Ainsley adalah anak kuliahan yang punya kerja sampingan di cafe. Hidupnya standar. Tidak miskin juga tidak kaya, namun ia punya saudara tiri yang suka membuatnya kesal.
Suatu hari ia hampir di tabrak oleh Austin Hugo, pria beringas yang tampan juga pemilik suatu perusahaan besar yang sering di juluki iblis di dunia bisnis.
Pertemuan mereka tidak menyenangkan bagi Ainsley. Tapi siapa sangka bahwa dia adalah gadis yang dijodohkan dengan Austin dua puluh tahun silam. Lebih parahnya lagi Austin tiba-tiba datang dan menagih janji itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Paginya Ainsley terbangun. Ia duduk sambil menguap. Matanya memandang sekeliling ruangan kamar.
Kemana dia? batin Ainsley.
Ia mencari-cari keberadaan Austin.
Apa pria itu tidak balik saat keluar semalam? Dia tidur di mana? Di kamar lain?
Ainsley terus bertanya-tanya dalam hati. Matanya berpindah ke nakas dan melihat sebuah catatan kecil di atas sana bersama sebuah kartu. Kartu kredit? Ainsley lalu mengambil memo kecil itu dan mulai membaca.
"Aku ada pekerjaan mendadak di kantor cabang, mungkin belum bisa pulang sampai pagi. Kalau kau ingin jalan-jalan, minta sopir mengantarmu. Pakai saja kartu ku untuk belanja apapun yang kau mau."
Ainsley kembali meletakkan memo yang ia baca tadi ke atas nakas dan mengambil kartu kredit milik Austin. Ia menatap lama kartu itu lalu menarik nafas panjang.
Entah kenapa Ainsley malah lebih suka Austin ada di sini, bersamanya. Dia sekarang berada di negara asing dan hanya Austin satu-satunya yang ia kenal. Dirinya memang bisa berbahasa Inggris jadi tidak ada masalah dengan bahasa kalau ia mau keluar jalan-jalan. Tapi, jalan-jalan sendirian ia tidak suka. Rasanya sepi saja.
Walau Austin selalu saja mengganggunya dan suka membuatnya jengkel, namun tetap saja di saat-saat seperti ini dia lebih suka ada pria itu disisinya.
Ainsley merasa rumah itu menjadi begitu sepi. Ia melangkah keluar menuju balkon sambil menghadap ke laut, menikmati pemandangan indah itu.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi.
"Apa itu Austin?
Ainsley langsung berjalan menuju pintu depan dan membukanya. Seorang perempuan cantik berambut pirang berdiri di sana. Kedua tangannya penuh dengan kantong belanjaan.
Siapa wanita ini? Batin Ainsley.
"Miss Hugo?" tanya wanita itu memakai nama belakang Austin. Sepertinya mulai sekarang Ainsley harus belajar terbiasa dengan panggilan itu. Karena wanita itu bicara padanya dengan bahasa Inggris, ia menjawabnya dengan bahasa yang sama.
"Iya, benar." jawabnya seadanya.
Ainsley masih bertanya-tanya dalam hati, siapa wanita ini? Pakaiannya begitu rapi dan terlihat mahal, tidak tampak seperti pembantu. Apa dia teman Austin di sini?
Tidak, tidak mungkin. Teman-temannya pernah cerita Austin itu tidak suka bergaul dengan wanita. Atau itu hanya gosip? Jangan-jangan Austin memang punya banyak teman wanita lagi diluar sana.
"Anda siapa?" tanya Ainsley akhirnya karena terlalu penasaran.
"Nama saya Diana Miss Ainsley. Saya adalah fashion stylist di kantor tuan Austin yang di perintahkan melayani anda selama anda di sini." jawab wanita bernama Diana itu memperkenalkan diri.
Diana mengulurkan tangannya ke Ainsley sambil tersenyum ramah.
"Tuan Austin yang menyuruh saya ke sini."
Rasa penasaran Ainsley akhirnya terjawab sudah. Ternyata wanita itu salah pekerja di kantor Austin. Entah kenapa ia merasa lega. Ainsley menerima uluran tangan Diana.
"Panggil aku Ainsley saja," kata Ainsley.
"Silahkan masuk."
Diana berjalan masuk mendahului Ainsley ke dalam kamar besar itu. Di sana, ia menata kantong-kantong belanja itu di atas meja dan mulai membereskan belanjannya.
Ainsley mengamati wanita itu dengan saksama. Cara kerjanya terlihat sangat profesional. Suatu hari nanti, saat ia kelar kuliah ia juga ingin jadi pekerja keras seperti Diana.
"Itu apa?" tanya Ainsley memperhatikan barang-barang yang di keluarkan Diana.
"Ini semua pakaian miss," jawab Ainsley.
"Panggil Ainsley saja. Lagipula aku lebih muda dari kak Diana."
