aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'
'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bersamamu sepenuhnya
Alda masih berdiri di dekat pintu, memastikan tidak ada yang mendengar sebelum ia berbalik menatap suaminya dengan ekspresi serius.
"Ram," ia memulai, suaranya lebih tenang meskipun masih ada sedikit rasa ragu, "kenapa tadi kamu bicara seolah-olah kita benar-benar harus melakukan itu?"
Rama menatap istrinya, lalu duduk di tepi ranjang. "karena aku memang berpikir kita perlu mempersiapkannya, Da."
Alda melipat tangan di depan dada. "persiapan, mungkin iya. tapi tadi kamu terdengar seolah-olah kita harus melakukannya sekarang juga, seakan-akan kakek benar.”
Rama tersenyum kecil. "aku berusaha menenangkan suasana, Da. kamu lihat sendiri wajah kakek. jika aku menolak nya mentah-mentah, mungkin beliau akan semakin marah."
Alda menghela napas panjang dan berjalan kearah jendela kamarnya. "aku tahu kakek memang keras kepala, tapi ini bukan keputusan yang bisa kita buat hanya karena desakan orang lain, Ram. ini hal besar.”
Rama menatap punggung Alda yang berdiri di dekat jendela. ia bisa merasakan kegelisahan dalam suara Alda. namun, ia memilih untuk tidak bertele-tele.
"apa kamu memang belum siap, Da?" tanyanya langsung.
Alda sontak menoleh. mata mereka bertemu, dan Rama bisa melihat keterkejutan di wajah gadis itu.
Alda terdiam sesaat, berusaha memproses pertanyaan itu. ia tahu hubungan mereka tidak dimulai dari cinta yang menggebu-gebu. mereka menikah karena keadaan, karena takdir yang memaksa mereka untuk bersatu. dan kini, Rama berbicara seolah-olah mereka benar-benar sepasang kekasih yang sudah siap melangkah lebih jauh.
ragu-ragu, Alda melangkah mendekat. "kamu lupa tentang apa yang membuat kita berada di masa ini, Ram?" suaranya lebih pelan, tetapi terdengar jelas dalam keheningan kamar. "masa lalu mu belum sepenuhnya selesai. dia masih ada dan bahkan sudah berniat ingin kembali!,"
Rama menegang sejenak, tapi kemudian ia menghela napas. "aku tidak lupa, Da. tapi aku juga tidak ingin terus terikat dengan masa lalu."
Alda mengerutkan kening. "maksudmu?"
Rama bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekat, menatap dalam ke mata Alda. "aku tahu pernikahan kita bukan sesuatu yang direncanakan. aku tahu ada masa lalu yang belum selesai, tapi justru karena itu aku ingin melangkah maju. aku ingin membangun sesuatu yang nyata, masa depan ku, dan itu dengan mu! kita sudah berada di ikatan janji suci, aku tidak ingin menukar hal itu dengan masa lalu ku"
Alda terdiam. kata-kata Rama seolah menusuk sisi hatinya yang selama ini ia abaikan.
"aku tidak bilang kita harus terburu-buru, Da," lanjut Rama dengan suara lebih lembut. "tapi aku ingin kau tahu bahwa aku serius tentang pernikahan ini. kalau aku setuju dengan permintaan kakek, itu bukan sekadar untuk menyenangkan beliau, tapi karena aku memang ingin menjalani hidup ini bersamamu, sepenuhnya."
Alda menggigit bibirnya, dadanya terasa sesak oleh emosi yang sulit dijelaskan. ia tidak tahu harus merasa tersentuh, marah, atau justru semakin bingung.
"tapi, Ram... bagaimana dengan Naila?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar hampir seperti bisikan.
"Naila sudah tidak ada kaitannya dengan hidupku, Da." Rama menjawab tanpa ragu, matanya menatap lurus ke dalam mata Alda. "aku tidak akan menyangkal kalau dia pernah menjadi bagian dari masa laluku, tapi hanya sampai di sana. sekarang aku adalah suamimu, dan aku ingin menjalani kehidupan ini bersamamu.”
Alda ingin percaya, tapi hatinya masih diliputi keraguan. ini semua terasa terlalu cepat, terlalu mendadak. sebelum ia bisa mengeluarkan kata-kata lain, Rama tiba-tiba menarik napas dalam-dalam, ekspresinya berubah sedikit gugup.
"Da....." suaranya terdengar lebih lembut, tapi juga lebih serius.
Alda menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"kau tahu kan, apa tugas seorang istri dalam rumah tangga?" tanyanya perlahan.
Alda mengerutkan kening. "maksudmu?"
Rama menelan ludah, wajahnya sedikit memerah, tapi ia tetap mempertahankan kontak mata. "malam ini... apakah kamu siap untuk menjalankan tugasmu sebagai istriku?"
suasana kamar tiba-tiba terasa lebih hening. Alda merasa seolah waktu berhenti sejenak. ia menatap wajah suaminya yang jelas menunjukkan ketulusan, tetapi juga sedikit canggung.
pipinya langsung memanas. "Rama!" serunya setengah berbisik, nyaris memukul bahu suaminya karena tidak percaya ia baru saja mendengar itu secara langsung.
rama tersenyum kecil, tetapi sorot matanya masih serius. "aku tahu ini mendadak, tapi aku ingin kita memulai pernikahan ini dengan seutuhnya. aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar menganggapmu istriku. aku tidak ingin melakukan ini setengah-setengah, Da.”
