Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. DOKUMEN YANG MENGUNGKAP SELURUH BENDAKAN
Pada sore hari yang mendung, Ridwan datang ke hotel tempat keluarga Wijaya menginap dengan tas kulit kecil yang penuh dengan dokumen-dokumen penting yang baru saja dia temukan di ruang arsip bawah tanah perusahaan—tempat yang tidak diketahui oleh banyak orang kecuali beberapa karyawan lama yang sangat setia kepada Dewi Wijaya. Pak Wijaya dan Siti telah menunggunya di ruang tamu yang telah disiapkan khusus untuk rapat rahasia, bersama dengan tim pengacara senior Pak Hendra.
“Saya menemukan tempat ini secara tidak sengaja ketika sedang memeriksa sistem keamanan di bagian bawah gedung,” ujar Ridwan setelah semua orang duduk dan memastikan bahwa ruangan dalam keadaan aman dan tidak ada yang bisa mendengar percakapan mereka. “Ruang arsip bawah tanah ini dibangun oleh ibu saya sendiri untuk menyimpan dokumen-dokumen paling penting perusahaan, dan hanya dia dan dua orang karyawan lama yang tahu keberadaannya.”
Tanpa berlama-lama, Ridwan membuka tasnya dan mengeluarkan tumpukan berkas kertas serta beberapa flashdisk yang penuh dengan data elektronik. Dia menyusun dokumen tersebut di atas meja dengan hati-hati, kemudian mengambil yang paling atas—sebuah folder tebal dengan sampul kulit hitam yang sudah mulai menguning akibat usia.
“Ini adalah buku catatan pribadi ibu saya yang dia tulis selama bertahun-tahun,” katanya dengan suara yang penuh dengan penghargaan, sambil membuka sampul folder tersebut. “Di dalamnya terdapat catatan rinci tentang setiap langkah pengembangan perusahaan, serta catatan tentang perilaku yang mencurigakan dari Budi, Ratna, dan Rio yang mulai muncul sejak tahun 2016—sekitar satu tahun sebelum ibu saya mulai sakit.”
Pak Wijaya mengambil buku catatan tersebut dengan hati-hati, melihat setiap halaman dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Di salah satu halaman tanggal 3 Juli 2016, terdapat tulisan tangan Dewi yang jelas terbaca:
“Hari ini saya menemukan bahwa beberapa dana perusahaan telah dialihkan ke rekening yang tidak dikenal. Ketika saya menanyakan hal ini kepada Budi, dia mengatakan bahwa itu adalah untuk keperluan proyek rahasia yang belum bisa diumumkan. Tapi saya merasa ada sesuatu yang tidak benar—dia tidak bisa memberikan penjelasan yang jelas dan tampak sangat tergesa-gesa ketika berbicara tentang hal tersebut. Saya akan mulai menyelidiki sendiri dan menyimpan semua bukti yang saya temukan.”
Selanjutnya, Ridwan menunjukkan sebuah berkas dokumen yang berisi surat-surat antara Budi dengan seorang akuntan luar yang tidak terdaftar di perusahaan. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa mereka telah merencanakan skema manipulasi keuangan jauh sebelum Dewi mulai sakit, dengan tujuan untuk menguasai perusahaan secara bertahap dan mengalihkan aset-asetnya ke nama pribadi mereka.
“Mereka bahkan telah merencanakan cara untuk membuat ibu saya terlihat tidak mampu mengelola perusahaan,” ujar Ridwan dengan suara yang penuh dengan kemarahan, sambil menunjukkan laporan medis palsu yang ditemukan di dalam folder. “Dokumen ini menunjukkan bahwa mereka telah membayar beberapa dokter untuk memberikan diagnosis palsu tentang kondisi kesehatan ibu saya, sehingga mereka bisa mengklaim bahwa dia tidak lagi mampu menjalankan tugasnya sebagai direktur utama.”
Siti mengambil laporan medis tersebut dan melihatnya dengan seksama. “Ini adalah bukti yang sangat kuat,” katanya dengan suara yang jelas. “Dengan ini, kita bisa menunjukkan bahwa mereka tidak hanya membunuh Kakak Dewi dan mencuri aset perusahaan, tapi juga telah merencanakan semua ini dengan sangat matang selama bertahun-tahun.”
