Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garing, tidak renyah!
Guno bersiap untuk pulang lebih awal dari guru yang lain, dia sudah booking hotel via online kemudian sudah mengabari Tama untuk menjemputnya di persimpangan blok M.
Pak Ilham yang sedari tadi memperhatikannya tentu menegur Guno.
" Mau kemana sudah rapih? Kayak yang punya istri aja buru - buru pulang karena ditungguin "
" Biasa pak ada urusan mendadak! "
" Tapi laporan soal nilai siswa dan persiapan akreditasi sudah ok kan? "
" Sudah pak, aman! "
" Awas... Hati - hati! "
" Sip! "
Guno mengacungkan jari jempolnya kemudian dia pamit pulang lalu berjalan menuju tempat parkir mobil. Pada saat dirinya tengah membuka pintu mobil untuk menyimpan barang - barangnya lebih dulu, Indri! Yang tidak diketahui kapan dirinya menyusul Guno sudah berdiri dibelakangnya sembari membawa tas sekolah.
" Bapak! "
Guno langsung menengoknya kebelakang
" Loh.. Indri? "
" Eh bapak, mau pulang ya? "
Guno menganggukkan kepalanya
" Indri boleh gak pak ikut pulang... maksudnya nebeng sampai gapura merah, boleh gak? "
" Kenapa kamu pulang, bukannya kamu masih ada pembelajaran satu jam lagi ya? "
" Anu pak.. saya datang bulan, sakitnya disini tuh sakit!!!! banget, jadi saya harus pulang toh jam terakhir saya kosong pak, Bu Inggit gak masuk" Indri memegang perutnya.
Guno menaikan kedua alisnya kemudian bertanya pada Indri.
" Gapura merah itu sebelum blok M kan ya? "
" Iya pak, benar sekali! "
" Ya sudah ayo! "
Guno menyetujui permintaan Indri tanpa berfikir panjang. Indri senang, dengan sigap dia masuk ke dalam mobil Guno dan duduk di depan. Pun Guno juga langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Diperjalanan tentu Indri tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang telah ia tanam sebelumnya dan kini, saatnya Indri menuai hasilnya.
" Bapak, rumah bapak dimana sih? Selama aku sekolah aku gak pernah loh main kerumah bapak "
" Rumah saya cukup jauh, kamu akan masuk angin kalau berkunjung "
" Kenapa masuk angin pak? "
" Karena sedang hujan! ahahaha.... "
Garing, tidak renyah!
Itulah lelucon Guno kepada Indri yang duduk tersenyum kaku setelah mendengar jawaban bercanda bapak - bapak yang tidak nyambung.
Namun Guno cepat menyadari keadaan yang terasa canggung itu.
" Oh, bercanda saya gak lucu ya? " sembari Guno sesekali melihat ke arah Indri.
" Lucu kok pak hehehe " karena Indri menyukai orangnya akhirnya iya lebih mengatakan hal itu ketimbang mengoreksi leluconnya yang garing.
" Ah bilang aja nggak lucu! nggakpapa kok saya sudah biasa "
" Lucu kok pak, perasaan bapak aja kali nggak lucu "
" Oh begitu ya? "
" Iya! "
Indri mencari topik yang lain dan dia pun menyinggung Tama.
" Bapak akhir - akhir ini suka main Instagram gak sih? "
" Yah seminggu bisa sampai tiga kali lah, memangnya kenapa In? "
" Kasihan Tama pak, dia dihujat terus "
" Dihujat bagaimana? "
" Ya .. dikatain pelakor, lonte, tepos dan masih banyak lagi yang lainnya. Mungkin dia gak masuk sekolah karena sakit hati dan malu kali ya? "
" Alah Tama mah perempuan kuat, buktinya tadi saya kirim - kirim pesan dengan dia tapi masih happy - happy aja tuh gak galau "
" Bapak suka balas pesan sama Tama? "
Indri matanya membulat kemudian kepalanya menengok ke arah Guno seratus delapan puluh derajat.
