yang memburu. Sangat jelas bahwa api cemburu telah berkobar dalam diri.

Keringat dingin tiba-tiba menyerbu. Anin melepas diri dari laki-laki yang mendekapnya erat. Ia lalu berlari menghampiri sosok yang tampak hancur di ujung sana.

“Aku salah apa, Anin?”

Pertanyaan itu semakin menghantam telak, hati Anin seperti ditikam ribuan belati.

Rasa bahagia yang tadi sempat singgah tiba-tiba menguar entah ke mana. Dalam sekejap berubah menjadi nestapa, terlebih lagi saat rasa bersalah kian menyusup merong-rong hati.

 Ia telah berdosa, ia bersalah, ia telah berbuat jahat karena melukai hati laki-laki ini. Lalu bagaimana dengan laki-laki di dalam sana?

Anin sudah hampir meraih lengan dari sosok yang kini berbalik pergi meninggalkannya. Namun, seakan langkahnya ada yang menahan. Ia malah kembali menoleh.

Di dalam sana juga ada sosok yang jelas tersakiti.

Situasi ini kian menyudutkannya.

“Anin...,” panggil pria di dalam kamar itu lirih, tangannya tampak melambai berusaha menggapai, tak ingin Anin pergi.

Tubuh Anin kian bergetar, bulir bening mengalir deras membasahi wajah. Dalam gundah ia kembali menoleh pada sosok di depan sana. Siluetnya semakin pudar menyusuri ruang yang makin jauh langkahnya semakin pekat pula sosok itu menyatu dengan gelap.

 Anin ingin menggapainya, tapi ringkihan dari sosok di belakangnya membuatnya kian terpaku.

Situasi macam apa ini?

Segenap tanya mulai bercokol dalam kepala.

Mengapa ia ada pada situasi ini?

Dihadapkan pada pilihan yang teramat menyesakkan. Ia tak ingin ditinggalkan, juga tak mau meninggalkan.

Lantas adakah solusi yang tak menyakiti siapapun? Anin tak mau ada yang terluka. Lalu apa yang harus ia lakukan saat hatinya justru terjebak di antara sebuah rasa yang membingungkan.

“Mas Harsa ...!”

...

“Mas Harsa ....”

“Jangan pergi, mas....”

“Harsa....”

.

.

“Hei... Kamu kenapa?”

“Anin ....”

Pekikan di tengah malam buta itu membuat Harsa terbangun dari tidurnya. Dinyalakannya lampu nakas, lalu tatapnya berfokus pada wanita yang ia nikahi sejak dua tahun lalu itu dengan wajah cemas.

Tampaknya Anin mimpi buruk. Harsa bergumam lirih, dengan cemas ia segera mengoyangkan tubuh Anin. Wajah yang masih terpejam itu tampak sangat terluka dan bersedih, tanpa ragu diusapnya bulir keringat yang memenuhi wajah istrinya.

Dibawanya tubuh itu ke dalam pangkuan untuk ia dekap sembari berusaha membangunkan sang istri dengan sangat pelan.

“Nin...”

“Anin, hei ... Bangun!” Ia berbisik tepat di telinga Anin.Tangan laki-laki itu terus mengusap rambut yang basah dan lusuh karena keringat.

“Eaaak, heee....”

Di saat yang bersamaan sosok bertubuh mungil di ujung kasur pun ikut menggeliat. Membuat Harsa bingung harus mengurus yang mana lebih dulu, sementara ia tahu dua bagian hidupnya itu sama-sama membutuhkannya.

Harsa menoleh pada jam digital di atas nakas, waktu menunjukkan hampir pukul tiga, memang sudah waktunya buah hati mereka untuk di-asihi. Ya, mereka adalah pasutri yang sudah memiliki buah hati dan malaikat kecil mereka itu kini tengah kehausan.

“Bentar ya, sayang ya, papa bangunin mama dulu,” ujarnya lembut pada bayi satu tahun empat bulan yang sudah tampak sangat kehausan dan membutuhkan ibunya itu.

“Nin, bangun, hei. Zura mau nenen.” Harsa menepuk-nepuk pelan pipi Anin dan untungnya tak butuh waktu lama Anin akhirnya tersadar dari mimpinya.

Keringat yang mengepung membuat Anin tampak pucat nan lusuh. Napasnya masih memburu saat berusaha menetralisir perasaan aneh sebelum akhirnya termenung sambil mengumpulkan puing-puing ingatan yang terjadi dalam mimpi.

Lama ia menatap wajah Harsa sebelum akhirnya tanpa aba langsung memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.