Ridwan kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk dan menyambungkannya ke laptop yang telah disiapkan di meja. Layar monitor langsung menampilkan data tentang transaksi keuangan skala besar yang dilakukan oleh Ratna dan Rio selama lima tahun terakhir. Ada catatan rinci tentang bagaimana mereka mengalihkan dana perusahaan ke rekening di luar negeri, membeli properti mewah dengan nama orang lain, dan bahkan menyewa orang untuk melakukan aktivitas yang tidak sah demi melindungi kepentingan mereka.
“Selain itu, saya menemukan bukti bahwa mereka telah menjual hak produksi resep obat tradisional asli milik keluarga Wijaya kepada perusahaan asing dengan harga yang jauh di bawah nilai pasar sebenarnya,” ujar Ridwan sambil menunjukkan kontrak yang telah ditandatangani secara rahasia. “Mereka telah mengorbankan warisan keluarga kita hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang besar.”
Pak Hendra—tim pengacara—melihat semua dokumen dengan ekspresi yang penuh dengan kagum dan kemarahan. “Dengan bukti-bukti yang kamu kumpulkan ini, Ridwan,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan keyakinan, “kasus kita akan menjadi tak terbantahkan. Kita bisa mengajukan tuduhan yang komprehensif terhadap semua pelaku dan memastikan bahwa mereka mendapatkan hukuman yang sepadan dengan kejahatan yang mereka lakukan.”
Pak Wijaya menutup buku catatan Dewi dengan hati-hati, kemudian melihat ke arah Ridwan dengan mata yang penuh dengan cinta dan kebanggaan. “Anakku, ibu kamu pasti sangat bangga dengan apa yang kamu lakukan,” ujarnya dengan suara yang sedikit gemetar. “Dia selalu mengatakan bahwa kamu akan menjadi orang yang kuat dan akan mampu melindungi warisan yang dia tinggalkan. Kini saya melihat bahwa kata-katanya benar.”
Dia kemudian mengambil tangan Ridwan dengan erat. “Kita akan menggunakan semua bukti ini untuk memastikan bahwa keadilan diberikan kepada ibu kamu dan bahwa perusahaan kembali ke tangan yang benar,” lanjutnya dengan suara yang jelas dan tegas. “Kita akan mengembalikan perusahaan menjadi seperti yang diinginkan oleh ibu kamu—perusahaan yang peduli dengan masyarakat dan menggunakan ilmu pengobatan tradisional untuk membantu orang banyak.”
Setelah rapat selesai, Ridwan bersama dengan Siti dan Pak Hendra mulai menyusun semua dokumen menjadi laporan hukum yang komprehensif. Mereka mengklasifikasikan setiap bukti berdasarkan jenis kejahatan yang dilakukan, mulai dari manipulasi keuangan, pencurian aset, pembunuhan dengan sengaja, hingga pelanggaran hak kekayaan intelektual. Mereka juga menyusun daftar saksi yang akan dipanggil untuk bersaksi di pengadilan, termasuk karyawan lama yang telah menyaksikan langsung kejahatan yang dilakukan oleh Ratna, Budi, dan Rio.
Pada malam hari yang sama, pihak polisi memberikan kabar bahwa mereka telah menemukan jejak dimana Ratna dan Rio bersembunyi—di sebuah rumah mewah di kawasan pinggiran kota yang telah mereka sewa dengan nama orang lain. Mereka sedang menyusun rencana penangkapan yang hati-hati untuk memastikan bahwa kedua pelaku tersebut bisa ditangkap tanpa kecelakaan dan tanpa ada kesempatan bagi mereka untuk menghancurkan bukti tambahan yang mungkin ada di tempat persembunyian mereka.
Ridwan merasa hati-nya penuh dengan rasa lega dan tekad yang semakin kuat mendengar kabar tersebut. Meskipun dia masih harus menyembunyikan identitasnya sementara, dia tahu bahwa waktu untuk mengungkapkan kebenaran semakin dekat. Dengan semua bukti yang telah dia kumpulkan dan dukungan dari keluarga serta teman-teman yang dipercaya, dia merasa bahwa keadilan bagi ibu nya sudah sangat dekat dan perusahaan akan kembali ke jalur yang benar sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan oleh pendirinya yang tercinta.
Di bawah cahaya lampu meja yang lembut, Ridwan melihat ke arah foto ibu nya yang ditempel di dinding ruangan. Dia berjanji dalam hati bahwa dia akan menggunakan semua dokumen yang telah ditemukan untuk memastikan bahwa nama ibu nya akan selalu dikenang sebagai orang yang membawa kebaikan dan harapan bagi banyak orang, dan bahwa orang-orang yang telah mencuri warisan dan membunuhnya akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.