Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 3
Seorang wanita berlari dengan perasaan panik, cemas ia berlarian mencari ruang UGD tempat di mana suaminya berada setelah ia memastikan ke ruang resepsionis.
Degh
"Mas ... MAS NATAN, hiks," Arumi menangis di depan pintu yang terlihat sedikit kaca. Sembari memukul mukul pintu itu ia terus memanggil nama suaminya yang terbaring dengan penuh alat medis di seluruh tubuhnya.
Cekleek
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? Apa yang sebenarnya terjadi," tanya Arumi pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Suami ibu kecelakaan," singkat dokter.
"Apa penyebabnya? kecelakaan tunggal atau ada yang menabraknya lalu siapa yang membawanya ke sini?" cerocos Arumi yang bertanya hingga tidak ada jeda.
Namun, dokter tidak langsung menjelaskan dengan detail dan terkesan ada yang ia sembunyikan. Kemudian dokter pun pergi meninggalkan Arumi yang mana sebelumnya ia menyuruh Arumi ke ruang administrasi karena harus membayar biaya rumah sakit.
Dokter mengatakan jika Natan harus segera dioperasi walaupun sangat kecil kemungkinan ia selamat. Hati Arumi seperti di tusuk belati yang sangat dalam.
Ia memikirkan biaya yang harus dikeluarkan untuk operasi suaminya disamping itu ia juga harus menerima jika memang operasi itu sia sia karena memang luka Natan sangat parah di bagian kepala.
"lima puluh juta!" pekik Arumi.
Dirinya menatap kertas yang tadi diberikan pihak administrasi melihat angka yang begitu fantastis yang ia sendiri tidak tau harus mendapatkan uang itu dari mana. Kalaupun memakai uang tabungannya dan Natan itupun tidak akan cukup.
"Kami baru saja menikah tapi kenapa kau menguji seberat ini ya tuhan," keluh Arumi yang terduduk lemah bersandar di kursi tunggu tidak jauh dari ruangan administrasi.
Dalam kebingungan Arumi mengambil ponselnya ia mencoba menghubungi keluarga Natan, tetapi sia-sia karena memang kedua orang tua nya sudah berpisah dan mempunyai keluarga masing-masing.
Sedari kecil Natan tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, sedangkan Arumi sedari kecil ia sudah berada di panti asuhan dan sampai sekarang ia tidak tau mengenai kedua orang tua nya karena ibu panti hanya mengatakan ia di temukan sejak bayi di depan pintu dan langsung saja ibu panti mengambilnya lalu ia dibesarkannya bersama anak panti lain.
"Arumi," panggil seorang pria yang sudah berdiri di hadapan wanita itu yang langsung menodongkan kepalanya.
Buru-buru Arumi berdiri seraya mengusap air matanya memberi salam sebagai bentuk hormat dirinya pada pria yang tidak lain Kenan pemilik restoran tempat ia bekerja.
"Pak Kenan? Anda di sini?" tanya Arumi dengan suara seraknya karena habis menangis masih terdengar sedikit sesenggukan wanita itu yang membuat Kenan ragu untuk berbicara padanya.
"Bisa ikut saya sebentar," ajak Kenan.
"Ke mana pak? apakah lama?" tanya Arumi.
Kenan terdiam menatap sendu wanita yang sebenarnya sudah berada di dalam hatinya sejak lama. Ia juga tidak mengerti mengapa Arumi sama sekali tidak mengenalinya. Padahal dulu mereka terbilang akrab tapi memang Arumi termasuk gadis yang sangat pendiam dan pemalu kala mereka masih sama-sama kuliah.
"Maaf, pak Kenan bukan maksud saya menolak, tetapi saya harus pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang karena sangat penting," terang Arumi tanpa menatap Kenan karena takut pria itu marah dan berakibat dia bisa dipecat.
"Baiklah, nanti saja kita bicara kalau kau ada urusan," ujar Kenan sedikit ragu.
"Apa bapak marah? Bapak ga akan pecat saya kan?" khawatir Arumi tanpa sadar memegang lengan Kenan.
"Maaf," lirih Arumi melepaskan tangannya.
Kenan menarik sudut bibirnya merasa sangat senang, tetapi tidak lama ia merubah ekspresi nya takut Arumi melihatnya,"Tidak akan, pergilah saya akan balik ke Hotel,"
Arumi pamit tanpa mengurangi rasa hormat ia berterimakasih lalu melangkah pergi meninggalkan Kenan yang menatap kepergiannya.
"Kalau kau tau siapa yang menabrak suami mu. Apakah kau akan memaafkan ku dan masih mau bekerja di restoran ku, Arumi," batin Kenan.
***
"Lima puluh juta!" teriak pak manager yang sangat kesal pada Arumi yang saat ini berada di ruangannya.