Alda mundur selangkah, berusaha mengumpulkan pikirannya. ia tidak tahu apakah ia siap atau tidak, tetapi mendengar suaminya berbicara seperti itu membuat perasaannya semakin campur aduk.
"Ram..." ia berusaha mencari kata-kata yang tepat, tetapi pikirannya terasa penuh.
Rama tidak ingin memaksanya, tetapi ia juga ingin Alda tahu bahwa ia tidak main-main dengan ucapan dan niatnya. dengan lebih lembut, ia berkata, "tidak apa-apa jika kamu perlu waktu memikirkan hal ini, aku akan memberi kebebasan untuk mu. tapi, jika suatu hari nanti lahir dan batinmu sudah bersedia, katakan saja. kita akan buat pernikahan ini nyata dalam segala maknanya".
Alda menggigit bibirnya, menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap suaminya. ia bisa melihat kesungguhan di sana, dan itu membuatnya semakin bingung.
haruskah ia mengambil langkah ini? ataukah ia harus meminta waktu lebih lama?
Alda menggigit bibirnya, hatinya terasa semakin gelisah. ia ingin mengatakan sesuatu, tapi pikirannya masih terlalu kalut.
melihat Alda yang tetap diam, Rama akhirnya tersenyum tipis. ia mengusap lembut kepala gadis itu sebelum berkata,
"baiklah, aku akan keluar sebentar. kamu istirahatlah lebih dulu."
Alda mengangkat wajahnya, seolah ingin menghentikan langkah Rama, tetapi sialnya Rama sudah lebih dulu melangkah menuju pintu.
begitu pintu tertutup, Alda menarik napas panjang. ia jatuh terduduk di tepi ranjang, meremas ujung selimut dengan perasaan yang bercampur aduk.
hatinya dipenuhi pertanyaan.
"apakah aku benar-benar siap menjalani pernikahan ini sepenuhnya? atau... aku hanya takut menghadapi kenyataan bahwa perasaanku perlahan mulai berubah?"
Alda menatap kosong ke arah lantai. dengan kata-kata Rama yang masih terngiang di kepalanya.
"kita akan buat pernikahan ini nyata dalam segala maknanya."
ia tahu Rama tidak memaksanya. tapi justru karena itulah ia semakin bimbang.
tangannya meremas ujung selimut dengan gelisah. sebenarnya, ia bukan tidak siap untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. ia tahu sejak awal bahwa pernikahan membawa tanggung jawab besar, termasuk dalam hal ini.
namun, yang membuatnya ragu adalah alasan di balik semua ini.
apakah Rama sungguh-sungguh menginginkannya? atau ini hanya karena desakan kakeknya?
Alda menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan hatinya yang berkecamuk. Jika semua ini hanya dilakukan karena permintaan kakek, maka ia tidak ingin melakukannya. ia tidak ingin pernikahan ini menjadi sekedar kewajiban atau formalitas belaka.
baginya, cinta harus menjadi dasar dari semuanya. ia siap melayani suaminya, tapi hanya jika itu karena cinta, bukan karena paksaan, bukan karena kewajiban, dan bukan karena tuntutan keluarga.
ia menghela napas panjang.
"Rama…" bisiknya pelan, seolah berbicara pada bayangan suaminya yang baru saja meninggalkan kamar. "apa yang sebenarnya ada di hatimu?"
*****
di sisi lain,
Rama duduk di bangku kayu di taman samping rumah Alda, membiarkan udara yang sejuk sedikit meredakan pikirannya yang kusut. matahari belum terlalu terik, angin berembus pelan menggoyangkan dedaunan di sekitarnya. ia menyandarkan punggung, menghela napas panjang sebelum merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
sambil berpikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Arya lewat video call. sudah lama mereka tidak berbicara panjang sejak Arya pergi berlibur.
beberapa detik kemudian, layar ponselnya menampilkan wajah Arya yang tampak sedang berada di kamar hotel. rambutnya sedikit berantakan, mungkin baru saja selesai mandi atau bangun tidur.
"Rama?" Arya sedikit mengernyit, lalu menyapa dengan nada heran. "tumben kau menghubungi duluan, dan ini masih pagi, ada apa?"
Rama mengusap tengkuknya, berusaha bersikap santai. "tidak ada apa-apa, Ar. aku hanya ingin tahu bagaimana liburan kalian. bagaimana kotanya? menyenangkan?"
Arya tersenyum tipis sambil mengangguk. "cukup menyenangkan. kami sudah keliling beberapa tempat, mencoba makanan khas juga. suasana di sini enak, cocok untuk melepas penat."
Rama mengangguk-angguk pelan. "bagus kalau begitu. setidaknya perjalanan kalian tidak sia-sia."
Arya memperhatikan wajah temannya dengan seksama, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "tapi, Ram... sepertinya kau tidak benar-benar ingin membahas liburanku, bukan?"
