I AM The Miracle Itself
Di dunia Aethelgard, kekuatan adalah segalanya.
Sihir, iblis, pendekar, dan makhluk yang mampu melampaui hukum alam telah menjadi bagian dari kehidupan. Namun, di tengah dunia yang dipenuhi kekuatan tersebut, lahirlah seseorang yang seharusnya tidak pernah ada.
Ia bukan pahlawan.
Bukan dewa.
Bukan iblis.
Bahkan bukan bagian dari tatanan dunia.
Keberadaannya adalah sebuah anomali—sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh hukum realitas, takdir, maupun batas kekuatan.
Ketika dunia mulai menghadapi kekacauan yang bahkan mengancam fondasi keberadaannya, sebuah pertanyaan perlahan muncul:
Jika segala sesuatu memiliki batas... lalu apa yang terjadi pada sesuatu yang sejak awal tidak memiliki tempat dalam perhitungan?
Dan ketika keajaiban tidak lagi cukup untuk menjelaskan keberadaannya, dunia akan menyadari satu hal—
Dia bukan orang yang memiliki keajaiban.
Dialah keajaiban itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Hutan Kabut di luar Oakhaven diselimuti keheningan yang janggal. Pepohonan purba yang menjulang tinggi menelan pendar bulan, menyisakan jarak pandang tak lebih dari lima meter. Udara dingin terasa berat, lembap oleh embun dan bau tanah basah.
Namun di balik keheningan itu, tiga aura bertekanan tinggi merayap cepat menembus pepohonan.
Mereka adalah Satuan Pemburu Bayangan—pasukan elite Kekaisaran yang seluruh anggotanya merupakan ksatria kasta Sovereign. Dipimpin oleh Vane, seorang pembunuh bayangan bertubuh kurus dengan dua belati hitam; Barek, ksatria bertubuh raksasa dengan pelindung Qi Earth yang mampu menahan tebasan meriam sihir; dan Kaelis, pelacak berdarah dingin yang mampu mendeteksi denyut jantung dari jarak satu kilometer menggunakan Qi Wind.
"Target bergerak ke arah barat daya," ucap Kaelis pelan sambil memegang busur besarnya. Jarinya memetik tali busur, menyebarkan gelombang Qi angin yang bergetar samar di udara. "Aneh... Tidak ada pendar energi. Tidak ada jejak mana. Tapi ada fluktuasi gesekan angin yang tidak alami di depan."
"Jangan lengah," tegur Vane dari balik topeng hitamnya. "Zeon dan Vargan tewas bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka meremehkan musuh. Apapun yang membunuh mereka... dia memahami struktur pertahanan Kekaisaran."
Barek terkekeh dingin, suara dari balik armor beratnya terdengar garang. "Master dan Sovereign adalah dua dunia yang berbeda, Vane. Di kasta Sovereign, Qi kami telah menyatu dengan kepadatan tulang dan jaringan otot. Seseorang tanpa energi tidak akan bisa menggores kulitku bahkan jika aku berdiri diam."
Di atas cabang pohon purba setinggi lima belas meter, sosok berjubahkan perak memperhatikan mereka tanpa bernapas.
Ren Vaelen.
Melalui Mata Persepsi Kosmik, ketiga ksatria Sovereign itu tidak tampak sebagai manusia, melainkan sebagai tiga pilar energi yang sangat padat. Namun, di balik kepadatan energi yang diagungkan oleh Kekaisaran itu, Ren melihat kelemahan yang fatal.
【Analisis Target: Kasta Sovereign】
【Kepadatan Qi: Sangat Tinggi】
【Efek Samping: Hipertensi Otot dan Sensitivitas Saraf Berlebihan】
【Kelemahan Mekanis: Latensi Transisi Jalur Qi (0,08 Detik)】
Ren memiringkan kepalanya sedikit. "Begitu tebal..." gumamnya tanpa suara. "Kalian mengalirkan Qi sedemikian padat hingga otot kalian kaku seperti batu. Kalian pikir itu perlindungan... padahal itu adalah penjara bagi refleks kalian sendiri."
Kaelis melangkah perlahan di atas daun-daun kering, busurnya siap melepas anak panah. Qi Wind milik Kaelis bergetar pada frekuensi tinggi untuk mendeteksi gelombang suara di sekitarnya.
Ren tidak melarikan diri. Sebaliknya, ia menjatuhkan sebatu kecil ke arah kiri bawah.
TAK.
Pendengaran Qi Kaelis yang sangat sensitif menangkap bunyi itu secara berlebihan. Pada frekuensi setinggi itu, suara gesekan kecil terverifikasi di otak Kaelis sebagai benturan keras. Kaelis secara refleks memutar kepalanya ke kiri, mengalirkan sebagian besar Qi Wind ke telinga dan mata kirinya untuk memindai.
Pada milidetik yang sama, terjadi latensi transisi Qi selama 0,08 detik—saat di mana sisi kanan leher Kaelis kehilangan pasokan pelindung energi karena fokus energi berpindah ke kiri.
SRETT.
Ren jatuh dari atas pohon tepat di titik buta kanan Kaelis. Tanpa desakan Qi, jatuhnya Ren seperti helai daun kering. Taring babi hutan raksasa di tangan Ren meluncur presisi menembus celah tulang leher Kaelis, memotong pembuluh darah utama dan saraf tulang belakang dalam satu dorongan murni berbasis gaya gravitasi.
"Kaelis?!" Vane menoleh dengan kecepatan kilat.