Sebenarnya Arumi ingin menemui ayah mertuanya, tetapi saat ia sampai di rumahnya istrinya yang merupakan ibu tiri Natan langsung mengusir Arumi karena memang ia tidak pernah suka dengan kehadiran Natan. Ia hanya menyayangi Ayah Natan dan tidak menerima keberadaan Natan.
Lalu ia berpikir untuk menemui managernya dan ingin meminjam uang pada perusahaan. Sebagai jaminan setiap bulannya ia bersedia untuk potong gajinya.
"Tolong saya pak, suami saya terkena musibah harus segera dioperasi. Kalau saya tidak dapat uang itu suami saya tidak akan bisa diselamatkan,hiks," Isak Arumi.
"Bukan saya tidak mau meminjamkan, saya hanya memberitahu jangankan pinjam lima puluh juta, setengahnya pun gaji kamu tidak akan bisa menutup pinjaman kamu, Arumi," jelas pak Manager.
"Kalaupun bisa kau harus bertemu langsung dengan nyonya Tiara dan Tuan Arsyad untuk persetujuan," lanjut pak Manager.
"Apapun itu saya akan mengikuti prosedur nya, pak," ujar Arumi.
Pak manager menarik napas sangat dalam sebelum melanjutkan bicaranya. Ia mendekat pada Arumi,"Maaf, Arumi saat ini mereka berada di Australia mengurus kelulusan putrinya entah kapan mereka kembali saya tidak bisa memastikan,"
Degh
"Apa? Bbu ... kan kah kemarin mereka masih di sini pak?" tanya Arumi dengan tubuh nya yang sangat gemetar.
"Ya, saat acara selesai mereka langsung berangkat," terang Pak manager.
"Baik, pak saya permisi," dengan wajah lesu, perasaan kecewa dan tubuhnya yang gemetar menahan tangis Arumi melangkah keluar dan langsung kembali ke rumah nya karena hari ini memang jatah ia libur bekerja.
"Mas, kemana lagi aku harus mencari uang itu dalam waktu singkat. Aku mohon bertahanlah Mas Natan,hiks," isak Arumi menangis di pinggir jembatan dengan pikiran kosongnya ia melangkah tanpa ada tujuan.
Ponselnya berbunyi dan itu dari Kenan yang menyuruh nya untuk bertemu dengannya di rumahnya. Tidak ada pilihan lain ia pun segera naik ojek pangkalan yang kebetulan ada di daerah jembatan itu.
***
"Apa kau tidak waras, Kenan? Rencana mu tidak akan berjalan mulus dan itu terdengar kejam," protes Jimmy.
"Itu urusan ku, yang terpenting Arumi menjadi milik ku," seru Kenan menatap tajam Jimmy yang tidak bisa berkata lagi.
Seorang pembantu datang untuk memberitahu jika ada seorang wanita menunggu Kenan di ruang tamu.
Jimmy memilih pergi karena merasa kesal dengan Kenan yang sudah dibuatkan oleh cinta Arumi. Dia sempat bertemu dengan Arumi dan seperti biasa Arumi menyapanya.
Jimmy hanya melihat tanpa membalas sapaannya Arumi, ia menatap kasihan pada wanita itu. Entah apa respon nya setelah Kenan mengutarakan rencana dirinya dia sudah memperkirakan serta memperingatkan Kenan untuk membatalkan niatnya itu.
Namun, sahabat nya itu tidak akan menyerah dengan menolak peringatan Jimmy. Arumi terlihat bingung dan menatap kepergian Jimmy.
"Kau melihat apa?"
buruk
Arumi terkejut hingga menabrak tubuh Kenan karena terkejut. Pria itu sangat dekat dengannya hingga Kenan sempat memeluk tubuh Arumi yang hampir terjatuh.
"Maaf, pak saya kaget jadi ..."
"Ke ruangan ku sekarang," sela Kenan, Arumi menurut ia mengikuti bosnya itu pergi.
Setelah sampai Arumi langsung duduk berhadapan dengan Kenan. Kedua mata Arumi terbelalak melihat tumpukkan uang yang berwarna merah yang baru saja dikeluarkan Kenan dari dalam laci tepat di samping kursinya.
"Tuan, ini apa maksudnya," tanya Arumi tanpa menatap ke arah Kenan karena tatapannya fokus pada uang merah yang berjejer di atas meja tepat di hadapannya.
"Uang seratus juta untuk mu, untuk biaya operasi suami ku," jawab Kenan.
"Se- seratus juta?" pekik Arumi.
"Iya," Kenan beranjak dari duduknya mendekati Arumi lalu berbisik.
"Setelah operasi suamimu selesai, kau harus menikah denganku,"
Degh
Bersambung.