Araya seorang gadis cantik terpaksa menikahi seorang Ceo buta dan Arrogant yang terkenal sangat dingin dan angkuh.
Akan kah Araya bertahan dengan sikap Evan yang sangat buruk?
yuk simak novel author 🤗🤗
Maaf yah novel ini terpaksa tamat karena masalah tapi kalau kalian suka, aku bakal lanjut cerita ini di akun yang berbeda. Yuk mampir ke novel author yang lain nya. Cari aja Author SENJA atau judul novel baru author "Dinikahi Ketua Geng Motor" jangan lupa like komen yahh😌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Evan mendatangi Tuan Abraham, Nyonya Lusy dan Alvin di ruang tamu, sedangkan Vina dan Varrel kembali masuk kedalam kamar nya. Evan berdiri dengan tangan yang bergetar membentuk simpulan tinju.
"Apa yang dia lakukan! Berani sekali dia berdiri di hadapan orang tua tanpa rasa hormat sedikit pun" Nyonya Lusy melihat tubuh Evan yang kusut dari atas hingga bawah.
"Berani sekali kau memukul saudara mu! Kau pikir kau siapa! Hah" teriak Tuan Abraham.
Evan terus menundukan kepala dengan tangan yang terus bergetar sejak tadi seperti menahan emosi yang bergejolak. "Bawa gadis bodoh itu pergi" kata nya pada sang ayah. "Aku tidak membutuhkan nya" sambung Evan.
Nyonya Lusy tertawa mengejek menatap Evan. "Apakah kau pikir gadis itu dengan suka rela menikahi mu? Jangan terlalu percaya diri" kata-kata Nyonya Lusy sangat menyakitkan bagi Evan.
Evan menyentuh dada nya yang tiba-tiba saja sakit. "Ayah" panggil Evan dengan lirih.
"Pergi kau dari sini sebelum aku membunuh mu" Tuan Abraham yang marah membuang pandangan nya dengan kata-kata kasar pada putra kandung nya.
"Usir gadis itu atau aku akan menghabisi nya" Evan yang kesakitan tidak menyerah meski dia sendiri kesulitan untuk mengeluar kan kata-kata ini bahkan kaki yang tadi nya kokoh kini menjadi lemas dan terjatuh di lantai.
"Menghabisi nya?" Tuan Abraham tertawa remeh. "Aku tahu kau sudah jatuh cinta pada gadis itu" kata-kata Tuan Abraham membuat Nyonya Lusy terperanjak.
"Pengawal" teriak Tuan Abraham lalu sedetik kemudian beberapa pengawal masuk untuk membantu Evan berdiri. "Kurung Evan di kamar bawah" perintah Tuan Abraham dengan tegas lalu pengawal itu pun membantu Evan berdiri.
Varrel yang baru saja datang tiba-tiba melangkah menghampiri Evan yang di papah oleh pengawal. "Biar aku saja yang membantu nya".
Evan melirik tangan Varrel yang menggenggam lengan nya cukup erat. "Biar aku bantu kak" Evan lalu menatap wajah Varrel.
"Tidak perlu mengasihani ku" sebuah kalimat menohok membuat Varrel menoleh pada sang kakak yang terlihat kesakitan tetapi tetap angkuh untuk menerima bantuan.
"Apa yang kau bicara kan" Varrel tidak ingin ambil hati ucapan Evan dan tetap merangkul Evan sampai ke dalam kamar.
Dengan tubuh yang lemah Evan tidak bisa lagi memberontak melawan untuk menerima tawaran baik sang adik. Varrel memapah tubuh Evan naik ke atas ranjang lalu membaring kan tubuh itu perlahan lahan.
Tanpa sengaja Varrel melihat sebuah botol pil di atas meja lalu mengambil nya dan terkejut saat melihat isi pil nya. Varrel yang curiga dengan suatu hal menyembunyikan satu biji pil kedalam saku nya lalu keluar dari kamar Evan.
.
.
"Lihatlah tingkah anak mu itu! Harus nya sudah sejak lama kau membawa nya ke rumah sakit jiwa, bukan nya di asing kan di mansion mewah!" Nyonya Lusy terlihat sangat marah pada Evan karena telah memukul wajah Alvin hingga mengeluarkan darah di ujung bibir nya.
"Sudah bu sudah" Alvin mengelus pundak sang ibu memberikan ketenang sedikit pada nya.
"Bagaimana pun juga Alvin yang sudah memancing nya duluan hingga Evan bersikap seperti itu, kau jangan berlebihan" Tuan Abraham baranjak dari sana.
"Kau menyalahkan putra ku demi putra mu yang bodoh dan tidak berguna itu!" teriak Nyonya Lusy saat Tuan Abraham sudah pergi meninggalkan mereka.
Beberapa menit kemudian, Nyonya Lusy baru menyadari jika Evan tadi menggendong Araya dengan kedua tangan nya tanpa menggunakan tongkat dan berjalan dengan angkuh nya.
"Oh ya ampun" mata Nyonya Lusy membola dengan sempurna seakan ingin keluar dari tempat nya.
"Ada apa bu" tanyak Alvin heran.
"Bagaimana mungkin Evan menggendong Araya tanpa memakai tongkat atau bantuan? Bukankah dia buta" Nyonya Lusy yang masih syok terlihat raut ketakutan di wajah nya.
"Sejak Ivan meninggal, Evan memang sudah melihat dan aku sendiri yang mengoperasi nya" jawab Alvin santai.
"Apa!! kau yang membantu nya? apa kau sudah gila" Nyonya Lusy menunjuk Alvin dengan sangat marah.
"Memangnya ada masalah bu" tanyak Alvin dengan mengkerutkan dahi nya.
"Aaaarrrggghhh kau sangat bodoh" Nyonya Lusy yang terlihat sangat marah seakan ingin memakan otak Alvin hidup-hidup.
Nyonya Lusy pergi meninggalkan Alvin sendiri dengan tanda tanyak besar dan kebingungan.
ni udah lama gak up
hmm ngomong² tuh ank deg deg kn knp lg