NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Detektif cleaning service

Musik di dalam Klub Black Mamba berdentum begitu keras hingga Bara bisa merasakan getarannya merontokkan daki di punggungnya.

Lampu sorot warna-warni berputar liar, menyapu wajah-wajah pengunjung yang sedang berjoget seperti cacing kepanasan.

Bara berjalan membelah kerumunan dengan dagu terangkat. Di berfikir, sedang berjalan di karpet merah istana. Tapi kenyataan, dia sedang disenggol sana-sini oleh mbak-mbak SPG rokok dan om-om genit.

"Minggir, rakyat jelata," batin Bara saat seorang pemuda mabuk menumpahkan sedikit bir ke kemeja curiannya. Bara menatap noda basah itu dengan tatapan membunuh.

Zat etanol kadar rendah dicampur air seni kuda. Minuman sampah.

Dia sampai di sebuah pintu ganda berlapis kulit imitasi di ujung ruangan. Di depannya berdiri satu penjaga lagi. Kali ini lebih kecil, tapi matanya tajam dan ada bekas luka codet di pipi.

"Gue udah denger dari depan," kata si Codet dingin. "Lu yang bikin Jono bengek kan? Masuk. Bos mau liat tampang lu."

Bara tersenyum miring. Reputasi memang cepat menyebar.

Dia mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan VIP yang kedap suara.

Suasana di dalam kontras dengan di luar. Hening, dingin (AC-nya terlalu kencang), dan berbau asap cerutu mahal yang dicampur parfum lavender. Di balik meja mahoni besar, duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja batik sutra yang kancing atasnya terbuka, memamerkan kalung emas setebal rantai kapal.

Ini dia. Bos Cobra. Penguasa dunia malam distrik ini.

Bos Cobra sedang menghitung gepokan uang merah. Dia tidak mendongak saat Bara masuk.

"Jadi..." suara Cobra berat dan serak. "Ini bocah ajaib yang bikin anak buah gw masuk UGD cuma dengan bersin?"

Bara berdiri tegak, melipat tangan di dada (mencoba menutupi noda bir di baju). "Koreksi sedikit bos. Itu hanya sebuah daun tapi bukan daun biasa. Itu Dieffenbachia. Dan saya tidak bermaksud membuatnya masuk UGD, hanya memberinya pelajaran etika."

Cobra akhirnya mendongak. Dia menatap Bara dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya berhenti lama di lengan Bara yang kurus, lalu pindah ke celana kargo yang agak kedodoran, dan berakhir di sepatu kets Bara yang jempolnya nyaris jebol.

Hening selama lima detik.

Lalu, ledakan tawa membahana di ruangan itu.

"BWAHAHAHA!" Cobra tertawa sampai memukul meja. "Anjir! Gue kira lu atlet MMA atau semacam nya. Ternyata... astaga...., lu makan nasi terakhir kapan, Tong? Pas lebaran taun lalu?"

Harga diri bara(sang jiwa alkemis) serasa ditampar bolak-balik. Wajah Bara memerah.

"Jangan menilai buku dari sampulnya, Bos. Otot besar buat apa kalau cuma hiasan doang, namun otak kosong. Saya bisa melumpuhkan sepuluh orang di ruangan ini dalam satu menit jika perlu."

Cobra menyeka air mata di sudut matanya, masih terkekeh.

"Ya....Ya, gue percaya lu pinter main racun atau apalah itu. Tapi denger ya, Bocah..."

Wajah Cobra berubah serius dalam sekejap. Aura preman pasarnya keluar.

"Di sini, gue butuh Bouncer. Tukang pukul. Orang yang badannya segede lemari, biar tamu yang mau rusuh mikir dua kali. Gue butuh visual, ngerti? Kalau gue pajang lu di depan pintu, dikira panti asuhan lagi galang dana."

Skakmat. Logika yang tak terbantahkan. Bara mengertakkan gigi. Sialnya, bos ini benar. Intimidasi fisik memang butuh... fisik juga.

"Terus?, sia-sia dong gw datang ke sini "

Cobra menyalakan cerutu, menghembuskan asapnya ke arah Bara.

"Sebenernya gak terlalu sia-sia juga sih. Jono itu bego, dan lu berhasil bikin dia tumbang tanpa nyentuh. Gue suka gaya lu. Licik."

Bara sedikit membusungkan dada. Nah, akhirnya pengakuan.

"Tapi lu tetep nggak bisa jadi tukang pukul".

Sambung Cobra cepat. "Badan lu terlalu ringkih. Sekali dipukul botol, tamat riwayat lu. Gw nggak mau repot ngurus mayat."

