SEASON 1
Bagaimana rasanya ketika tiba tiba kamu di jodohkan dengan seorang lelaki yang ternyata adalah Saudara sepupu Mantan kekasihMu?
Mungkin tidak masalah mereka bersaudara,tapi yang menjadi masalah adalah,kamu belum benar benar bisa melupakannya.
-
SEASON 2
Kebersamaan yang berlangsung lama, dalam atap yang sama. Nyatanya menumbuhkan cinta bagi adik kakak yang tidak memiliki hubungan darah
Daren dengan Syan
Meski usia mereka terpaut empat tahun, nyatanya Daren tidak memperdulikan hal itu, ia jatuh cinta pada kakaknya. Syan.
Dan berusaha keras untuk mendapatkan cinta sang Kakak meski ada pria lain yang dijadikan gadis itu sebagai pilihannya. Bukan Daren, tetapi pria pilihan orang tuanya yang berhasil membuat Syan berpaling dari Daren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Yulian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghangat
*
"Selamat pagi" Sapa Juan pada Carra yang batu saja membuka matanya, juga ada Syan yang duduk bersandar di dada Juan sambil memandanginya.
Keduanya sudah lebih dulu bangun dari pada Carra
"Pagi"
"Masih mengantuk?" Tanya Juan
"Tidak" Carra mengusap wajahnya tanpa merubah posisi
"Oww, Momy tetap terlihat cantik meski baru bangun tidur" Puji Syan dengan menatap Juan, meminta pendapatnya
Carra hanya tertawa rendah menanggapi pujian putrinya itu
"Jangan memuji Momy Syan, dia akan besar kepala nanti" Ucap Juan sambil mengusap wajah Carra, membuat gadis itu berdecih sebal dengan tindakan sang suami
Sedangkan Syan hanya tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya itu
"Ayo" Ajak Juan ketika ia turun dari tempat tidur
"Kemana Dad?" Tanya Syan sambil berbalik menatap Dady nya
"Kita mandi bertiga" Sahutnya, lalu menghilang di balik pintu kamar mandi
Syan menutup wajahnya dengan jari jari tangan sambil melirik pada Carra lewat celah tangannya
"Jangan dengarkan Dady mu Syan" Sahut Carra, lalu turun dari tempat tidur sambil menjepit rambutnya, lalu melangkah menuju lemari pakaian
"Tidak akan Mom" Sahutnya tetapi tidak beranjak di pososinya, justru ia malah kembali berbaring di tempat tidur. Membuat Carra hanya menggeleng karena tingkahnya
"Kau mau tetap disitu, atau segera mandi Syan?" Sindir Carra, tangannya sibuk mengambil perlengkapan untuk Juan kenakan ke kantornya
"Hanya sebentar Mom, kumohon" Pintanya dengan mata terpejam
"Baiklah baiklah" Carra mempersilahkan lalu duduk di tepi ranjang, dan Syan pun duduk di sebelahnya
"Sekarang aku ingin tanya" Sahutnya setelah duduk di samping Carra. Carra menoleh ke arahnya lalu memberi isyarat pada Syan seolah bertanya
"Apa Momy benar benar mencintai Dady?" Tanyanya
Entah ada apa, Syan terlihat masih ragu dengan Carra. Mungkin ia hanya tidak ingin sang Dady kecewa nanti jika saja Carra hanya mempermainkannya
"Kalau Momy tidak mencintai Dady mu, memangnya untuk apa Mom mau menikah dengannya, hmm?" Sahut Carra, lalu mencolek dagu Syan
Syan manggut manggut, mengiyakan apa yang baru saja dikatakan oleh Carra
"Baguslah, biar nenek sihir itu tidak mengganggu Dady lagi" Katanya dengan cuek, Carra mengernyit. Tidak tau dengan apa yang dimaksud oleh Syan, atau siapa orang yang disebut nenek sihir itu olehnya
"Nenek sihir?" Gumam Carra
"Siapa yang kau maksud nenek sihir Syan?" Tanyanya
Belum sempat Syan menyahut. Pintu kamar mandi terbuka, Juan nampak muncul dengan wajahnya yang segar dan masih basah
Mendekat pada dua wanita di tempat tidur, kemudian mencium pipi mereka satu persatu. Syan hanya meringis saat bibir Juan yang basah menyentuh pipinya, terasa dingin
"Aww, Momy. Dady sangat sexi bukan?" Tanya Syan sambil menutup wajahnya saat melihat dada bidang Juan
Juan yang semula sedang menghadap kaca besar di meja rias menoleh pada Carra yang salah tingkah karena ucapan Syan yang polos itu
Juan tak menggubris ia hanya masuk ke ruang ganti. Memakai pakaian formal pilihan sang istri kemudian kembali ke kamar dan masih mendapati Syan yang bersandar manja pada Carra
"Syan, kembali ke kamar mu dan cepat mandilah" Suruh Juan akhirnya yang langsung di iyakan oleh sang putri
"Momy, tutup mata mu" Teriak Syan sebelum ia benar benar menutup pintu kamar kedua orang tuanya. Membuat Carra melirik ragu pada Juan. Sedangkan Juan, senyum jahil nampak terbit di bibirnya
Carra hanya berfikir. Mengapa Syan menyuruhnya untuk menutup mata? Bukankah sekaranf Juan sudah mengenakan baju?
