Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Putra yang Tidak Berbakat
Istana Kerajaan Chu tidak pernah benar-benar sunyi.
Di lorong-lorong batu yang mulai retak di beberapa sudutnya, para pelayan berbisik-bisik setiap kali lewat di depan paviliun timur—tempat tinggal putra ketujuh sang Kaisar. Bukan bisikan hormat. Bukan pula bisikan benci. Hanya bisikan yang biasa ditujukan pada sesuatu yang tidak dianggap penting.
"Anak itu lagi. Yang tidak punya bakat kultivasi."
"Kasihan sekali. Putra kaisar, tapi bahkan pelayan dapur pun bisa mengalahkannya dalam bertarung."
Chu Feng mendengar semua itu. Ia selalu mendengarnya. Tapi wajahnya tidak pernah berubah.
Ia duduk di beranda kayu paviliunnya, memandangi langit sore yang memerah di atas Kerajaan Chu—kerajaan kecil yang terjepit di sudut paling terpencil Benua Timur, dikelilingi pegunungan yang jarang dilewati pedagang, apalagi kultivator dari negeri jauh.
Di tangannya, sebuah batu kultivasi biasa berputar pelan. Batu itu seharusnya bercahaya jika seseorang mengalirkan qi ke dalamnya. Batu di tangan Chu Feng tetap gelap.
"Masih belum bisa, Yang Mulia?"
Suara itu milik Lao Sun, pelayan tua yang telah mengabdi padanya sejak kecil—satu-satunya orang di istana yang masih memanggilnya dengan hormat tanpa nada mengejek.
"Belum," jawab Chu Feng singkat, meletakkan batu itu di pangkuannya. "Tapi tidak apa."
"Yang Mulia terlalu tenang untuk seseorang yang disebut putra paling tidak berbakat di antara tujuh bersaudara."
Chu Feng tersenyum tipis. "Ketenangan tidak ada hubungannya dengan bakat, Paman Sun. Hanya soal... tahu di mana harus berdiri."
Lao Sun tidak sepenuhnya mengerti maksud tuannya yang masih muda itu. Tapi ia sudah cukup lama mengabdi untuk tahu bahwa Chu Feng bukan anak yang sesederhana kelihatannya.
Malam itu, aula utama istana dipenuhi cahaya lampu minyak dan ketegangan yang tak terlihat namun bisa dirasakan siapa pun yang cukup peka.
Kaisar Chu duduk di takhtanya, wajahnya keras dimakan usia dan pertempuran. Di hadapannya, enam dari tujuh putranya berdiri berjajar, masing-masing dengan barisan pendukung sendiri di belakang mereka.
Putra pertama, Chu Heng, berdiri dengan sikap seorang panglima—karena memang begitulah dirinya. Baju zirahnya masih berdebu dari latihan pasukan sore itu.
Putra kedua, Chu Ming, berdiri dengan senyum tenang seorang ahli strategi, matanya bergerak mengamati setiap orang di ruangan seolah sedang menghitung langkah catur.
Putra ketiga bersandar pada dukungan keluarga bangsawan terbesar kerajaan. Putra keempat memiliki jubah dengan lambang sekte besar tersulam di dadanya. Putra kelima tersenyum licik, matanya penuh perhitungan. Putra keenam—Chu Yan—berdiri paling angkuh di antara semua, karena bakat kultivasinya memang yang paling menonjol di generasinya.
Dan di ujung barisan, agak menjauh dari yang lain, berdiri Chu Feng. Sendirian. Tanpa pendukung. Tanpa jubah bersulam lambang apa pun.
"Bulan depan adalah Festival Penentuan," kata Kaisar Chu, suaranya berat menggema di aula. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, kalian akan diuji—kekuatan, strategi, dan kebijaksanaan. Hasilnya akan menentukan siapa yang pantas kupertimbangkan sebagai pewaris."
Gemuruh kecil terdengar dari barisan pendukung di belakang setiap pangeran. Semua orang tahu apa artinya ini. Perebutan yang sudah lama membara kini resmi dibuka.
Kaisar Chu memandang satu per satu putranya, hingga akhirnya matanya berhenti di ujung barisan.
"Chu Feng."
"Ayahanda." Chu Feng membungkuk sopan.
"Kau akan ikut serta juga."
Terdengar tawa kecil tertahan dari salah satu pendukung putra kelima. Chu Feng tidak bereaksi.
