"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 11. menjadi janda.
Lia dan Bude Gendis beserta Asih sudah dirumah Mertua Lia..
" Hei Bu besan, sehat besan? Sudah lama tidak berkunjung?" Tanya Firdaus basa- basa.
Gendis dengan wajah kaku dan mahal senyum,hanya bisa mengangguk dan menarik nafas panjang.
" Kebetulan sekali Besan ada dirumah, langsung ke pokok permasalahannya saja ya Pak Besan. Tujuan saya Datang kerumah Besan ingin menjemput Amelia besan.. Disni keponakan saya diperlakukan seperti pembantu dan tidak dihargai sama sekali. Tega-teganya suaminya membawa wanita lain kerumah ini.Dengan sadisnya Suaminya mengusir Lia dari kamarnya.. untuk selingkuhannya istirahat." Bude Gendis yang tidak suka bertele-tele langsung mengukapkan segala kekesalannya..
Terlihat sekali Firdaus menahan malu mendapat teguran langsung dari besannya.
Ia menarik nafas panjang lalu ia hembusan lewat mulut.
" Sebelumnya saya minta maaf Bu besan. Atas sikap Rudi dan istri saya. Yang telah memperlakukan Amelia dengan cara tidak baik.Saya jarang sekali dirumah sehingga saya tidak mengetahui kondisi Lia dirumah ini..Jika perpisahan ini yang terbaik saya akan minta Rudi untuk menjatuhkan talak pada Lia hari ini juga.Kita tunggu Rudi pulang. Lia beres-beres saja dulu."Hati Firdaus sedih Ingin melepas menantu terbaiknya.
Firdaus pamit untuk masuk ke kamarnya, Lia sudah kembali ke ruang tamu dengan membawa tas lusuhnya.
Bajunya sedikit hanya beberapa potong Saja. Jadi tidak butuh waktu lama untuk berkemas-kemas..
Firdaus keluar kamar ia memberikan amplop coklat yang berisikan uang. Pada Amelia.
" Ini ada sedikit rezeki untuk Lia, bapak minta maaf atas perlakuan Rudi pada Lia.. bapak baru tahu jika Rudi tidak pernah memberi Lia nafkah.Simpan uang ini pergunakan untuk bekal Lia dikemudian hari." Mata Lia terbelalak melihat uang gepokan sebanyak lima gepok.
"Ini untuk Lia Pak? Banyak sekali pak.." tanya Lia dengan nada gemetaran.
Respon Gendis melihat uang lima gepok, biasa saja ia tidak kaget.Gendis tetap dengan tampang muka kaku.
" Itu hak mu nak,semua uang Rudi sebenernya ada hak mu.. jika bapak tahu Rudi mengabaikan mu bapak pasti sudah bertindak.Simpan uang mu baik-baik jangan sampai kena geledah Ibunya Rudi." Lia langsung mengamankan uang pemberian bapak mertuanya..
Diluar rumah terdengar suara gelak tawa yang sangat ramai.
Lia hafal itu suara Suaminya dan kekasih barunya.. Disusul suara ibu mertua dan adik iparnya.
Rudi tercengang melihat Lia dan tas usangnya.yang lebih membuatnya tercengang ada Budenya Lia.
Melihat kedatangan Rudi bersama seorang wanita hati Gendis sakit.Besannya Sangat ramai sekali dengan wanita selingkuhan Rudi.Berbeda sikapnya dengan Lia yang suka ketus.
" Ada Bude, ada keperluan apa bude datang kerumah saya? Apa mau pamit pulang kampung?" Tanya Rudi dengan nada pelan.
Kamila tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rudi.
Sementara Ainun acuh tak acuh, dengan angkuhnya ia melewati Gendis dan Lia. Seolah-olah tidak ada orang di depannya.
" Ainun..! Sopan santunmu mana? ada tamu besan kita,kamu lewat begitu saja. Menyapa pun tidak." Hardik Firdaus.
" Tamu tidak diundang,dan saya tidak ada waktu untuk mendengarkan keluh kesah orang miskin." Ucap ketus.
" Sombong sekali anda saya juga tidak Sudi bicara dengan manusia seperti anda.. kedatangan saya kesini bukan mau berkeluh kesah,tapi ingin membawa keponakan saya pulang.. Dari pada disini hanya dijadikan babu, lebih baik dirumah saya makan tidur." Ainun menghentikan langkahnya ia menatap tajam Gendis.
Gendis pun demikian menatap Ainun tajam. Lengan baju sudah gendis sisingkan,ia sudah siap perang dengan Ainun..
" Ohh... Baguslah kalau kamu tahu diri,bawa keponakan mu pulang dari rumah ku.. putra ku sudah tidak membutuhkan keponakanmu lagi. keponakannya hanya menjadi beban bagi Putra ku." Gendis tersenyum sinis menatap Ainun.
"Adanya keponakanku di sini, sangat menguntungkan bagimu. Tenaganya kalian peras, semua pekerjaan Ia yang mengerjakan kamu dan menantumu serta anak perawn mu ongkang-ongkang kaki. Beban di mananya? " Dengan suara lantang Gendis berucap.
"Kamu Rudi, laki-laki tidak tahu diri.. sudah diselamatkan dari rasa malu tapi tidak tahu terima kasih. Perempuan model seperti ini yang katanya selevel dengan mu, ternyata seleramu rendah.. jatuhkan talak pada Amelia sekarang juga. Dan segera urus perceraian kalian di pengadilan agama." Gendis menatap tajam Rudi.
Rudi gelisah tak karuan ia tidak ingin bercerai sekarang..
Entah apa maksud Rudi kenapa ia tidak mau menceraikan Lia.Ia pun tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami.
