Hay para reader ini karya author yang ke2. Disini cerita fiksi dunia nya author halu...
Hidup di kota besar tidak mudah dijalani bagi gadis cantik yang masih berumur belia itu. Hidupnya hanya sendiri setelah ditinggal kan ibunya untuk selama lamanya.
Apalagi dirinya yang masih menjadi seorang Siswi dibangku kelas 3SMA.
Indira Cahaya Putri gadis cantik yang kehidupan nya berubah setelah kedua orang tuanya meninggalkan nya untuk selama lamanya.
Kisah apakah yang akan dialami oleh gadis cantik itu.. penasaran!! ikuti ceritanya yaa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part35
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..eh neng Dira udah Dateng." Mbok nah yang kebetulan berada di dapur.
"Iya mbok, dimana Oma?" tanya Indira yang baru datang kerumah Oma setelah pulang sekolah.
"Ada di kamar neng, hari ini nyonya sedikit tidak enak badan." Ucap mbok nah memberi tahu.
"Oma sakit? sakit apa mbok?" Indira sedikit panik mendengar Oma tidak enak badan, padahal kemarin Oma masih sehat dan semangat untuk berbelanja.
"Mungkin kecapean neng, kata Oma hanya perlu istirahat." Kata mbok nah, sambil menaruh semangkuk bubur dan obat untuk Oma Lili.
"Apa ini untuk Oma?"
"Iya mbok buatkan bubur untuk nyonya."
Indira segera meraih nampan yang dipegang mbok Nah. " Biar Dira aja yang antar mbok."
"Baiklah, mbok akan kerjakan yang lain nya."
Indira segera berjalan kelantai dua dimana kamar Oma berada.
Dirinya mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilahkan.
"Oma?" Indira berjalan mendekati Oma Lili yang sedang duduk bersandar di bahu ranjang.
"Kamu sudah datang sayang." Ucap Oma Lili tersenyum melihat kedatangan Indira.
"Hem.. Oma besok-besok jangan terlalu bersemangat untuk berbelanja, lihat kondisi Oma sekarang jatuh sakit karena kecapean." Ucap Indira dengan nada dibuat kesal.
"Oma baik-baik saja, hanya kurang istirahat." Oma tersenyum dan mengelus lengan Indira.
"Mbok nah buatin Oma bubur, sini biar Indira suapi." Indira mengaduk bubur di dalam mangkuk agar uap panas nya berkurang.
"Kapan kamu mulai ujian nak?" Tanya Oma yang ingat bahwa Indira sebentar lagi akan lulus sekolah.
"Masih dua Minggu lagi Oma." Indira menyuapkan bubur yang sudah tidak panas lagi kepada Oma.
"Em.. semua uang sekolahmu sudah lunas?" Tanya Oma sambil menerima suapan dari Indira.
"Sudah Oma, karena Dira mendapat biaya siswa disekolah."
"Kamu memang gadis pintar." Oma tersenyum bangga. "Jika kamu mendapat peringkat pertama kamu boleh minta hadiah apa saja kepada Oma." Oma Lili menatap hangat Indira.
"Serius Oma." Wajah Indira berbinar senang, mendengar ucapan Oma Lili.
"Serius dong sayang." Oma mencubit hidung kecil Indira gemas.
"Oke,, aku akan minta hadiah jika aku mendapat peringkat nanti." Ucapnya semangat dengar tersenyum lebar.
"Hem makanya belajar yang rajin ya."
"aaaa terima kasih Oma yang Dira sayangi." Indira memeluk Oma Lili dengan perasaan senang.
Dibalik pintu sejak tadi Allan berdiri disana melihat kedekatan Indira dengan ibunya, membuat perasaan nya menghangat dan menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum. Allan berjalan masuk menghampiri kedua wanita yang ia kasihi, meskipun belum mendapat balasan dari gadis itu.
"Mama sudah baikan." Allan duduk tepat dibelakang Indira yang masih berpelukan dengan Lili.
"Al..kamu sudah pulang?" Tanya Lili dengan melepas pelukan. Indira pun segera bergeser bermaksud untuk menghindar karena jarak mereka duduk terlalu dekat membuat jantungnya tak sehat, sumpah ni jantung kenapa kenceng banget detaknya.
"Kata mbok nah mama sedang kurang sehat, Al sengaja pulang melihat kondisi Mama, tapi sepertinya Mama baik-baik saja." Allan melirik wajah Indira dari samping, nampak gadis itu sedikit tidak tenang.
"Mama hanya kecapean, mungkin kemarin terlalu bersemangat jadi Mama lupa waktu." Lili membelai kepala Indira dengan tersenyum.
Indira hanya diam, dirinya tidak tahu harus bicara apa, karena berdekatan dengan Allan membuat otaknya ngeblak.
"Kamu sudah makan Al?" Tanya Lili.
"Belum Ma, karena Al baru selesai metting dan langsung pulang ketika mendapat telpon dari mbok nah."
"Sayang kamu temani Al makan ya, kamu juga pasti belum makan." Suruh Lili kepada Indira.
