Bagaimana jika kau mencintai anak angkatmu sendiri?
Begitulah yang tengah di rasakan oleh Maxwell. Ia adalah satu-satunya suami yang tak mengharapkan Istrinya hamil. Bahkan, saat wanita itu di harus menjalani operasi Rahim maka Maxwell-lah satu-satunya manusia kejam yang tak perduli.
Ia di paksa untuk mengangkat seorang anak untuk mengobati trauma Istrinya. Tapi, balita 4 tahun itu sangat menguji kesabaran Maxwell yang di buat hidup di dunia Fantasi dan Mitologi.
Bagaimana tidak? saat Mentari datang maka Bocah itu akan sama seperti anak pada umumnya. Ia berkeliaran membuat suara berisik memusingkan. tapi, di malam hari ia akan menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang arogan bahkan menyaingi sikap dinginnya.
Sosok yang begitu kasar dan selalu ingin membunuh membuat Maxwell hidup bagai di medan perang.
Mampukah Maxwell menundukan Sosok itu? atau ia terjebak dalam keputusan paksaan ini?
....
Tinggalkan Like, komen, Vote dan Giftnya ya say 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bermain dengan bocah kematian
Sore ini tiba-tiba saja Perusahaan mendapat kunjungan kerja dari Team Media yang memang selalu melakukan Riset dan pengembangan terhadap seluruh Perusahaan. Pengembangan informasi dan bagaimana Perusahaan MARCELLO E-BUSENESS COMPANY berdiri semakin hari membuat Dunia Otomotif terguncang dan Kanca Investasi membeludak.
Mereka mengais informasi juga menyebar Motivasi pada seluruh Masyarakat yang selalu mendambakan masuk ke dalam Perusahaan besar berbasis Internasional satu itu.
Dengan penjelasannya yang khas. Sekertaris Ireein membawa Media untuk melihat bagaimana Karyawan disini bekerja. Ia berbicara lantang di depan Kamera yang selalu menyorot ke semua sudut tapi ada yang seperti ingin sekali melihat lantai utama Ruang Presdir.
"Dimana Presdir Maxwell?"
Tanya salah satu Cameraman yang sedari tadi menantikan kehadiran sosok itu. Mereka datang dengan semangat membara untuk mewawancarai Presdir Perusahaan.
Tapi saat kesini mereka lagi-lagi tak bisa menangkap bagaimana ketampanan seorang Pimpinan Muda berjiwa besar itu.
"Presdir tengah sibuk. Dia tak sempat menemui kalian. Jadi, aku akan mewakilinya untuk ini," jelas Sekertaris Ireein dengan logat Profesional yang handal.
Salah satu Ketua dari mereka bernama Bubble. Pria berambut kriobo dengan kacamata itu menatap kawanannya dengan ketegasan.
"Tak apa. Kita masih punya tahun-tahun berikutnya."
"Tapi kita sudah berjanji pada atasan untuk bisa mewawancarai Presdir," tukas seorang wanita berambut panjang dengan kemeja kotak-kotak yang lebih mendominasi.
Hanya dengan bertemu dengan Maxwell-lah mereka bisa menaikan Pamor berita lebih naik lagi karna sebelumnya Maxwell tak pernah hadir jika ada kunjungan seperti ini.
Sekertaris Ireein tampak diam sesaat. Pandangannya bergulir ke arah Karyawan Perusahaan yang tampaknya juga tak asing lagi dengan ketidakhadiran Presdirnya.
"Presdir memang tak bisa hadir. Lain kali aku akan ajukan pertemuan dengan kalian padanya."
"Benarkah? Nona!" tanya wanita itu dengan respon kegirangan.
"Yah. Tapi, diterima atau tidak itu bukan jaminan. Yang jelas kalian profesional dan tak membahas soal urusan pribadinya."
"Kami selalu menghargai itu," jawab mereka terlihat lebih lega dan ada harapan. Setidaknya mereka pulang dengan penantian yang lebih baik di janjikan pada atasannya.
Karna sudah berhasil membangkitkan hawa kehidupan mereka semua. Sekertaris Ireein kembali mengajak berkeliling Perusahaan ke tempat-tempat Umum.
Di pertengahan pembicaraan. Lift di lantai bawah tiba-tiba terbuka memperlihatkan Evelyne yang keluar bersama Yello dan Gregor.
Lagi-lagi kehadiran bocah itu menjadi objek perhatian karna tak mungkin ada Peri kecil datang ke tempat sesibuk ini.
"Coba tanyai dia!"
Gumam Bubble pada rekannya yang langsung menyorot ke arah Evelyne yang berjalan berjingkrak dengan khasnya yang ceria.
Ia yang sudah memakai stelan santai itu tampak sadar jika kamera tengah merekamnya.
"Itu apa?" tanya Evelyne menunjuk polos ke arah Kamera.
Sontak Gregor langsung sigap menghalangi sorotan benda itu dengan Sekertaris Ireein yang tersentak kala melihat Evelyne disini.
"Fokus pada pekerjaan kalian!"