"Sudah ku katakan. Dia itu sama seperti kau Juan" Sahut Carra dengan acuh tak acuh. Juan tak menyahut, ia asik merapihkan rambutnya. Hari ini ia ada pertemuan penting dengan salah satu pimpinan company bergengsi di kota itu
"Sayang, aku harus segera berangkat. Aku akan sarapan di kantor saja" Katanya sambil merapihkan dasinya
Carra yang semula duduk di tepi tempat tidur lantas mendekat padanya dan mengambil alih pekerjaan yang sedang di kerjakan Juan
"Memang ada apa? Ini masih sangat pagi" Sahut Carra sambil merapihkan dasi sang suami
"Aku ada pertemuan penting di luar kantor hari ini. Apa Robert sudah datang?" Tanyanya
Padahal sedari tadi Carra hanya berdiam diri saja, tidak keluar dari kamar. Carra menggeleng, ada tatapan tidak rela untuk melepaskan Juan, padahal ia sudah terbiasa di tinggalkan oleh suaminya ini
"Kenapa?" Juan yang sadar dengan ekspresi Carra lantas hanya menatap sang istri, menemukan barangkali ada yang salah disana
"Kau belum sarapan, aku hanya khawatir" Dusta Carra
Juan tidak begitu yakin, ia hanya menatap Carra. Kemudian tangannya merengkuh pinggang Carra dan merapatkan tubuh mereka, sedangkan tangan lainnya ada di dagu Carra
Dalam seperkian detik bibir keduanya sudah menyatu, saling ******* satu sama lain tanpa canggung. Menebar kehangatan di pagi yang mendung ini, memang tidak terlihat sinar matahari di celah jendela, jadi simpulkan saja jika hari ini memang sedang mendung
Tapi Juan dan Carra seolah tidak perduli. Panas atau pun hujan tidak masalah, asal keduanya tidak di ganggu oleh kedatangan Syan yang selalu mendadak dan membuat mereka menunda aktivitasnya
Juan menyentuh bibir Carra setelah selesai dengan ciuman mereka. Carra hanya tersenyum, seolah merasa bahwa dirinya belum pernah sebahagia ini.
"Sarapannya enak" Sahut Juan dengan alis terangkat, yang membuat Carra tersipu dengan ucapannya
"Aku ingin menu ini setiap pagi" Sambungnya, lalu mencium bibir Carra lagi, hanya sekilas. Kemudian beralih pada kening dan melangkah keluar dari kamar
*
Setelah selesai mandi, lantas Carra turun ke bawah, berniat untuk sarapan. Tapi saat ia menuruni satu persatu anak tangga, langkahnya mulai melambat
Matanya memaku pada Abram yang tengah sarapan sendiri di meja makan, membuat Carra ragu apakah ia harus turun ke bawah atau tidak. Ia ingin putar balik, tapi sudah terlanjur turun ke bawah dan Abram juga sudah terlanjur melihatnya
"Pak Abas" Panggil Abram begitu Carra sudah ada di depan meja makan dan menarik kursi untuk duduk
Abas yang muncul dari dapur dengan sedikit tergesa gesa lantas segera membungkuk hormat pada dua orang di maja makan
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan muda?"
"Kau hanya perlu berdiri di sini" Abram menyahut dengan cuek, kemudian melanjutkan sarapannya
Abas mengangguk patuh, dan berdiri di tempatnya
Mendadak Carra merasa canggung berada dalam situasi seperti ini dengan Abram, mungkin itu juga alasan Abram menyuruh Abas untuk datang di antara mereka
"Apa Syan sudah sarapan?" Tanya Abram, entahlah pada siapa. Yang pasti itu di tujukan pada Carra yang menikmati makanannya dengan canggung
Carra menatap Abram, begitu juga laki laki itu. Sampai kemudian Abram yang duluan memutus tatapan itu dan pura pura sibuk dengan sarapannya
"M, sepertinya sudah. Rose tidak pernah terlambat mengingatkan Syan sarapan" Tutur Carra
Abram hanya mengangguk. Kemudian suasana kembali menjadi canggung. Rasanya Carra seperti orang asing dengan Abram, aura di tempat keduanya berada benar benar hening dan dingin
Seperti tidak pernah ada cerita diantara keduanya di masa lalu
Seperti tidak pernah ada cinta di antara keduanya
Padahal, dulu keduanya pernah memiliki mimpi untuk hidup bersama, tinggal satu atap, membina rumah tangga yang bahagia, memiliki anak dan menghabiskan masa sampai hari tua
Tapi sudahlah, itu hanya masa lalu belaka
Sekarang, Cara sudah memiliki Juan. Dan Abram, ia juga harus menemukan pengganti Carra dan hidup bahagia
sukses
semangat
mksh
gtu aja ko repot si juan..kau kn org berkuasa
krna dsni kyanya si jeni yg cinta mati sma juan tp juan ga prnh gubris