"Emm Dira udah makan Oma." Tidak mungkin kan gue harus nungguin dia makan, yang ada gue malu jika ingat kejadian malam itu. dumel Indira dalam hati.
"Tidak baik menolak perintah orang tua, ayo kamu temani Abang makan." Allan meraih tangan Indira mengajaknya berdiri.
"Iss gak usah pegang-pegang." Indira agak risih dan malu didepan Oma, meskipun beliau hanya tersenyum.
"Takut kamu hilang." Allan langsung menarik Indira untuk mengikutinya menuju meja makan, tanpa perduli penolakan gadis itu.
"Sepertinya kamu mulai ada rasa sama gadis itu Al." Lili tersenyum dengan lebar, melihat Allan begitu senang mengajak gadis itu keluar.
..................
"Lepas Abang..!" Indira menyentak tangan yang Allan pegang.
"Kenapa kamu tidak bisa lembut sama Abang si?" Tanya Allan. "Sedangkan sama Mama kamu bisa bersikap lembut dan baik." Allan dengan mengernyitkan alisnya bingung.
"Apa Abang bisa melakukan sesuatu semau Abang kepada setiap perempuan, apa Abang bisa memperlakukan aku dengan baik." Indira menatap tajam Allan dan dengan napas naik turun ketika mengingat perlakuan Allan kepadanya tadi malam. Entahlah meskipun dirinya menikmati tapi ketika melihat wajah Allan membuat nya tersulut emosi dengan cepat.
"Jadi kamu masih mempermasalahkan kejadian tadi malam, meskipun kamu sendiri menikmatinya." Ucapan Allan membuat Indira membulatkan matanya pipinya merona antara malu dan marah ketika Allan membahas kejadian tadi malam.
"Kenapa? apa kamu mau mengulanginya lagi." Allan maju satu langkah sehingga jarak wajah mereka hanya tinggal satu jengkal lagi.
Indira gugup, dirinya seperti terjebak dengan ucapan nya sendiri.
"Jangan mendekat..!" Pekiknya keras, mereka berdua sedang berada ditengah lorong antara tangga dan kamar Lili, jadi tidak ada yang bisa melihat ataupun mendengar ucapan mereka.
"Kenapa kamu menolak, apa kamu tidak merindukan aku." Allan menyeringai tipis melihat wajah gugup sekaligus merona gadis itu, dirinya semakin gencar menggoda Indira karena wajahnya sangat menggemaskan ketika marah bercampur malu.
"T-tidak..tidak akan pernah." Ucapnya tergagap karena Allan berbisik di telinganya, sehingga nafas hangat Allan bisa ia rasakan.
"Sayang sekali, padahal aku merindukan ini." Allan mer*mas pelan sebelah dada Indira dengan bibir mencium lembut kuping gadis itu.
Indira meremang matanya terpejam, darahnya berdesir hebat ketika tangan Dan bibir Allan menyentuh tubuhnya bersamaan.
"Menikmati heh." Wajah Allan tepat berada didepan wajah Indira, melihat gadis itu memejamkan matanya membuatnya tersenyum senang, mulut nya berkata tidak tetapi ternyata tubuhnya merespon dengan baik.
Mendengar ucapan Allan Indira membuka mata, wajah tampan nan rupawan Allan yang sangat dekat membuat jantungnya seperti lari maraton. Tenggorokan nya tercekat betapa rupawan pria didepan nya ini.
"Memikirkan apa huh." Allan menoel hidung Indira dengan jari telunjuknya dirinya tersenyum manis melihat gadis itu tak berhenti menatap wajahnya.
"Nyebelin..awas.!" Melihat senyum Allan membuat Indira merasa lemas, tetapi jika diingat menjadi senyum paling menyebalkan.
"Ayo temani Abang makan." Allan kembali menarik tangan Indira menuruni tangga.
"Kenapa wajahmu cemberut gitu, Abang jadi tidak selera makan." Allan menaruh kembali sendok makan nya ketika melihat gadis didepan nya menampilkan wajah masam dan jutek.
"Peduli Abang." Jawab Indira ketus.
"Mau makan sendiri apa Abang yang menyuapi dengan cara Abang sendiri." Allan menatap Indira penuh arti.
"Maksud nya?" Gadis polos itu sangat menggemaskan bagi Allan.
"Mau Abang kasih tau caranya." Allan tersenyum lebar sebentar lagi jebakkan nya akan berhasil.
Allan berdiri menghampiri kursi Indira. "Jangan menolak jika Abang melakukan nya."
Terima kasih buat semua yang udah kasih dukungan Like, komen untuk para pembaca.
Jika bukan karena kalian author receh ini bukan lah apa-apa, hanya ucapan terima kasih sebanyak banyaknya yang bisa author sampaikan.
semoga kalian terhibur dengan cerita halu author ini😂
salam sayang untuk kalian semua..🥰🥰🥰
sedikit kerikil nya lngsung clear gitu 😂
bujang lapuk gitu loh🤣🤣
tapi aku aih pilih kw Alan yg udah mpan hee🤦😍