NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PpM 18

“Mia?! kamu kenapa?. ” suara Rina bergetar saat ia berjongkok di depan sahabatnya.

Mia tak menjawab. Ia justru merangsek ke arah Rina, memeluknya erat. Tangis yang tadi sempat teredam kembali pecah.

“Sakit, Rin…” ucapnya lirih, nyaris tak bersuara.

Rina menepuk-nepuk punggung Mia pelan, seperti menenangkan anak kecil.

“Bangun dulu, yuk pelan-pelan sabar,” bisiknya sambil membantu Mia berdiri.

Ia merapikan rok Mia yang kusut, lalu mengusap air mata di pipinya dengan ibu jari.

“Tenang dulu, malu nanti di lihat orang.”

Mia mengangguk pelan. Isaknya belum sepenuhnya reda saat ia membasuh wajah.

Di cermin, ia menatap pantulan dirinya lama mata sembab, wajah pucat. Tangannya mengepal tanpa sadar.

"Johan… kamu harus membayar ini semua suatu hari nanti, "katanya dalam hati. Jemarinya gemetar, tapi sorot matanya mulai mengeras.

Mia menarik napas panjang, lalu memaksakan senyum kecil ke arah Rina. Keduanya berjalan beriringan keluar dari toilet.

Di koridor, Rina menoleh.

“Kalau kamu mau cerita, kita nggak usah langsung pulang. Aku bisa temani kamu habis pulang kantor.”

“Tapi, Rin...”

“Nggak apa-apa, suamiku lagi tugas luar kota. Anak-anak sudah mandiri di rumah juga ada Mbak.” potong Rina cepat.

“Makasih ya, Rin.”

“Gimana?” tanya Rina pelan.

Mia mengangguk, matanya berkaca-kaca kali ini bukan karena runtuh, tapi karena akhirnya tidak sendirian.

Lima belas menit menjelang jam pulang, Mia mengetik pesan singkat pada Johan.

"Tidak usah jemput aku. Ada janji sama teman."

Ia menekan kirim, lalu langsung menonaktifkan ponselnya. Tanpa menunggu balasan.

Setelah meja kerjanya rapi, Mia menoleh ke arah Rina. Rina membalas dengan anggukan kecil. Keduanya berjalan keluar kantor tanpa banyak bicara, menuju mobil Rina.

Mereka memilih sebuah kafe di kawasan Senopati ramai, tapi cukup memberi jarak. Setelah duduk dan memesan minuman, Rina membuka suara lebih dulu.

“Mia, kamu kenapa lagi?”

Mia menatap gelasnya, lalu mengangkat wajah. “Dia bohong, Rin latanya tugas kantor ke Bandung.

Tapi aku yakin itu cuma akal-akalan.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan dia ke sana nggak sendiri.”

Rina terdiam.

“Maksudmu… nggak sendiri?”

“Dia sama perempuan lain.”

Hening kembali turun. Rina ingin bertanya, tapi ragu.

“Aku nggak asal bicara, Rin,” potong Mia pelan, seolah membaca keraguan itu.

“Aku punya bukti.”

Ia mengeluarkan ponsel, membuka layar, lalu menyodorkannya. Rina membaca pesan yang tertera. Wajahnya berubah merah padam, rahangnya mengeras.

“Tapi… dari mana dia dapat nomor kamu?”

Mia tersenyum tipis, pahit.

“Aku yakin perempuan itu, diam diam ambil dari ponsel Johan..”

Kalimat itu jatuh pelan tapi menghantam.

Rina meletakkan ponsel Mia kembali ke meja. Tangannya sedikit gemetar, bukan ia ikut merasa marah.

“Mia,” katanya pelan tapi tegas,

“Kalau ini benar, kamu jangan diam tapi juga tidak boleh gegabah.”

Mia tersenyum kecil bukan senyum sedih. Lebih pada senyum orang yang akhirnya paham posisinya.

“Aku tahu Rin, aku masih diam karena aku ingin tahu sejauh mana dia bermain. ”

Rina menatapnya lama.

“Berarti kamu belum mau konfrontasi?”

“Belum,” jawab Mia cepat.

 “Sampai aku punya cukup bukti dan dia tidak bisa mengelak. "

Rina mengangguk pelan.

“Bagus aku setuju imbangi permainannya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,

 “Dan satu hal lagi jangan hapus pesan perempuan itu." Mia mengangkat wajahnya matanya tidak lagi basah.

“Iya Rin.”

Mia melirik arlojinya sekilas. Waktu sudah merambat tanpa terasa. Ia menghela napas pelan, lalu menatap Rina dengan sorot mata yang lebih tenang dibandingkan saat ia datang tadi.

