NovelToon NovelToon
Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Status: tamat
Genre:Petualangan / Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Aliansi Pernikahan / Action / Pusaka Ajaib / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ebez

Sebelum mulai baca novel ini, baca dulu pendahulu dengan judul Babat Negeri Leluhur untuk mengetahui latar belakang cerita ini.



Panji Tejo Laksono, sang putra pertama dari Raja Panjalu Prabu Jitendrakara harus berjuang keras menyatukan kembali perpecahan di kalangan Istana Kadiri karena hasutan tahta yang meracuni pemikiran permaisuri kedua Raja Panjalu.


Intrik politik dalam istana, ketulusan hati dan tekad untuk memajukan negeri tercinta menjadi bumbu perjalanan cerita Panji Tejo Laksono dalam upaya membuktikan diri sebagai penerus yang mampu membawa kejayaan Panjalu setelah pemerintahan Prabu Jitendrakara.


Bagaimana kisah perjalanan cita dan cinta Panji Tejo Laksono dalam tampuk kekuasaan Kerajaan Panjalu setelah mendapat warisan Pedang Naga Api dari sang Ayah? Temukan jawabannya di setiap episode perjalanannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencuri

'Itu berarti Gayatri sudah melihat semuanya dong? Haduh gara gara pingsan aku harus berganti pakaian di bantu oleh nya', batin Panji Tejo Laksono.

Meski sedikit merasa jengah, sang putra tertua Prabu Jayengrana itu segera melompat turun dari tempat tidurnya dan bergegas keluar dari kamar.

Saat menuju ke arah tempat mandi, dia berpapasan dengan Palupi yang sedang membantu para cantrik Mpu Hanggawira menyiapkan makanan.

"Eh Kakang Taji sudah siuman..

Aku kira masih pingsan di kamar hingga aku tak berani mengganggu. Semalaman aku, Kangmbok Luh Jingga dan teman mu itu bergantian berjaga loh Kakang.

Oh iya, apa masih ada yang sakit?", Palupi langsung memijat lengan kiri Panji Tejo Laksono.

"Aku sudah tidak apa-apa Palupi. Terimakasih atas perhatiannya semalam.

Aku permisi dulu ke belakang sebentar", ujar Panji Tejo Laksono sembari melangkah menuju ke arah tempat mandi yang ada di belakang kediaman Mpu Hanggawira.

Cantrik Mpu Hanggawira langsung mendekati Palupi yang terus menatap ke arah punggung Panji Tejo Laksono yang kemudian menghilang di balik pintu belakang.

"Wah ganteng sekali ya, Palupi..

Belum pernah aku melihat lelaki setampan itu di tempat ini. Pasti beruntung sekali gadis yang bisa menjadi istrinya", ujar si cantrik yang ikut melihat ke arah Panji Tejo Laksono. Gayatri langsung sewot mendengar ucapan nya.

"Kau jangan bermimpi ya bisa mendekati Kakang Taji..

Kalau kau bisa menyaingi ku atau Kangmbok Luh Jingga, juga mungkin bahkan kawan seperjalanan Kakang Taji itu, baru kau boleh berpikir untuk mendapatkan perhatian nya", ucap Palupi ketus.

"Loh kog saingan nya banyak sekali?", tanya si cantrik yang biasa di sebut Cikrak itu segera.

"Kenapa tidak?

Dia tampan, anak seorang Tumenggung, sakti mandraguna lagi. Perempuan mana yang tidak akan tergila-gila pada nya? Aku saja belum tentu bisa mendapatkan nya apalagi kau, Cikrak..", sahut Palupi sembari melangkah ke luweng kayu bakar untuk memeriksa sarapan pagi para penghuni kediaman Mpu Hanggawira.

"Iya juga sih..

Ah nasib nasib jadi perempuan jelek. Ada yang naksir eh cuma cuma tukang kebun saja. Benar benar apes hidup ku", keluh si cantrik sembari kembali melanjutkan pekerjaannya.