"Nona! Kenapa ada anak kecil di Perusahaan sebesar ini? Baru pertama kali kami melihatnya," tanya Bubble terpikat akan wajah imut nan cantik Evelyne.
Sekertaris Ireein tak bisa menjawab sembarangan tanpa ada perintah langsung dari Presdir mereka.
"Jelas di sini memiliki Peraturan jika anak kecil tak boleh memasuki Area Perusahaan!"
"Yah. Aku juga baru melihatnya."
Mereka bertanya-tanya hingga Evelyne mengintip dari balik betis Gregor yang menjadikan tubuhnya penghalang kamera itu.
"Uncle! Apa itu bisa di ajak bermain?"
"Kita cari mainan yang lain. Nona!" Tegas Gregor mengiring Evelyne agar berjalan ke arah Pintu Keluar Perusahaan.
Tadi Evelyne ingin bermain di luar karna Maxwell tengah tertidur. Ia tak mau mengganggu Daddynya yang sudah ia keloni agar bisa istirahat.
"Dimana Uncle Jirome?" tanya-Nya seraya menuruni anak tangga kecil di teras lebar ini.
"Tengah menghandle rapat Perusahaan. Nona!"
"Kenapa mereka sangat sibuk bekerja? Memangnya bisa dapat apa?" polos Evelyne melompat ketika di tangga terakhir.
Ia tak memperdulikan banyaknya orang yang tengah melaluinya dengan pandangan beragam. Ada yang sudah biasa akan kehadiran Evelyne yang mereka anggap sebagai kerabat dekat bagi Maxwell.
Yello berdiri agak jauh karna memantau area bermain Nonanya. Para anggota di sekitar sini juga tampak berjaga ketat dengan Pistol siap di balik Jas yang mereka Pakai.
"Uncle! Leen mau ke sana!!"
"Itu di luar area Perusahaan. Nona!" cegah Gregor kala Evelyne menunjuk ke area jalanan di luar Gerbang besar ini.
Alhasil Evelyne mendengus kesal duduk di tepi teras Mar-mar mahal ini lalu menatapi beberapa orang yang lalu-lalang di sekitar mereka.
"Leen bosan. Uncle!! Leen mau main!!"
"Nona bisa bermain di mana saja selain di luar Perusahaan."
"Daddy tidur. Leen bisa keluar-kan?" gumam Evelyne dengan mata abu bening itu mengerijab indah dan sangat menggemaskan.
"Karna Tuan istirahat jadi Nona tanggung jawab kami!"
"Baiklah," pasrah Evelyne sudah tak ingin membantah jika bersangkutan dengan Daddynya.
Ia memilih berjalan ke area samping Perusahaan dimana ada Patung pancuran yang seperti Peri Wanita dengan sayap membentang sangat indah.
Ntah karna bosan atau memang Evelyne suka memanjat ia naik ke atas pijakan Patung itu lalu mengulurkan tangannya untuk memeggang air yang berjatuhan sangat dingin.
Ia asik sendiri bahkan sudah tak sadar akan dunia. Gregor yang selalu memantau hanya membiarkan Evelyne bermain dengan benda itu dari pada Nonanya terus berkeliaran di mana tempat.
"Nona!! Jangan membasahi pakaianmu!"
Cegat Gregor mendekat kala Evelyne dengan tingkah konyolnya malah masuk ke dalam Bak air sana lalu berdiri di bawah tetesan air yang membasahi kepalanya.
"Nona!"
"Leen jadi Biksu," gumam Evelyne menirukan para Biksu di Pura yang selalu bersemedi dengan alam. Sontak Gregor panik ingin mengangkat Evelyne turun tapi bocah lincah ini bersembunyi di sela Sayap Patung yang bisa saja melukai lengannya yang kemaren sempat terkilir.
"Nona! Jangan membuat Tuan marah pada kami."
"Daddy tidur. Dia tak akan melihatnya," jawab Evelyne memanfaatkan kesempatan ini. Ia dengan tubuh mungil pendek itu berusaha memanjat Patung besar ini dengan tubuh sudah basah kuyup.
"Leen akan jadi Biksu! Lihat Leen akan duduk di sana. Uncle!"
"Nona! Tolong turun, kau bisa demam," cegah Gregor mengulurkan tangannya ingin menggendong Evelyne yang sudah jadi objek perhatian semua orang.
"Sebentar lagi Uncle! Leen hanya ingin ke atas!"
"Tuan bisa marah besar," gumam Gregor ingin mengangkat tubuhnya tapi Evelyne memilih bersembunyi di cela sempit dekat kaki Patung ini. Alhasil Gregor kewalahan merayu Evelyne agar keluar.
Di sela perdebatan mereka yang pusing melihat Evelyne pecicilan tapi tiba-tiba Evelyne menatap satu Mobil yang masuk ke area Perusahaan.
Ia diam mengamati dari sini dengan mata menyipit tajam agak kenal dengan Mobil itu.
"Uncle!" bisik Evelyne hanya menyembulkan ujung kepalanya yang sudah basah kuyup. Gregor sudah jantungan takut-takut Evelyne demam dan mereka kena imbasnya.
"Nona! Aku mohon keluarlah."
