"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Ditularkan agar sembuh.
Suasana rumah itu tampak sunyi saat malam kian merangkak naik. Langkah kaki yang Arlan lakukan nyaris tanpa suara, sedikitpun tidak mengganggu keheningan yang ada.
Arlan menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Rieta, membuka pintu dengan perlahan, dan menyingkirkan benda transparan yang sengaja ia selipkan diantara pintu dan kusen yang membuat pintu kamar tidak terkunci sempurna meski dikunci dari dalam, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
Sejenak, Arlan terpaku di tempatnya berdiri melihat apa yang kini ada di hadapannya. Rieta tidur di sofa, sementara Evan justru tidur pulas di atas tempat tidur seorang diri seolah tak peduli dengan Rieta.
"Bocah ini..." Arlan menggeram kesal, segera mendekati Rieta dan menyentuh bahu wanita itu, berniat membangunkannya.
Namun, urung ia lakukan saat ia merasakan suhu tubuh Rieta terasa tidak biasa. Tangannya berpindah menyentuh dahi Rieta, dan seperti yang ia duga, dahi wanita itu terasa panas.
Tanpa berpikir dua kali, Arlan mengangkat tubuh Rieta ke dalam gendongannya, mambawa wanita itu keluar dari kamar.
Dahi Rieta mengernyit, rasa sakit pada kepalanya membuat kedua matanya terasa berat untuk ia buka. Tetapi, saat ia merasakan berada di dalam gendongan seseorang dalam waktu lama, ia memaksa membuka kedua matanya.
"Paman..."
Rieta mendesis pelan, menemukan wajah Arlan yang kini tengah menggendongnya dan melangkah keluar kamar.
"Apa yang Paman lakukan?" Rieta mengeliat pelan, berusaha untuk lepas dari gendongan Arlan meski pandangannya berputar.
"Diamlah, atau kamu akan membangunkan semua orang di rumah ini," jawab Arlan.
"T-Tapi..."
Kalimat Rieta terputus saat Arlan membawa dirinya masuk ke dalam kamar pria itu, menurunkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan menutupi setengah tubuhnya menggunakan selimut.
Semua gerakan Arlan di lakukan dengan hati-hati, meletakkan bantal di punggung Rieta, memastikan Rieta duduk bersadar dengan nyaman, lalu duduk di tepi tempat tidur dan meraih mangkuk berisi sup yang sudah ia siapkan sebelumnya lengkap dengan obat dan segelas air di nakas.
"Aku tahu kamu tidak menyukai bubur, jadi aku membuatkan sup untukmu. Makanlah sedikit, lalu minum obatnya," tutur Arlan.
Rieta tertegun selama beberapa saat, memperhatikan Arlan yang menyendok sup dari mangkuk, lalu meniupnya untuk memastikan suhu pada sup sudah pas sebelum menyodorkan sendok berisi sup pada Rieta.
"Buka mulutmu," perintah Arlan.
"Aku tidak lapar, Paman," tolak Rieta halus.
"Tidak penting apakah kamu lapar atau tiidak. Kamu harus tetap makan," jawab Arlan tegas.
"Atau kamu lebih menyukai gagasan aku memaksamu untuk makan?" ancamnya setelah menunggu beberapa saat, tetapi Rieta tetap tidak membuka mulut.
"Seolah Paman bisa mengancamku saja," sahut Rieta mengerucutkan bibir.
Arlan menurunkan sendoknya sejenak, tersenyum. "Oh... Kamu menantangku?" ujarnya seraya mendekatkan wajahnya.
Rieta segera memundurkan wajah seolah mengerti apa yang akan pamannya lakukan. "P-Paman mau apa?" gagap Rieta.
"Mamaksamu makan," jawab Arlan santai. "Bukankah kamu ingin tahu bagaimana cara aku memaksamu?"
"Ish..." Rieta mendorong Arlan menjauh. "Dasar mesum."
"Aku yang mesum atau pikiranmu yang mesum?" goda Arlan menahan tawa.
Wajah Rieta merona seketika. "Paman!"
"Pft...." Arlan terkekeh, menyentil pelan hidung Rieta, lalu menempelkan telapak tangannya di pipi Rieta.
"Makanlah sedikit, dua atau tiga suap saja, setelah itu aku tidak akan memaksamu lagi, oke?" bujuk Arlan lembut.
Rieta mengangguk, menurut membuka mulutnya tanpa melepaskan pandangan dari Arlan saat pria itu kembali menyodorkan sesendok sup padanya. Sup itu terasa pahit di lidahnya, tetapi hatinya menghangat. Suaminya bahkan tidak pernah memperlakukan dirinya demikian. Suaminya hanya menawarkan tanpa melakukan tindakan nyata.