Pagi itu, penghuni rumah Mpu Hanggawira berkumpul bersama di serambi untuk sarapan. Luh Jingga yang bukan anggota kediaman Mpu Hanggawira turut hadir untuk ikut menikmati suguhan uwi legi dan suweg yang di kukus lalu di taburi kelapa muda dengan campuran garam. Sarapan mereka terasa lebih nikmat dengan tambahan wedang jahe yang bisa menghangatkan tubuh.

"Paman Mpu Hanggawira,

Selepas ini aku mohon pamit pulang ke Kadiri. Ada urusan penting yang mesti aku selesaikan. Aku sangat berterimakasih atas bantuan paman selama aku disini", ujar Panji Tejo Laksono usai mereka menikmati hidangan pagi itu.

"Kenapa terburu buru sekali Kakang?

Tak bisakah kau tinggal barang sehari dua hari lagi disini?", tanya Luh Jingga dengan nada sedih.

"Maaf Luh Jingga..

Ini merupakan hal penting tidak bisa di tunda lagi. Jika suatu saat nanti aku punya kesempatan, pasti akan berkunjung kemari lagi", jawab Panji Tejo Laksono segera.

"Kalau itu sudah menjadi keputusan mu, Paman hanya bisa mendoakan agar kau selamat sampai tujuan.

Semoga di kemudian hari kita masih berjodoh dan bisa berjumpa lagi", ujar Mpu Hanggawira sembari tersenyum tipis.

"Terimakasih banyak Paman..

Kalau begitu aku akan mempersiapkan diri sebelum berangkat ke Kadiri", usai berkata demikian Panji Tejo Laksono segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah kamar tidur nya. Senyum lebar penuh kemenangan tersungging di bibir Gayatri. Gadis cantik itu segera mengikuti langkah sang pangeran muda untuk bersiap-siap.

Luh Jingga langsung berlari meninggalkan rumah Mpu Hanggawira dengan air mata mengembang di wajah cantiknya.

Setelah cukup lama mempersiapkan barang bawaan nya, Panji Tejo Laksono keluar dari kamar dimana Gayatri telah menunggu.

Usai berpamitan kepada Mpu Hanggawira dan Palupi, Panji Tejo Laksono langsung melompat ke atas kuda nya diikuti oleh Gayatri. Mereka segera bergegas memacu kuda menuruni lereng Bukit Penampihan.

Begitu memasuki wilayah wanua di kaki Bukit Penampihan, segera memacu kuda ke arah timur. Di luar tapal batas wanua, Panji Tejo Laksono menarik tali kekang kudanya.

"Ada apa Taji? Kenapa kita berhenti di sini?", tanya Gayatri yang turut menghentikan langkah kaki kuda nya.

Tak menjawab pertanyaan Gayatri, Panji Tejo Laksono justru menoleh ke arah rimbun pepohonan yang tumbuh di tapal batas wanua itu.

"Aku tahu kau mengikuti ku sejak tadi. Keluarlah!"

Dari arah balik pepohonan, Luh Jingga keluar sembari membawa buntalan kain dan sebilah pedang. Gadis cantik itu berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan Gayatri.

'Dasar brengsek!

Dia pasti akan jadi pengganggu hubungan ku dengan Kakang Taji', gerutu Gayatri dalam hati.

"Mau apa kau mengikuti ku?", tanya Panji Tejo Laksono segera.

"A-aku ingin melihat keramaian Kotaraja Kadiri. Aku sudah bosan tinggal di Padepokan. Tolong ijinkan aku ikut dengan mu", pinta Luh Jingga dengan cepat. Tatapan matanya penuh harapan.

Hemmmmmmm..

Terdengar suara dengusan nafas panjang dari mulut Panji Tejo Laksono. Melihat Panji Tejo Laksono tak segera menjawab, Luh Jingga segera berkata dengan cepat.

"Aku berjanji tidak akan merepotkan mu. Aku juga akan menyiapkan semua keperluan mu. Aku akan menjadi pelayan mu asal kau mengajakku", pinta Luh Jingga dengan nada memelas.

