Sekelompok anak muda beranggotakan Rey Anne dan Nabila merupakan pecinta sepak bola dan sudah tergabung ke kelompok suporter sejak lama sejak mereka bertiga masih satu sekolah SMK yang sama
Mereka bertiga sama-sama tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena terbentur biaya kala itu Akhirnya Anne melamar kerja ke sebuah outlet yang menjual sparepart atau aksesories handphone Sedangkan Rey dan Nabila mereka berdua melamar ke perusahaan jasa percetakan
Waktu terus berlanjut ketika team kesayangan mereka mengadakan pertandingan away dengan lawannya di Surabaya Mereka pun akhirnya berangkat juga ke Surabaya hanya demi mendukung team kesayangannya bertanding
Mereka berangkat dengan menumpang kereta kelas ekonomi karena tarifnya yang cukup terjangkau Cukuplah bagi mereka yang mempunyai dana pas-pasan
Ketika sudah sampai tujuan yaitu stadion Gelora Bung Tomo hal yang terduga terjadi temannya Mas Dwi yang merupakan anggota kelompok suporter hijau itu naksir Anne temannya Rey.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanyrosa93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Pertunangan
Sore harinya, Yuda pulang dari kantor tempatnya bekerja, sepulang dari kantor, Yuda mengajak aku menuju cafe untuk bersantai menikmati malam sekaligus membeli camilan.
Aku pun mengiyakan ajakan Mas Yuda, tapi pulang jangan terlalu malam begitu pesan orang tuaku.
Mas Yuda mengajak aku untuk berbicara tentang keseriusannya denganku, karena Mas Yuda sudah berdiskusi dengan keluarganya waktu kemarin-kemarin. Niatnya Mas Yuda ingin mengajak tunangan dengan aku sekitar 8 bulan lagi. Ketika dana sudah terkumpul, maka cepat-cepat akan dilaksanakan katanya.
Aku terdiam sejenak mendengar ucapan Mas Yuda. Keinginannya untuk bertunangan denganku terasa begitu nyata, meski aku sendiri belum tahu harus merasa bagaimana. Senang, tentu saja. Tapi di sisi lain, aku juga merasa sedikit cemas.
"Kamu diam aja? Gimana menurutmu?" tanya Mas Yuda sambil menatapku dengan lembut.
Aku mengaduk minumanku dengan pelan, mencoba menyusun kata-kata di kepalaku sebelum menjawab. "Aku... aku senang dengar niat baik Mas Yuda. Tapi, delapan bulan itu waktu yang cukup lama. Apa Mas benar-benar yakin?"
Mas Yuda tersenyum. "Aku sudah yakin sejak lama. Aku hanya ingin memastikan segalanya berjalan lancar, terutama soal dana dan restu keluarga."
Aku mengangguk pelan. Dalam hati, aku juga ingin memastikan diriku siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Obrolan kami berlanjut tentang rencana ke depan—tentang bagaimana kami akan mempersiapkan semuanya, kapan waktu yang tepat untuk membicarakan ini dengan keluargaku, hingga tempat yang mungkin akan kami pilih untuk acara tunangan nanti.
Malam semakin larut, dan aku menyadari bahwa aku harus segera pulang sebelum orang tuaku khawatir. "Mas, aku harus pulang sekarang," kataku sambil melihat jam di ponselku.
Mas Yuda mengangguk. "Baik, ayo aku antar."
Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa lebih hangat. Kami tidak banyak berbicara, tapi aku bisa merasakan kebahagiaan yang perlahan tumbuh di hatiku.
Sesampainya di depan rumah, Mas Yuda menghentikan mobilnya. Aku melepas sabuk pengaman dan berbalik menatapnya. "Terima kasih sudah mengajakku ke sini dan berbagi rencana ini denganku, Mas."
"Sama-sama. Aku hanya ingin kamu tahu betapa seriusnya aku dengan hubungan kita," jawabnya lembut.
Aku tersenyum. "Aku mengerti. Aku juga akan memikirkan semuanya dengan baik."
Setelah berpamitan, aku turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Orang tuaku sudah menunggu di ruang tamu.
"Kamu dari mana saja?" tanya Ibu dengan nada lembut tapi penuh perhatian.
"Dari kafe sama Mas Yuda, Bu. Kami hanya ngobrol sebentar."
Ayah yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Ngobrol soal apa?"
Aku menarik napas dalam dan duduk di hadapan mereka. "Mas Yuda bilang dia ingin melamar aku dalam delapan bulan ke depan. Dia sudah berdiskusi dengan keluarganya."
Ibu terkejut, tapi aku bisa melihat senyum kecil di wajahnya. Ayah mengangguk pelan. "Dia pria yang baik. Tapi, apakah kamu benar-benar siap?"
