NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam ini, Cecilia terbangun, hatinya tiba-tiba rindu pada Nay kecilnya. Naina yang memang telah tinggal bersama Cecil itu memudahkannya untuk mencari Naina.

Cecil mengetuk pintu kamar tamu, dan memeluk Nayla yang tengah tertidur.

"Cici, ada apa?" Tanya Naina kebingungan.

"Entahlah, hatiku sakit sekali. Na, aku mau tidur bersama Nay ku malam ini."

"Baik,"

Tapi siapa sangka ternyata Cecil menggendong Nay dalam pelukannya. "Aku bawa Nay ke kamarku."

"Hati-hati, Ci."

Sepanjang malam, Cecil tak dapat tertidur. Ia terus memandangi Nayla. Ada perasaan sedih tapi di sisi lain kenapa hatinya juga senang.

"Tidur, sayang." Lirih Chandra.

"Aku belum bisa tidur." Jawab Cecil.

"Apa yang membuatmu risau?"

"Entahlah, aku sepertinya akan berpisah dengan anakku. Tapi satu sisi ada rasa bahagia."

"Tenangkan dirimu." Chandra memeluk Cecil dan mencoba menenangkannya.

Malam panjang berlalu, pagi pun menyapa. Cecil nampaknya tertidur saat subuh tiba. Kini pagi telah berlalu dan bersiap menyambut siang.

Tepat pukul 10, saat yang lain telah sibuk dengan aktivitasnya, Cecil baru mempersiapkan dirinya.

"Jam 10 ternyata, pantes sepi." Cecil bangkit dari tidurnya.

Namun saat bangun, ada perasaan mual dan enek dalam mulutnya. Cecil memuntahkan cairan kuning bening yang terasa pait. Badannya tiba-tiba lemas.

Sayup-sayup terdengar suara Naina yang memanggil Cecil, namun karena lemas Cecil tak dapat menjawabnya.

"Ci, apakah sudah bangun?" Naina berkali-kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban.

Naina semakin takut saat mendengar benda jatuh seperti gelas. Buru-buru Naina masuk tanpa pamit, untung pintu kamar tak terkunci.

"Ci, Cici dimana?" Teriak Naina panik.

"Ka-mar man-di," suaranya terpenggal karena lelah.

Naina membantu Cecil bangkit dan memapahnya sampai ke kasur. Perlahan Naina membaringkan tubuh Cecil.

"Cici mau minum air hangat?" Tanya Naina sembari membetulkan posisi tidur Cecil.

"Boleh. Na, dimana Nay ku?"

"Nay sedang bersama Bang Chandra."

Naina kemudian meninggalkan Cecil, ia hendak membawakan air hangat untuk Cecil.

Setelah beberapa menit menunggu, Naina memberikan air hangat untuk Cecil. Wajah Cecil pucat dan terlihat lemas.

"Aku panggilkan Bang Chandra, ya Ci."

"Gak usah Na."

"Atau aku panggilkan dokter? Biasanya Cici minum obat apa?" Naina terus bertanya karena khawatir.

"Aku gak apa-apa, Naina."

Naina terdiam, ia tak tega melihat Cecil yang terbaring lemas di kasur.

"Ci, apa ini sakit karena datang bulan? Biasanya Cici suka sakit sampai keram perut kalo sedang datang bulan."

"Aku malah belum mens."

Naina dan Cecil saling adu pandang. Naina tersenyum, atau jangan-jangan Cecil hamil?

"Gak, Na. Gak mungkin. Aku gak mau berharap lebih seperti dulu. Aku gak mau kecewa." Cecil langsung menangkis pandangan Naina seolah paham maksud Naina.

"Siapa tahu kali ini ....."

"Gak. Aku gak mau kecewa untuk kesekian kalinya. Dulu juga aku pernah di kondisi seperti ini, udah senang duluan. Tapi hasilnya negatif."

Terlihat jelas wajah sedih Cecil. Bagaimana tidak, menanti kehadiran buah hati selama 12 tahun pernikahan. Tak mungkin juga Tuhan memberikan hadiah itu di usianya yang memasuki umur 35 tahun itu.

"Ci, mau aku buatkan gula aren hangat?" Naina mencoba menawarkan.

Yang ditanya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Naina pergi meninggalkan Cecil seorang diri. Merenung memikirkan hal yang terjadi pada dirinya.

Cecil mengelus perutnya yang rata. "Andai ada kehidupan di dalam sini."

Makin jam berlalu, kesehatan Cecil makin buruk. Badannya panas dan mengeluarkan keringat dingin. Naina yang mengetahui itu segera menelepon Chandra menggunakan telepon rumah.

"Bang, Cici sakit. Badannya panas." Seru Naina panik.

Tak butuh lama, Chandra langsung sampai. Begitu tiba di rumah Chandra menyerah Nayla pada Naina. Chandra langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Dibopongnya Cecil yang terkulai lemas. Naina tak bisa mengikuti Chandra, mungkin ia akan menyusulnya jika di izinkan.