"Taji, sebaiknya kita tidak...", Gayatri langsung berhenti bicara saat Panji Tejo Laksono mengangkat tangan kanannya.

"Baiklah kau boleh ikut.."

Mendengar perkataan itu wajah cantik Luh Jingga langsung sumringah, sedangkan Gayatri cemberut menahan perasaan kesal.

"Gayatri,

Kau berkuda bersama ku sebelum aku belikan kuda untuk Luh Jingga. Biar Luh Jingga memakai kuda mu", ganti wajah Gayatri yang berseri-seri mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Perempuan cantik itu segera melompat turun dari kudanya dan dengan cepat melompat ke belakang Panji Tejo Laksono. Segera dia merangkul pinggang Panji Tejo Laksono sembari menjulurkan lidahnya ke arah Luh Jingga.

Luh Jingga menekuk wajahnya dan segera melompat ke atas kuda Gayatri. Mereka bertiga segera memacu kuda mereka menuju ke arah timur.

Debu jalanan beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka.

Setelah sampai di kota Pakuwon Tanjung Anom dan membeli seekor kuda untuk Luh Jingga, mereka bertiga melanjutkan perjalanan ke arah timur. Tepat tengah hari mereka sudah sampai di tapal batas Kota Kadipaten Anjuk Ladang.

Beristirahat sebentar untuk memberi makan kuda mereka, juga mengisi perut yang keroncongan, Panji Tejo Laksono dan Gayatri serta Luh Jingga kemudian berbelok arah menuju selatan.

Menjelang senja, mereka telah sampai di wilayah Pakuwon Berbek yang merupakan wilayah paling selatan dari Kadipaten Anjuk Ladang.

Karena hari sebentar lagi gelap, Panji Tejo Laksono memutuskan untuk bermalam di Wanua Sono. Tak ada tempat untuk bermalam kecuali di rumah Lurah Wanua Sono, Ki Sanjiwana.

Seorang penjaga mengantar mereka masuk ke kediaman Lurah Wanua Sono, usai seorang warga mengantar mereka bertiga kesana.

Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal nampak menatap mereka bertiga dengan penuh rasa curiga. Usai memastikan ketiga orang tamu nya ini orang baik baik, Ki Sanjiwana segera mempersilahkan mereka untuk duduk.

"Mohon maaf jika aku bertindak kurang sopan, pendekar muda..

Belakangan ini di wilayah selatan Pakuwon Berbek, sering terjadi peristiwa maraknya pencurian. Aku sebagai Lurah wajib mewaspadai siapapun yang melintas di wilayah Wanua Sono ini. Jadi ku harap kau memaklumi nya", ujar Ki Sanjiwana sembari meletakkan pantatnya di kursi dekat mereka bertiga.

"Apa tidak ada tindakan Ki, dari prajurit Pakuwon Berbek misalnya?", tanya Gayatri segera.

"Pihak istana Pakuwon Berbek sudah bergerak namun belum ada hasilnya. Setiap malam mereka berpatroli di masing masing wanua di wilayah Berbek, tapi pencuri ini seakan tahu daerah mana yang luput dari perhatian para prajurit Pakuwon Berbek", ujar Ki Lurah Sanjiwana sembari menghela napas berat.

"Kalian beristirahat lah.. Pelayan ku akan menyiapkan tempat untuk bermalam.

Hari ini aku akan bersama jagabhaya untuk berpatroli keliling pemukiman penduduk", imbuh Ki Sanjiwana sembari beranjak dari tempat duduknya.

"Aku ikut Ki..

Biarlah dua teman ku beristirahat di sini", ucap Panji Tejo Laksono sembari ikut beranjak dari tempat duduknya. Ki Sanjiwana tersenyum simpul mendengar kesediaan Panji Tejo Laksono untuk membantu nya ronda keliling kampung. Mereka berdua segera melangkah keluar dari dalam rumah Ki Sanjiwana, meninggalkan Luh Jingga dan Gayatri untuk beristirahat.