Dalam sepersekian detik Harsa sempat terpaku, sadar akan apa yang baru saja istrinya alami, ia lantas membalas pelukan itu dengan tak kalah erat sambil berusaha menenangkan. Lewat pelukan itu ia seakan mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, ia hanya mimpi.

“Jangan ke mana-mana, mas...!” Anin berkata liri sambil menelusupkan wajah pada dada bidang suaminya. Ia tampak panik dan ketakutan.

Sementara Harsa yang diperlakukan demikian lantas mengulas senyum simpul. Tangannya tergerak mengusap punggung Anin dengan penuh sayang. “Aku gak ke mana-mana kok. Itu cuma mimpi.”

“Aku takut,” lirih Anin disusul dengan kecupan yang mendarat di kepalanya. Sekali lagi, dalam diam seakan berbisik jika semua hanya mimpi, itu bukanlah hal yang perlu dicemaskan.

“Zura kayaknya paham mamanya abis mimpi buruk, jadi butuh ditenangin papa.” Senyum Harsa merekah saat tatapannya tertuju pada bayi mereka yang tadi sempat menangis tapi kini malah anteng, menatap mereka dengan mata berbinar.

“Pinternya anak cantik Papa.”

“Makasih udah mau kerja sama.”

Anin yang masih dalam dekapan Harsa pun ikut tersenyum melihat bagaimana pengertiannya putri mereka, lalu ia pun mendongak menatap wajah Harsa yang entah sejak kapan sudah menatapnya.

Pandangan mereka bertemu. Saat Harsa mengulas senyum Anin langsung mengecup rahang tegas itu sejali, lalu kedua kali mendarat tepat di bibir dan setelahnya ia malah kabur untuk meraih Zura. Membiarkan Harsa sibuk sendiri dengan efek dari kelakuan refleks Anin.

“Ututu anak cantik mama.”

“Zura udah haus banget, ya?”

Anin berceloteh sambil meraih bayi mereka untuk diasihi. Sementara Harsa langsung dengan sigap menyusun bantal untuk tempat Anin bersandar.

Namun, sayangnya Anin lebih memilih mengasihi sambil berbaring.

“Tidur lagi aja, mas. Aku juga masih ngantuk makanya nenenin Zura sambil baring.”

Mendengar perkataan istrinya, Harsa yang tadi masih duduk itu pun kembali berbaring di belakang Anin yang mulai mengasihi putri mereka.

“Kamu mimpi apa tadi?” tanya Harsa setelah berhasil merenggangkan tubuh.

Tak langsung menjawab, Anin malah sejenak terdiam.

“Lupa, mimpinya samar-samar. Gak jelas.”

“Hmmm.” Harsa hanya berdehem sambil menguap. Ia memang masih sangat mengantuk, sebab baru tidur sejam. Tadi ia ada kerjaan tambahan yang membuatnya pulang terlambat.

“Tadi kamu sampai rumah jam berapa?” Anin bertanya sebab memang saat Harsa pulang ia sudah tidur duluan.

Ya, salah satu hal yang membuat Anin bersyukur dan merasa beruntung menikah dengan seorang Harsa Adiwijaya adalah pria yang dua tahun lalu meminangnya itu sama sekali bukan tipe laki-laki patriaki. Harsa tak pernah menuntut agar ia harus disambut saat pulang kerja, atau ia tak boleh tidur jika tak menunggu suaminya pulang. Harsa tak pernah mengekang, ia tak pernah kasar, bahkan saat senggang ia selalu berusaha membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, semua dikerjakan bersama. Harsa bukan hanya suami yang baik, tapi ia juga sosok ayah yang sangat menyayangi putri kecil mereka. Lantas dengan alasan apa lagi ia tak terpikat pada sosok itu?

Berbicara soal kurang, sebagai manusia Harsa jelas memiliki kekurangan karena pada dasarnya tiada manusia yang sempurna, tetapi kelebihan yang suaminya itu miliki membuat kekurangannya tertutupi, layaknya perbandingan antara matahari dan bintang. Matahari hanya seorang diri tetapi cahayanya mampu menutupi cahaya bintang yang jumlahnya ribuan di galaksi.

Hal sederhana yang mampu membuatnya jatuh hati.

“Jam dua belas lewat, tapi itu aja masih aku sempetin periksa berkas lagi. Soalnya besok udah harus sidang.” Harsa menjawab dengan mata yang sudah terpejam, sedangkan Anin yang bersandar di tubuh suaminya tampak santai mendengarkan dengan sebelah tangannya memijat lembut tangan yang sejak tadi ia genggam.

“Tapi kamu udah makan, kan?” tanya Anin memastikan, sebab suaminya ini memang terkenal suka lupa makan kalau sudah terlalu fokus kerja.

