Bagaikan buah simalakama. Aku pergi, dia hancur. Aku bertahan, aku yang hancur. Lalu, jalan seperti apa yang harus aku ambil?
Siapa yang tidak mengharapkan hubungan harmonis dengan keluarga pasangan. Setiap pasangan pasti berharap hubungan yang baik-baik saja dalam keluarga besarnya. Pepatah mengatakan, jika kau siap untuk menikah dengan anaknya, maka kau pun harus siap menikah dengan keluarganya? Lalu apa jadinya ketika orang tua pasangan kita tidak menerima kita sepenuhnya? Pilihannya hanya ada dua. Bertahan, atau melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Sasaran
Deni segera menghabiskan siomay yang tadi dia serobot dari Daniar. Namun, meskipun dia sedang mengunyah makanan itu, pikiran Deni terus berkelana pada apa yang diutarakan Daniar.
Hmm, mungkin emang si Niar cuma becanda. Tapi siapa tahu, 'kan, kalau gua comblangin, mereka bisa berjodoh juga. Ish, entar gua pikirin caranya deh, buat menyatukan mereka, batin Deni.
Setelah selesai menyantap makan siang hasil rampasan, Deni kembali ke kelasnya. Begitu tiba di kelas, dia celingak-celinguk mencari sosok pria yang digambarkan oleh Daniar. Senyumnya seketika mengembang saat dia mendapatkan pria itu tengah berdiri di samping salah satu teman perempuan satu kelasnya.
.
.
Bugh!
Karena berjalan tergesa-gesa, Daniar kembali menabrak seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu kelasnya.
"Eh, maaf-maaf," ucap Daniar membungkukkan badan.
"Ish, lihat-lihat dong kalau jalan!" gerutu pria yang ditabrak Daniar.
"Iya, Mas. Saya minta maaf. Tadi saya terburu-buru, saya nggak lihat ada Mas di depan pintu. Lagian, siapa suruh Mas berdiri di sana. Mas, 'kan tahu kalau pintu itu fungsinya sebagai jalan keluar masuk dalam sebuah ruangan. Lah, Mas ngapain ngejugrug di sana. Kek angkot yang lagi ngetem, aja!"
Daniar menggerutu kesal saat si pria itu protes dan menyalahkan Daniar. Sedangkan pria tinggi bertubuh tegap itu hanya bisa melongo mendengar cerocosan wanita bertubuh mungil.
"Hai Fi!" sapa Nida begitu dia menoleh ke arah pintu karena mendengar keributan kecil.
Pria bertubuh tegap itu tersenyum ke arah Nida. Daniar menyenggol sikut sahabatnya.
"Lo kenal dia, Nid?" bisik Daniar.
Nida mencondongkan wajahnya seraya berbisik pula di telinga Daniar. "Dia gebetan gua, Ni," jawabnya.
Daniar hanya bisa membelalakkan kedua bola matanya mendengar bisikan Nida. Ish gila, giliran gua merana, dia malah bahagia. Ah, nggak asyik banget, gerutu Daniar dalam hatinya.
"Nid, bisa bicara sebentar?" tanya pria itu.
Nida tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sedetik kemudian, dia menoleh ke arah Daniar seraya berkata, "Ni, gua samperin Luthfi dulu, ya."
Daniar hanya tersenyum mesem melihat ulah sahabatnya. Dia hanya bisa menganggukkan kepala, menanggapi ucapan Nida.
Setelah Nida pergi, Daniar kembali duduk di tempatnya. Untuk mengusir rasa jenuh, Daniar mengeluarkan modul dan mulai membaca-baca rangkuman di modul itu. Tinggal seorang diri di dalam kelas waktu istirahat, sungguh membuat Daniar merasa, jika jarum jam berputar begitu lambat. Daniar hanya mampu membuang napasnya dengan kasar.
.
.
Sementara itu, di kelas yang terhalang tiga ruangan dari kelas Bahasa Inggris, tampak Deni menghampiri sahabatnya.
"Hid, lo dapat salam tuh dari anak TBI," ucap Deni seraya menepuk pundak sahabatnya.
Pria jangkung itu hanya menautkan kedua alisnya mendapati ucapan Deni. "Anak TBI?" ulangnya.
"Cieee, Sahid dapat gebetan nih," ledek perempuan yang sedari tadi digodanya.
Pria yang bernama Sahid itu sontak gelagapan mendapati godaan dari perempuan satu kelas yang sedang diincarnya.
Ish, apa-apaan nih, si curut, gerutu Sahid di dalam hatinya.
"Iya, anak TBI. Orangnya cakep loh, Hid," timpal Aji.
"Halah, kek lo tahu aja," dengus Sahid.
"Ish, mangkanya lo maen dong ke kelas TBI. Lo nggak tahu apa, kalau di sana tuh banyak primadona kampus?" ucap Deni.
"Tahu tuh, Sahid. Ngerem bae kek si Yandri," ledek Aji.
Yandri yang sedang membaca buku, sontak mendongak mendengar namanya disebut.
"Eh, kok jadi bawa-bawa gua," tukas Yandri
"Lah iya, elu, 'kan mana pernah maen ke kelas lain. Apalagi cari gebetan. Secara, gebetan lo tuh cuma modul sama pak Bekti," ujar Aji
"Bhua hahaha...."
