Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Blup.
Blup.
Suara gelembung udara yang pecah dari dalam lumpur mulai terdengar bersahutan di sekeliling mereka.
Kabut hijau di atas rawa itu semakin tebal membuat jarak pandang mereka menurun drastis menjadi hanya beberapa meter saja.
"Apa ada hewan kelaparan lagi yang bisa aku suap dengan makanan di tempat ini, Gaga?"
Natasya bertanya sambil mencoba mengintip ke dalam genangan air lumpur yang bergelembung di sisi kanannya.
"Aku rasa di tas kecilku masih ada sisa sedikit remahan ikan asin tadi."
"Simpan saja sisa makanan kotor itu untuk dirimu sendiri, anak aneh."
Gaga mendengus pelan sambil terus melangkah sangat hati-hati menghindari lubang lumpur yang dalam.
"Monster yang hidup di dalam rawa ini tidak punya otak sama sekali untuk diajak bernegosiasi seperti hewan hutan lainnya."
"Tidak punya otak bagaimana maksudmu?"
Natasya mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan penjelasan serigala tersebut.
"Bukankah semua hewan di hutan ini bisa mengerti saat aku ajak bicara baik-baik?"
"Makhluk di tempat ini hanya digerakkan oleh insting rasa lapar murni dan bau darah segar."
Gaga menghentikan langkahnya dan memamerkan taringnya ke arah sebuah genangan lumpur besar di depan mereka.
"Bersiaplah berpegangan yang kuat, Natasya, karena makhluk-makhluk menjijikkan itu sudah mulai mencium bau tubuh kita."
Syuut.
Syuut.
Tiba-tiba sesuatu yang panjang dan licin melesat keluar dari dalam lumpur hitam pekat tersebut.
Makhluk itu berbentuk seperti cacing raksasa berwarna hitam keunguan dengan lendir kental menutupi seluruh tubuhnya.
"Astaga, makhluk mengerikan apa lagi ini?"
Arga berteriak kaget sambil mengayunkan obornya untuk menakuti makhluk tak bermata tersebut.
Namun anehnya makhluk licin itu sama sekali tidak takut pada cahaya api maupun panasnya obor.
"Itu adalah lintah raksasa penghisap darah dari Rawa Kematian."
Gaga menggeram sangat keras memperingatkan Arga untuk tidak lengah sedikitpun dari posisinya.
"Api obor itu tidak akan berguna karena tubuh mereka dipenuhi oleh lendir rawa yang sangat tebal dan tidak bisa terbakar."
"Halo Tuan Lintah, tolong biarkan kami lewat ya."
Natasya mencoba peruntungannya dengan berteriak menyapa makhluk mengerikan itu dari atas punggung Gaga.
"Kami hanya ingin menumpang lewat sebentar saja untuk mencari obat."
Namun alih-alih merespons ucapan Natasya, lintah raksasa itu justru melompat menerjang ke arah suara gadis kecil tersebut.
Mulut bulat di ujung tubuhnya terbuka lebar memamerkan ratusan gigi tajam yang tersusun melingkar seperti gergaji daging.
"Tuh kan, mereka sama sekali tidak mau menjawab pertanyaanku, Gaga."
Natasya langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menghindari serangan mendadak tersebut.
"Mereka benar-benar tidak sopan dan langsung menyerang tanpa basa-basi."
Cras.
Sebuah tebasan golok yang sangat cepat dan bertenaga langsung membelah tubuh lintah raksasa itu menjadi dua bagian di udara.
Darah berwarna hijau kehitaman menyembur keluar membasahi dedaunan rawa di sekitarnya.
Arga berdiri dengan napas terengah-engah setelah menebas lintah terbang itu dengan satu serangan presisi.
"Kamu tidak bisa terus-terusan mengandalkan kata-katamu di tempat berbahaya seperti ini, Natasya."
"Mulai sekarang biar golok Ayah yang bicara pada makhluk-makhluk jelek ini."
"Terima kasih sudah menolongku, Ayah."
Natasya tersenyum lega melihat ayahnya ternyata sangat tangguh dalam pertarungan jarak dekat.
"Golok Ayah benar-benar tajam sekali."
Syuut.
Syuut.
Syuut.
Suara kemunculan lintah dari dalam lumpur kini terdengar berlipat ganda dari segala arah.
Bukan hanya satu, tapi ada belasan lintah raksasa yang mulai merayap naik dan mengepung posisi mereka bertiga di tengah rawa.
"Bau darah kotor temannya tadi telah memancing lintah lain untuk bangun dari tidur panjang mereka."