“Udah dong.”

“Ya kali makanan enak itu aku lewatin.”

Anin tersenyum, tadi ia memang sengaja memasakkan menu kesukaan pria itu.

“Huaamm.”

“Tidurlah mas, udah nguap mulu juga.” Anin menepuk tangan Harsa yang tadi ia genggam itu sudah beralih melingkar di pinggangnya dan mendarat menggenggam kaki anak mereka yang sudah kembali pulas.

“Besok sidangnya jam berapa?”

Dan pada kenyataannya, Anin yang menyuruh tidur tapi dia pula yang tak mau berhenti bertanya.

“Jam 10.”

“Lumayan itu, kamu bisa tambah tidur lagi abis subuh.” Anin masih berceletuk, matanya bahkan masih tampak segar dengan terus menatap dinding kamar mereka sementara tangannya sibuk menepuk-nepuk lengan Harsa yang melingkar di tubuhnya.

“Gak bisa gitu, aku masih harus baca ulang berkas dakwaan perkaranya.”

“Kasusnya cukup berat, jadi tuntutannya harus benar-benar memberatkan juga. Apalagi ada beberapa bukti tambahan yang baru semalam didapet.”

Anin hanya manggut-manggut mendengar penjelasan panjang lebar suaminya.

“Emang kali ini kasus apa?”

Dan ya, bukannya berhenti. Anin malah makin menggila seperti wartawan yang terus mewawancarai, padahal tadi ia yang menyuruh laki-laki itu untuk tidur dan kini malah ia cecar terus-menerus. Anin tak sepenuhnya salah, Harsa juga salah karena tak protes, alih-alih mengabaikan ia malah terus menjawab padahal kantuk sudah sangat menyerang.

Karena sesungguhnya hal yang paling Harsa suka adalah bercerita banyak hal dan membaginya dengan Anin. Entah sejak kapan, yang jelas rasa nyaman itu selalu bertumbuh seiring hari berganti. Tak pernah ia sangka menikahi Anin adalah hal yang menentramkan. Ia senang bisa berbagi segala hal dengan Anin, apalagi seharian mereka jarang punya waktu. Bercerita dengan istri seakan membuat beban dan tekanan dalam diri sedikit berkurang

“Tindak pidananya berlapis.”

“Apa aja emang?”

Semakin jauh pembahasan mereka sungguh semakin penasaran pula Anin.

Selama jadi istri dari seorang jaksa, hal yang paling Anin suka dan membuatnya greget ialah saat Harsa menceritakan rangkaian kasus dan bahkan kadang jika sempat ia pun ikut menyaksikan sidang berlangsung dan itu kerap membuat perasaannya bergejolak saat menyaksikan bagaimana pelaku kadang mendapatkan hukuman setimpal dan kadang juga tak setimpal menurut kaca matanya sebagai orang awam.

“Besok ya lanjut ceritanya, udah ngantuk banget ini.”

Tak mau memaksa, Anin pun hanya mengangguk, dielusnya lengan Harsa sambil menepuk-nepuk pelan. Disaat yang bersamaan Zura juga telah melepaskan pay*daranya, sehingga membuat Anin lebih leluasa berbalik menghadap Harsa.

Dengan mata sayupnya Harsa masih sempat menatapnya sambil tersenyum dan berkata. “Besok kalau pulang sidang kita cerita lagi ya.”

Anin mengangguk, ia mengulas senyum sembari menangkup wajah Harsa. Mengusapnya pelan untuk membantu suaminya agar lebih mudah terlelap. Laki-laki itu memang sangat suka bila disentuh sebelum tidur apalagi jika rambutnya diusap maka ia bisa langsung terlelap.

Anin terus menatap wajah yang sudah terpejam itu, sementara tangannya masih sibuk menepuk punggung Harsa.

Namun, tiba-tiba matanya berkaca-kaca saat ingatan tentang mimpi tadi kembali.

Sebenarnya mimpinya tidak lah samar. Ia tidak pula lupa. Mimpi itu jelas, bahkan sangat jelas. Namun, satu hal yang membuatnya tak berani berkata jujur dan menceritakan semuanya sebagaimana biasanya mereka selalu saling berbagi mimpi yang dialami satu sama lain.

Fakta tentang siapa yang muncul dalam mimpinya membuat Anin takut.

Ia takut goyah. Takut sosok yang dahulu berusaha mati-matian ia bunuh dari hati dan pikirannya itu kembali menguasai. Anin takut sosok itu bangkit dan jadi momok mengerikan dalam pernikahan mereka.

“Sialnya kenapa akhir-akhir ini dia sering sekali masuk ke mimpiku!?”

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!