Diana menghentikan pekerjaannya sebentar. Ia merasa sedikit tidak biasa karena di panggil kakak. Tapi ia cukup senang. Ternyata istri atasannya itu gadis yang ramah.
Diana tertawa.
"Baiklah Ainsley." ia mengeluarkan belanjaannya lagi.
Ainsley menahan napas melihat semua pakaian yang dikeluarkan Diana. Semuanya bermerek. Ia sampai tak berani melihat labelnya.
Pandangan Ainsley berpindah ke kantong-kantong belanja yang menumpuk di bawahnya. Ia mengenali merek-merek yang tercetak di sana. Bukan merek sembarangan pastinya. Dan pakaian itu bukan hanya satu, memikirkannya saja membuatnya pusing. Ia bekerja banting tulang beberapa tahun pun belum tentu bisa membeli semua pakaian itu.
"Apakah kau betah di sini?" tanya Diana mencoba mencairkan suasana. Ia kini mulai menata semua pakaian yang tadi dibawanya itu dalam lemari.
"Um, lumayan." sahut Ainsley.
"Ini pertama kalinya aku ke sini. Mungkin aku akan betah setelah jalan-jalan." tambahnya lagi. Tidak mungkin ia bilang tidak betah karena Austin membawanya ke negara ini tanpa sepengetahuannya kan? Dan jujur rumah Austin yang ini sebenarnya memang membuatnya betah. Tapi ia tidak mau bilang. Bisa-bisa Diana melapor ke Austin dan pria itu akan menyombongkan diri lagi.
"Mm, kalau kau ingin jalan-jalan pakai baju apa yah.. Ah, sepertinya yang ini cocok." Diana mencari di tumpukan yang sedang ia bereskan, lalu menunjukkan sesuatu pada Ainsley.
"Yang ini cocok buat di pakai jalan-jalan." ucap Diana. Di tangannya ada sebuah dress santai pendek berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil. Simpel tapi manis.
Ainsley mengambil dress itu lalu masuk ke kamar mandi untuk mencobanya.
"Kak Diana, kau yakin ini cocok untukku?" tanya Ainsley ragu dari balik pintu kamar mandi. Ia tidak terbiasa mengenakan dress, apalagi untuk jalan-jalan.
"Yah, kau terlihat sangat cantik Ainsley." sahut Diana. Ainsley malah merasa wanita itu hanya melebih-lebihkan saja untuk menyenangkan hatinya.
"Benarkah?" ia masih ragu.
Diana tersenyum kecil kemudian mengeluarkan sneaker berwarna putih pada Ainsley.
Meski awalnya ragu, Ainsley merasa dress yang dipakainya itu sangat nyaman. Ia merasa senang melihat penampilannya di cermin. Selera Diana memang bagus ternyata. Ainsley merasa dirinya lebih terlihat feminim namun tetap kasual.
"Mau kubantu ber-make up?" tanya Diana.
"Tidak usah, aku sendiri saja." jawab Ainsley cepat. Ia tidak suka make up_ make up yang tebal. Gadis itu lebih senang terlihat sederhana. Seperti gaya hidupnya yang dulu, biasa-biasa saja.
Diana mengangguk mengerti. Ia menyerahkan kantong belanja pada Ainsley.
Ainsley melihat dalam kantong kertas itu. Isinya peralatan rias lengkap. Tentu saja mereknya mahal-mahal, sama dengan pakaian dan sneaker yang di pakainya. Belum lagi sling bag hitam yang terletak di atas tempat tidur itu. Tampaknya ia memang harus menegur Austin untuk tidak terlalu boros, sekalipun pria itu sangat kaya.
Diana melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya,
"Aku sudah harus pergi sekarang." katanya. Ia lalu menyerahkan sebuah ponsel baru yang di ambil dari tasnya pada Ainsley.
"Tuan Austin menyuruhku membelikanmu ponsel baru. Di situ ada nomor tuan Austin, sopirmu, dan nomorku." ucap Diana.
Ainsley tercengang sambil memperhatikan iPhone barunya. Ia memang merasa butuh ponsel karena ponselnya tidak ikut di bawa oleh Austin. Namun ia tidak menyangka Austin akan membelikannya ponsel baru yang lebih mahal.
"Maaf aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan. Pekerjaanku masih banyak. Sampai jumpa lagi."
Ainsley mengangguk tidak merasa keberatan. Ia terus melihat Diana yang berbalik keluar sampai menghilang dari pandangannya.
melaknat pelakor tapi malah begitu membela pebinor bahkan pebinor melecehkan istri orang dan membuat rumah tangga orang salah paham dan nyaris hancur tetap saja pebinor dibela dan diperlakukan sangat2 lembut (ini contoh pemikiran wanita murahan
dan novel mu adalah cerminan pola pikirmu dan karakter mu