"Susst! Lihat kesana!" pinta Evelyne dengan suara berbisik pelan tapi pasti.
Gregor menoleh ke area belakang dimana ada bawahan Tuan Marcello yang datang dengan seorang wanita yang tak lagi memakai kursi rodanya.
Sontak Evelyne langsung menunjukan wajah tak sukanya kala Wanita itu datang ke sini dan Daddy- Nya tengah istirahat.
"Uncle! Daddy sedang tidur. Dia pasti kelelahan dan Wanita berkaki empat itu jangan di bolehkan masuk."
Gregor memberi isyarat pada Yello yang mengangguk langsung menatap ke area CCTV di dekat penjuru Gedung ini.
Otomatis Pintu utama di tutup dengan sisa orang yang tadi ingin masuk saling pandang karna tak biasanya seperti ini.
"Kenapa Pintunya tertutup?"
"Ada percobaan sistem baru," jawab asal Yello seraya memantau Violet yang datang mendekat dengan pengawalan ketat dari bawahan Tuan Marcello.
Kala Violet sudah ingin masuk tapi sadar jika ada masalah pada Pintu ini.
"Ada apa ini?"
"Perusahaan sedang mencoba Sistem baru. Untuk sekarang kami belum bisa merubah Monitor Penguncian otomatis," jelas Yello tak mau ada keributan.
Mendengar itu Violet terdiam. Tak mungkin ada pengujian mendadak seperti ini apalagi di Pintu besar Perusahaan.
"Buka Pintunya!"
Yello tak bergeming. Ia berdiri seakan menuli dan membisukan mulutnya.
Melihat Violet yang tak bisa masuk ada kebahagiaan tersendiri di hati Evelyne yang memikirkan cara lain untuk mengusir wanita itu.
"Uncle!"
"Iya. Nona?" tanya Gregor kala Evelyne seperti punya rencana.
"Carikan Leen Pistol air mainan!"
"A..apa?"
"Pistol air mainan!" pinta Evelyne dan mau tak mau Gregor memberi pesan pada anggota mereka yang ada di luar untuk mencari barang itu.
Sambil menunggu mainannya. Evelyne memilih untuk diam menikmati perdebatan Violet bersama Penjaga Perusahaan yang tak mengizinkannya masuk.
Hal itu terlihat sangat mengasikan bahkan Evelyne ingin membeli Popcorn sekarang.
"Tunggu disini sebentar. Nona!"
"Cepat kembali," pinta Evelyne pada Gregor yang pamit kala anggota mereka sudah berdiri di depan Gerbang sana membawa Paper-bag dengan barang yang tadi ia minta.
"Ini. Memangnya untuk apa?" tanya Pria bertopi dan Masker hitam itu heran.
"Nona kecil memintanya."
"Berikan cepat!" gumam Pria itu ingin pergi tapi matanya menangkap isyarat Evelyne dari balik Bak Air di dalam kolam sana.
Ia seketika menatap Gregor dengan pandangan terkejut karna Tuannya bisa marah besar melihat Bocah itu berendam di sana.
"Dia.."
"Dia ingin kau ke sana!"
"Aku?"
Gregor mengangguk hingga keduanya berjalan ke arah Evelyne yang berbinar kala Mainan-Nya sudah datang. Keduanya heran tapi segan untuk bertanya.
"Uncle! Ada berapa Pistolnya?"
"3 Nona!"
"Yess!" decah Evelyne mengambil satu Pistol Mainan yang agak jumbo ini lalu mengisinya dengan air. Ia memberikan itu pada Gregor dan satunya lagi juga sudah terisi full ia berikan pada Pria di sampingnya.
"Punya Leen yang kecil saja."
"Nona! Kau ingin kami melakukan apa?" tanya Gregor tapi senyuman Evelyne terkesan seperti merencanakan sesuatu.
"Selamatkan Daddy dari Monster berkaki empat yang ada di sana!" menunjuk ke arah Violet hingga keduanya paham.
"Nona! Ini bisa.."
"Seraaang!!!" pekik Evelyne keluar dari Kolam lalu berlari dengan gaya menggemaskannya ke arah Violet yang terkejut akan jipratan air ke arahnya.
Bawahan Tuan Marcello ingin menghadang Evelyne hingga Gregor dan temannya langsung ikut serta dalam hal ini.
"Jangan menyentuh Nona kami!!!"
"Apa-apaan ini? Haa!!!" teriak Violet kala semua bajunya basah. Gregor dan anggota lain bertugas menghalang para bawahan Tuan Marcello yang tak berkutik sedangkan Evelyne menyalip dengan tubuh kecilnya yang lincah menyemprotkan air itu ke wajah Violet dengan jiwa tangguh yang membuat Yello mengulum senyum.
Tanpa Evelyne sadari Yello merekam semuanya dengan exspresi puas dan tak bisa menahan untuk tak tawa kecil melihat Gregor dan anggota mereka yang biasa menggenggam Pistol sungguhan sekarang memakai Pistol mainan warna-warni.
Seketika kegagahan dan kebengisan mereka runtuh hanya karna bergaul dengan bocah kematian ini.
....
Vote and Like Sayang..