Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta Ravela untuk Kaivan
Kaivan melajukan mobilnya di jalan pagi yang belum terlalu ramai. Matahari baru saja meninggi, menembus sela-sela gedung dan pepohonan di tepi jalan. Ponselnya bergetar di dasbor, menampilkan nama “Mamah”. Kaivan segera memasang earpice di telinga dan mengangkat telepon.
“Ya, Mah?” suaranya terdengar tenang, meski ada sedikit nada penasaran.
“Kamu di mana, nak?” tanya suara Keisha di seberang.
“Ini Kai lagi di jalan mau ke rumah sakit. Kenapa, Mah?” balas Kaivan sambil menepikan sedikit pandangannya dari jalan.
Keisha menarik napas sejenak. “Mamah mau kamu ke rumah istrimu dulu, Kai.”
Kaivan hampir tersedak dengan kata-kata itu. “Untuk apa, Mah?” potongnya cepat, sedikit jengkel.
“Bunda Nadira ingin menitipkan kue buat Mamah. Tapi belum bisa antar kesini soalnya Ayah mertuamu sedang keluar mengurus pernikahan kalian ke atasan Ravela. Nah, Mamah sudah tidak sabar ingin mencicipi kue buatan Ibu mertuamu itu,” jelas Keisha.
Kaivan mengerutkan dahi, menepikan mobil sebentar di pinggir jalan. “Kenapa Mamah malah suruh tante Nadira buat sih? Tinggal beli saja kan lebih gampang! Kenapa harus repot kan orang lain?”
Keisha tertawa kecil di seberang telepon, “Tapi kue buatan Ibu mertuamu rasanya berbeda dengan yang dibeli di toko. Seperti ada sesuatu yang spesial di kue itu.”
Kaivan menghela napas, “Ya sudah, Mah. Kirimkan alamat Om Dharma.”
“Oke, Nak. Mamah kirimkan sekarang.”
Tak lama, ponsel Kaivan menampilkan alamat lengkap. Ia menyalakan kembali mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Ravela.
Kaivan sampai di rumah orang tua Ravela. Meski hanya satu lantai, rumah itu terlihat rapi dan terawat, dengan halaman luas yang dipenuhi berbagai jenis pohon, tanaman hias dan bunga, memberi kesan hangat sekaligus tertata.
Kaivan memberhentikan mobil persis di depan pintu utama, lalu turun dari mobil. Ia mengetuk pintu sambil menyesuaikan ekspresi wajahnya sambil tak lupa mengucapkan salam.
Pintu terbuka, dan Nadira muncul, tersenyum hangat. “Lho, Nak Kaivan, ayo masuk dulu.”
Kaivan membalas senyum tipis, menunduk sopan sebelum melangkah masuk. Aroma khas rumah, campuran bunga segar dan rempah, menyambutnya. Beberapa ornamen tentara terpajang rapi di dinding.
“Saya kesini disuruh Mamah, katanya tante Nadira lagi buat kue untuk Mamah,” ujar Kaivan.
“Oh itu... Iya, Bunda buatkan kue untuk Mamah mu. Oh ya, jangan panggil Tante atau Om lagi. Panggil kami dengan sebutan Bunda dan Ayah. Kami sekarang kan mertua kamu,” suruh Nadira.
Kaivan hanya mengangguk, tanpa banyak protes. “Baik, Bunda.”
Nadira tersenyum mendengarnya. “Tunggu sebentar ya, Nak. Kuenya sebentar lagi matang. Kamu boleh menunggu di kamar Ravela kalau mau.”
“Memangnya boleh, Bun?” tanya Kaivan, sedikit penasaran ingin melihat kamar istrinya, walaupun mereka hanya dijodohkan dan pernikahannya bersifat siri.
“Tentu boleh dong. Kamu kan suami Ravela. Ayo, Bunda antar kamu ke kamarnya,” ucap Nadira tidak mempermasalahkan.
Kaivan mengikuti Nadira, menapaki lorong rumah yang hangat dan tertata rapi. Sampailah mereka di depan pintu kamar Ravela.
“Nah, ini kamar istrimu,” ujar Nadira sambil membuka pintu. “Aduh... Bunda sampai lupa, kamu mau minum apa, Nak?” tanyanya sampai lupa menawarkan minuman pada menantunya itu.
“Apa saja, Bun,” jawab Kaivan.
“Baiklah. Bunda tinggal ke dapur dulu, nanti mungkin Bibi yang antarkan minumanmu.”
Setelah Nadira pergi, Kaivan kemudian mendorong pintu kamar dan masuk. Aroma parfum Ravela langsung menyeruak dan begitu menenangkan ketika di hirup. Kamarnya bercat biru muda, dinding dipenuhi foto, ornamen tentara, dan medali.
Matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah foto Ravela yang tersenyum mengenakan seragam kebanggaannya.
“D–dia kan...”
Hati Kaivan berdesir. Ia terdiam, teringat insiden beberapa bulan lalu, tenyata istrinya itu tentara yang pernah mengerem mobil mendadak karena ada kucing tiba-tiba menyebrang membuat sopirnya menabrak mobil Ravela karena tidak bisa menghindar.
Akibatnya mobil bagian depannya ringsek meski hanya sedikit, tetapi Ravela bersikeras ingin bertanggung jawab.
Namun hingga saat ini Kaivan belum menerima kabar dari wanita itu. Walaupun sebenarnya ia tidak permasalahkan jika Ravela tidak mengganti kerusakan mobilnya.
“Ternyata kamu yang jadi istriku,” ucap Kaivan lirih, tangannya menyentuh foto itu perlahan. Senyum tipisnya muncul tanpa sadar. Ada rasa lega dan kehangatan aneh yang mengisi dadanya. Semua penyesalan yang sempat menghantuinya tentang menikahi seorang tentara itu seolah sirna seketika.
