Sejak selamat dari bencana alam yang melanda kampung halamannya, tubuh Lusi menjadi aneh.
Dia bisa merasa sakit tanpa terbentur, merasa geli tanpa digelitik. Dan merasakan kepuasan yang asing ketika Lusi bahkan tidak melakukan apa-apa.
Dan setelah bekerja di sebuah perusahaan dan bertemu sang CEO, akhirnya dia tahu sebabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Apa ada yang lucu?" tanya Liam pada Lusi.
"Tidak. Tidak ada"
Tapi Lusi tetap tersenyum senang.
Dia tidak pernah tahu akan bisa merasa senang seperti ini, hanya karena mengetahui ada seseorang yang menggantikannya merasa sakit bulanan. Selama lima tahun terakhir.
Meski merasa bersalah pada Tuan Samuel yang akan merasa sakit. Paling tidak Lusi telah memberikan beberapa alat untuk meminimalisir rasa sakit. Semoga saja obat dan minuman hangat itu berguna.
Baru saja Lusi ingin menikmati malam menuju akhir Minggu, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan membuatnya terdiam di ujung ranjang.
"Tidak mungkin" katanya merasa ngeri.
Apa yang harus dia lakukan? Tidak. Ini bukan saatnya dia termangu seperti orang bodoh. Lusi segera berganti pakaian dan keluar dari rumah. Tak lama sebuah mobil datang untuk menjemputnya.
Dengan perjalanan secepat kilat, Lusi kini berhadapan dengan Tuan Samuel yang memiliki aura gelap. Asisten Smith yang Lusi pikir menemaninya, segera tancap gas untuk pulang. Pasti takut menghadapi atasannya yang mengerikan.
"Jadi, sakit ini. Selama ini, adalah sakit bulananmu?" tanya pria itu dengan suara menggeram uang menakutkan.
"Iya. Tapi saya pikir tidak akan separah itu"
"Tidak separah itu?! Aku bahkan harus berendam air hangat dua jam ketika rasa sakit itu datang setiap bulannya!!"
"Maaf Tuan"
"Kau harus bertanggung jawab!!"
"Tanggung jawab?"
Bagaimana caranya Lusi bertanggung jawab? Dia tidak bisa memindahkan rasa sakit itu kembali pada dirinya sampai penyebab semua ini ditemukan.
"Iya. Kau harus ... Sialan sakit sekali!!" umpat Tuan Samuel memegang perutnya.
Lusi yang tadinya bingung, sekarang mencoba mencari cara agar sakit yang dirasakan Tuan Samuel sedikit berkurang. Tidak menemukan alat yang bisa digunakan karena rumah ini tak dikenal olehnya, Lusi mendekat ke arah Tuan Samuel.
Mendorong pria itu sampai jatuh terbaring di atas sofa. Lalu membuka baju Tuan Samuel dan menekan perut bagian bawahnya. Dan memulai gerakan memijat.
"Biasanya, ini akan mengurangi rasa sakit" katanya sambil terus memijat perut Tuan Samuel.
"Kau yakin?"
"Iya"
"Bukan karena ingin menyentuhku?" tanya Tuan Samuel menyadarkan Lusi kalau dia sedang menyentuh perut atasan atasannya. Tapi ketika dia menarik tangan, Tuan Samuel melarang.
"Tuan,"
"Lanjutkan! Tadi terasa lebih baik"
Lusi melanjutkan pijatan lembut di atas perut berotot itu. Ini pertama kalinya Lusi menyentuh tubuh pria, selain adiknya. Membuatnya merasa gugup bercampur malu.
"Lima tahun lalu, saya selalu menyediakan handuk kecil hangat untuk perut saya. Kalau tidak minum sesuatu yang hangat. Untuk membuat rasa sakit itu sedikit lebih baik" kata Lusi mencoba mengalihkan pikirannya yang mulai kotor karena melihat perut berotot yang ada dihadapannya.
"Kapan pertama kali kau mengalami hal ini?" sahut Tuan Samuel.
"Usia 12 tahun. Waktu itu saya takut sekali karena berpikir saya sakit parah. Tapi ternyata bukan"
"Kau bodoh!"
"Terima kasih. Di tahun-tahun awal, tidak ada rasa sakit yang terasa sebelum tamu bulanan saya datang. Tapi dua tahun setelahnya saya mengalami sakit perut yang terus menerus datang tiap bulannya"
"Dan lima tahun lalu?"