" Kenapa kamu diem Rudi ceraikan wanita kampung itu. Kalian menikah tidak dilandasi dasar cinta.. lebih baik kamu ceraikan istrimu, seharusnya kamu mengembalikan secara baik-baik kepada orang tuanya. Jadi laki-laki yang gentlemen Rudi..!" Ucap Firdaus tegas.
Rudi diam mematung, Ainun heran melihat Rudi yang ragu-ragu menjatuhkan talak pada Amelia.
"Kenapa kamu ragu Mas? Apa kamu sudah jatuh cinta dengan istri kampungmu itu? Kalau begitu kita putus?" Ujar Kamila..
Rudi semakin bingung ditodong oleh Kamila dan ibunya.
Dengan menarik nafas panjang Rudi menatap Amelia.
"Amelia binti Kasim Syamsudin Aku Rudi Irawan Bin Muhammad firdaus menjatuhkan talak satu pada. Mulai hari ini kita bukan suami istri lagi. Kamu bukan tanggung jawabku lagi, aku tidak ada kewajiban untuk menafkahi mu."ucap Rudi dengan lemah dan nafas memburu.
"Alhamdulillah. Terima kasih sudah menjatuhkan talak padaku Mas Rudi. Semoga bahagia bersama pacar barunya." Ucapan Amelia, ia lalu melangkahkan kakinya ingin meninggalkan rumah mertuanya.
Sebelum ia meninggalkan kediaman Rudi Amelia mencium tangan firdaus dengan takzim.
Ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada mertuanya, Yang sekarang sudah menjadi mantan. Selama ini ia sangat baik padanya.
" Ettt... Tunggu dulu, tasmu itu perlu diperiksa.. Siapa tahu kamu menyembunyikan surat berharga."Ainun dan Dewi mengambil paksa Tas Amelia yang lusuh.
Semua pakaian Amelia dikeluarkan dari dalam tas lusuh itu.
Dewi memegang ujung baju yang ada di dalam tas Lia satu persatu.
Ia seperti orang jijik saat memegang pakaian Amelia.
"Itu baju apa keset? Warnanya pudar dan nyaris tak terlihat." Ejek Kamila.
" Ya ampun dalamannya Amelia sampai bulukan seperti ini dan sobek-sobek Masih dipakai juga?? Pantesan saja Rudi tidak nafsu denganmu, melihat celana dalammu saja ia sudah muak." Ucap Ainun penuh dengan hinaan.
Liia mengambil celana dalamnya beserta bajunya yang kumuh. Lalu,ia sumpelkan ke mulut Kamila dan Dewi.
"Makan nih celana dalam saya..!! Makan tu celana dalam yang kalian hina." Dewi dan Kamila. Muntah dan jijik di sumpel oleh Lia mulut mereka pakai celana dalamnya.
" Najis..! Bau banget sumpah." Ucap Dewi.
Sementara Kamila berhambur ke dalam pelukan Rudi. Dia menenggelamkan bibir dan wajahnya di dada bidang milik Rudi.
Amelia memasukkan kembali pakaiannya yang hanya beberapa potong itu ke dalam tas usang.
Firdaus hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah unik sang mantan menantu.
Lia menatap Ibu mertuanya dengan tatapan misterius.
Ainun yang melihat Lia menatapnya dengan tatapan tajam. Mundur teratur dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
Setelah melihat semua orang yang menghinanya lari tunggang langgang.
Lia pamitan pada firdaus untuk pulang ke rumah budenya.
"Lia pamit ya pak, Terima kasih sudah sangat baik dengan Lia, Bapak jaga kesehatan. Semoga Allah memberikan umur yang panjang pada bapak dan berkesehatan." Rudi terharu mendengar ucapan menantunya.
Hatinya sedih Amelia keluar dari rumahnya dengan penuh hinaan..
Ia sangat menyesal tidak ada untuk Amelia selama ini.
"Bapak yang berterima kasih pada Lia.. yang sudah bersedia menutupi aib keluarga ini. Semoga Lia mendapatkan jodoh yang baik diantara yang terbaik." Lia mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah sang mertua yang ia tepati kurang lebih 5 bulan.
Amelia melangkah dengan hati yang sangat lega. Beban yang menghimpit di dadanya musnahlah sudah.
Langkahnya sangat ringan menuju rumah budenya.
Mulai besok Amelia akan tekun menulis dan mencari pekerjaan.
Untuk sementara ia akan merahasiakan pada kedua orang tuanya, jika ia sudah bercerai dengan suaminya.
Lia akan memberitahu kedua orang tuanya setelah keadaannya membaik.
"Apa rencanamu selanjutnya ndok? "Katanya Gendis.
"Aku ingin fokus menulis bude, dan mencari pekerjaan.. setelah uangku terkumpul banyak aku akan meneruskan kuliahku." Gendis senang mendengar jawaban keponakannya yang sangat bersemangat menyongsong masa depan.
"Nah gitu dong.. semangat untuk masa depan, ini baru keponakan Bude. Yang cerdas dan tegas."puji Gendis.
Pak firdaus menatap kepergiannya Lia dan Gendis. Sampai bayangan mereka mengecil dan hilang dari pandangannya. Baru firdaus masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu akan menyesal Rudi.. telah membuang berlian demi batu kali.." Gumam firdaus .
"Bapak tidak kasih uang kan pada wanita miskin itu?"tanya Ainun tiba-tiba, Entah dari mana arahnya Ainun sudah duduk manis di sebelah firdaus.
"Tidak..!"jawab firdaus.
"Uangku sudah kamu habiskan di malll."ucapnya pelan.