NovelToon NovelToon
Sumpah Cinta Matiku

Sumpah Cinta Matiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: dtf_firiya

Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.

Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.

Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.

Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.

Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?

Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meet Eyang Ratu

Pagi itu, Jakarta tampak sedikit lebih bersahabat dengan langit biru yang jarang terlihat. Di depan lobi apartemen Tia, sebuah mobil SUV berwarna hitam metalik milik Idris sudah terparkir rapi. Mobil itu tampak gagah namun sangat terawat, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang rapi dan terstruktur.

Idris turun dari mobil, mengenakan kemeja katun berkerah dengan lengan yang digulung sedikit—gaya khas seorang dosen muda yang santai namun tetap berwibawa.

Hari ini adalah hari yang penting. Setelah kesuksesan Crumbs & Clouds yang melesat bak roket, Tia merasa sudah waktunya untuk memperkenalkan Idris kepada sosok paling dihormati di keluarga besarnya: Eyang Ratu.

"Sudah siap?" tanya Idris saat Tia keluar membawa dua kotak besar brownies "The Landing" yang masih hangat.

Tia menarik napas panjang. "Siap. Tapi jujur, aku lebih gugup daripada pas mendaki Merbabu kemarin. Eyang Ratu itu pengamat seni yang tajam. Dia tahu kalau seseorang itu 'asli' atau cuma akting dalam sekali lihat."

Idris tersenyum tenang, membukakan pintu SUV-nya untuk Tia. "Tenang saja. Aku sudah terbiasa menghadapi mahasiswa yang mencoba berakting tahu segalanya di kelas Seni Rupa. Eyang Ratu pasti akan menyukai diskusi kita nanti."

...----------------...

Di dalam kabin SUV yang kedap suara, suasana terasa hangat. Musik klasik instrumental mengalun pelan dari speaker. Idris mengemudikan mobilnya dengan sangat halus membelah kemacetan arah Menteng.

"Aku baru tahu kalau kamu dan Papa punya profesi yang persis sama," ujar Tia sambil menatap profil samping Idris. "Dosen Seni Rupa. Kenapa kamu nggak pernah bilang secara detail?"

Idris tertawa kecil. "Seni rupa itu dunia yang kecil, Tia. Aku sangat mengagumi Pak Gunawan sebagai senior di dunia akademis. Beliau punya filosofi garis yang sangat kuat. Mungkin itu alasan kenapa aku langsung tertarik sama kamu—karena kamu punya 'garis' hidup yang tegas dan berani, persis seperti karya-karya Ayahmu."

"Dan Eyang Ratu adalah orang yang mendidik Papa," tambah Tia. "Dulu, rumah Eyang itu pusat berkumpulnya para seniman besar Jakarta. Jadi, bersiaplah untuk 'ujian' estetika, Kapten."

"Of course. I have prepared everything, heart, mind, answers, words, everything" jawab Idris dengan senyuman yang menawan.

SUV hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kolonial yang megah namun asri di kawasan Menteng. Pohon kamboja tua yang bunganya berguguran di halaman memberikan kesan puitis. Begitu pintu terbuka, aroma kayu jati lama dan minyak esensial melati menyambut mereka.

Eyang Ratu duduk di kursi goyangnya di beranda belakang yang menghadap ke taman. Meskipun usianya sudah senja, sorot matanya masih tajam di balik kacamata berbingkai emas. Di tangannya, ia memegang sebuah buku katalog pameran seni terbaru.

"Tia, cucu kesayangan Eyang," suara Eyang Ratu terdengar jernih. "Dan ini pria yang katanya berhasil mengajakmu 'terbang' ke gunung?"

Idris melangkah maju dengan sopan, membungkuk sedikit, dan mencium tangan Eyang Ratu dengan sangat hormat. "Nama saya Idris, Eyang. Suatu kehormatan bisa berkunjung ke sini."

Eyang Ratu menatap Idris dari ujung rambut sampai ujung sepatu. "Idris... nama yang bagus. Gunawan bilang kamu rekan kerjanya di fakultas? Seorang dosen muda yang sedang naik daun?"

"Saya hanya mencoba berbagi sedikit ilmu yang saya punya, Eyang," jawab Idris rendah hati.

...----------------...

Tia menyajikan brownies "The Landing" di atas piring porselen tua milik Eyang. Mereka duduk mengitari meja kayu bundar yang penuh dengan sejarah.

"Ini kue yang sedang viral itu?" tanya Eyang Ratu sambil memotong kecil brownies tersebut. "Visualnya menarik. Biru laut dengan gradasi perak. Sangat... impresionis."

Eyang mencicipinya perlahan. Keheningan menyelimuti ruangan. Tia menahan napas.

