NovelToon NovelToon
TAKDIR DIBALIK CINCIN (Gadis Kesayangan Oppa)

TAKDIR DIBALIK CINCIN (Gadis Kesayangan Oppa)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Cinta Paksa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Amelia's Story

Nesya, seorang gadis sederhana, bekerja paruh waktu di sebuah restoran mewah, untuk memenuhi kebutuhannya sebagai mahasiswa di Korea.

Hari itu, suasana restoran terasa lebih sibuk dari biasanya. Sebuah reservasi khusus telah dipesan oleh Jae Hyun, seorang pengusaha muda terkenal yang rencananya akan melamar kekasihnya, Hye Jin, dengan cara yang romantis. Ia memesan cake istimewa di mana sebuah cincin berlian akan diselipkan di dalamnya. Saat Nesya membantu chef mempersiapkan cake tersebut, rasa penasaran menyelimutinya. Cincin berlian yang indah diletakkan di atas meja sebelum dimasukkan ke dalam cake. “Indah sekali,” gumamnya. Tanpa berpikir panjang, ia mencoba cincin itu di jarinya, hanya untuk melihat bagaimana rasanya memakai perhiasan mewah seperti itu. Namun, malapetaka terjadi. Cincin itu ternyata terlalu pas dan tak bisa dilepas dari jarinya. Nesya panik. Ia mencoba berbagai cara namun.tidak juga lepas.

Hingga akhirnya Nesya harus mengganti rugi cincin berlian tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia's Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara Hye Jin

Siang itu, suasana di ruang rawat Nesya terasa tenang hingga pintu kamar diketuk pelan. Nesya yang sedang beristirahat membuka matanya perlahan, dan di ambang pintu berdirilah Hye Jin, dengan senyum lembut di wajahnya. Di tangannya ada parcel buah berisi apel, anggur, dan pir yang tersusun rapi dalam keranjang elegan.

"Annyeong, Nesya-ssi," sapa Hye Jin dengan nada ramah, melangkah masuk tanpa menunggu jawaban. "Aku dengar dari Jae Hyun kalau kau baru saja menjalani operasi. Aku membawakan buah, semoga kau cepat sembuh."

Nesya menatap wanita itu dengan tatapan datar, tak berusaha membalas senyum atau ramah. Baginya, kedatangan Hye Jin hanyalah akting belaka—usaha menciptakan citra baik di depan Jae Hyun. Lagipula, ia tahu persis siapa wanita ini dalam hidup pria itu.

"Terima kasih," jawab Nesya singkat, suaranya terdengar dingin. Ia tidak berusaha mengambil parcel tersebut atau bahkan menawarkan Hye Jin duduk.

Hye Jin, yang jelas merasakan ketidakramahan itu, tetap mempertahankan senyumnya. Ia meletakkan parcel di meja samping, lalu duduk di kursi dekat ranjang Nesya. Matanya yang tampak ramah menyiratkan sesuatu yang lain—ada kilatan kemenangan di sana.

"Kau beruntung sekali, Nesya," lanjut Hye Jin dengan suara lembut, seolah benar-benar peduli. "Jae Hyun begitu perhatian padamu. Jarang sekali dia mau repot-repot mengurus orang lain seperti ini."

Nesya tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Tentu saja," balasnya, nada suaranya sarkastik. "Bukankah aku ini tanggung jawabnya di atas kertas?"

Sikap dingin Nesya yang begitu jelas mulai membuat Hye Jin tidak nyaman, tetapi sebelum ia sempat membalas, pintu kamar kembali terbuka. Jae Hyun masuk membawa segelas kopi di tangannya, matanya langsung mengarah pada dua wanita di ruangan itu.

"Hye Jin?" Jae Hyun sedikit terkejut melihat wanita yang masih mengisi ruang di hatinya duduk di sana. Ia melangkah mendekat, lalu menatap Hye Jin dengan lembut. "Kenapa tidak memberitahuku kalau kau akan datang?"

"Aku ingin memberikan kejutan," jawab Hye Jin manja, tatapannya penuh kasih saat memandang pria itu. "Aku hanya ingin memastikan Nesya baik-baik saja. Kau pasti sangat khawatir, kan?"