Cobra menekan tombol interkom di mejanya.

"Woy, Minah! Bawa peralatan tempur ke sini!"

Pintu terbuka. Seorang ibu-ibu gemuk dengan daster bunga-bunga masuk membawa ember berisi air keruh dan sebuah kain pel yang warnanya sudah tidak terdefinisi—antara abu-abu, cokelat, dan hitam.

"Nih," kata Cobra sambil menunjuk ember itu.

Bara melongo. "Apa ini?."

"Lowongan yang ada cuma itu," kata Cobra santai. "Cleaning Service. Tukang bersih-bersih. Kebetulan tukang pel gue yang lama kabur gara-gara nggak kuat bersihin kekacauan yang di buat tamu di Room 4."

"Anda bercanda..." desis Bara. "Saya, seorang... ahli kimia, disuruh mengepel?"

"Ambil atau keluar," potong Cobra tegas. "Gaji harian 50 ribu, dapet makan sekali. Kalau kerjanya bagus, boleh tidur di gudang belakang. Kalau nolak, silakan balik ke tempat asal lo."

Kata-kata "makan sekali" dan "tidur di gudang" berdengung di telinga Bara.

Perutnya yang baru diisi sup tokek berbunyi setuju. Gudang belakang berarti atap. Tidak kehujanan. Tidak ada nyamuk rawa.

Bara menatap kain pel itu dengan tatapan nanar. Ini adalah penurunan pangkat terbesar dalam sejarah reinkarnasi. Dari Pemilik Kitab Seribu Racun menjadi Pemilik Ember Seribu Kuman.

"Baik," ucap Bara pelan, menelan ludahnya yang pahit. "Saya terima."

"Bagus," Cobra melempar sebuah seragam berwarna oranye ngejreng (seperti baju tahanan KPK tapi versi kumel) ke wajah Bara. "Mulai sekarang. Room 4 ada tumpahan Wine campur Spaghetti. Bersihin sampe kinclong. Kalau masih bau, gaji dipotong."

15 Menit Kemudian. Di Room 4.

Bara berdiri di tengah ruangan karaoke yang berantakan. Bau di ruangan itu sungguh tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Di lantai karpet merah, ada noda besar abstrak—perpaduan anggur merah mahal, saus pasta, dan... yah, isi perut seseorang.

Bara mengenakan seragam oranye yang kebesaran. Dia memegang gagang pel seperti memegang tombak pusaka.

"Ini penghinaan," gumamnya. "Tapi seorang profesional tidak pernah setengah-setengah."

Dia mencelupkan kain pel ke dalam ember berisi air sabun murahan yang disediakan manajemen klub. Dia mencoba menggosok noda itu.

Gosok. Gosok.

Noda itu seakan tidak mau pergi, Minyak dari saus dan pigmen anggur sudah meresap ke serat karpet. Sabun lantai biasa tidak akan mempan.

"Sabun bodoh," cibir Bara. "Surfaktan-nya terlalu lemah. pH-nya netral. Mana bisa ngangkat lemak jenuh begini?"

Bara melempar kain pel itu ke lantai. Dia tidak akan menyikat ini dengan otot. Dia akan menyikatnya dengan Sains.

Bara keluar ruangan, menuju Pantry (dapur kecil) klub. Di sana ada rak berisi bahan-bahan minuman dan bumbu dapur.

"Mari kita racik Pelarut Noda Neraka," ucapnya dengan mata berbinar.

Dia mengambil botol Cuka Dapur (Asam Asetat) yang biasa dipakai buat acar.

Lalu dia mengambil Soda Kue (Natrium Bikabonat) dari toples kue.

Terakhir, dia melihat sebotol Vodka murah di rak bar yang isinya tinggal seperempat.

"Etanol untuk pelarut organik. Asam untuk memecah mineral. Basa untuk mengangkat lemak. Reaksi ganda."

Bara kembali ke Room 4 membawa ramuannya di dalam gelas ukur (gelas bir bekas).

Dia menuangkan bubuk soda kue ke atas noda muntahan itu. Menaburkannya dengan gaya Salt Bae, penuh penghayatan.

Lalu, dia menyiramkan campuran cuka dan vodka.

Cessssss!

Suara desis terdengar merdu saat reaksi kimia terjadi. Busa putih meluap-luap di atas noda merah itu, mengangkat kotoran dari sela-sela serat karpet ke permukaan. Baunya sedikit menyengat, tapi efektif.

Bara menunggu tepat 30 detik.