"Baik, Ayahanda. Hamba akan ikut serta."
Sederhana. Tenang. Tanpa ambisi yang tersirat sedikit pun di nada suaranya. Dan justru itulah yang membuat Kaisar Chu menatapnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya—seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah tenang putra bungsunya itu, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
Selepas pertemuan, ketika para pangeran lain sudah kembali ke paviliun masing-masing dengan rombongan pendukung yang ramai berbisik tentang strategi festival mendatang, Chu Feng berjalan sendirian menyusuri taman belakang istana yang sepi.
Chu Ming, putra kedua, menyusulnya di persimpangan jalan setapak.
"Adik ketujuh," sapanya, nada suaranya ramah—terlalu ramah. "Jarang sekali kau ikut serta dalam festival semacam ini. Biasanya kau memilih... menonton dari kejauhan."
"Aku tidak punya pilihan lain kali ini, Kakak Kedua. Ayahanda sudah menitahkan."
"Benar." Chu Ming tersenyum, tapi matanya menilai. "Kudengar kau bahkan belum bisa membangkitkan qi dalam batu kultivasi paling dasar. Apa kau yakin ingin ikut, dan bukan hanya... mempermalukan diri sendiri di depan seluruh istana?"
Chu Feng menoleh, tersenyum tipis—senyum yang tidak menyimpan amarah maupun rasa malu. "Kakak Kedua benar. Mungkin aku memang akan mempermalukan diri sendiri."
Jawaban yang begitu mudah, begitu tanpa perlawanan, membuat Chu Ming justru terdiam sejenak. Ia sudah menyiapkan tiga balasan berbeda untuk berbagai reaksi yang mungkin—amarah, gengsi, atau permohonan. Bukan ini.
"...Kau anak yang aneh, Adik Ketujuh," katanya akhirnya, sebelum berlalu bersama para pengikutnya.
Chu Feng menatap punggung kakaknya yang menjauh, senyumnya perlahan memudar menjadi tatapan yang jauh lebih tajam dari yang pernah ditunjukkannya di depan siapa pun di istana ini.
Kau menghitung langkahku, Kakak Kedua. Tapi kau tidak pernah benar-benar melihatku.
Itulah yang selama bertahun-tahun ini ia pelihara dengan sengaja—kesan bahwa dirinya tidak berbahaya, tidak berambisi, tidak layak diperhitungkan. Bukan karena ia benar-benar serapuh yang dikira semua orang.
Melainkan karena ia tahu satu kebenaran yang tak seorang pun di istana ini mau mengakui.
Kerajaan Chu hanyalah kerajaan kecil di sudut dunia yang terlupakan. Tidak peduli siapa yang duduk di takhta itu nanti, mereka tetap hanya akan menjadi penguasa kecil yang tidak dianggap oleh dunia luar.
Untuk apa berdarah-darah memperebutkan sesuatu yang, pada akhirnya, hanyalah kolam kecil di tepi lautan yang jauh lebih luas?
Malam semakin larut ketika Chu Feng akhirnya kembali ke paviliunnya. Lao Sun sudah menyiapkan teh hangat di meja kecil beranda, seperti biasa.
"Yang Mulia terlihat memikirkan sesuatu."
"Hanya memikirkan festival bulan depan," jawab Chu Feng, duduk dan menerima cangkir teh dari tangan pelayan tuanya.
"Yang Mulia akan baik-baik saja. Bahkan tanpa bakat kultivasi, hamba yakin Yang Mulia punya... cara lain untuk melewatinya."
Chu Feng tidak menjawab. Matanya menerawang ke arah pegunungan gelap di kejauhan, ke arah wilayah yang jarang dijamah bahkan oleh penduduk kerajaannya sendiri—wilayah reruntuhan kuno yang konon sudah berdiri sejak sebelum Kerajaan Chu ada.
Ia tidak tahu bahwa dalam hitungan hari, langkahnya akan membawanya ke sana.
Dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa di kedalaman reruntuhan itu, sesuatu yang telah menunggu selama jutaan tahun—sesuatu yang bukan pedang ilahi, bukan pula kitab rahasia—sedang merasakan kehadirannya untuk pertama kali.
Sebuah pecahan dari tubuh seorang Dewa yang telah lama hancur.
Dan pecahan itu telah menemukan wadah yang dicarinya.