Jae Hyun tersenyum kecil, ekspresinya melunak saat berbicara dengan Hye Jin. Namun, di sisi lain, ia menyadari tatapan dingin Nesya yang terlihat tidak menyukai interaksi mereka.

"Terima kasih sudah datang," ucap Jae Hyun tulus. "Aku memang khawatir, tapi sekarang dia sudah jauh lebih baik."

Mendengar nada lembut itu, Nesya menahan keinginannya untuk mendengus. Tentu saja dia khawatir—karena status administrasi di rumah sakit, bukan karena peduli sungguhan.

Hye Jin tersenyum puas, menikmati perhatian penuh Jae Hyun. Ia berdiri dari kursinya dan merapikan rambutnya dengan anggun. "Aku tidak akan mengganggu lama. Aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," katanya. Namun, sebelum pergi, ia menambahkan dengan suara manis, "Nesya, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu membebani Jae Hyun, ya?"

Kalimat terakhir itu terdengar ramah di permukaan, tetapi Nesya menangkap makna tersembunyi di baliknya. Ia mengangkat alis sedikit, lalu membalas dengan nada dingin, "Tenang saja. Aku tidak pernah berniat mengganggu hidup kalian."

Jae Hyun yang menyaksikan percakapan itu mulai merasa tidak nyaman. Ia tahu Nesya memiliki karakter yang tegar, tapi sikap dinginnya pada Hye Jin terasa berlebihan di matanya.

Begitu Hye Jin keluar dari ruangan, suasana menjadi hening. Jae Hyun berdiri di dekat jendela, memandangi kota Seoul yang sibuk di luar sana, mencoba menata pikirannya. Namun, akhirnya ia membuka suara.

"Apa perlu bersikap sedingin itu pada Hye Jin?" tanyanya, menoleh ke arah Nesya dengan tatapan yang sulit ditebak.

Nesya yang sedang merapikan selimutnya menoleh dengan ekspresi datar. "Aku tidak melihat alasan untuk bersikap ramah," jawabnya lugas. "Aku bukan aktris yang harus berpura-pura menyambutnya dengan hangat."

Jae Hyun menghela napas panjang. "Dia hanya ingin menunjukkan perhatian. Apa salahnya menghargai itu?" nada suaranya terdengar jengkel.

Nesya tersenyum tipis, penuh sarkasme. "Tentu saja kau membelanya," gumamnya lirih. "Lagipula, aku hanya istri di atas kertas. Siapa aku sampai harus dianggap penting di hidupmu?"

Ucapan itu menusuk Jae Hyun lebih dalam dari yang ia duga. Ia melangkah mendekat, matanya menatap Nesya tajam. "Kau selalu berpikir aku tidak peduli, kan?" desisnya pelan, tetapi sarat emosi.

Nesya tidak menghindari tatapannya. "Aku hanya tidak ingin salah paham," balasnya dingin. "Kau mencintai Hye Jin. Aku paham betul posisiku di sini."

Kata-kata itu membuat Jae Hyun terdiam. Ada sesuatu dalam nada Nesya yang terasa menusuk ego dan hatinya sekaligus. Ia ingin membalas, tetapi kata-kata itu terasa menguap di tenggorokannya.

Akhirnya, ia memalingkan wajah, berusaha menahan emosi yang mulai mengganggunya. "Istirahatlah," katanya dingin sebelum melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Nesya sendirian dalam keheningan yang menyiksa.

Saat pintu menutup, Nesya menyandarkan kepalanya di bantal, menghela napas berat. Hatinya terasa lelah, bukan hanya karena fisiknya yang belum pulih, tetapi karena ia tahu—perannya di hidup Jae Hyun hanyalah bayangan sementara yang kapan saja bisa dihapus.

Malam itu, setelah Jae Hyun pergi meninggalkannya sendirian di ruang rawat, Nesya menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang bercampur aduk. Perdebatan mereka tadi benar-benar menguras emosinya. Ia sadar, dirinya hanyalah bayangan di antara hubungan Jae Hyun dan Hye Jin. Tidak ada alasan lagi baginya untuk bertahan di Korea.