Gaga mulai memasang posisi bertarung dengan menjejakkan keempat kakinya kuat-kuat di tanah yang cukup keras.
"Bilang pada ayahmu untuk fokus saja menebas makhluk yang muncul dari arah depan."
"Aku yang akan mengurus makhluk licin yang mencoba menyerang dari arah belakang dan samping kita."
"Gaga bilang Ayah fokus saja memotong lintah yang dari depan."
Natasya langsung meneriakkan pesan taktik itu kepada ayahnya di tengah suasana yang mulai kacau.
"Gaga yang akan melindungi punggung kita dari arah belakang."
"Baiklah, kita habisi makhluk-makhluk ini dengan cepat sebelum jumlah mereka semakin banyak."
Arga tidak membuang waktu dan langsung merangsek maju menerjang tiga lintah yang merayap dari depan.
Golok di tangan kanannya berayun dengan gerakan liar namun sangat mematikan memotong apapun yang berani mendekat.
Dari arah belakang, seekor lintah melompat dari atas dahan pohon mati berniat menyerang leher Arga.
Namun sebelum lintah itu menyentuh targetnya, rahang besar Gaga sudah lebih dulu menjepit tubuh licin tersebut.
Krauk.
Gaga menggigit putus tubuh lintah itu dengan sekali gigitan keras dan membuang bangkainya ke dalam lumpur dengan jijik.
"Rasa darahnya benar-benar menjijikkan seperti air selokan busuk."
Serigala itu meludah berkali-kali ke tanah untuk membersihkan lidahnya dari rasa darah lintah tersebut.
Pertarungan sengit antara manusia, serigala, dan belasan lintah raksasa itu berlangsung selama beberapa menit.
Cipratan lumpur dan darah hijau menghiasi setiap sudut area pertarungan yang semakin berantakan itu.
Arga bertarung dengan sangat brutal demi melindungi nyawa putri semata wayangnya dari hisapan mematikan.
Di sisi lain, Gaga juga membuktikan kesetiaannya dengan merobek setiap lintah yang mencoba mendekati Natasya.
Brak.
Lintah raksasa terakhir akhirnya jatuh tak bernyawa ke tanah setelah tubuhnya ditebas secara horizontal oleh golok Arga.
Pria itu membiarkan goloknya jatuh ke lumpur dan ia langsung bertumpu pada kedua lututnya yang gemetar hebat.
Hosh.
Hosh.
Napas Arga terdengar sangat berat dan tersengal-sengal karena kelelahan fisik yang luar biasa.
Tangannya yang memegang obor juga sudah mulai kebas karena harus terus mengangkatnya tinggi-tinggi selama bertarung.
"Ayah hebat sekali."
Natasya langsung turun dari punggung Gaga dan berlari memeluk leher ayahnya yang berlumuran keringat.
"Ayah berhasil mengalahkan monster-monster jelek itu semua."
"Ayah tidak mungkin bisa menang tanpa bantuan serigalamu ini, Natasya."
Arga menoleh ke arah Gaga dan menatap serigala itu dengan rasa hormat yang sangat dalam layaknya kawan seperjuangan.
"Kerja sama pertarungan jarak dekatnya sangat luar biasa untuk ukuran seekor hewan liar."
Gaga hanya mendengus pelan dan kembali sibuk membersihkan sisa darah lintah di bulu kakinya.
"Jangan buang waktu dengan saling memuji di tempat terbuka seperti ini."
"Kita harus segera pergi sebelum bau amis darah ini menarik perhatian monster yang lebih besar dari dalam rawa."
"Kata Gaga kita tidak boleh diam lama-lama di sini, Ayah."
Natasya menarik tangan ayahnya untuk membantu pria itu berdiri kembali.
"Nanti akan ada monster yang lebih besar datang mencium bau darah makhluk ini."
"Serigalamu itu sangat benar."
Arga memungut kembali goloknya dan membersihkan bilahnya dari sisa lendir menggunakan daun kering.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan, danau beracun itu pasti sudah sangat dekat dari sini."
Mereka bertiga kembali berjalan menyusuri jalan setapak rawa yang semakin sempit dan dikelilingi akar pohon besar.
Kabut hijau perlahan mulai menipis seiring dengan langkah mereka yang semakin jauh meninggalkan area lintah raksasa.
Dari kejauhan, sebuah pendar cahaya redup berwarna keunguan mulai terlihat menembus sela-sela pepohonan mati.
Hawa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba berhembus menggantikan hawa panas rawa yang menyengat kulit.
Natasya menatap cahaya ungu itu dengan jantung yang mulai berdebar kencang karena tujuan mereka akhirnya sudah terlihat di depan mata.