Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 5
Saya memandangi anak muda itu, Andika. Sejak pertama kali bertemu di apartemen La Puerta, saya sudah tahu anak ini beda. Tapi melihat caranya beraksi di jalan tol tadi? Dengar ya, saya belum pernah melihat orang berani bergerak senekat itu sejak saya tinggalkan Liberty City.
Saya melangkah turun dari kabin truk besar, suara boots saya bergema berat di atas lantai semen gudang Cypress Flats yang dingin. Bau solar dan aroma mesiu segar masih tercium kuat di dalam ruangan remang ini.
"Jujur saja, Frank," kata saya sambil berjalan mendekati Franklin, meletakkan tangan di pinggang. "Saya sempat berpikir kita bakal kehilangan semua muatan pasokan ini waktu dua SUV Vagos itu mulai menembaki ban truk saya. Tapi Andika? Anak itu malah memutar Vigero-nya di tengah jalan tol dan menghantam mereka tanpa ragu sedikit pun!"
Lamar langsung tertawa lepas, menepuk-nepuk lututnya girang di samping tumpukan peti amunisi. "Haha! Apa saya bilang, L.J.! Andika ini dari Makassar, di tempat asalnya tidak ada kata takut! Dia ubah SUV Vagos itu jadi besi tua dalam hitungan detik!"
Saya melangkah mendekati Andika yang sedang bersandar di bodi Vigero ZX-nya. Bagian depan mobil itu lecet-lecet pertarungan dan kaca depannya retak seperti sarang laba-laba, tapi mesin V8-nya masih terasa hangat—seperti binatang buas yang baru selesai berburu.
Saya mengulurkan tangan, memberikan salam kepalan tangan (fist bump) yang erat pada Andika, lalu menepuk bahunya mantap.
"Hormat saya buat kau, brother," kata saya dengan suara berat. "Di tempat asal saya di Liberty City, orang dengan mental seperti kau ini langka. Kau tetap tenang saat situasi di jalanan kacau total. Muatan di dalam dua truk ini nilainya Rp800.000.000 bersih, dan kau baru saja menyelamatkan seluruh investasi kita."
Andika menyapu keringat di dahinya, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Sama-sama, L.J. Di tempat saya di Makassar, ada prinsip setia kawan. Kalau ada yang mau merusak bisnis dan uang saudara kita, kita hantam balik lebih keras."
Franklin berjalan menghampiri kami setelah mengunci pintu besi raksasa gudang dari dalam. Raut wajahnya tampak sangat puas, menatap tumpukan peti kayu berisi jutaan peluru yang tertata rapi sampai ke langit-langit.
"Oke, dengar semuanya," ujar Franklin tegas. "Barang sudah aman di gudang ini. Sekarang saatnya kita kasih tahu jalanan Los Santos siapa penguasa baru pasokan amunisi. Besok pagi, kelompok Ballas dari Covenant Avenue dan Families dari Chamberlain sudah antre mau beli angsuran pertama. Uang tunai Rp300.000.000 siap masuk ke kantong kita besok."
Saya menyedot rokok saya dalam-dalam, menatap tiga rekan di sekeliling saya.
"Itu baru rencana bagus, Frank," kekeh saya pelan. "Biarkan orang-orang geng di luar sana saling perang wilayah. Mau siapa pun yang menang, selama mereka beli pelurunya dari kita berempat... rupiah bakal terus mengalir deras ke kantong kita seperti air hujan."
Saya menatap Andika sekali lagi. Anak muda dari Makassar ini datang ke Los Santos tanpa membawa apa-apa, tapi malam ini, dia berdiri di sini sebagai bagian utama dari kerajaan baru yang akan mengguncang seluruh kota.
Seminggu berlalu begitu cepat di Los Santos. Di bawah kendali kuartet ini, bisnis distribusi amunisi dan logistik senjata berat bergerak sangat masif. Gudang rahasia di Cypress Flats tak pernah sepi—truk-truk datang dan pergi memuat ribuan kaliber peluru untuk disalurkan ke geng-geng besar di seluruh penjuru kota.
Uang tunai mengalir bagaikan keran yang bocor. Kantong Andika kini tak pernah kosong; tumpukan lembaran rupiah terus memenuhi brankas pribadi di apartemen barunya. Dari seorang perantau dari Makassar yang dulunya harus memeras keringat di dapur restoran dan memikirkan uang sewa rumah sempit di Davis, kini Andika telah menjelma menjadi salah satu sosok kunci yang disegani di dunia bawah tanah Los Santos.