“Rin, makasih ya… kamu selalu ada buat aku,” ucap Mia tulus.

“Kita pulang aja kasihan anak-anak dirumah. "

Rina mengangguk, tersenyum hangat sambil meraih tasnya.

 “Iya. tapi inget ya, Mi,” katanya pelan namun tegas,

"Imbangi jangan gegabah tahan dulu”

Mia mengangguk.

“Aku ngerti.”

Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran. Lampu-lampu kafe memantul di aspal basah oleh rintik gerimis yang entah sejak kapan turun.

Di sana, sebelum berpisah, Rina memeluk Mia singkat erat tapi tidak berlebihan. Mia membalasnya dengan senyum kecil yang menyimpan tekad.

Saat mobil Rina menjauh, Mia berdiri sejenak untuk memesan taxi online ,Malam terasa dingin, tapi pikirannya justru jernih. Ia tahu satu hal pasti ini bukan akhir. Ini baru awal dari kesadarannya.

Mia tiba di rumah saat langit benar-benar gelap. Lampu ruang tengah Johan sudah lebih dulu pulang. Ia membuka pintu perlahan, melepas sepatu, lalu melangkah masuk tanpa suara. Johan duduk di sofa, ponsel di tangan, raut wajahnya terlihat gelisah.

“Darimana?” tanya Johan berusaha terdengar santai, padahal matanya langsung menatap Mia dengan cermat.

Mia menaruh tasnya, menoleh sekilas.

“Ngopi sama Rina,” jawabnya singkat. Tidak ada senyum, tidak juga dingin netral, justru itu yang membuat Johan makin tidak tenang.

“Oh…” Johan mengangguk, lalu pura-pura sibuk dengan ponselnya. Padahal dadanya berdegup lebih cepat. Ia merasa ada yang berubah. Mia biasanya akan bertanya, atau setidaknya menimpali. Tapi malam itu, Mia hanya berjalan ke dapur, menuang air, lalu meneguknya perlahan.

Dari balik punggungnya, Johan memperhatikannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak Bandung, ia merasa kebohongannya mulai kehilangan tempat bersembunyi.

Lampu kamar redup ketika Johan mendekat, tangannya meraih pinggang Mia dengan gerakan yang dulu selalu membuatnya merasa aman. Namun kali ini refleks Mia lebih cepat ia menepis tangan itu, pelan tapi tegas.Johan tersentak, seperti baru disadarkan dari sesuatu yang tak berjalan sesuai bayangannya.

Ia duduk, menyalakan lampu, menatap Mia dengan alis berkerut.

 “Kamu nolak aku?” suaranya menegang.

“Kamu lupa ya, seorang istri tidak boleh menolak saat suaminya menginginkan?.”

Mia diam sejenak, lalu menarik selimut lebih rapat dan membelakangi Johan.

“Aku capek,” jawabnya singkat. Tidak ada emosi, tidak ada penjelasan tambahan.

Capek hanyalah alasan. Yang sebenarnya terjadi jauh lebih rumit. Ada rasa mual yang menyesak dadanya bukan karena lelah, tapi karena bayangan tentang Bandung, tentang sentuhan lain yang pernah ada di tubuh yang kini mencoba menyentuhnya kembali.

Mia memejamkan mata, menahan gejolak itu sendirian, sementara Johan terdiam di belakangnya, mulai menyadari satu hal yang tak bisa ia hindari istrinya sedang menjauh, dan itu bukan tanpa sebab.

Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Bukan karena tak ada suara, melainkan karena tak ada lagi kehangatan di antaranya.

Mia bangun lebih dulu. Ia merapikan tempat tidur tanpa menoleh ke sisi Johan lalu beranjak ke kamar mandi.

Tidak ada sapaan, tidak ada sentuhan kecil seperti biasa. Hanya rutinitas yang berjalan kaku, seolah masing-masing sedang memainkan peran yang sudah dihafal.

Di dapur, Mia menyiapkan sarapan seperlunya. Gerakannya tenang, Saat Johan keluar dari kamar dengan kemeja yang rapi , ia berhenti sejenak melihat punggung istrinya. Ada jarak yang tak kasatmata, tapi terasa begitu nyata.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Johan akhirnya, suaranya dibuat serendah mungkin.

Mia menaruh piring di meja, lalu duduk tanpa menatapnya.

 “Kenapa nanya begitu? emang kelihatannya gimana?.”

“Semalam…” Johan menggantungkan kalimatnya.

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!