Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27_NAYLA MELIHAT SISI LEMBUT AZKA
Nayla berjalan di samping Azka dengan langkah pelan. Es krim di tangannya hampir habis, tapi pikirannya justru semakin penuh.
Entah sejak kapan, Azka jadi… berbeda. Tidak banyak bicara. Tidak menyindir. Tidak menyakiti dengan kata-kata tajam seperti biasanya. Justru sebaliknya, terlalu perhatian sampai Nayla sendiri bingung harus bersikap seperti apa.
Azka menghentikan langkahnya.
"Nayla."
Nayla menoleh. "Hm?"
"Kamu tadi belum sempat sarapan, kan?"
Nayla berkedip sebentar, lalu menggeleng. "Belum."
Azka menghela napas pendek. Bukan kesal, tapi lebih seperti khawatir. "Yaudah. Ayo, kita nyari makan."
Nayla menatapnya heran. "Sekarang?"
"Iya," jawab Azka cepat. "Nanti perut kamu sakit kalau telat makan. Ditambah lagi kamu makan es krim pagi-pagi."
Nada Azka terdengar datar, tapi Nayla bisa merasakan kepedulian di baliknya. Tidak dibuat-buat. Tidak berlebihan.
"Emang… mau makan di mana?" tanya Nayla ragu.
Azka terdiam beberapa detik. Ia menatap Nayla, seolah memastikan sesuatu. Lalu berkata singkat, "Ada. Ayo."
Sebelum Nayla sempat bertanya lagi, Azka meraih tangannya.
Bukan kasar. Tidak juga tiba-tiba. Pegangannya ringan, tapi cukup kuat untuk membuat Nayla refleks menatap tangan mereka yang saling bertaut.
"A-Azka," Nayla gugup.
"Jalan aja," kata Azka tanpa menoleh. "Nanti kepikiran."
Nayla menurut.
Langkah mereka menyatu, berjalan berdampingan menyusuri jalan kompleks. Nayla bisa merasakan hangat dari telapak tangan Azka. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Ia melirik wajah Azka dari samping. Ekspresi Azka serius, fokus ke depan. Tapi di balik sikap dinginnya itu, Nayla melihat sesuatu yang baru, sisi lembut yang selama ini tersembunyi.
Tanpa sadar, jari-jari Nayla sedikit mengencang, membalas genggaman Azka.
Azka tidak berkata apa-apa. Tapi langkahnya melambat.
***
Azka membawa Nayla keluar dari area kompleks, menuju sebuah deretan ruko kecil yang masih sepi. Beberapa toko belum sepenuhnya buka, tapi satu tempat terlihat sudah ramai sejak pagi.
Sebuah warung makan sederhana. Tidak mewah. Tidak besar. Bahkan jauh dari kesan tempat yang biasa didatangi Azka Mahendra.
Nayla menghentikan langkahnya sedikit. "Di sini?"
Azka mengangguk. "Iya."
Nayla Menatap warung itu sebentar, lalu menoleh ke Azka. "Kamu yakin?"
"Kenapa nggak?"
"Ini… bukan tempat kamu" Ucap Nayla jujur.
Azka meliriknya. "Tempat makan ya tempat makan. Selama bersih dan enak."
Nayla terdiam. Entah kenapa, jawaban itu terasa menenangkan.
Mereka masuk dan duduk di salah satu meja dekat jendela. Azka melepas genggaman tangannya, tapi Nayla masih bisa merasakan hangatnya tertinggal di kulitnya.
"Duduk sini," kata Azka singkat.
Nayla menurut.
Tak lama, seorang ibu menghampiri. "Mau pesan apa, Nak?"
Azka melirik Nayla. "Kamu mau apa?"
Nayla terkejut. "Aku?"
"Iya."
"Bebas". Jawab Nayla ragu.
Azka menatapnya sebentar, lalu kembali ke ibu itu. "Dua porsi bubur ayam. Satu jangan pakai kecap."