Patroli pagi itu berjalan relatif tenang. Matahari sudah naik cukup tinggi, menyinari jalan tanah di pinggir desa yang di lewati.
Ravela berjalan di depan dengan senapan laras panjang tergantung rapi di dada. Di belakangnya ada Letda Kirana, lalu Sersan Mayor (Serma) Bima, disusul tiga tamtama bernama Bagas, Andre, dan Petra.
Mereka bergerak dalam formasi sederhana, cukup renggang untuk saling memberi ruang, tapi cukup dekat untuk saling melindungi.
“Daerah ini kelihatan sepi, ya,” gumam Bagas pelan.
“Justru itu yang bikin kita harus lebih waspada,” jawab Kirana tanpa menoleh.
Bagas mengangguk sambil terus memperhatikan suasana di depannya. Tapi beberapa langkah kemudian, kakinya tiba-tiba menginjak sesuatu yang terasa berbeda, lebih keras dari tanah biasa. Belum sempat ia memindahkan kakinya tiba-tiba Ravela berteriak memecah udara.
“Pratu Bagas, diam di tempat!”
Bagas membeku. Napasnya tertahan setengah. “A–ada apa, Komandan?” suaranya bergetar.
Ravela menatap tepat ke arah kaki Bagas. “Ada ranjau di bawah pijakanmu. Jangan gerakkan kakimu!”
Wajah Bagas langsung pucat.
“Bisa-bisanya kamu teledor dan tidak berhati-hati, Pratu Bagas!” sentak Kirana marah.
“Siap, salah, Letda,” ucap Bagas lirih, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Ravela tetap tenang, suaranya datar tapi tegas menatap ke arah Bima. “Serma Bima!”
“Siap, Komandan!”
“Tangani. Yang lain, mundur dan amankan perimeter. Jangan ada yang mendekat, termasuk warga sipil!” perintah Ravela ke personel yang lain.
Kirana, Andre dan Petra langsung bergerak, memberi isyarat ke arah jalan kecil dan rumah-rumah di sekitar. Mereka berdiri berjaga, memastikan tidak ada siapa pun yang melintas.
Bima mendekati Bagas dengan langkah hati-hati. “Dengar, Bagas. Kamu jangan bergerak. Tenang dan atur napas mu.”
Bagas menelan ludah. “Siap, Serma! Jantung saya rasanya mau loncat.”
“Saya paham. Tapi kamu tetap berdiri di situ. Percayakan ini ke saya.”
Ravela berdiri tidak jauh dari mereka, matanya tak lepas dari situasi. Ia tidak ikut mendekat, tapi posisinya jelas siap memberi perintah kapan pun diperlukan.
Bima berjongkok di depan kaki Bagas, bergerak perlahan, sangat terkendali. Ia bekerja dengan tenang, karena Bima memang sering berhadapan dengan situasi semacam ini.
Dari saku rompinya, ia mengeluarkan sebuah alat kecil berwarna gelap, perangkat khusus yang selalu ia bawa untuk menangani benda berbahaya seperti ranjau atau jebakan darat.
Alat itu ia pasang dengan hati-hati di tanah, tepat di dekat titik tempat kaki Bagas berpijak. Jemarinya bergerak pelan, menekan dan memutar bagian-bagian kecil di alat itu.
Bagas hanya bisa menatap lurus ke depan. Keringat mengalir di lehernya, tangannya gemetar, tapi ia memaksa diri untuk tetap diam.
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Akhirnya Bima berdiri sedikit dan menoleh ke Ravela. “Komandan, sudah aman.”
Ravela mengangguk. “Bagus.”
Bima menepuk ringan betis Bagas. “Sekarang kamu bisa mundur pelan-pelan.”
Bagas menurut. Begitu kakinya terlepas dari tanah itu, lututnya langsung melemas. Ia hampir jatuh kalau saja Bima tidak cepat menahannya.
“Tenang,” kata Bima. “Sudah selesai.”
Bagas menghela napas panjang, seolah baru benar-benar hidup lagi.
Kirana geleng-geleng kepala. “Lain kali lihat jalan, jangan melamun.”
“Siap, Letda,” jawab Bagas, masih sedikit gemetar.
Ravela mendekat. “Kamu kembali ke barak. Minum, duduk, tenangkan diri.”
“Siap, Komandan!” Bagas berdiri tegak, memberi hormat, lalu berjalan pergi dengan langkah yang masih agak goyah.
Setelah situasi kembali terkendali, patroli dilanjutkan.
Mereka masuk ke area pemukiman kecil. Beberapa warga menyapa ramah, anak-anak kecil berlari-lari di pinggir jalan, tertawa sambil menunjuk-nunjuk seragam mereka. Salah satunya Youssef, anak laki-laki itu berlari mendekat ke Ravela.
Ravela tersenyum dan berjongkok. “Hai Youssef.”
Youssef mengatakan sesuatu dalam bahasa Arab sambil tertawa kecil.
Ravela tidak mengerti, tapi tetap tersenyum. Ia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebatang cokelat kecil. “This is for you.”
Youssef langsung berseri-seri, mengucapkan terima kasih dengan logat khasnya, lalu berlari pergi.
“Komandan mengenal anak itu?” tanya Kirana.
Ravela berdiri menoleh ke arah Kirana. “Kemarin dia tiba-tiba datang ke saya sambil kasih saya bunga,” jelasnya.
Andre terkekeh. “Baru beberapa hari di sini, Komandan langsung punya penggemar.”
Ravela melirik Andre sambil tersenyum tipis. “Kamu bisa saja, Pratu. Ayo lanjut patroli.”