Hidup dalam takdir yang sulit membuat Meta menyimpan tiga rahasia besar terhadap dunia. Rasa sakit yang ia terima sejak lahir ke dunia membuatnya sekokoh baja. Perlakuan tidak adil dunia padanya, diterima Meta dengan sukarela. Kehilangan sosok yang ia harap mampu melindunginya, membuat hati Meta kian mati rasa.
Berbagai upaya telah Meta lakukan untuk bertahan. Dia menahan diri untuk tak lagi jatuh cinta. Ia juga menahan hatinya untuk tidak menjerit dan terbunuh sia-sia. Namun kehadiran Aksel merubah segalanya. Merubah pandangan Meta terhadap semesta dan seisinya.
Jika sudah dibuat terlena, apakah Meta bisa bertahan dalam dunianya, atau justru membiarkan Aksel masuk lebih jauh untuk membuatnya bernyawa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hytrrahmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Terluka (b)
Tak kuasa lagi melihat gadis di sebelahnya menitikkan air mata, Aksel menepikan mobil yang dikemudikannya. Menghela napas berat, mengumpulkan keberanian untuk bertanya setelah diam menyaksikan dan menerima segala kecaman Meta padanya. Sejak bertengkar dengan Vina dan kejadian di Jalan Malioboro, sikap Meta ikut berubah pada Aksel. Gadis itu mendiamkannya sangat lama, rumah milik Vina sudah tertinggal jauh di belakang sana.
"Kalau lo nggak ngomong punya masalah apa, gue nggak akan tau, Ta. Gue bukan cowok super yang ada di cerita fiksi."
Meta tetap diam, menoleh ke jendela di sebelahnya. Mengabaikan Aksel walau air matanya terus berjatuhan. Hatinya hancur, dirinya terluka dan merasa sudah dipermalukan tidak hanya oleh Aksel tetapi juga karena ibu kandungnya sendiri. Meta malu terlahir dari rahim dari ibu seperti Vina, dan sekarang ia harus menanggung semua beban itu.
Aksel menjangkau botol air minum, mengulurkannya pada Meta. "Lebih baik lo marah-marah kayak tadi daripada diam dan nyakitin diri lo kayak gini!" pintanya.
Cewek itu masih tak merespon, sekarang berpangku tangan dengan air mata yang mulai surut.
"Kalau gue ada salah sama lo, gue minta maaf. Lo boleh pukul gue setelah kita tiba di Jakarta," ujar Aksel sembari melepaskan tali pengaman dari badannya, mendekat ke arah meta dan menatap kedua bola mata gadis itu.
Tubuh Meta seolah terkunci, wajahnya tak dapat berbohong kalau saat ini ia terkejut dan takut. Reaksi Aksel membuatnya tak dapat berpikir jernih, Meta mulai siap-siap akan apa yang ingin cowok itu lakukan terhadapnya.
Meta menelan ludahnya, bergantian menatap manik mata cowok yang saat ini hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. "Lo mau apa?"
"Maksa lo buat cerita apa yang membuat lo kayak sekarang. Bisa?"
"Lo akan tau sendiri, gue nggak sudi liat muka lo lagi!"
Aksel kehilangan kata-katanya, membujuk Meta adalah pengorbanan besar buatnya. Apalagi saat mendapat pengakuan yang membuatnya kian terluka. Meta tak pernah memikirkan perasaan orang lain selain yang dikasihinya saja.
Aksel tergelak dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya yang menyudutkan Meta mulai menjauh, memberi ruang bagi gadis itu untuk merenung.
"Paling enggak, jangan nyakitin diri lo sendiri. Gue nggak akan ganggu lo lagi. Gue akan pergi."
Tubuh lelaki itu perlahan menjauh darinya, Meta merasa kehilangan saat cowok itu setuju untuk tak lagi mendekatinya. Binar di mata Meta mulai meredup, seolah tak rela jika Aksel benar-benar meninggalkannya.
Tapi nanti, ketika tugas gue udah selesai. Saat gue udah bisa mastiin kalau lo bahagia, lanjut Aksel dalam hati, menekankan pada dirinya sendiri untuk bertanggung jawab atas kekacauan yang timbul akibat sikap keras kepalanya.