Nayla mendongak. "Kok tahu?"
"Kemarin kamu nggak pakai kecap". Jawab Azka ringan.
Nayla terdiam. Dadanya terasa hangat. Ia sendiri tidak sadar bahwa Azka memperhatikan hal sekecil itu.
Bubur datang beberapa menit kemudian. Uapnya masih mengepul.
"Makan". Ujar Azka.
Nayla menyendok pelan. Rasa hangat langsung menyebar ke perutnya. "Enak."
Azka mengangguk kecil. "Makanya."
Mereka makan dalam diam. Tapi kali ini, sunyi itu tidak membuat Nayla ingin pergi. Justru terasa nyaman.
Setelah hampir habis, Nayla mengangkat wajahnya. "Azka."
"Hm?"
"Kenapa kamu tiba-tiba… baik?"
Sendok Azka berhenti.
Beberapa detik berlalu.
"Aku nggak tiba-tiba". Jawabnya akhirnya. "Cuma… sadar."
"Sadar apa?"
Azka menatap mangkuknya. "Kalau kamu bukan orang yang bisa diperlakukan sembarangan."
Nayla menelan ludah. Ia menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa izin.
Di luar warung, matahari semakin naik.
***
Setelah makan, mereka tidak berlama-lama di luar.
Azka membayar, lalu keduanya berjalan kembali ke arah rumah. Jalanan mulai ramai, matahari sudah naik cukup tinggi. Tapi langkah mereka tetap pelan, seolah tidak ingin terburu-buru kembali ke dunia yang biasanya terasa kaku.
Sesampainya di rumah Mahendra, Nayla yang lebih dulu membuka pintu dan masuk ke dalam. Azka menyusul di belakangnya.
Begitu sampai di ruang tengah, Nayla tiba-tiba berhenti.
Azka yang berjalan cukup dekat refleks mengerem langkahnya. Hampir saja ia menabrak punggung Nayla kalau saja ia tidak sigap menarik tubuhnya sendiri ke belakang.
"Eh," Azka menghela napas. "Kenapa berhenti mendadak?"
Nayla menoleh setengah badan. "Ka… aku ke kamar ya? Mau mandi."
Azka menatapnya sebentar, lalu mengangguk. "Iya."
"Abis itu aku istirahat bentar". lanjut Nayla.
Azka kembali mengangguk, tidak menambah komentar.
Nayla pun langsung menaiki tangga, langkahnya ringan. Punggungnya menghilang di balik belokan lantai dua.
Azka berdiri di tempat cukup lama. Tatapannya tertuju ke arah tangga yang kini kosong. Ia menghela napas pelan.
"Kenapa sih gue?". batinnya.
Ia sendiri bingung. Kenapa hari ini ia begitu… berbeda. Terlalu perhatian. Terlalu peduli. Seolah tanpa sadar, ia memberi ruang dan harapan pada Nayla, sesuatu yang sejak awal ingin ia hindari.
Azka mengusap tengkuknya, lalu akhirnya ikut naik ke lantai atas. Tapi bukannya ke kamar Nayla, ia berbelok ke kamarnya sendiri.
Begitu masuk, ia menutup pintu dan melempar kunci ke meja. Ia membuka kausnya, lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Ponselnya bergetar.
Azka berhenti. Ia mengambil ponsel itu dan melihat layar. Pesan dari Devan.
Devan: "Azka, lo sibuk nggak hari ini? Kalau enggak, nongkrong yuk sama anak-anak di tempat biasa."
Azka menatap pesan itu beberapa detik. Kemudian jarinya bergerak cepat membalas.
Azka: "Oke!"
Ia mengunci layar ponsel, meletakkannya kembali.
Entah kenapa, keputusan itu terasa… perlu. Seolah ia butuh jarak. Butuh udara. Butuh mengingatkan dirinya sendiri bahwa apa pun yang terjadi pagi ini tidak seharusnya membuatnya lengah.
