Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Eka membeku di tempat. Suara familiar itu menghantamnya lebih keras daripada apa pun yang ia bayangkan. Perlahan, ia berbalik, dan di sana—berdiri di ambang pintu rumahnya—Adit, pria yang seharusnya tidak lagi menginjakkan kaki di rumah orang tuanya.
Jantungnya berdegup kencang. Wajah itu masih sama—arogan, penuh percaya diri, dan kini tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa pun. Seolah tidak pernah menolak pulang ketika ia memohon enam bulan lalu. Seolah tidak pernah meninggalkannya dalam ribuan luka. Dan kini, tanpa rasa bersalah, ia berdiri di sini, bertingkah seakan semuanya masih dalam kendalinya.
Tatapan Adit tajam, penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan—bukan sekadar kemarahan atau kebingungan, tapi ada tuntutan tersembunyi di baliknya. Langkahnya pelan saat menghampiri Eka dan Adit yang masih berdiri di samping mobil.
"Kamu akhirnya sampai juga," suaranya terdengar datar, tetapi Eka bisa menangkap ketegangan yang bersembunyi di balik nada santainya. Tatapannya bergeser ke arah Kai, pria yang berdiri tegap di samping Eka. Senyumnya menipis, ekspresinya mengeras, "Terimakasih Pak Kai sudah mengantar istri saya."
Kai mengepalkan tangannya kuat-kuat sementara Eka menelan ludah. Otaknya berusaha memahami situasi yang melenceng jauh dari dugaannya. Resepsi? Pernikahannya? Dengan siapa?
"Apa maksudnya ini, Adit?" suara Eka hampir berbisik, tapi cukup tajam untuk didengar.
Adit melipat tangan di depan dada, sorot matanya penuh perhitungan. "Bapak bilang kamu akan datang hari ini. Aku pikir kamu akhirnya sadar dan memutuskan untuk menjalani pernikahan kita dengan benar."
Darah Eka seakan membeku. Ia menoleh ke Kai, mencari kepastian, tapi pria itu tetap diam, ekspresinya dingin dan penuh perhitungan.
"Apa kamu lupa? Kamu sudah menalakku, Adit," suaranya bergetar, tapi ia berusaha keras mengontrol dirinya. "Pernikahan kita hanya sebatas agama. Sekarang antara aku dan kamu tidak ada ikatan apa pun."
Adit menyipitkan matanya, lalu terkekeh kecil, seolah Eka baru saja mengatakan sesuatu yang konyol. "Dan kamu pikir Bapak akan mempercayainya? Semua orang di sini tahu kamu istriku, Eka. Pernikahan kita tetap sah di mata mereka."
Kai akhirnya bersuara, suaranya rendah namun tajam. "Jadi maksudmu, dia harus tetap menikah denganmu hanya karena tekanan sosial? Apa kamu lupa bahwa kamu yang pertama kali meninggalkannya?"
Adit mendengus, melangkah maju dengan percaya diri. "Aku memang pergi, tapi aku sekarang sudah kembali. Dan aku akan membawanya bersamaku."
Eka mundur selangkah, dadanya semakin sesak. Ia tahu bagaimana cara berpikir orang-orang di kampung ini. Jika ia menolak, mereka akan menganggapnya istri durhaka. Jika ia menerima, semua yang telah ia perjuangkan akan sia-sia.
Tiba-tiba, Kai bergerak, meraih pinggang Eka dan menariknya lebih dekat. Napasnya hangat di telinga Eka saat ia berbicara, "Aku tidak peduli apa yang dikatakan siapa pun. Aku sudah mengambilnya darimu, dan aku tidak akan menyerahkannya kembali."
Adit mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Tapi dalam sekejap, ekspresinya berubah. Senyum tipis menghiasi wajahnya, penuh kelicikan.
"Eka, kamu tahu, apa pun yang aku katakan pada bapakmu, dia akan mempercayainya," katanya, suaranya halus, tapi mengandung ancaman yang jelas. "Bayangkan kalau aku bilang Kai sudah merusakmu, sudah menodai nama baik keluarga kita. Apa kamu pikir bapakmu akan tetap membiarkanmu bersamanya?"
Eka terbelalak. "Adit! Kamu—!"
Adit mengangkat bahu, seolah tak peduli. "Lebih baik kamu kembali padaku. Kalau tidak, aku tak bisa menjamin bagaimana reaksi bapak dan warga saat mendengar bahwa kamu sudah tidur dengan pria lain sementara kamu masih sah menjadi istriku."