Aku menggigit bibir bawahku, memikirkan pertanyaan itu. "Aku senang dengan niat baiknya, Yah. Tapi aku juga ingin memastikan segalanya berjalan dengan baik. Aku masih ingin mempersiapkan diri."
Ibu menggenggam tanganku. "Keputusan ini tidak bisa diambil terburu-buru. Kami tidak akan memaksa, tapi jika kamu memang ingin, kami akan mendukungmu sepenuhnya."
Hatiku terasa hangat mendengar dukungan mereka. Aku tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Bu, Yah. Aku akan memikirkan semuanya dengan matang."
Malam itu, aku berbaring di tempat tidur sambil memandangi langit-langit kamar. Di dalam hatiku, aku tahu bahwa keputusan besar sedang menantiku. Aku hanya berharap aku bisa memilih yang terbaik untuk masa depanku dan Mas Yuda.
Akhirnya, aku tertidur hingga adzan subuh berkumandang, saat akan hendak mengambil air wudhu hujan deras pun mengguyur sekitar perumahan.
Aku terdiam sejenak di depan jendela, menatap rintik hujan yang jatuh deras di luar sana. Udara pagi terasa lebih dingin, membuatku sedikit enggan beranjak dari tempat tidur. Namun, panggilan adzan subuh masih terngiang di telingaku, mengingatkanku untuk segera menunaikan kewajibanku.
Dengan langkah pelan, aku menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Rasa dingin air menyentuh kulitku, membuatku semakin sadar bahwa hari baru telah dimulai. Setelah shalat, aku duduk bersila di atas sajadah, mencoba menenangkan pikiranku.
Pertanyaan yang semalam memenuhi benakku kembali muncul—tentang aku, Mas Yuda, dan keputusan besar yang ada di depan mata. Apakah aku benar-benar siap? Apakah delapan bulan cukup bagi kami untuk mempersiapkan segalanya?
Suara ketukan di pintu kamarku membuyarkan lamunanku.
"Sudah bangun, Nak?" suara Ibu terdengar lembut.
"Sudah, Bu. Aku baru selesai shalat," jawabku.
Ibu masuk dengan membawa secangkir teh hangat dan duduk di tepi tempat tidurku. "Hujan deras pagi ini, enaknya minum teh dulu sebelum sarapan."
Aku tersenyum dan menerima cangkir itu. Kehangatan teh menyentuh telapak tanganku, memberikan sedikit kenyamanan di pagi yang dingin ini.
Ibu menatapku penuh perhatian. "Kamu masih memikirkan ucapan Mas Yuda semalam?"
Aku mengangguk pelan. "Aku senang, Bu, tapi aku juga takut. Takut kalau aku belum cukup siap. Takut kalau ada hal-hal yang belum terpikirkan oleh kami."
Ibu tersenyum, lalu menggenggam tanganku dengan lembut. "Itu wajar, Nak. Menikah bukan keputusan kecil, dan rasa ragu itu manusiawi. Yang terpenting, kamu harus yakin dengan pilihanmu. Jangan terburu-buru, dan jangan merasa terpaksa hanya karena keadaan."
Aku menghela napas, mencoba mencerna ucapan Ibu. "Aku ingin berbicara lebih banyak dengan Mas Yuda. Aku ingin memastikan kami memiliki visi yang sama."
"Itu langkah yang baik," kata Ibu. "Komunikasi itu kunci. Jika kamu ingin menjalani masa depan bersama seseorang, pastikan kamu dan dia bisa saling memahami, bukan hanya dalam hal perasaan, tapi juga dalam rencana dan tanggung jawab."
Aku mengangguk. Kata-kata Ibu membuatku lebih tenang. Setidaknya, aku tahu bahwa aku tidak sendirian dalam menghadapi ini.
Hujan di luar masih terus turun, menciptakan suara gemericik yang menenangkan. Aku memandangi tetesan air di jendela, berpikir tentang apa yang harus kulakukan selanjutnya.
Hari ini, aku akan berbicara dengan Mas Yuda lebih dalam. Aku ingin tahu sejauh mana ia memikirkan masa depan kami. Aku ingin memastikan bahwa ini bukan hanya tentang perasaan, tapi juga tentang kesiapan dan kesepakatan bersama.
Dengan tekad yang lebih kuat, aku menghabiskan tehku dan bersiap untuk memulai hari. Hujan mungkin akan reda, dan begitu pula keraguanku, seiring dengan langkah-langkah kecil yang kuambil untuk memahami hatiku sendiri.
Setelah hujan agak reda, aku kembali bersiap-siap untuk bekerja, leaderku suruh cepat-cepat datang ke toko ada urusan yang penting dan akan rapat dadakan menyambut istri bos yang baru pulang dari Singapura. Aku bergegas mengambil helm dan menuju ke garasi dan segera menyalakan motor matic warna biru kesayanganku.
***