Warning!!! Terdapat banyak kata umpatan dan hinaan dalam cerita novel ini. Bagi kalian yang berhati lembut dan nggak tegaan, silahkan melipir. Ini bukan novel yang cocok untuk kalian baca.
——————
Namanya Arjuna Zaid Abdullah Al-Fatih. Ia merupakan pewaris Al-Fatih Group, perusahaan raksasa asal Timur Tengah yang mendunia. Akan tetapi bagi keluarga Adipura, Arjuna hanyalah sampah yang dipungut oleh Natasha Adipura.
Kotor, hina dan menjijikan.
Arjuna menerima diperlakukan sebagai suami dan menantu yang tak berguna dalam keluarga itu. Namun Arjuna mulai memperlihatkan kuasanya di saat ada yang mengusik Natasha.
-------
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu hanya kebetulan semata.
Selamat membaca ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
upaya melepaskan diri
Happy reading ....
*
Suasana di ruangan itu semakin menegang. Joshua terdiam seribu kata, sedangkan Inge langsung menghambur pada Adipura.
"Sayang, aku minta maaf. Tadinya kami hanya ingin melebarkan sayap Adipura Land. Sungguh, ini tidak seperti yang kau bayangkan," jelas Inge dengan ekspresi mengiba.
Adipura menepis kasar tangan Inge. Wanita itu sampai terhuyung. Joshua nampak sangat marah melihat ibunya di perlakukan seperti itu. Namun ia bisa apa, dan memilih mengeratkan rahang dengan tangan yang terkepal.
"Adam, usut tuntas masalah ini. Seperti yang sudah aku katakan, akan kupastikan siapapun yang berulah akan membusuk di penjara. Sekalipun itu keluargaku sendiri," geram Adipura sembari menatap nyalang pada Joshua.
"Binatang sekalipun tahu mana orang yang sudah memberinya makan. Tapi kalian, justru menjebakku dan juga Natasha. Apa yang kalian harapkan dengan melakukan ini pada kami, uang? Perusahaan? tentu itu jawabannya, kan? Kau memfitnah Natasha agar aku mengusirnya dari rumah dan perusahaan? Lalu menendangku dari hidup kalian setelah mendapatkan semuanya? Begitukah rencana kalian?" cecar Adipura.
"Aku hanya meminta hakku sebagai istri. Kalau kau menikahiku, bukankah itu artinya anak-anakku juga anakmu? Tapi kenapa tidak di rumah, tidak juga di perusahaan, mereka diperlakukan seperti orang lain," pekik Inge.
"Perusahaan ini tidak sepenuhnya milikku. Aku memang yang mendirikannya. Tapi apa artinya jika tanpa para investor dan pemegang saham. Gedung ini hanya akan jadi benda mati yang berdiri di tempat ini. Kau tahu hal itu, dia juga tahu," tunjuk Adipura pada Joshua.
"Dan sampai kapanpun, mereka tidak akan pernah menjadi anakku." Imbuhnya menegaskan.
Tanpa sepengetahuan mereka, Adam sudah melaporkan kasus itu pada pihak kepolisian melalui pesan singkat. Sebagai pengacara yang cukup ternama, Adam punya banyak kenalan di kepolisian. Hal itu ia lakukan untuk mengurangi kemungkinan Joshua melarikan diri. Joshua bisa didakwa banyak pasal dalam dua kasus yang menimpanya.
Tidak hanya pemalsuan dokumen, kasus invesatasi bodong yang mengatas namakan Adipura Land, pencemaran nama baik Natasha dan Adipura, juga kasus manipulasi data yang kesemuanya melibatkan Irwan tentunya.
Irwan, Adam mencari celah kemungkinan dimana pria itu berada saat ini. Apakah Irwan berada dalam tekanan orang suruhan tuan muda? Mengingat semua berkas itu dikirim oleh orang suruhan Al-Fatih Group. Dan saat ini, ia sedang dihubungi oleh petugas kepolisian untuk memperjelas laporannya.
Sayangnya, gelagat Adam menarik perhatian Joshua. Ia sangat yakin sebagai orang yang selalu diandalkan Adipura, Adam tidak akan tinggal diam.
Diam-diam, Joshua mengirim pesan pada anak buahnya untuk menjemput di depan. Ia akan bersiap untuk meninggalkan tempat ini jika anak buahnya sudah datang.
'Bos, saya sudah di depan'.
Setelah membaca pesan itu, Joshua memperhatikan sekelilingnya. Ibunya masih berdebat dengan Adipura. Natasha sedang berdiskusi dengan tim kuasa hukum, sedangkan Adam masih bicara di telepon.
Joshua melirik pada Rama. Pria itu berdiri tidak jauh dari pintu. Joshua mengirim pesan pada Kania untuk menelepon Rama melalui telepon di ruangan direktur keuangan.
Yes. Joshua bersorak saat perhatian Rama teralihkan oleh panggilan telepon itu. Tidak ingin membuang kesempatan, Joshua bergerak cepat ke arah pintu dan membukanya.
Joshua berlari ke arah lift secepat yang ia bisa. Tepat saat pintu lift tertutup Rama tiba di sana.