Namun Kaelis sudah ambruk ke tanah tanpa sempat melepas satu pun anak panah. Darah segar membasahi tanah kabut.
"Bajingan!" Barek raksasa itu meraung. Qi Earth berwarna cokelat pekat meledak dari tubuhnya, menghancurkan tanah di sekitarnya. "Barek’s Barrier!"
Barek menerjang maju seperti benteng berjalan. Ia mengayunkan tinjunya yang dilapisi batu gumpalan Qi bertekanan ribuan ton ke arah Ren. Pukulan itu cukup kuat untuk meratakan sebuah bangunan beton.
Ren tidak mencoba menahan atau melompat jauh.
Melalui penglihatan kosmiknya, Ren membaca vektor gaya dari pukulan Barek.
Massa: 450 kg -> Kecepatan: 60 m/s -> Tumpuan: Lutut Kanan.
Saat tinju raksasa itu berjarak satu inci dari wajahnya, Ren hanya menggeser poros tubuhnya sebesar lima derajat ke kanan—menyelinap tepat di dalam sudut mati ayunan lengan Barek.
BOOM!
Tinju Barek menghantam tanah hampa, menciptakan lubang berdiameter tiga meter. Momentum raksasa itu menarik tubuh Barek ke depan, membuat tumpuan lutut kanannya harus menahan beban ribuan ton dalam sekejap.
Di titik puncak regangan otot lutut Barek, Ren menghantamkan tumit kakinya tepat ke bagian belakang engsel lutut tersebut dengan sudut anatomis yang menghancurkan.
KRAK!
"AAAGHH!" Barek merintih kesakitan saat sendi lututnya terlipat paksa. Armor Qi-nya melindungi bagian luar, tetapi gaya beban tubuhnya sendiri yang tertahan mendadak mematahkan persendian dari dalam.
Saat Barek berlutut karena kehilangan keseimbangan, celah ketiak pada armor beratnya terbuka lebar. Ren merampas belati milik Kaelis yang berada di tanah dan menusukkannya lurus ke dalam celah ketiak Barek—menembus titik bifurkasi Qi yang sedang kacau.
JSSSH!
Barek terhenyak. Aura Qi Earth yang melapisi tubuhnya langsung runtuh seperti bangunan roboh. Matanya mendelik tajam sebelum tubuh raksasanya terhempas ke tanah tak bernyawa.
Dua ksatria kasta Sovereign tewas dalam waktu kurang dari satu menit.
Vane berdiri mematung sepuluh meter di depan Ren. Seluruh tubuhnya gemetar—bukan karena ketakutan biasa, melainkan karena logikanya sebagai ksatria kasta Sovereign telah hancur lebur.
"Kau... Kau tidak menggunakan Qi sama sekali," suara Vane bergetar di balik topengnya. "Kau memanfaatkan berat tubuh Barek untuk mematahkan kakinya sendiri... Kau memanfaatkan sensitivitas Kaelis untuk merusak pendengarannya..."
"Kalian terlalu percaya pada angka," ucap Ren datar, melangkah maju dengan tenang sambil memegang belati berdarah. "Kasta Sovereign membuat kalian kuat, tetapi juga membuat kalian lambat, sombong, dan sangat kaku. Di mata mekanis... kalian hanyalah mesin berbobot tinggi yang mudah aus."
"Aku adalah Pemimpin Pemburu Bayangan!" teriak Vane histeris.
Qi Shadow meluas di sekitar tubuh Vane. Dalam sekejap, Vane menghilang ke dalam bayangan malam, menggunakan teknik langkah bergerak melampaui kecepatan suara—sebuah teknik tingkat tinggi yang biasa digunakan untuk membunuh target sebelum mereka sempat berkedip.
Ren menutup matanya.
Dalam kegelapan, Mata Persepsi Kosmik Ren tidak memerlukan cahaya atau jejak energi. Ren memindai impuls listrik otot paha Vane yang tertekan 0,05 detik sebelum melompat.
Prediksi Lintasan: Sisi Kiri Leher -> Waktu Tiba: 0,03 Detik.
Ren tidak mengayunkan senjata. Ia hanya merentangkan lengan kanannya secara horizontal dan memegang taring babi hutan dalam posisi diam mutlak di udara.
STAB!
Vane yang meluncur dengan kecepatan melampaui suara secara harafiah menabrakkan lehernya sendiri ke taring tajam yang dipasang Ren di lintasannya.
Kecepatan ekstrem Vane justru menjadi daya hancur yang menggorok lehernya sendiri sampai hampir putus.
Vane jatuh tersungkur di depan kaki Ren, memegangi lehernya yang menyemburkan darah pekat. Matanya menatap Ren dengan keputusasaan mutlak sebelum pandangannya meredup selamanya.
Hutan Kabut kembali hening.
Tiga ksatria kasta Sovereign dari Satuan Pemburu Bayangan terbujur kaku di tanah. Tidak ada benturan energi dahsyat. Tidak ada keajaiban sihir. Hanya ada pembantaian matematis yang dingin.
【Anomali Terdeteksi: 3 Target Kasta Sovereign Dieliminasi】
【Kalkulasi Efisiensi Tempur: 100%】
【Progres Evolusi: Level 2 — Hunter Mendekati Batas Maksimal】
Ren menatap tiga jasad ksatria Kekaisaran itu, lalu mengalihkan pandangannya jauh ke arah utara—ke arah Ibu Kota Aethelgard.
"Selanjutnya..." bisik Ren dingin, "Jenderal Kaelen."