Rama terdiam sejenak, sebelum akhirnya menghela napas. "ya... ada sesuatu yang ingin kubicarakan, tapi tidak terlalu penting."
Arya mengangkat sebelah alis. "kalau tidak penting, kau tidak akan meneleponku. apa ini tentang rumah tangga kalian?"
Rama mengangguk pelan, tak ingin menyangkal.
Arya menyipitkan mata, lalu tanpa ragu berkata, "aku tahu kalian belum melakukan apa pun sebagai suami istri."
Rama terkejut. "ma-maksudmu?"
Arya tersenyum kecil. "jangan terlalu kaget. aku juga laki-laki, Rama. dari caramu berbicara saja aku sudah bisa menebaknya. ditambah lagi, aku cukup paham bagaimana seorang wanita yang masih menjaga dirinya sebelum menikah. Alda masih dalam fase itu, bukan?dan kau belum menjalankan kewajibanmu sebagai suami."
Rama tidak langsung menjawab. ia tidak tahu harus merasa bagaimana. malu, kesal, atau bingung? tetapi pada akhirnya, ia menghela napas dan mengakui, "ya... kami belum melakukan apa pun."
Arya tersenyum penuh kemenangan, "sudah ku duga. jadi, apa masalah nya? Alda yang belum siap, atau kau yang terlalu lambat?"
Rama mengusap tengkuknya, merasa sedikit tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. "mungkin kami berdua," katanya jujur. "tapi aku sudah lebih dulu mengajaknya untuk serius, Ar. aku ingin pernikahan ini berjalan selayaknya."
Arya menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "mungkin alasan Alda belum siap adalah karena kau sendiri, Rama."
Rama menatap layar dengan alis mengernyit. "maksudmu? apa salah ku?"
Arya tersenyum kecil. "kau terlalu lambat bergerak. percayalah, Alda sudah menyukaimu. dari caranya menatapmu saja sudah berbeda ketika dia menatapku atau Gani"
kata-kata itu membuat Rama terdiam. ia mengingat kembali bagaimana Alda menatapnya tadi, ada keraguan, ada kebimbangan. tapi, apakah benar itu tanda bahwa Alda sudah mulai menyukainya?
melihat Rama yang masih tenggelam dalam pikirannya, Arya menambahkan, "aku minta maaf jika kesan nya ikut campur, tapi aku disini hanya ingin memberi saran. jangan terlalu lama menunda, Ram. kau sudah memutuskan untuk menjalani pernikahan ini, bukan? maka jalani sepenuhnya. jadikan ikatan kalian nyata."
Rama menatapnya dengan sorot mata penuh pertimbangan. "kenapa kau berkata begitu?"
Arya tersenyum tipis, tetapi nadanya penuh keyakinan. "karena aku tahu, adanya buah hati akan menjadi penguat dalam hubungan kalian. itu bukan sekadar tanggung jawab, tapi juga ikatan yang lebih dalam antara suami istri."
Rama menghela napas panjang. pikirannya semakin bimbang. kata-kata Arya seolah menegaskan sesuatu yang sebelumnya hanya samar-samar ada di benaknya. tapi, di sisi lain, ia masih mengingat ekspresi Alda tadi, kebimbangan, ketidakpastian.
"aku tidak ingin Alda berpikir aku hanya melakukan ini karena desakan keluarganya," gumam Rama lebih kepada dirinya sendiri.
Arya tersenyum, seolah sudah menduga hal itu. "kalau begitu, yakinkan dia, Ram. buat dia mengerti kalau ini bukan karena keluarganya, tapi karena kau benar-benar menginginkannya."
Rama terdiam. kata-kata Arya terasa menohok, tetapi ada benarnya. ia memang ingin menjalani pernikahan ini dengan serius, tetapi selama ini, ia juga terlalu berhati-hati, terlalu takut melangkah lebih jauh.
Arya melanjutkan dengan nada lebih santai, "wanita seperti Alda tidak akan mudah mengatakan apa yang mereka rasakan, Ram. mereka butuh kepastian, butuh diyakinkan bahwa mereka tidak salah memilih. jadi, kalau kau benar-benar ingin pernikahan ini nyata, jangan cuma berbicara, buatlah dia merasakannya."
Rama menarik napas panjang. ia tahu Arya tidak sekadar memberi nasihat kosong. sebagai sahabat, Arya mengenalnya dengan baik, mungkin bahkan lebih baik daripada dirinya sendiri.
"baiklah," Rama akhirnya berkata. "aku akan mempertimbangkan saranmu."
Arya tersenyum puas. "bagus. jangan terlalu banyak berpikir, Ram. lakukan saja apa yang perlu kau lakukan. jika alda memang untukmu, maka segalanya akan berjalan dengan sendirinya."
Rama mengangguk, meski dalam hatinya ia masih diliputi berbagai pertimbangan.
setelah mengakhiri panggilan, Rama menatap langit pagi yang semakin terang. dalam hatinya, ia bertanya-tanya.
apa Alda benar-benar menyukaiku? atau ini hanya perasaan yang muncul karena keadaan?