Suasana malam hari di Wanua Sono benar benar sepi. Meski cahaya rembulan yang separuh lebih menggantung di langit tak dapat menerangi seluruh alam karena terhalang mendung yang berarak di angkasa, namun cahaya yang menerobos lewat celah celah awan masih mampu memberikan penerangan yang cukup.

Rombongan ronda malam itu terus bergerak ke sekeliling desa sambil sesekali membunyikan kentongan.

Tiba-tiba...

"Toollloooooonnnnngggg...

Ada maling masuk ke rumah ku!!"

Teriakan keras terdengar dari salah satu rumah warga yang ada di depan langkah para peronda. Panji Tejo Laksono, Ki Sanjiwana, jagabhaya dan beberapa orang anggota peronda langsung berlari ke arah sumber suara.

Seorang lelaki paruh baya nampak berteriak lantang di depan rumah nya. Ki Sanjiwana segera mendekati nya.

"Ada pencuri yang mengambil semua harta ku , Ki Lurah..

Habis sudah semuanya Ki. Tolong Ki Lurah", ujar si lelaki paruh baya itu yang tergolong orang kaya di Wanua Sono ini.

"Tenang dulu, Ki.. Sekarang katakan kemana pencurinya pergi? Cepat katakan ", tanya Ki Sanjiwana segera.

"Kesana Ki.. Dia berlari ke arah sana", jawab si lelaki paruh baya itu sembari menunjuk ke arah selatan.

Mendengar perkataan itu, rombongan peronda itu langsung bergegas mengejar. Panji Tejo Laksono langsung menggunakan Ajian Sepi Angin nya, dan melesat cepat ke arah yang ditunjukkan lelaki paruh baya itu. Sang pangeran muda itu langsung melenting tinggi ke udara dan mendarat di atas pohon kelapa yang tinggi untuk melihat sekeliling nya.

Sebuah bayangan terlihat timbul tenggelam di antara kegelapan malam di jalan yang menghubungkan wilayah Wanua Sono dan wanua sebelahnya.

Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat bagai kilat mengejar si bayangan. Dalam 2 kali tarikan nafas, si bayangan hitam yang tengah menggendong sebuah buntalan kain itu terkejar.

Dengan cepat Panji Tejo Laksono menghantamkan tangan kanannya ke arah si pencuri.

Whuuussshh..

Selarik angin dingin berdesir kencang kearah si pencuri. Merasakan hawa dingin yang mengancam nyawa, si pencuri itu segera berguling ke tanah menghindari serangan Panji Tejo Laksono.

"Siapa kau? Kenapa ikut campur urusan ku?", tanya si pencuri itu usai berdiri. Jarak antara mereka sekitar 3 tombak, namun Panji Tejo Laksono segera tahu bahwa itu adalah suara seorang lelaki muda.

"Kembalikan harta yang kau ambil. Jika tidak kau tak kan aku lepaskan", jawab Panji Tejo Laksono dengan cepat.

"Aku sudah susah payah mengambilnya, untuk apa aku kembalikan?

Minggir kau jangan halangi jalan ku", ujar si pencuri itu dengan keras.

Usai berkata demikian, si pencuri itu segera mengibaskan tangannya. 3 senjata rahasia berbentuk pisau kecil melesat ke arah Panji Tejo Laksono.

Shrrriinnnggg! Shrrriinnnggg!

Shriingg!!

Panji Tejo Laksono yang melihat pantulan cahaya bulan yang tercipta saat senjata rahasia itu di lemparkan dengan cepat menghantamkan tapak tangan kanan nya.

Whhuuuummmmm..

Blllaaaaaarrr thraakkkk!!

Pisau kecil itu meledak dan hancur berantakan di udara. Melihat kemampuan beladiri lawannya, si pencuri itu terkejut bukan main hingga mundur selangkah ke belakang.

'Dia berilmu tinggi. Sebaiknya aku kabur dari tempat ini ', batin si pencuri sembari kembali melemparkan dua senjata rahasia nya ke arah Panji Tejo Laksono. Setelah melemparkan pisau kecil itu, si pencuri itu segera melesat hendak melarikan diri.