"Sial!" umpat Rama. Rama melihat lift disebelahnya sedang digunakan. Ia pun berlari ke arah tangga darurat sambil menelepon security.
"Pak, jangan biarkan Joshua meninggalkan kantor ini. Tahan dia bagaiamanapun caranya." Tegasnya.
Baru menuruni tiga lantai, Rama keluar dari tangga darurat dan berlari ke arah lift. Ia berseru pada karyawan untuk menahan lift agar tetap terbuka.
"Kalian, keluar." Pintanya pada beberapa karyawan yang berada di dalam lift.
Sementara itu, Natasha berjalan cepat menuju lift. Ia berpapasan dengan Kania yang terlihat sangat bingung dengan situasi yang ada.
Kania mencoba masuk ke ruang rapat. Namun ia dihalangi oleh dua orang pengacara yang tergabung dalam tim kuasa hukum Adipura Land.
"Ada apa ini?" gumamnya bingung.
Kania berlari menghampiri Natasha yang terlihat kesal karena pintu lift belum juga terbuka. Dengan enggan ia pun bertanya, "Ada apa ini, Tasha?"
"Heh, apa kau sedang pura-pura bodoh? Pak! Tangkap juga dia!" seru Natasha pada dua orang pria yang terlihat di luar ruang rapat. Kedua pria itu berlari mendekati mereka dan langsung menahan kedua tangan Kania agar tidak kemana-mana.
"A-apa? Kenapa aku ditangkap? Lepaskan! Berani sekali kalian," pekik Kania sambil mencoba meronta dari cengkraman dua pria itu.
"Dasar keluarga pencuri. Menjijikkan," decih Natasha.
Natasha masuk ke dalam lift ketika pintunya sudah terbuka. Ia menyeringai pada Kania yang menatap nyalang padanya sambil terus berteriak meminta dilepaskan.
Kedua pria itu membawa Kania ke ruang rapat. Ruangan dimana Adipura sedang sangat murka pada Inge, istrinya.
Sementara itu di bagian depan gedung, terjadi keributan antara beberapa security dengan anak buah Joshua. Saat mereka sibuk baku hantam, sebuah mobil lain menepi. Joshua berlari ke arah mobil itu dan masuk ke dalamnya.
"Woy! Jangan kabur!" seru Rama yang baru saja keluar dari lobi. Mendengar hal itu, para security jadi lengah, dan ... bugh!
Mereka pun jadi sasaran pukulan anak buah Joshua.
Rama yang notabene tidak mengusai ilmu bela diri pun ikut terkena sasaran. Saat beberapa karyawan lain mulai keluar gedung, anak buah Joshua langsung masuk ke dalam mobil yang membawa mereka sebelumnya.
Rama mencoba untuk berdiri dibantu karyawan lain yang juga membantu para security. Rama langsung menghampiri Natasha saat melihat atasannya itu keluar dari pintu lobi dengan tergesa-gesa.
"Dia kabur?" tanya Natasha dengan raut wajah kecewa.
"Maaf, Nona." Rama hanya bisa tertunduk. Anak buah Joshua semuanya berbadan kekar dan memukul tanpa belas kasihan.
Natasha membuang kasar nafasnya dan langsung berbalik sambil menelepon Adam.
"Dia kabur," ujar Natasha datar.
"Jangan khawatir, aku sudah mendapatkan plat nomer dua mobil itu. Polisi akan mulai mencari sebelum mereka terlalu jauh dari jangkauan kita," sahut Adam di ujung ponsel Natasha. Rupanya, Adam lagi-lagi memperhatikan kejadian tadi dari cctv di depan gedung tersebut.
"Baiklah," ujar Natasha pelan
***
Gelak tawa menggema di dalam mobil yang membawa Joshua. Mereka tentu senang karena telah berhasil mengecoh beberapa security itu.
"Kita akan kemana, Bos?" tanya supir.
"Ke tempat yang tidak di ketahui Irwan. Brengs*k! Berani sekali dia mengkhianatiku," geram Joshua.
Mobil itu melaju sangat cepat. Joshua sudah memberitahu bahwa polisi bisa saja mengejar mereka. Joshua menoleh ke belakang. Mobil anak buahnya sudah menyusul mereka dan mengawal mobil yang membawanya.
Joshua tersenyum lega. Setidaknya untuk saat ini, dia bisa meloloskan diri.
Tidak lama kemudian ....
"Bos, ada yang mengikuti kita."
Joshua menoleh kembali. Kemana mobil anak buahnya yang tadi mengikuti mobil mereka?
"Sepertinya itu bukan polisi," gumam Joshua. Ada tiga mobil yang mengikuti mereka.
Dan Joshua yakin itu bukanlah pihak kepolisian. Lalu siapa mereka itu?
Mobil yang membawa Joshua semakin tersudut. Tanpa ragu, mobil-mobil itu menyenggolkan body mobil untuk mengganggu konsentrasi pengemudinya. Kemuadian terdengar tembakan yang membuat Joshua dan supirnya terperanjat. Seketika mobil yang ditumpangi Joshua oleng dan sulit dikendalikan.
Brakk! Mobil itu menabrak pembatas jalan.