Sikap penuh perhatian yang Arlan berikan, dan betapa dewasanya pria itu membuat hatinya goyah. Pernyataan cinta dari pria itu yang belum ia jawab nyatanya tidak membuat Arlan berhenti memberikan perhatian padanya.
Sesuai janji yang Arlan berikan, pria itu tidak memaksa Rieta lagi setelah suapan ketiga. Pria itu memberikan obat untuk Rieta minum, lalu meminta wanita itu berbaring.
"Tidur di sini saja." ucap Arlan seraya menutupi Rieta menggunakan selimut mencapai leher. "Dan jangan pikirkan apapun, aku yang akan mengurus sisanya."
Rieta mengangguk, rasa kantuk mulai menguasainya hingga ia terlelap. Sementara Arlan tetap duduk di tepi tempat tidur, melihat hembusan napa teratur Rieta sebagai tanda wanita itu sudah tertidur tidak membuat Arlan beranjak dari tempatnya.
"Apa kau tahu sesuatu, Rie?" Arlan berkata pelan, meraih tangan Rieta untuk ia genggam dengan satu tangan, lalu meletakkan punggung tangan di dahi Rieta menggunakan satu tangan lainnya. Sorot dingin yang biasa melekat pada diri Arlan menguap tanpa bekas.
"Kamu akan cepat sembuh jika kamu menularkan sakitmu pada seseorang."
Hening...
Tidak ada tanggapan apapun dari Rieta selain suara dengkuran halus serta hembusan napas teratur dari wanita itu.
Dengan perlahan namun pasti, Arlan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah Rieta hingga ia bisa melihat bulu mata Rieta bergerak pelan karena hembusan napasnya. Hingga akhirnya, ia menempelkan bibirnya di bibir Rieta, menyesap lembut bibir selembut sutra Rieta tanpa membangunkan tidur wanita itu.
.
.
.
Keesokan harinya...
Rieta melangkahkan kakinya dengan langkah ringan. Senyum manis tersungging di bibirnya, merasakan tubuhnya menjadi lebih ringan setelah ia bisa tidur pulas sepanjang malam. Pagi ini, sebelum semua orang bangun, Arlan membangunkannya, membantu dirinya kembali ke kamar tanpa sepengetahuan siapapun.
Langkah Rieta terhenti di depan ruang kerja Arlan, membuka pintu setelah mengetuk dan berjalan mendekat ke meja kerja Arlan untuk menyerahkan dokumen yang perlu ditandatangani.
"Ini dokumen yang perlu Anda tandatangani, Tuan," ucap Rieta.
Arlan mengangguk, memeriksa sebentar dokumen yang Rieta sodorkan, lalu mengangguk dan menandatangani dokumen itu. Begitu tandatangan selesai, Rieta membungkuk singkat dan pamit undur diri.
"Rie "
Langkah Rieta terhenti ketika ia hampir mencapai pintu, lalu berbalik.
"Saya, Tuan?"
Arlan menghembuskan napas pelan, merasa terganggu dengan panggilan yang Rieta sematkan. "Tidak ada siapapun di sini selain Liam. Jadi, tidak perlu bersikap formal."
"Paman membutuhkan sesuatu?" tanya Rieta mengubah sikap formalnya.
"Di acara ulang tahun perusahan nanti, datanglah bersamaku," ucap Arlan.
"Baiklah," Rieta menjawab tanpa perdebatan panjang, kembali membungkukkan badan, lalu berbalik pergi.
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?" Liam bertanya dengan nada khawatir setelah Rieta meninggalkan ruangan. "Anda terlihat pucat."
"Aku baik-baik saja," kilah Arlan seraya mengusap wajahnya pelan sebelum kembali fokus pada komputer di depannya.
Sejujurnya, ia mulai merasakan tidak nyaman pada tubuhnya sejak pagi ini, semua makanan yang menyentuh lidahnya terasa pahit, tetapi tentu saja ia tidak akan mengakuinya, terutama ketika Rieta ada di depannya.
"Apakah kau sudah menemukan siapa yang melakukan sabotase pada komputer Rieta?" tanya Arlan.
Liam menggeleng. "Ada beberapa orang yang masuk ke ruang kerja Nona Rieta sebelum Nona kehilangan file presentasi. Tetapi saya mencurigai tiga orang yang mungkin melakukan ini. Karena hanya mereka yang tahu jika ruang kerja Nona tidak memiliki CCTV."
"Siapa?"
"Supervisor dari departemen yang sama dengan Nona sebelum menjadi sekretaris, mentor dari calon sekretaris yang Anda tolak, dan..."
"Dan?" desak Arlan tidak sabar.
"Nona Rihana."
. . . .
. .. .
To be continued