Mendengar candaan Aji, sontak Sahid, Deni, Aji dan Aisyah tertawa bersama.
"Ish, tenang saja. Hilal gebetan gua sudah terlihat kok. Cuma lagi nunggu timing yang tepat aja. Ya, lo tahu, 'kan kalo niat gua tuh pacaran abis nikah."
Bruk!
Terdengar suara buku terjatuh pada saat Yandri mengakhiri kalimatnya. Semua orang tampak menoleh ke arah sumber suara. Mereka terpana melihat gadis cantik berhijab tengah memungut bukunya yang terjatuh.
"Eh, Sis ... kamu sudah datang?" ucap Aisyah seraya beranjak dari tempat duduknya.
Aisyah menghampiri wanita itu yang tak lain adalah Siska. Sejurus kemudian, dia pun berpamitan kepada Sahid dan kawan-kawan, karena harus mengurus sesuatu bersama Siska.
"Gua duluan ya, bye!" pamit Aisyah.
Ketiga pria itu hanya melambaikan tangan kanannya kepada Aisyah dan temannya. Sedangkan Yandri, dia kembali membuka modulnya.
"Siapa tuh cewek, cantik banget," celetuk Deni.
"Hmm, mulai deh, mulai ... dasar playboy cap kadal," dengus Sahid seraya menghampiri bangku Yandri. Sejurus kemudian, Sahid mendaratkan bokongnya di bangku samping sahabat kalemnya itu.
Deni dan Aji mengekori Sahid dari belakang. Kini, keempat sekawan itu berkumpul di bangku Yandri. Mereka kembali mengompori Sahid tentang titipan salam yg diutarakan oleh Deni. Hingga pada akhirnya, Yandri merasa penasaran dengan perempuan yang dimaksud sahabatnya itu.
"Memangnya siapa perempuan itu, Den?" tanya Yandri.
"Sahabat gua, Daniar," jawab Deni.
"Uhuk!"
.
.
Dua hari berlalu. Hari ini, karena sekolah diliburkan, akhirnya Daniar bisa pergi ke kampus lebih awal. Sepanjang jalan, jantungnya berdetak tak karuan. Semalam, Deni mengatakan jika orang yang dimaksud oleh Daniar, ingin bertemu secara pribadi. Sungguh, Daniar tidak menyangka jika si biang kerok itu menanggapi serius kelakarnya. Pada akhirnya, Daniar merasa panas dingin begitu memasuki pintu gerbang kampus.
Saat Daniar hendak memasuki kelas, tiba-tiba terdengar suara Deni memanggilnya. Sontak Daniar menoleh. Dia tersenyum saat Deni tengah berlari kecil menghampirinya.
Deni mencoba mengatur napas terlebih dahulu begitu tiba di depan Daniar. Saat ritme jantungnya mulai kembali normal, Deni berkata kepada Daniar.
"Eh, Niar. Gebetan lo udah nungguin tuh di taman."
Daniar mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Deni.
"Ish, lo apaan sih, Den? Lo udah lama kenal gua. Tapi lo belum tahu juga sifat gua. Ngapain juga lo sampein ke dia. Gua, 'kan jadi malu," ucap Daniar.
Deni memegang kedua bahu Daniar. "Nggak pa-pa Niar. Ini sebagai bukti kalo gua tuh sayang sama lo. Gua perhatian sama lo. Elo itu dah kek adek gua. Dan gue pengen yang terbaik buat elo. Yuk ah, kasihan dia udah kelamaan nungguin elo."
Deni meraih tangan Daniar dan menuntunnya menuju taman kampus. Tiba di sana, Deni menunjuk seorang pria yang tengah duduk di bangku taman. Daniar menautkan kedua alisnya saat dari belakang, dia tidak mengenali sosok Yandri.
"Ayo samperin dia!" ujar Deni, mendorong pelan Daniar.
Deg-deg-deg!
Semakin mendekati bangku itu, detak jantung Daniar semakin berpacu cepat. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat atau berkata apa jika telah berhadapan dengan Yandri. Seandainya bisa, rasanya Daniar ingin memiliki ajian menghilang agar bisa terhindar dari pertemuan konyol yang dirancang oleh Deni, si biang kerok.
Tiba di belakang pria itu. Daniar terpaku. Rasanya, dia tidak pernah mengenali postur tubuh seperti ini. Yandri memang pria yang cukup tinggi dan kurus, tapi tidak sekurus orang yang tengah memainkan ponsel di depan Daniar.
"Ma-maaf, sudah menunggu lama, Yan!"
Sontak pria itu menoleh. Dia tersenyum mendapati wanita cantik berambut panjang tengah berdiri seraya menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa. Saya juga belum lama kok, datangnya."
Eh, kenapa suaranya beda, batin Daniar.
Seketika Daniar mendongak. Dia sangat terkejut saat mendapati laki-laki asing di hadapannya. Ish, siapa dia? Kenapa dia ada di sini? Apa Deni tidak mengetahui siapa yang gua maksud tempo hari. Jika iya, ini artinya salah sasaran dong. Ish, awas aja lo, Den, batin Daniar seraya mengepalkan tangannya.
"Ma-maaf, sa-saya salah orang."
aarhh...bikin emosi aja
ngeyel sih
Semangat Thot, Luar biasa ceritanya