Ancaman itu menampar Eka seperti badai. Lututnya melemas, kepalanya berputar. Adit tidak hanya licik—dia berbahaya.
Kai mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. "Kamu bermain kotor."
Adit tersenyum tipis. "Aku hanya menggunakan apa yang kupunya."
Suasana semakin tegang. Ini bukan hanya tentang hak atas Eka—ini perang manipulasi, dan Adit memegang kendali atas senjata yang paling mematikan, opini publik dan nama baik keluarga.
"Semua harus ada bukti, Adit Wirawan! Aku tahu kamu bukan orang bodohkan?" tandas Kai dengan nada tenang.
"Bukti? Bukannya sudah jelas buktinya ada di depan mata? Kamu... Kai," sahut Adit penuh kemenangan.
Eka merasakan napasnya tercekat. Adit tidak sekadar mengancam—dia sudah memperhitungkan semuanya. Lelaki itu tahu betul bagaimana memainkan situasi, bagaimana membelokkan fakta agar semuanya tampak sesuai keinginannya. Dan yang lebih mengerikan, dia menikmati setiap detiknya.
Kai menegang di sampingnya, tetapi tetap tenang. Tatapannya tajam, menilai Adit seperti seseorang yang sedang menimbang apakah lawannya layak untuk dijatuhkan dengan cepat atau dipermainkan lebih lama.
"Aku tahu kamu licik, Adit," suara Kai rendah, nyaris seperti desisan. "Tapi kalau kamu ingin menggunakan opinimu sebagai bukti, kamu harus ingat satu hal."
Adit menaikkan alis, masih dengan seringai percaya diri. "Dan itu apa?"
Kai melepaskan genggamannya dari Eka, melangkah maju, membuat jarak mereka semakin dekat. "Kamu berpikir bisa mengendalikan semuanya dengan kata-katamu. Tapi kamu lupa satu hal—aku tidak bermain dengan aturanmu."
Adit terkekeh kecil. "Oh? Jadi kamu mau melawan opini seluruh kampung? Melawan bapaknya Eka sendiri?"
Kai menundukkan kepala sedikit, seolah sedang menahan tawa. Ketika ia kembali menatap Adit, tatapannya dipenuhi sesuatu yang membuat Eka merinding—bukan kemarahan, bukan frustrasi, tapi kesabaran seorang pria yang tahu dia akan menang.
"Kamu benar. Aku tidak bisa mengubah cara berpikir orang-orang di sini dalam semalam," kata Kai santai. "Tapi kamu juga lupa satu hal, Adit. Orang sepertimu, yang sudah mencampakkan istrinya sendiri, tidak akan pernah bisa mendapatkan rasa hormat kembali."
Senyuman Adit sedikit menegang, tetapi ia dengan cepat menyembunyikannya. "Dan kamu pikir aku peduli soal rasa hormat?"
Kai mendekat, nyaris berbisik, tetapi suaranya cukup jelas untuk didengar Eka. "Tidak. Kamu hanya peduli bagaimana untuk bisa mengendalikan Eka. Dan aku akan pastikan, kali ini, kamu tidak akan punya itu."
Eka tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi satu hal yang pasti—permainan Adit baru saja berbalik.
Adit menatap Kai dengan mata menyipit, bibirnya bergerak-gerak seakan hendak mengeluarkan ejekan, tapi ia menahannya. Ada sesuatu dalam sorot mata Kai yang membuatnya berpikir dua kali sebelum berbicara.
Eka menahan napas saat ketegangan di antara kedua pria itu semakin menebal, seperti pisau yang siap menghunus siapa saja yang lengah.
Lalu, Adit menyeringai. “Kamu sangat percaya diri, Kai. Tapi apa kamu yakin bisa melindungi Eka... dari keluarganya sendiri?”
Eka merasakan darahnya berdesir. “Apa maksudmu?”
Adit memasukkan tangannya ke saku celana, masih dengan ekspresi santainya. "Seharusnya kamu menanyakan itu pada bapakmu."
Seketika, udara terasa lebih berat. Eka ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa Adit hanya menggertak. Tapi di dalam hatinya, ada firasat buruk yang membuat bulu kuduknya meremang.
Kai menegang, ekspresinya tetap dingin, tetapi matanya menyiratkan bahaya. “Apa yang sudah kamu lakukan, Adit?”
Adit hanya terkekeh, lalu berbalik menuju pintu. Tak lama kemudian sosok Suyoto keluar dari dalam.
“Sekar!"