" Ya, memangnya kenapa? "
" Kok sama aku gak dibalas pak? Bapak kirim pesan lewat WhatsApp? "
" Instagram In... Ya sayakan cuma balas - balasan di Insta, kalau WhatsApp saya jarang buka "
Indri mengeluarkan handphone dari saku rok sekolahnya.
" Ya sudah aku sekarang mau follow Insta bapak! sebutin nama akunnya! "
" Loh... Memangnya kamu dengan saya tidak saling mengikuti? "
" Pak!!!! Saya hanya follow bapak di FB, pantesan jarang update ternyata di Insta " Ucap Indri ketus.
" Kan saya bapak - bapak In, saya juga mau gaul kayak yang lain "
Indri memangku kedua lengannya dan pandangannya beralih ke jalanan.
" Ngomong - ngomong, tadi aku dengar gosip kalau bapak lihatin foto Tama di handphone dari awal anak - anak ngerjain tugas sampai selesai bapak nunduk lihat wajah Tama. Memangnya iya ya? "
" Ya... dia kirim foto pakai baju sexy ya saya terpukau-lah! saya manusia punya rasa, apalagi Tama perempuan yang nafsunya lebih besar dari lelaki. Pastinya ingin dilihat dan dipuji "
Mendengar itu Indri mengerenyitkan keningnya
" Tama sudah biasa kirim foto sexy ke bapak? "
" Biasa sih tidak, hanya saja dia meminta pendapat dan itupun sekali. Di Insta fotonya rata - rata memakai baju terbuka, saya pikir kamu sudah tahu karena satu sekolah "
Indri kesal karena ternyata Tama selangkah lebih maju dalam merayu Guno yang diincar nya sedari lama ketika istrinya bernama Hana masih hidup. Teman sekelas Indri tahu kalau Indri ini sering merayu Guno, cari perhatian ke Guno dan sering memanjakan diri ke Guno dengan modus Konsul atau minta nomor Wa agar lebih jelas penjelasannya dari Guno untuk Indri.
Namun kenyataannya, Centil, polos, manja, mencari modus dengan Konsul tidaklah cukup membuat hati Guno berdebar. Dia harus sexy, inisiatif kirim foto dengan baju terbuka dan dimana teknologi maju mulai digandrungi orang - orang disanalah dirinya harus update mencari nama akun sang pujaan hati.
Indri menahan amarah dan kesalnya, dia berusaha untuk bersikap biasa saja.
" Terus itu... Tama kirim foto kebapak karena kalian sudah ada hubungan atau hanya iseng tanya saja "
" Kami sudah menjalin hubungan, ya memang baru beberapa hari sih tapi Tama bagus kok dia anaknya gak canggung "
Indri mengangguk - anggukkan kepalanya sembari mengulum lidahnya sendiri dan Guno yang sedari tadi menyetir, pandangannya tertuju pada gapura merah.
" Gapura yang kamu maksud ini kan? "
Indri langsung menengok ke gapura yang ditunjuk Guno.
" Iya pak " jawab Indri malas.
" Akhirnya sampai juga ya tak terasa, silahkan nona! "
Guno membantu melepas sabuk pengaman yang membentang di tubuh Indri sedari tadi, pun Indri seperti niat di awal dia tak ingin melewatkan kesempatan emas itu. Akhirnya karena dia merasa sudah tertinggal oleh Tama maka dengan spontan Indri mencium pipi Guno sekilas.
much!
Indri tahu ini berlebihan namun dia tak tahan dan takut kalau Guno akan semakin jatuh cinta kepada Tama jika dia tidak melakukan hal yang sama.
Guno yang di cium Indri terdiam dan Indri sendiri langsung menunduk membuang muka ke arah yang lain. Guno menghela nafas " Saya maafkan kamu, saya tahu perasaan kamu tapi... maaf. Saya tidak menyukai kamu Indri " Itulah sepenggal perasaan Guno kepada indri yang dicium tiba - tiba olehnya.
Terdengar suara nafas bergemuruh di mulut dan hidung Indri, mungkin dia malu dan sakit hati tanpa basa basi dia langsung membuka pintu mobil lalu keluar tanpa berkata, TERIMAKASIH.