"Mati kau, noda laknat," bisiknya.

Dengan satu gerakan sapuan kain pel yang elegan, Bara menghapus busa itu.

Ajaib.

Noda merah, minyak, dan segala dosa yang menempel di karpet itu lenyap. Karpet itu kini bersih, bahkan warnanya lebih cerah daripada bagian lain yang tidak kena noda.

"Sempurna." Bara tersenyum puas.

Tiba-tiba pintu Room 4 terbuka. Seorang pelayan wanita (Waitress) masuk membawa nampan, hendak mengambil gelas kotor. Dia terpaku melihat lantai yang kinclong itu.

"Loh?" Si pelayan, nametag-nya bertuliskan Sari, melongo. "Kok... kok bisa ilang? Tadi si Ujang gosok sejam nggak ilang-ilang sampe dia nyerah."

Bara menyandarkan gagang pel di bahunya, berpose sok keren. "Si Ujang pakai otot. Saya pakai otak. Dan sedikit sihir kimia."

Sari menatap Bara dengan pandangan takjub. Biasanya tukang bersih-bersih di sini bapak-bapak tua yang kerjanya asal-asalan. Tapi pemuda kurus di depannya ini... membersihkan noda dengan gaya artistik.

"Kamu anak baru ya?" tanya Sari. "Ohh ya, kamu mending hari ini jangan deket-deket deh keruangan bos, atau jangan buat dia marah deh, kalau tidak mau di cekek..."

Bara mengangkat alis. "Heh....emangnya kenapa ?"

Sari berbisik, mendekat. "Bos Cobra lagi uring-uringan. Katanya ada barang dia yang ilang di toilet VIP. Cincin akik kesayangannya. Kalau sampe besok pagi nggak ketemu, semua karyawan mau diperiksa badannya."

Mata Bara menyipit.

Cincin akik? Barang hilang?

Otak kriminal Bara berputar. Ini bukan ancaman. Ini suatu peluang.

Kalau dia bisa menemukan cincin itu, mungkin dia bisa naik pangkat. Atau setidaknya, minta bonus makan dua kali sehari.

"Toilet VIP ya?" tanya Bara, seringai licik muncul di wajahnya. "Sepertinya area tugas saya harus diperluas ke sana."

"Eh, jangan Mas! Di sana dijagain!" cegah Sari.

"Tenang, Mbak Sari," Bara mengangkat embernya. "Saya kan cleaning service. Tidak ada wilayah kotor yang tidak bisa saya lalui kan?."

Bara melangkah keluar Room 4 dengan semangat baru. Tujuannya sekarang: Toilet VIP.

Dia bukan lagi sekadar tukang pel. Dia akan menjadi Detektif Cleaning Service.

1
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Razif Tanjung: terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Gege
pikir ada adegan kultivasi ganda kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu lima some...kan tenaganya berlimpah ruah birahinya naik..mirip epek afrodiak..🤣🤭
Razif Tanjung: jangan tar ke banned🤣🤣🤣
total 1 replies
Gege
naaaah kaaan ada adegan nanti remas remas...pastikan scene remas meremas 2k kata sendiri thoorr...🤣🤣
Razif Tanjung: eittt pelanggaran 🤣🤣
total 1 replies
Gege
kereeen updatenya...apik dan epic... kalo bisa lima kenapa tiga Thor...banyakin hareemnyaah...
Gege
apakah akan ada scene kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu dalam 10k kata thorr?🤣
Razif Tanjung: oh jelas tidak🤭
total 1 replies
Gege
mantaabbb...gassss 10k kata per update thorrr...
Gege
wasyeeek... moga ada alur yang nemuin wanita kena kanker payudara sembuhnya harus dipijat dengan olesan ramua ajaibnya Bara...yoook bikin thorr alurnya
Razif Tanjung: wah kebetulan sekali🤣🤣🤣, tinggal nunggu update ya kak
total 1 replies
Gege
karya yang warbyasaah
Gege
gilaa karya yang warbyasaah...para reader NT wajib sih ini mampir...rugi kalo engga...gasss thorrr
Gege
udah sampe bab 6 ceritanya amajing bangeed...warbyasaah...gass sekali up 10k kata...🤣
Razif Tanjung: wah terima kasih udah mampir saya terharu loh
total 1 replies
Slow ego
gua ikut mampir like👍.
Slow ego
namanya unik🤔
Razif Tanjung: terimakasih banyak kak, apakah ada yang harus saya perbaiki kedepannya, dari sudut pandang kakak yang baca deh
total 3 replies
anggita
mampir like👍, iklan👆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!