Shrrriinnnggg! shrrriinnnggg!

Panji Tejo Laksono yang melihat gelagat mencurigakan itu, langsung melesat cepat menghindari serangan si pencuri lantas menghadang laju pergerakan nya.

Si pencuri yang terkejut melihat kemunculan Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba, langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya. Namun Panji Tejo Laksono merubah gerakan tubuhnya dan dengan cepat menotok beberapa titik nadi si pencuri itu.

Thukk thukk!!

Seketika tubuh si pencuri menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Panji Tejo Laksono tersenyum simpul menatap ke arah lawannya.

"Bangsat!

Lepaskan totokan mu. Ayo kita bertarung lagi jahanam. Dasar licik! Akan ku bunuh kau sialan! ", sumpah serapah penuh amarah meluncur keluar dari mulut si pencuri yang kaku tak bergerak.

Tanpa banyak bicara Panji Tejo Laksono langsung melepas ikat kepala nya kemudian dia menyumpal mulutnya.

"Dasar cerewet!"

Panji Tejo Laksono langsung memanggul tubuh si pencuri yang kaku itu, lalu melesat cepat kearah rumah Lurah Wanua Sono, Ki Sanjiwana.

Setelah cukup lama bergerak, akhirnya Panji Tejo Laksono sampai di rumah Ki Lurah Sanjiwana. Beberapa orang terlihat berkerumun di depan rumah. Mereka adalah orang-orang jagabhaya wanua. Melihat kedatangan Panji Tejo Laksono, mereka segera mendekat. Panji Tejo Laksono langsung melemparkan tubuh si pencuri itu ke arah mereka.

"Dia adalah pencuri nya. Coba buka dulu penutup wajah nya agar kita tahu siapa dia", ujar Panji Tejo Laksono segera. Jagabhaya langsung merenggut kain penutup wajah yang menutupi sebagian wajah si pencuri. Ki Sanjiwana dan orang orang wanua Sono terkejut bukan main melihat siapa orang di balik penutup wajah itu.

"Raden Bagaskara? Kenapa Raden Bagaskara yang menjadi maling nya?", Ki Sanjiwana tak percaya dengan apa yang di lihat oleh matanya.

"Siapa dia? Kalian seperti nya sangat mengenal nya", tanya Panji Tejo Laksono dengan penuh keheranan. Ki Sanjiwana menghela nafas berat sebelum berbicara.

"Dia putra Akuwu Berbek"

1
Sint Uriel
adakah karya selanjutnya...?!?
Gd Jaya Official
bendera lima warna legenda xiao chen
Hadi Ghorib
ayo Baca ulang 🙏👍👍💪😍
Hadi Ghorib
balasan yang setimpal
Nggenk Topan
mantaapppp
Nggenk Topan
bukankah pedang tulang iblis dulu disimpan pangeran jayengrana setelah mengalahkan iblis bukit jerangkong?
Nggenk Topan
gumbrek gumbrek 🤣🤣
ardan
keren
Dian Adi Kurnianto
bagus sekali. semoga bisa menjadi sekaliber Sebastian F Tito.
iwakali
wah ternyata jual beli kucing udah ada dr jaman baheula ya
Ariema Aries
sangat menarik alur cerita bagus
iwakali
mantap thir
Hadi Irawan
cerita yg sangat bagus, alur cerita nya mantap dan sangat layak untuk dijadikan referensi dalam pembuatan film kolosal.
saya sangat tertarik dengan cerita yg bertemakan sejarah Nusantara, good job buat author
Joel
Luar biasa
Tegar Nagan
haha
Agen One: Mampir kak, judulnya Legenda pendekar 2 naga🙏
total 1 replies
Nunung Setiawan
Lumayan
Nunung Setiawan
Luar biasa
Mahayabank
/Good//Good//Good//Good//Good//Pray//Pray/
Mahayabank
Panjang sangad...tuh gelar.../Good//Good//Good/
Mahayabank
/Good//Good//Good/ The best
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!