Namun, di kota tempat uang dan peluru berkuasa, keberhasilan satu kelompok selalu berarti ancaman bagi kelompok lain.
Jauh di utara kota, di dalam sebuah ruang kerja mewah bernuansa merah-emas di kawasan Chinatown, aroma asap dupa membumbung tipis. Seorang pria paruh baya bertato naga di lehernya duduk di balik meja kayu jati berukir, mengetuk-ngetuk jarinya yang dihiasi cincin giok. Dia adalah Lee Dong, pemimpin tertinggi dari Ying Long—sindikat gangster Tionghoa paling berpengaruh yang selama bertahun-tahun memegang monopoli pasar amunisi gelap di Los Santos.
Di hadapan Lee Dong, berdiri seorang pria jangkung bermata tajam dengan setelan jas rapi. Dialah Shen, tangan kanan sekaligus otak di balik operasional jaringan Ying Long.
"Laporan minggu ini makin memburuk, Shen," suara Lee Dong terdengar dingin, penuh penekanan. "Omzet penjualan amunisi kita turun hampir enam puluh persen. Klub-klub di South Central dan kelompok jalanan di Davis tidak lagi memesan barang dari kita. Ada apa?"
Shen membungkuk sedikit sebelum melangkah maju, meletakkan sebuah map hitam di atas meja kerja Lee Dong.
"Kami sudah melakukan penyelidikan, Bos," kata Shen dengan nada tenang namun serius. "Ada pemain baru yang masuk ke pasar kita seminggu terakhir ini. Mereka menjual amunisi kaliber berat dengan kualitas impor dan harga yang jauh lebih kompetitif."
Lee Dong menyipitkan matanya, menghentikan ketukan jarinya. "Siapa mereka? Triad lain? Atau orang-orang dari Liberty City?"
"Bukan, Bos," Shen membuka map tersebut, memperlihatkan beberapa lembar foto hasil intaian anak buahnya. "Mereka cuma empat orang. Franklin Clinton dari Vinewood Hills, Lamar Davis, seorang pria Jamaika bernama Little Jacob... dan satu orang lagi, perantau dari Indonesia bernama Andika."
Lee Dong mengambil salah satu foto yang memperlihatkan Andika sedang bersandar di bodi Declasse Vigero ZX Matte Black miliknya di depan gudang Cypress Flats.
"Empat orang..." gumam Lee Dong, matanya menajam menatap foto Andika. "Empat orang berhasil mengacaukan aliran uang Ying Long yang sudah kita bangun bertahun-tahun?"
"Anak bernama Andika ini yang menjadi pengawal utama sekaligus eksekutor mereka di jalanan, Bos," tambah Shen. "Dia sangat lincah dan berani. Beberapa hari lalu, anak buah Vagos mencoba mencegat konvoi mereka di Palomino Freeway, tapi Andika menghancurkan mereka semua sendirian."
Lee Dong melemparkan foto itu kembali ke meja, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang menandakan bahaya besar.
"Di kota ini, siapa pun yang berani menyenggol mangkuk nasi Ying Long... harus membayar harganya dengan darah," ujar Lee Dong datar. "Shen, kumpulkan anak-anak terbaikmu. Kita beri pelajaran pada empat orang ini, terutama pada anak Makassar bernama Andika itu."
Di markas utama sindikat Ying Long di kawasan Little Seoul, suasana remang garasi bawah tanah terasa sangat mencekat. Shen berdiri tegak di depan belasan pria berwajah dingin dengan tato naga melingkar di lengan dan leher mereka. Di atas meja panjang di hadapan mereka, terhampar belasan senjata api—mulai dari pistol otomatis P99, Micro SMG, hingga senapan submesin MAC-10 dengan magazin ganda yang siap memuntahkan ratusan peluru.
Shen merapikan kerah jas hitamnya, matanya menatap tajam belasan anak buah pilihannya.
"Dengar baik-baik," suara Shen bergema dingin di antara dinding semen garasi. "Bos Lee Dong tidak suka ada orang luar yang mengacaukan aliran uang kita di kota ini. Target utama kita hari ini adalah anak bernama Andika. Dia pengawal utama jalur amunisi mereka. Begitu anak ini tumbang, sisa krunya akan hancur sendiri."