"Manisnya tidak berlebihan, cokelatnya punya kedalaman rasa. Persis seperti lukisan cat minyak yang berlapis-lapis," puji Eyang Ratu akhirnya. "Tia, kamu berhasil mengubah resep menjadi sebuah karya seni. Dan Idris, aku ingin tahu pendapatmu tentang trend minimalisme dalam seni rupa modern saat ini."

Idris tidak tampak terkejut. Ia menyesap tehnya, lalu menjawab dengan tenang. "Menurut saya, Eyang, minimalisme seringkali disalahartikan sebagai kekurangan. Padahal, minimalisme yang sebenarnya adalah kejujuran. Seperti brownies Tia; ia tidak butuh banyak hiasan rumit untuk menunjukkan kualitas cokelatnya. Dalam seni rupa, garis yang paling sederhana seringkali adalah yang paling sulit dibuat karena tidak ada tempat untuk bersembunyi."

Eyang Ratu tersenyum tipis, sebuah tanda bahwa ia terkesan. "Jawaban seorang akademisi sejati. Gunawan benar, kamu punya cara pandang yang jernih."

Pembicaraan berlanjut ke topik yang lebih personal. Eyang Ratu bercerita tentang bagaimana ia dulu menyuruh Gunawan untuk bekerja di perusahaan miliknya yang berada di bidang Wo (Wedding Organizer) tapi karena menolak akhirnya Eyang Ratu mendukung Ayah Tia untuk tetap menjadi seniman saat dunia menuntutnya menjadi pengusaha.

"Dulu eyang pernah meminta Gunawan untuk mengelola perusahaan eyang. Tapi karena tidak mau dan eyang tidak mau memaksa akhirnya eyang mendukung papanya Tia." kata Eyang Ratu.

"Tia juga dulu sudah eyang tanya mau nggak mengelola Wo tapi dia tidak mau malah bekerja di kantor orang lain. Ya akhirnya sekarang yang mengelola itu sepupunya Tia namanya sekar. Tapi terimakasih ya Idris.Aku senang kamu membawanya kembali ke akarnya—meskipun medianya bukan Laptop atau komputer dengan laporan keuangan yang menumpuk di meja kantor, melainkan tepung dan cokelat."

Idris menatap Tia dengan penuh kasih. "Tia adalah karya seni paling dinamis yang pernah saya temui, Eyang. Tugas saya hanya menjadi bingkainya agar dia bisa dilihat dunia tanpa harus takut terjatuh."

Tia merasa hatinya meluap oleh rasa syukur. Di rumah yang penuh dengan sejarah seni ini, Idris tidak hanya diterima sebagai calon suami, tetapi sebagai bagian dari frekuensi yang sama.

Saat matahari mulai condong ke barat, mereka berpamitan. Eyang Ratu memberikan Idris sebuah buku tua tentang sketsa anatomi manusia yang sangat langka.

"Simpan ini, Idris. Berikan pada mahasiswamu agar mereka tahu bahwa dasar dari segala keindahan adalah struktur yang benar," pesan Eyang. "Dan untuk kalian berdua, ingatlah bahwa hubungan itu seperti mematung. Kalian harus saling mengikis ego masing-masing sampai yang tersisa adalah bentuk yang paling indah."

Mereka berdua mengangguk. Idris menerima pemberian eyang dan akhirnya karena sudah lama berada disana. Mereka memutuskan berpamitan pada eyang untuk pulang.

...----------------...

Di dalam SUV hitamnya dalam perjalanan pulang, Tia menyandarkan kepalanya di bahu Idris. "Kamu lulus, Mas. Lulus dengan nilai cum laude di mata Eyang Ratu."

Idris tertawa, tangannya satu memegang kemudi sementara yang lain menggenggam tangan Tia. "Tadi itu rasanya seperti sidang skripsi paling berat dalam hidupku. Tapi aku senang. Sekarang aku tahu dari mana keberanian dan selera senimu berasal."

Mobil SUV itu melaju menembus lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala. Di belakang mereka, rumah Eyang Ratu tetap berdiri tegak, menyimpan satu lagi babak cerita tentang cinta yang tumbuh di atas landasan seni dan keberanian.

1
partini
hah belum siap ,, aneh kali ya kalau masih pacaran ok lah kan dah nikah pasangan yg aneh
partini
salah kamu dris harusnya istrimu di ajak bertemu aihhh malah peluk segala pula ,,semoga sebelum pulang tuh video udah yampe biar berantem salah salah sendiri ga jujur
partini
hemmm so sweet
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
partini
sinopsisnya di rubah ya Thor
mantan ga ada
dtf_firiya: yes thank you sebentar ya I'll look for a fitting description
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!