"Tiba-tiba saja, saya tidak merasakan sakit perut ketika datang bulan. Saya pikir mungkin memang itu yang terjadi pada semua wanita. Ternyata, rasa sakitnya berpindah ke Anda. Apa sakit ini sangat mengganggu Anda?" tanya Lusi setelah percakapan mereka berubah menjadi lebih santai.
"Sakit ini sangat menyiksa. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sempat pergi ke beberapa dokter tapi mereka semua menyatakan tidak tahu menahu asal sakit itu. Bahkan setelah mereka memeriksa semua bagian perutku, mereka tetap tidak tahu. Ternyata ini adalah rasa sakit karena tamu bulanan wanita yang seharusnya kau rasakan. Tapi berpindah padaku"
"Anda pasti tersiksa sekali. Rasa sakit ini tidak bisa ditahan oleh pria"
"Ya. Dan kini aku menghormati wanita yang merasakan hal ini setiap bulannya"
Lusi melihat Tuan Samuel untuk beberapa waktu dan melanjutkan pijatannya.
"Maaf" katanya merasa bersalah telah memindahkan rasa sakit yang harusnya dia rasakan itu pada atasan atasannya.
"Kau juga tidak tahu hal ini terjadi. Tidak perlu minta maaf"
Lusi tersipu mendengar perkataan Tuan Samuel lalu tanpa sadar tangannya bergerak lebih ke bawah. Menyentuh sesuatu yang tak seharusnya dia sentuh.
"Ma af Tu an" ucapnya terbata.
Belum sempat Lusi memindahkan tangan, Tuan Samuel menarik tubuhnya dengan cukup kencang.
"Apa yang kau sentuh?" tanya Tuan Samuel tepat di telinganya.
"Saya tidak sengaja" jawab Lusi lalu ditarik ke atas tubuh Tuan Samuel. Dia tidak percaya berada dalam posisi ini sekarang.
"Lancang!"
"Tidak. Saya benar-benar tidak sengaja. Anda tidak bisa, humph!"
Kata-kata Lusi terhenti karena Tuan Samuel mengencangkan pelukannya. Membuat tubuh Lusi benar-benar menempel erat di atas pria itu.
"Kau membuat masalah besar!" kata Tuan Samuel lalu kepalanya bergerak mendekat. Ketika Lusi bisa merasakan hangat hembusan napas pria itu, bibir mereka telah bersentuhan.
Bibir yang teksturnya seperti jelly itu menggoda Lusi. Dia tidak tahan untuk menjilatnya. Baru saja dia mengeluarkan lidah untuk mencicipi, Tuan Samuel memutar posisi mereka dan menciumnya.
"Ugghh!" desah Lusi ketika ciuman itu mulai menyita oksigen yang dia hirup.
Tuan Samuel berbaik hati mengakhiri hal itu hanya agar Lusi bisa bernapas normal lagi.
"Pertama kali?"
"Ehmm"
Lusi berusaha menundukkan wajah agar pria itu tidak melihat jawaban jujur yang dia tampilkan di mata. Tapi Tuan Samuel mengangkat dagu Lusi dan menciumnya kembali. Kali ini dengan jeda yang cukup agar ciuman mereka bisa berlangsung lama. Pria itu bergerak ke samping dan Lusi mengikuti karena bibir mereka masih bertaut.
"Pegang perutku!" kata Tuan Samuel mengejutkan Lusi.
"Tapi!"
Tuan Samuel yang tak sabar, membawa tangan Lusi menekan perutnya. Tapi karena gerakan mereka, tangan Lusi tidak tetap di tempatnya. Bergerak terus menuju ke tampar yang tidak seharusnya. Kali ini tidak ada ucapan dari Tuan Samuel. Mereka hanya terus berciuman.
Ketika pria itu mulai beranjak ke lehernya, Lusi merasa geli namun senang. Tiba-tiba semuanya terhenti dan Lusi merasakan berat tubuh Tuan Samuel bertambah di badannya.
Pria itu tak bergerak lagi.
"Tuan Samuel?"
Terdengar suara napas yang pelan dan teratur. Tuan Samuel tidur? Pria yang tadi menciumnya tanpa henti sekarang tidur?
Meski merasa sedikit kesal, Lusi tidak bisa protes. Dia hanya bisa membiarkan pria itu tidur dengan kepala berada di dada Lusi.
uda baca karya2mu. syukaaaa...
semangat berkarya, lope u