Shen melemparkan foto Andika dan foto mobil Declasse Vigero ZX Matte Black milik Andika ke atas meja. "Kalian bagi jadi empat tim. Sebar di sekitar La Puerta, Cypress Flats, dan pusat kota. Begitu melihat mobil hitam ini, jangan bertindak gegabah. Lacak pergerakannya, kepung, dan pastikan dia tidak keluar hidup-hidup dari Los Santos. Paham?"
"Paham, Bos!" seru belasan anak buah Ying Long serempak sambil menyambar senjata-senjata di atas meja dan memasukkannya ke dalam jaket mereka.
Sementara bahaya besar mulai mengepung di balik bayang-bayang kota, Andika sama sekali belum menyadarinya.
Siang itu, raungan halus mesin V8 Declasse Vigero ZX miliknya meluncur santai membelah kesibukan kawasan Little Seoul. Hari ini Andika ingin beristirahat sejenak dari urusan amunisi dan transaksi jutaan rupiah. Ia memarkirkan mobil otot hitamnya di depan sebuah toko pakaian independen beraroma khas subkultur underground—sebuah toko yang menjual berbagai perlengkapan, t-shirt band metal, jaket kulit ber-studs, hingga aksesori bergaya punk/gothic.
Andika melangkah masuk ke dalam toko. Dentuman musik metal berat langsung menyambut telinganya. Setelah mengamati deretan rak selama beberapa menit, Andika memilih sebuah t-shirt hitam berlogo band underground, gelang kulit berduri, serta rantai dompet tebal yang senada dengan gaya berpakaiannya sehari-hari.
Setelah membayar semua belanjaannya dengan beberapa lembar uang rupiah dari dompetnya, Andika keluar toko dan masuk kembali ke kabin Vigero ZX. Ia menyandarkan punggung ke jok kulit, merapikan kaus barunya, lalu menyambar ponsel di dasbor dan menekan tombol panggilan ke L.J..
Panggilan diangkat pada dering kedua. Dari seberang telepon, suara dentuman musik house khas nightclub yang pekak dan gelak tawa beberapa wanita terdengar sangat bising.
"Yo, L.J.!" panggil Andika sedikit berteriak menembus kebisingan di telepon. "Di mana kau? Ada waktu tidak? Saya mau ajak kau nongkrong atau jalan-jalan keliling kota."
Suara L.J. terdengar sangat riang dan sedikit serak di seberang sana, diiringi suara manja wanita di sampingnya. "Woy, bredda! Hahaha! Me not inna street today, man! Saya lagi di VIP room Bahama Mamas! Bir dingin, wanita-wanita cantik di kiri-kanan, dan uang kita yang menumpuk... me livin' di good life today, brethren!"
Andika terkekeh pelan mendengarnya. "Enjoy your day, my friend! Nikmati harimu, kawan. Kau layak mendapatkannya setelah kerja keras minggu ini."
"Respect, Andika! Nanti malam baru kita kumpul lagi, ya!" balas L.J. sebelum mematikan sambungan telepon.
Andika meletakkan ponselnya kembali. Ia tersenyum tipis, lalu memutar kunci kontak. Raungan mesin V8 kembali memecah ketenangan sore.
Karena L.J. sedang bersenang-senang dan Franklin serta Lamar sedang mengurus administrasi gudang, Andika memutuskan untuk menghabiskan sisa sorenya seorang diri. Ia mengarahkan Vigero ZX-nya menuju pantai Vespucci Beach.
Sepuluh menit kemudian, mobil hitamnya terparkir rapi di sudut jalan setapak pantai yang agak sepi. Andika melangkah keluar membawa sebotol bir dingin yang baru dibelinya dari minimarket terdekat dan sebungkus rokok.
Ia berjalan menyusuri pasir pantai, lalu duduk santai di atas sebuah kayu gelondongan besar yang terdampar di pinggir ombak. Di hadapannya, matahari sore Los Santos mulai turun perlahan di garis cakrawala, memancarkan sinar jingga kemerahan yang memantul indah di atas permukaan air laut.
Andika memetik korek api, menyalakan rokoknya, dan menghembuskan asap tipis ke udara pantai yang sejuk. Ia menenggak bir dinginnya perlahan, menikmati kedamaian dan keindahan sunset sore itu. Di balik jaket kulitnya, pistol terselip rapi, namun untuk saat ini, tempat itu terasa sangat damai—seolah lupa bahwa beberapa kilometer di belakangnya, belasan anak buah Ying Long bersenjata MAC-10 sedang menyisir setiap sudut jalanan untuk mencabut nyawanya.