Setelah menunggu beberapa jam, telepon rumah itu berdering, dan ternyata itu dari Chandra.

"Bagaimana keadaan Cici, Bang?" Tanya Naina langsung begitu mengetahui bahwa itu Chandra.

"Kondisinya lemah, jadi dia harus di rawat beberapa hari."

"Maaf sebelumnya, Cici sakit apa, Bang?" Naina kembali bertanya karena merasa khawatir.

"Dia tengah mengandung, dan dokter menyarankan dia untuk istirahat total."

"Syukurlah, aku seneng dengernya."

...****************...

Setelah dapat persetujuan dari pihak rumah sakit, akhirnya Naina diizinkan membesuk Cecil bersama anaknya. Sebetulnya rumah sakit tidak mengizinkan anak di bawah umur untuk keluar masuk rumah sakit sembarangan. Namun ini berbeda hal. Akhirnya setelah berbincang dengan pihak rumah sakit Naina di antara ke bangsal VIP.

"Nay," seru Cecil senang begitu melihat Nayla.

"Mama rindu sama Nay. Baru 2 hari tak bertemu rasanya rindu banget." Cecil memeluk Nayla.

"Mama, aik-aik kan?" (Mama, baik-baik, kan?) Celoteh Nayla yang mulai belajar berbicara itu.

"Mama baik sayang."

Antara senang dan khawatir, karena ini adalah kali pertamanya Cecil mengandung. Dulu ia sempat hamil, namun itu hamil anggur, janin tak berkembang. Dan terpaksa di operasi. Setelah itu Cecil tak kunjung hamil lagi.

Namun Tuhan akhirnya memberikan kepercayaan pada Cecil untuk mengandung anak pertamanya.

"Nay memberi semangat baru dalam hidup Mama." Lirih Cecil.

Cecil dan Chandra yang merupakan orang tua angkat Nayla pun menginginkan Nayla memanggilnya Mama dan Papa.

Tapi siapa sangka panggilan itu sekarang menjadi nyata bagi mereka berdua. Dengan hadirnya malaikat kecil yang selalu di nantikan itu, kehidupan Cecil dan Chandra menjadi lengkap dan utuh.

"Meski nanti hadir adik bayi, bagi Mama Nay adalah anak pertama Mama. Mama tidak akan membedakan antara Nay dan adik bayi." Janji Cecil pada Nayla.

"Saya sangat berterima kasih. Yang utama sekarang Cici harus sehat dulu." Naina tak tega bila ia berkata sesungguhnya dirinya dan Nayla akan pindah rumah.

Seminggu sudah dari waktu yang di janjikan, tapi Ryan tak kunjung datang. Namun Naina dengan sabar tetap menunggu kedatangan Ryan.

Semoga nanti bila Ryan datang menjemputnya, Cecil tak kecewa dan tak menjadi beban pikirannya. Naina tak ingin menambah pikiran untuk orang yang telah menolongnya ini.

Setelah cukup lama, Naina pun berpamitan pada Cecil dan Chandra. Chandra mengantar Naina sampai depan pintu bangsal. Namun saat hendak masuk, Naina menahan Chandra, ada sesuatu yang ingin Naina sampai terlebih dulu pada Chandra.

"Abang, sebelum Naina minta maaf. Dan terimakasih sudah memberikan kebahagiaan untuk Nay, serta memberi tempat tinggal yang layak untuk kita berdua." Terang Naina namun belum dipahami maksudnya oleh Chandra.

"Apa yang mau kamu katakan, Na?"

"Aku pamit, Bang. Entah kapannya aku belum pasti. Tapi minggu lalu aku bertemu dengan Ayahnya Nay. Dia berjanji akan jemput kita berdua dan membawanya ke rumahnya. Tapi sampai sekarang kami belum juga di jemput."

"Jadi, kalian mau meninggalkan kami di saat kabar gembira ini?" Terdengar kekecewaan dari nada bicara Chandra.

"Tidak, Bang. Bukan begitu maksudku. Meski kami nanti pergi dari rumah Abang dan Cici, tapi aku akan sering-sering menjenguk kalian. Kami juga belum pasti Ayah Nay kapan akan menjemput. Maka dari itu aku belum siap berkata begini pada Cici."

"Baik, aku pegang janji kamu. Sering-seringlah menjenguk kami. Bagaimana pun aku dan istriku adalah orang tua Nay. Jangan kamu pisahkan hanya karena Ayah kandung Nay datang." Pinta Chandra.

"Baik, Bang."

Naina tersenyum dan berpamitan pergi. Setidaknya Naina merasa bahagia karena masih ada orang baik yang menjaga dan melindunginya selain Kakek dan Neneknya.

Naina bersyukur bahwa Tuhan mengirimkan orang sebaik Malaikat di kehidupan Naina yang hampir hancur dan runtuh. Disaat orang terdekatnya perlahan pergi, Tuhan mendatangkan dua orang baik untuknya dan Nayla.

"Aku tidak akan melupakan jasa kalian." Gumam Naina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!