...***...
Alvaro menatap nanar sebuah pesan yang diterimanya dari Aksel. Untuk pertama kalinya, Aksel memintanya menunggu agar dibukakan pintu sebab akan pulang pada dini hari nanti. Alvaro tahu bocah itu tidak ingin menyusahkan bunda mereka, makanya mau menurunkan sedikit gengsi terhadapnya. Dan Alvaro sudah cukup senang, sampai ia memutuskan untuk begadang menonton bola sembari menunggu Aksel.
Membiarkan bunda tidur lebih dahulu, tanpa memberitahu wanita itu kalau anak bungsunya akan pulang. Alvaro juga penasaran, kenapa Aksel merubah keputusannya tiba-tiba. Dan teman yang cowok itu maksud, apakah ia mengenalnya? Alvaro mengenyahkan pikiran ingin tahunya, memilih untuk duduk di sofa. Menghadap ke layar televisi sambil mengunyah kacang setelah dipisahkan dari kulitnya.
Setelah menunggu cukup lama, suara klakson mobil akhirnya terdengar nyaring di depan. Alvaro buru-buru bangkit dan berlari ke luar rumah. Membukakan pagar untuk adiknya dengan semangat, lalu menunggu Aksel turun dari mobil.
"Lo ada masalah?" tanya Alvaro saat Aksel hanya melewatinya saja, menganggapnya seperti angin lalu. "Bukannya lo mau di sana tiga hari, sampai masa skorsing lo ikut berakhir?"
"Kenapa lo kepo banget sama urusan gue? Urus aja diri lo sendiri!"
Hebat. Aksel menjawab pertanyaannya tanpa menoleh, Alvaro harus menahan kesabarannya agar tidak mengganggu tidur bunda dan tetangganya. Dia pun mengabaikan keketusan Aksel, lalu menyusul cowok itu masuk ke rumah.
"Mau sampai kapan kita kayak gini, Sel? Gue capek ngadepin lo."
"Lo pikir gue enggak? Gue lebih capek berhadapan sama lo tiap hari. Setiap kali lo muncul, gue selalu inget muka ayah!"
"Terus lo mau gue gimana?! Jangan kayak anak kecil bisa, nggak!" bentak Alvaro tersulut emosi setelah mengunci pintu dan berhadapan dengan Aksel.
Aksel tertawa geli, menatap kekesalan di wajah kakak laki-lakinya. "Gue atau lo yang kayak anak kecil, Al?! Setiap ada masalah, lo selalu kabur dari rumah. Gara-gara sifat lo yang kayak bocah itu, ayah meninggal! Dia meregang nyawa karena lo!" balasnya tak mau kalah, berhasil membuat Alvaro kian hancur.
"Inget, Al, lo nggak ada di hari itu! Dan seharusnya lo terima semua perlakuan gue terhadap lo!"
"Lo beneran nggak mau tau alasan gue?" Alvaro melemah, ia berusaha untuk jujur. Tapi sayang sekali, tanggapan Aksel tak pernah baik sejak hari itu. Saat ayah mereka telah kembali ke tanah dan tak akan pernah kembali lagi.
"Nggak, makasih. Kasih aja alasan bedebah lo itu ke bunda, karena dia akan selalu bisa maafin lo."
Setelah itu Aksel melenggang pergi dengan kekecewaan yang terpancar dari sorot matanya. Meninggalkan Alvaro bersama rasa bersalah dan traumanya terhadap hari itu. Juga rasa sakit yang ia terima sekembalinya ia ke rumah. Alvaro tak dapat melihat wajah ayahnya untuk terakhir kalinya.
Alvaro mengepalkan kedua tangannya, bersamaan dengan itu, air matanya lolos begitu saja. "Semarah-marahnya gue, gue nggak pernah nggak pulang ke rumah selama tiga hari, Sel. Seharusnya lo paham posisi gue saat itu. Seharusnya lo nyariin gue," lirihnya pilu.
Alvaro merasa tak ada seorang pun yang bisa memahaminya, bahkan ibunya sendiri. Lagi pula Alvaro tak pernah berani membeberkan kejadian itu, yang mungkin saja akan menyakiti orang yang dicintainya.