Candy Selsha Bailey, seorang gadis cantik yang hidupnya tidak seindah namanya. Dari bayi sampai sekarang ia harus terus memakan obat-obatan agar bisa sembuh, punya tubuh yang sangat lemah, orang tua yang strict parents menjadikan hidupnya tidak bebas, nilai adalah hal yang harus ia pertahankan karena kalau tidak ia akan di marahi oleh ayahnya, masalah selalu datang menghampirinya membuat ia tidak tenang, rasa menyesal yang terus melingkupi relung hatinya membuat ia hidup dengan rasa bersalah, dan semenjak kejadian itu ia tidak pernah mempunyai teman yang benar-benar teman.
"Tuhan, kenapa hidup aku kayak gini? kenapa semua ini harus terjadi kepadaku? aku lelah Tuhan," ucapnya di ruangan yang sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echaalov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Aku punya ide," semua orang menatap Anka. Anka berjalan mendekati Bu pengawas.
"Ibu apa boleh saya melihat kertas contekannya? " tanya Anka.
"Buat apa? Kalau nanti ibu kasih kamu bisa melihat jawabannya," ujarnya.
Anka berjalan menuju mejanya lalu mengambil kertas ujiannya.
"Saya kumpulin kertas ujian saya biar Ibu percaya kalau saya tidak akan melihat jawaban dalam contekan itu," Anka menyerahkan kertas ujiannya kepada Bu pengawas.
"Baik kalau begitu, ibu serahkan kertas contekannya kepada kamu," ujar Bu pengawas menyerahkan kertas itu kepada Anka.
"Kami juga mau mengumpulkan kertas ujiannya Bu," ucap Naysa.
"Iya silahkan," ucap Bu pengawas.
Candy, Naysa, Tania, Azel, Harrel, dan Gerald menyerahkan kertas ujiannya ke Bu pengawas.
Anka menerimanya lalu membuka kertas yang terlihat sedikit rusak karena kertasnya di remas sehingga berbentuk bulat.
Anka melihat kertas contekan itu dengan seksama.
"Apa idenya, Ka? " tanya Gerald yang masih penasaran dengan ide yang di ucapkan Anka tadi.
"Liat tulisan ini baik-baik," ujar Anka menunjukkan tulisan yang terdapat di kertas contekan itu. Mereka menatap tulisan itu dengan seksama.
"Terus? " ucap Naysa tidak sabaran.
"Tulisan ini pasti tulisan pelaku yang sebenarnya," ucap Anka.
Kini mereka mengerti ide apa yang ada di pikiran Anka. Mereka mengamati tulisan itu dengan baik.
"Itu bukan tulisan permen pait," ujar Azel tanpa sadar setelah melihat tulisan yang ada di kertas itu, Gerald menatap Azel dengan tatapan menggoda.
"Diam-diam Azel ternyata memperhatikan Sesel," goda Gerald.
"Di lihat-lihat belakangan ini kalian jarang berdebat atau bertengkar ya," ucap Harrel.
"Bahas itunya lain kali untuk saat ini kita harus fokus mencari siapa pelaku yang udah ngelakuin ini ke Sesel," ujar Anka.
"Aku setuju dengan perkataan Anka," ucap Naysa.
"Kayaknya pelakunya bukan Rara soalnya tulisan Rara gak kayak gini," ujar Tania. Candy melihat tulisan itu lalu mengangguk kepalanya setuju.
Candy teringat sesuatu."Mungkin itu tulisan Silvi," ujarnya.
"Kenapa kamu bilang gitu? " tanya Anka.
"Soalnya tadi dia pas izin mau ke toilet dia ngelewat ke meja aku. Bisa aja kan dia naruhnya pada saat itu," ujar Candy.
"Bisa jadi, sebelum dia ke toilet aku ngelihat gelagat aneh dari Silvi, dia melihat ke kanan dan ke kiri seperti tidak mau melakukan sesuatu yang tidak boleh di ketahui oleh orang lain," ucap Naysa.
Mereka saling bertatapan selama beberapa detik, lalu mengangguk bersamaan. Mereka menghampiri meja Silvi.
Silvi menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Ngapain kalian ke sini? " tanya Silvi ketus. Sebenarnya dalam hati Silvi sudah gelisah karena tiba-tiba didatangi oleh mereka. Apa mereka tahu bahwa ia yang melakukannya?
"Mau mastiin sesuatu," ucap Azel. Lalu dengan tidak sabar ia mengambil kertas ujian Silvi.
"Hei ngapain kamu ngambil kertas ujian aku! " marah Silvi, ia berusaha mengambil kertas ujiannya yang terdapat di tangan Azel. Namun ia susah mengambilnya karena perbedaan tinggi mereka.
