Saat keadilan sudah tumpul, saat hukum tak lagi mampu bekerja, maka dia akan menciptakan keadilannya sendiri.
Dikhianati, diusir dari rumah sendiri, hidupnya yang berat bertambah berat ketika ujian menimpa anak semata wayangnya.
Viona mencari keadilan, tapi hukum tak mampu berbicara. Ia diam seribu bahasa, menutup mata dan telinga rapat-rapat.
Viona tak memerlukan mereka untuk menghukum orang-orang jahat. Dia menghukum dengan caranya sendiri.
Bagaimana kisah balas dendam Viona, seorang ibu tunggal yang memiliki identitas tersembunyi itu?
Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 35
"Biadab!"
Brak!
Ponsel Dicky dilempar dengan sangat kuat hingga membentur dinding dan hancur terberai. Amarah di ubun-ubun yang ditahannya agar tidak meledak, seketika pecah. Ditariknya kerah jaket Dicky hingga pemuda itu berdiri dari duduknya.
Plak!
Plak!
Dua tamparan di pipi kanan dan kiri membuat Dicky meringis kesakitan. Sudut bibirnya pecah, cairan merah yang kental merembes dari sana. Sang ibu tersentak, ia menghampiri mereka berdua dan melerai.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa memukul anakmu seperti itu?" bentak wanita itu tidak terima darah dagingnya disakiti sekalipun oleh ayahnya sendiri.
Mata merah penuh gejolak amarah itu berpaling menatap istrinya. Bagaimana dia harus bercerita kepada wanita itu tentang apa yang dilakukan anaknya? Perbuatan yang sudah pasti akan mengundang marah para wanita, para orang tua, dan tentunya para ayah yang memiliki anak gadis.
"Apa yang kau dengar dan apa yang kau lihat? Mengapa tidak bertanya dulu kepada Dicky?" Wanita itu masih berapi-api, di kedua sudut matanya bahkan tergenang air yang kapan saja bisa jatuh terberai.
Dadanya naik dan turun, sesak merebak melihat bagaimana sang ayah memukul anaknya.
"Beritahukan pada ibumu apa yang sudah kau lakukan terhadap gadis itu?" bentak sang ayah membuat Dicky segera menjatuhkan diri di lantai.
Ibunya mengernyit, masih mematri tatapan pada sang suami yang menegang menahan gejolak dalam diri.
"Jangan menatapku seperti itu! Tanyakan pada putramu apa yang sudah dia lakukan!" tegas laki-laki itu menuding wajah istrinya geram.
Dia tak suka tatapan menyalang itu, dia tak suka ketika istrinya tak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Sekalipun Dicky adalah anak mereka, tapi dia tetap harus dihukum jika melakukan kesalahan.
Sang istri menurunkan pandangan, menatap Dicky yang menangis dalam keadaan berlutut. Rasa sesal hadir menggantikan rasa takutnya. Memukul jiwa paling dalam, menyadarkannya bahwa dia adalah seseorang yang kejam. Bajingan yang pengecut, yang tidak mau bertanggungjawab.
"Apa yang telah kau lakukan, Dicky? Benarkah kau melakukan kejahatan itu?" tanya sang ibu dengan suara bergetar.
Dia tahu apa yang dimaksud suaminya tanpa harus meminta penjelasan. Satu yang ada dalam benaknya adalah Dicky sudah menghancurkan kehormatan seorang gadis.
"Jawab Ibu, Dicky! Jawab, jangan diam saja!" Wanita itu mengguncang tubuh Dicky yang membeku tanpa kata.
Air matanya luruh, dengan diamnya Dicky sudah menjadi jawaban atas pertanyaannya. Ia ambruk di sofa, menangis penuh sesal dan kecewa.
"Maafkan aku, Ibu. Aku benar-benar khilaf, aku tersesat. Aku bingung sesaat, maafkan aku," ucap Dicky sembari memegangi lutut ibunya.
Wanita itu menepis tangan Dicky, enggan disentuh olehnya. Sementara sang ayah menatap murka padanya.
"Kenapa kau melakukan itu, Dicky? Kau tak ingat ibumu ini adalah seorang perempuan? Kau sudah menyakiti hati Ibu, Dicky," lirih sang ibu di sela-sela isak tangisnya yang pilu.
Ia bahkan enggan menatap wajah anaknya yang juga berderai air mata menyesali perbuatan yang telah dilakukan.
"Ibu ... kumohon maafkan aku. Aku benar-benar menyesal, Ibu," ratap Dicky, tapi tak digubris ibunya.
"Kau tahu ke mana kau harus meminta maaf. Bukan pada Ibumu ini," sengit sang ibu tanpa menatap Dicky.
"Kau pikir meminta maaf akan mengembalikan semuanya? Apa kau yakin gadis itu akan memaafkan kalian? Jika aku menjadi ayahnya, maka kematian memang pantas untuk kalian!" geram sang ayah penuh emosi.
Dicky dan ibunya menoleh, ada riak kekhawatiran di wajah mereka. Utamanya Dicky yang baru saja melihat mayat Diaz yang mati secara mengenaskan. Ancaman yang ia dengar dari si penelpon pun kembali mengiang, selanjutnya adalah dia.
Feny, Aditya, dan Diaz.
"Tidak, Ayah. Aku tidak ingin mati, kumohon selamatkan aku. Aku akan meminta maaf padanya dan melakukan apa saja yang dia inginkan. Aku berjanji akan menebusnya, Ayah. Bantu aku!" mohon Dicky sembari memegangi kaki sang ayah.
Tatapan matanya serius, ada penyesalan yang jelas terlihat di sana. Kesungguhan untuk menembus dosa yang sudah dia lakukan.
Laki-laki itu menatap istrinya, anggukan kecil sebagai pertanda setuju akan permohonan Dicky. Mereka harus mencari tahu siapa gadis itu dan di mana dia tinggal. Lalu, membawa Dicky kepadanya untuk meminta maaf.
ok lah thor.. maaf lahir batin jg ya. 🙏🏼🥰