Di kamar lain, Nayla berdiri di depan lemari, menatap bayangannya sendiri di cermin. Ia menghela napas kecil.
"Kenapa jantungku masih deg-degan sih…"
***
Siang itu rumah Mahendra kembali terasa lengang.
Nayla sudah selesai mandi dan berganti pakaian rumahan. Ia merebahkan diri di ranjang, memandangi langit-langit kamar sambil memutar ulang kejadian pagi tadi. Jogging. Es krim. Sarapan. Cara Azka menggenggam tangannya tanpa ragu.
"Kenapa jadi begini sih…". Gumam Nayla pelan.
Ia menarik selimut sampai ke dada, menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi setiap kali ia mencoba tidur, wajah Azka muncul begitu saja. Sikapnya yang dingin tapi perhatian. Ucapannya yang tajam tapi penuh makna.
Di lantai bawah, Azka sudah berganti pakaian. Kaus hitam polos, jaket tipis, dan jam tangan kesayangannya. Rambutnya masih sedikit lembap. Ia mengambil kunci mobil dan melangkah keluar tanpa menoleh ke lantai dua.
Mobil Azka melaju meninggalkan halaman rumah Mahendra.
***
Tempat nongkrong itu masih sama.
Sebuah kafe yang tidak terlalu mencolok, tapi selalu jadi tempat berkumpul mereka sejak lama. Devan sudah duduk di pojok, Raka dan Dion menyusul tak lama setelah Azka datang.
"Tumben cepat". Komentar Dion.
Azka duduk, menyandarkan punggung. "Nggak ngapa-ngapain."
Raka menatap Azka sambil mengernyit. "Muka lo aneh."
"Aneh apanya?"
"Kayak orang mikir berat". Sahut Devan sambil tersenyum tipis.
Azka mendengus. "Sok tau."
Mereka tertawa kecil, obrolan mengalir soal sekolah, tugas, dan hal-hal sepele. Azka ikut tertawa, ikut bicara, tapi pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana. Sesekali, ponselnya ia cek. Tidak ada pesan.
Waktu berjalan. Sore mulai turun.
Kafe itu makin ramai. Beberapa pengunjung baru datang, beberapa pergi. Azka berdiri sebentar untuk mengambil minum di meja kasir.
Saat itulah matanya menangkap satu sosok yang terasa… familiar.
Seorang cowok berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Tingginya hampir sama dengan Azka. Rambutnya sedikit lebih panjang, wajahnya santai dengan senyum tipis yang seolah selalu siap dipakai.
Azka berhenti melangkah.
Arvin.
Cowok itu juga melihatnya. Pandangan mereka bertemu.
Beberapa detik terasa terlalu lama.
Arvin mengangkat alisnya sedikit, lalu tersenyum kecil, senyum yang entah kenapa membuat dada Azka terasa tidak nyaman.
Arvin melangkah mendekat. "Ketemu lagi."
Azka menatapnya dingin. "Lo ngikutin gue?"
Arvin terkekeh pelan. "Santai. Tempat umum."
Mereka berdiri saling berhadapan. Suasana di sekitar tetap ramai, tapi di antara mereka terasa tegang.
"Lo temennya Nayla, kan?". Tanya Arvin santai.
Azka menatapnya tajam. "Kenapa?"
"Cuma nanya" Jawab Arvin ringan. "Dia kelihatan beda terakhir ketemu."
Rahang Azka mengeras. "Jangan sok kenal."
Arvin tersenyum tipis. "Gue cuma peduli."
Kalimat itu seperti menyulut sesuatu dalam diri Azka.
"Jauh-jauh dari dia" Ucap Azka rendah, penuh tekanan.
Arvin menatapnya balik, tidak gentar. "Kalau gue nggak mau?"
Hening.
Dari kejauhan, Devan memperhatikan dengan kening berkerut. Raka dan Dion ikut berdiri.
Azka melangkah satu langkah lebih dekat ke Arvin.
Tatapan mereka saling mengunci.