Dengan tangan gemetar, Nesya meraih ponselnya dan menghubungi Mitha, sahabat yang selalu menjadi tempatnya bersandar selama berada di Korea. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara ceria Mitha menjawab dari seberang.

"Halo, Nesya! Ada apa? Kamu sudah merasa lebih baik?" suara Mitha terdengar penuh perhatian.

Nesya menghela napas, mencoba mengatur emosinya agar terdengar tenang. "Mith, tolong bantu aku pesan tiket pesawat ke Indonesia untuk lusa," pintanya langsung, tanpa basa-basi.

Sejenak, hening menyelimuti di antara mereka. Mitha yang kaget dengan permintaan mendadak itu berusaha mencerna kata-kata Nesya. "Kamu serius? Kenapa tiba-tiba ingin pulang? Bukannya kamu masih pemulihan?" tanyanya cemas.

"Aku sudah cukup lama di sini," Nesya menjawab lirih. "Kuliahku sudah selesai, aku hanya tinggal menunggu hasil. Tidak ada lagi yang mengikatku di Korea, Mith. Aku lelah berada di sini."

Mitha bisa merasakan kepedihan dalam suara sahabatnya itu. Ia tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar rasa lelah. Dengan lembut, ia mencoba memahami. "Ini karena Jae Hyun, kan?"

Nesya terdiam, tapi keheningannya sudah menjadi jawaban yang cukup jelas bagi Mitha.

"Aku tidak mau bertahan hanya untuk menunggu seseorang yang tidak pernah menganggapku ada," Nesya melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Dia punya Hye Jin, Mith. Dan aku? Aku hanya beban di hidupnya."

Mitha menghela napas panjang di seberang sana. Ia ingin membantah, ingin meyakinkan Nesya bahwa ia berhak mendapatkan lebih. Tapi ia tahu, sahabatnya sudah memutuskan. "Baiklah, aku akan memesan tiket untukmu. Penerbangan langsung ke Jakarta, ya?"

"Iya, yang paling cepat setelah aku keluar dari rumah sakit," jawab Nesya tegas.

"Oke, aku akan urus semuanya," janji Mitha, meskipun hatinya berat. "Tapi Nesya, kamu yakin nggak mau bicara lagi sama Jae Hyun sebelum pergi?"

Nesya tersenyum pahit. "Untuk apa? Dia bahkan tidak akan peduli jika aku pergi."

Setelah menutup telepon, Nesya memejamkan matanya, mencoba menahan air mata yang ingin jatuh. Ia tahu ini keputusan terbaik. Tidak ada lagi alasan baginya bertahan di tempat di mana ia tidak pernah benar-benar dianggap ada.

Di luar kamar rawat, tanpa Nesya sadari, Jae Hyun berdiri diam di dekat pintu. Entah sejak kapan ia kembali ke rumah sakit. Ia datang dengan membawa makanan kesukaan Nesya, berniat menebus kekasaran sikapnya tadi. Tapi langkahnya terhenti saat tanpa sengaja ia mendengar percakapan Nesya dengan Mitha.

Wajah Jae Hyun mengeras. Ada rasa tidak nyaman di hatinya mendengar Nesya ingin pergi. Tapi di sisi lain, ia merasa ini yang terbaik. Bukankah sejak awal pernikahan mereka hanyalah kontrak? Jika Nesya pergi, semuanya akan selesai, dan ia bisa kembali ke hidupnya bersama Hye Jin.

Namun, mengapa hati kecilnya terasa berat membayangkan Nesya tidak akan ada lagi di sisinya?

"Jadi, Nesya akan pulang?"

Bersambung

1
Greenindya
lanjut thor
ceritanya bikin deg-degan
Amelia's Story: siap,.🥰🥰🥰
total 1 replies
Dea lestari tari
cerita yg menark
Serenarara
Semangat ya thor nulisnya.
Amelia's Story: siap terimakasih ka sudah mampir
total 1 replies
seftiningseh@gmail.com
jangan lupa dukungan nya di novel aku judul nya istri kecil tuan mafia yaa kak
semagat terus yaa kak
Amelia's Story: siap ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!