Azel membandingkan tulisan Silvi dengan kertas contekan itu. Dan benar saja tulisan itu adalah tulisan Silvi.
"Ibu liat Azel ngambil kertas ujian aku," adu Silvi kepada Bu pengawas.
Bu pengawas menghampiri mereka yang sedang berada di meja Silvi.
"Ada apa ini? Sudah saya bilang jangan mengganggu teman kalian yang sedang ujian," ucap Bu pengawas.
"Untuk keributan ini aku minta maaf ya teman-teman," Azel menatap teman-temannya. Mereka hanya menganggukkan kepalanya lagi pula mereka sudah selesai mengerjakan ujiannya.
"Bu saya sudah selesai," ucap salah satu murid.
"Silahkan yang sudah selesai bisa kumpulkan di meja depan lalu kalian bisa keluar kelas," ucap Bu pengawas.
"Baik Bu," ucap mereka semua serentak.
Satu persatu murid mengumpulkan kertas ujiannya di meja guru lalu meninggalkan kelas. Kini di kelas tersisa Candy, Tania, Naysa, Anka, Azel, Harrel, Gerald, Silvi, Tyra dan Dini.
"Kenapa kalian mengganggu Silvi? " ucap Tyra terdengar ada nada ketus dalam ucapannya.
"Iya kalian ngapain sih gangguin aku, aku salah apa? " ucap Silvi dengan nada yang sedih.
"Tolong jelaskan ini kepada ibu," seru Bu pengawas.
"Kertas contekan itu punya Silvi," ucap Azel to the point.
"Bukan punya saya Bu," ucap Silvi panik di tuduh oleh Azel.
"Azel apa kamu punya bukti? " tanya Bu Pengawas.
"Iya saya punya bukti Bu. Ibu bisa melihat tulisan yang ada di kertas contekan dan kertas ujian itu sama. Pelakunya pasti Silvi, ia sudah memfitnah permen pa- maksud saya Sesel Bu," ucap Azel sambil menyerahkan kertas contekan itu dan kertas ujian Silvi.
"Sepertinya Silvi membuang kertas itu di dekat meja Sesel saat mau ke toilet, agar Sesel yang di salahkan Bu," ujar Tania.
Bu pengawas menerima itu, lalu mulai membandingkan kertas contekan dan kertas ujian Silvi. Dan benar saja tulisan itu sama. Silvi yang melihat itu menelan ludahnya dengan susah payah. Gawat ia sudah ketahuan, Silvi tidak berpikir sampai sana. Kalau begini seharusnya ia menyuruh Dini atau Tyra saja yang menulis contekan itu agar ia tidak akan ketahuan seperti ini.
"Silvi bisa jelaskan ini kepada ibu? " ucap Bu pengawas menatap Silvi.
"Itu bukan saya Bu," ucap Silvi berusaha terlihat tenang.
"Ini sudah ada bukti, kamu masih mau mengelak? "
Silvi tidak menjawab, ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Bu pengawas.
"Kenapa kamu melakukan ini? "
"Saya di suruh Dini dan Tyra," ucap Silvi. Dalam benaknya kini terlintas kalau ia masuk ke dalam masalah ini setidaknya ia harus menyalahkan orang lain.
"Apa itu benar? "
"Tidak Bu saya gak ngelakuin itu," bela Tyra. Tyra menatap marah Silvi yang membuat terlibat dalam masalah yang bukan ia perbuat. Sedangkan Dini dia diam saja, meski di salahkan oleh Silvi ia hanya diam saja.
"Kenapa kalian ngelakuin itu? "
"Tyra benci sama Candy Bu, jadi saya di suruh oleh Tyra Bu untuk membuang contekan itu di dekat meja Candy," ucap Silvi.
"Aku gak ngelakuin itu, kamu jangan berbohong Silvi, kenapa kamu menyalahkan aku atas perbuatan yang tidak aku lakukan," ucap Tyra. Tyra menatap Candy dkk berharap mereka membelanya. Namun harapannya tidak terjadi ia baru sadar kini mereka tidak akan percaya apapun yang ia katakan. Ternyata hubungan persahabatan mereka benar-benar hancur.
Bu pengawas menghela nafas lalu menatap Silvi, Tyra dan Dini."Kalian ikut ibu ke ruang guru."
Bu pengawas membawa kertas ujian semua murid lalu berjalan keluar kelas menuju ke ruang guru di ikuti oleh Silvi, Tyra, dan Dini yang mengikutinya dari belakang. Tyra menatap Silvi kesal bisa-bisanya ia memfitnahnya, dengan kepala yang menunduk, ia mengepalkan tangannya.
Izin yaa